KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiProgram-Program PMOH untuk Top Reporter HOKI, Pegawai Negeri, dan Swasta oleh : Redaksi-kabarindonesia
11-Feb-2018, 16:42 WIB


 
 
KabarIndonesia - Ikuti Program Istimewa bagi yang pernah menjadi Top Reporter HOKI kapan pun Anda terpilih dan berhasrat memperdalam ilmu menulis dan tertarik mengikuti Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH).

Program Instansi pun diberikan kepada Instansi Pemerintah atau Swasta yang
selengkapnya....


 


 
BERITA INTERNASIONAL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Keindahan Khatulistiwa 12 Feb 2018 16:21 WIB

Merakyatlah 12 Feb 2018 16:21 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Hapus Tatto Gratis 27 Jan 2018 12:27 WIB

 

Membangun Masa Depan Pangan, Asia-Pacific Eat Forum Pertama Digelar di Jakarta

 
INTERNASIONAL

Membangun Masa Depan Pangan, Asia-Pacific Eat Forum Pertama Digelar di Jakarta
Oleh : Rohmah Sugiarti | 01-Nov-2017, 21:04:50 WIB

KabarIndonesia - Jakarta,  Lebih dari 750 delegasi dari 30 negara bertemu di Jakarta selama dua hari pada acara perdana EAT Asia-Pacific Food Forum pada tanggal 30-31 Oktober. Acara ini diselenggarakan bersama oleh Pemerintah Indonesia dan EAT Foundation.

Diselenggarakan dengan misi untuk memfasilitasi kerjasama lintas-sektoral, forum ini telah mengumpulkan pemikir terdepan dari bidang ilmu pengetahuan, politik, bisnis, masyarakat madani (civil society), pertanian, dan seni kuliner untuk mencari solusi lokal, regional, dan global agar memperbaiki sistem ketahanan pangan global yang rusak.  

“Kita perlu mencari ilmu yang lebih terintegrasi mengenai hubungan antara pangan, kesehatan dan planet, “kata President EAT Foundation, Gunhild A. Stordalen dalam kata sambutannya.

“Kita perlu menjadi politisi yang berani bekerjasama dengan kementerian lain untuk merancang kebijakan-kebijakan komprehensif yang menghubungkan produksi dan konsumsi pangan. Kami perlu sektor swasta untuk untuk membuat produk-produk baru, jasa-jasa dan model–model bisnis berkelanjutan. Kita perlu koki-koki untuk membuat makanan lezat, membuat makanan yang tepat menjadi menarik, dan masyarakat madani untuk menuntut pertanggungjawaban atas kata-kata dan perilaku kita semua,” jelasnya. 

Kelaparan Meningkat Lagi
 

Bulan lalu, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa setelah ada penurunan tetap selama lebih dari satu dekade, tingkat kelaparan dunia kini sedang meningkat lagi. Ini menjadi sebuah peringatan keras akan kegagalan dalam sistem pangan global saat ini. Dengan 815 juta orang – lebih dari 1 (orang) dalam setiap 10 (orang) di dunia – menderita kekurangan gizi, dan sepertiga dari seluruh pangan di dunia ini dibuang secara sia-sia. Dengan paralel, level obesitas  terus meningkat, dan sekarang mempengaruhi lebih dari 2 milyar anak-anak dan orang dewasa.   “Konsekuensi ekonomi dari gizi buruk merupakan sebuah kerugian produk domestik bruto (GDP) sebesar 10 persen setiap tahunnya,” kata Dr. Subramaniam Sathasivam, Menteri Kesehatan Malaysia. “Obesitas di tingkat orang dewasa telah meningkat di 190 negara dan jika tren ini berlanjut, jumlah ini akan meningkat lebih dari 1,3 milyar di tahun 2005 menjadi 3,2 milyar di tahun 2030.”
Sektor Pertanian merupakan emiten gas rumah kaca terbesar  

Bagaimana kita tumbuh, memproses, mengangkut, mengkonsumsi dan membuang makanan juga merupakan faktor-faktor yang mendorong krisis lingkungan global kita. Sektor pertanian adalah penyumbang gas rumah kaca terbesar sekaligus penyumbang utama deforestasi, kepunahan spesies, dan penipisan sistem kelauatan dan sumber air bersih.

Seiring dengan meningkatnya kelaparan, tekanan yang lebih besar meningkat pada sistem panganyang sudah terlalu banyak dan kurang efisien, yang selanjutnya mempercepat perubahan iklim dan penurunan ekologis.  

“95 persen dari perdagangan global berasal dari delapan negara – jika kita mengalami kekeringan di delapan negara tersebut, hal itu akan mempengaruhi ketersediaan pangan dan harga pangan,” kata Dr. Jason Clay, Senior Vice President of Markets and Food at WWF. Di abad ke-21 ini, keberlanjutan tentu menjadi sebuah isu pra-persaingan.”  

Memperbaiki sistem ketahanan pangan, menyediakan banyak peluang
 

Baik di Asia Pasifik maupun di wilayah lainnya di seluruh penjuru bumi, hubungan antara ancaman-ancaman inilah yang akan menentukan potensi mendesak mereka, dimana secara paradoksikal akan memberikan kesempatan terbesar kami untuk bertindak. Sebagaimana semua tantangan terikat satu dengan lainnya, prospek terbesar untuk masa depan juga terletak pada tindakan terpadu lintas sektor, disiplin dan benua.  

Menurut Business & Sustainable Development Commission, model bisnis berkelanjutan dapat membuka peluang ekonomi di sektor pangan dan pertanian senilai lebih dari USD 2 triliun serta meningkatkan lapangan kerja dengan ratusan juta pekerjaan pada tahun 2030.  

“Populasi global kami diperkirakan akan meningkat menjadi 9,5 miliar pada tahun 2050 dan hal ini akan membawa sebuah tantangan baru untuk bumi,” kata CEO Olam International, Sunny Verghese.

“Forum EAT ini dapat meningkatkan kepekaan kita terhadap tantangan ini, dan menyajikan kesempatan untuk menggabungkan pembelajaran dari semua pemangku kepentingan untuk mengatasi tantangan ini. Kepemimpinan EAT ini sungguh tepat waktu dan sangat dibutuhkan,” tambahnya. 

Sebagai wilayah paling padat di dunia dan wilayah yang menjadi pusat global untuk bisnis, ilmu pengetahuan, keanekaragaman hayati dan inovasi, wilayah Asia Pasifik berada dalam sebuah posisi untuk memainkan peran penting untuk menentukan dan memimpin transformasi yang sangat mendesak ini, untuk membantu dunia ini mencapai Tujuan Pembangungan Berkelanjutan PBB di tahun 2030.(*)


 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Astra International Investasi USD150 Juta di GO-JEKoleh : Rohmah Sugiarti
12-Feb-2018, 22:21 WIB


 
  Astra International Investasi USD150 Juta di GO-JEK Menteri Komunikasi & Informasi RI Rudiantara (kedua kiri) bersama Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto (kedua kanan), Chief Executive Officer & Founder Go-Jek Nadiem Makarim (kiri) dan President & Co-Founder Go-Jek Andre Soelistyo berswafoto bersama seusai konferensi pers
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Konsisten Pegang Teguh Netralitas 15 Feb 2018 23:19 WIB


 

 

 

 

 

 

 
Walk to Museum Bahari Yogyakarta 12 Feb 2018 16:23 WIB

 

 

 

 
Nasehat Mengelola Amarah 04 Feb 2018 11:15 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia