KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiDua Minggu Berlatih Menulis Bersama PMOH untuk Para Pelajar SMP dan SMA oleh : Redaksi-kabarindonesia
02-Jun-2020, 01:39 WIB


 
 
KabarIndonesia - Selamat Idul Fitri! Masih dalam situasi masa lebaran ini, Harian Online KabarIndonesia (HOKI) kembali membuka pelatihan menulis online Tahun Ajaran (Tajar) XII, 2020. Pada Tajar ini khusus diperuntukkan bagi para pelajar SMP dan SMA untuk mengisi masa liburan
selengkapnya....


 


 
BERITA INTERNASIONAL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 
Melawan Hoax Virus Corona 21 Mei 2020 15:19 WIB


 
Kami Masih Punya Rasa Malu 31 Mei 2020 11:30 WIB

Aroma Kematian 09 Mei 2020 13:56 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Desainer Sang Pemuja Setan 29 Mei 2020 13:08 WIB


 

Masa Depan Tanpa Benazir

 
INTERNASIONAL

Masa Depan Tanpa Benazir
Oleh : Redaksi-kabarindonesia | 29-Des-2007, 13:51:43 WIB

KabarIndonesia - Akankah setelah pembunuhan Benazir Bhutto, Pakistan yang memiliki senjata nuklir itu, berubah menjadi bom waktu yang juga bom nuklir?

Untuk jangka pendek hanya terlihat kekacauan dan kekerasan. Tapi untuk jangka panjang yang tersisa cuma setumpuk ketidakpastian. Ketidakpastian tentang pemilu, ketidakpastian tentang oposisi terhadap Presiden Pervez Musharraf dan ketidakpastian tentang kemungkinan pilihan politik lain. Berikut tiga pakar internasional mengemukakan visi mereka tentang masa depan Pakistan.  


Satu-satunya

Bahayanya riil belaka, bahwa kalangan ekstrimis akan mengangkangi Pakistan. Demikian wartawan dan penulis Pakistan Ahmed Rashid. Bagi Rashid, Benazir Bhutto bukan hanya suara terpenting melawan kaum ekstrimis itu, tapi ia juga satu-satunya suara. Ahmed Rashid, "Apa yang terlihat selama ini, Presiden Musharraf banyak berkaor-kaor tapi hanya sedikit tindakannya.

Ia takut terhadap kalangan ekstrimis. Ia tidak ingin mengusik mereka. Ia ingin supaya mereka tetap pada pihaknya, sehingga kekuasaannya juga tidak terusik. Kebijakan seperti ini yang sudah dijalankan sejak serangan 11 September 2001, telah membawa malapetaka bagi Pakistan. Benazir Bhutto selalu konsekuen dalam menentang ekstrimisme dan siap mengambil tindakan terhadap mereka. Sekarang dia sudah tewas.


Sikap Hati-hati Musharraf

Kelompok-kelompok yang ingin merangkul Musharraf khususnya aktif di Kashmir, dekat perbatasan dengan India. Soal Kashmir ini, Pakistan sudah tiga kali bertempur melawan India. Dan Kashmir wilayah Pakistan tetap merupakan pangkalan bagi para pemberontak anti India. Inilah alasan bagi Musharraf untuk bertindak hati-hati terhadap Kashmir.

Tetapi justru dengan bersikap hati-hati terhadap para pemberontak itu, Musharraf malah memberi peluang kepada kalangan ekstrimis yang terus berupaya memperoleh kekuatan di Kashmir. Dua kelompok jihadis ini pada tahun 2002 membentuk aliansi dengan Lashkari Jhangvi, organisasi militan yang disebut-sebut melepas tembakan mematikan terhadap Benazir Bhutto.


Eksplosif

"Jangan lupakan Kashmir!" begitu diingatkan Marjan Lucas dari organisasi perdamaian Belanda Interkerkelijk Vredesberaad, IKV. Menurutnya, kalangan ekstrimis agama tetap minoritas dibandingkan dengan para pemberontak tulen. Tetapi kalau konflik Kashmir terlupakan karena pembunuhan Benazir Bhutto, maka para pemberontak itu bisa bersekutu dengan kalangan jihadi. Akibatnya situasi Kashmir akan kembali eksplosif.

Walau begitu, Marjan Lucas, yakin posisi Musharraf tidak akan goyah akibat pembunuhan politik ini. Sebaliknya. Tanpa Bhutto, demikian Marjan Lucas, bantuan dari Barat akan terus meningkat saja, dan dengan bantuan itu Musharraf bisa terus bertahan sampai sekarang.

Marjan Lucas: "Masalah bagi Barat adalah karena Musharraf itu orang berseragam, ia mengkombinasikan kedudukan militernya dengan jabatan presiden. Ia memang sudah melakukan perubahan. Ia presiden dan bukan lagi panglima militer, ia mengadakan pemilihan umum, pendek kata ia mengadakan beberapa hal sehingga dunia Barat tidak ragu-ragu lagi dalam mendukungnya.

Saya khawatir sekarang dunia barat akan melihat: apa kepentingan kita. Kepentingan kita adalah orang kuat yang di satu pihak bertindak supaya teroris tidak memperoleh peluang, tetapi di pihak lain masalah-masalah penting tidak terselesaikan"


Barat Ikut Bertanggungjawab

Beberapa kalangan berpendapat, Jenderal Pervez Musharraf bertanggung jawab terhadap kematian Benazir Bhutto. Ia tidak bertindak tegas terhadap kalangan ekstrimis. Itu semua bukan masalah, kata Marjan Lucas.

Negara Barat sebenarnya juga ikut bertanggung jawab.Tetapi menurut diplomat Spanyol José Maria Ridao, justru janji-janji reformasi demokrasi yang dilontarkan Musharraf pada dunia Barat bisa merupakan titik kelemahannya. Kalau kekacauan terus berlanjut, maka tentara akan menghendaki langkah tegas. Dalam keadaan begitu demokrasi akan dikorbankan.

José Maria Ridao: "Saya rasa kematian Benazir Bhutto menciptakan ruang besar bagi kelompok jihadis Pakistan. Mereka tidak hanya melawan rezim jenderal Pervez Musharraf, tetapi juga saling melawan satu sama lain. Mereka melancarkan perang di kalangan mereka sendiri. Saya khawatir kekerasan akan meningkat, sehingga akan makin tidak mungkin bagi Musharraf untuk mencari jalan keluar"

Terjepit di kalangan kelompok-kelompok ekstrim, tentara yang tidak suka demokrasi dan sekarang berteriak tentang reformasi kepada negara-negara Barat. Patut diragukan apakah Musharraf lebih menyukai ini katimbang berbagi kekuasaan dengan Benazir Bhutto yang sekarang sudah tiada.

Sumber:  Radio Nederland Wereldomroep (RNW)

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Sambal Oelek Indonesia Buatan ASoleh : Fida Abbott
02-Jun-2020, 02:23 WIB


 
  Sambal Oelek Indonesia Buatan AS Sambal Oelek ini saya temukan di Walmart Supercenter, Parkesburg, Pennsylvania. Awalnya saya mengira buatan salah satu negara Asia selain Indonesia karena tulisan di depan botolnya. Ternyata buatan Amerika Serikat. Tampaknya Indonesia harus meningkatkan persaingannya di pasar bebas dan jeli membidik
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
DIE HARD - SUSAH MATEK 23 Mei 2020 10:41 WIB

 

 

 

 

 
MANG UCUP ITU CHINA BANANA 28 Jan 2020 00:52 WIB

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia