KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
HukumRUU Omnibus Law Inskonstitusional Buruh Minta Stop Pembahasan Sidang Paripurna DPR RI oleh : ">
05-Okt-2020, 04:26 WIB


 
 
KabarIndonesia - Berbagai serikat pekerja yang merupakan afiliasi global unions federations menyatakan kekecewaannya terhadap hasil pembahasan Omnibus Law RUU Cipta Kerja tingkat pertama pada Sabtu malam (3/10). Mayoritas fraksi di DPR RI dan pemerintah sepakat untuk melanjutkan pembahasan ke tingkat
selengkapnya....


 


 
BERITA INTERNASIONAL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
M E R D E K A !!! 17 Aug 2020 06:01 WIB

Terbunuh Cinta Sendiri 05 Jul 2020 14:46 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
INTERNASIONAL

WHO Peringatkan Fase Bahaya Pandemi Corona Lanjutan
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 22-Jun-2020, 01:24:32 WIB

KabarIndonesia - Samosir, Mengutip berbagai sumber, dikabarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan fase baru dan berbahaya dari pandemi corona virus seiring laju infeksi di sejumlah negara yang tergolong masih tinggi.

Sebanyak 81 negara telah melihat pertumbuhan dalam kasus baru selama dua minggu terakhir dan hanya 36 negara yang mengalami penurunan. Walaupun peningkatan kasus terbilang masif, namun sejumlah negara telah melonggarkan pembatasan di sektor ekonomi.

Seperti dilansir NY Times, di Florida, Oklahoma, Carolina Selatan dan Arizona, jumlah harian kasus virus corona baru mencapai tingkat tertinggi pandemi pada minggu ini. Texas telah mengalami dua kali lipat kasus yang diketahui dalam sebulan terakhir, menjadi negara keenam yang melampaui 100.000 kasus.

”Dunia kini dalam fase yang baru dan berbahaya. Banyak orang yang sudah bosan berada di rumah, tapi virus korona masih menyebar dengan cepat.Itu masih mematikan dan kebanyakan orang masih rentan," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam jumpa pers virtual seperti dikutip dari Kompas.id (21/6).

Sementara itu, orang-orang sudah merasa jenuh berada di rumah masing-masing setelah berbulan-bulan pandemi berlangsung. "Banyak orang yang merasa muak berada di rumah. Negara-negara sangat bersemangat untuk membuka ekonomi mereka tapi virusnya masih cepat menyebar," kata Tedros.

Di seluruh dunia, risiko berlipat ganda ketika negara-negara membuka kembali ekonomi mereka. Ia menyadari bahwa berbagai kebijakan untuk menghentikan penyebaran virus korona telah membuat lumpuh ekonomi. Namun WHO terus mengingatkan agar masyarakat tidak menyerah untuk tetap berada di rumah.

Hingga Minggu sore (21/6), mengutip update Worldometers, ada 8,9 juta kasus infeksi di dunia. Sebanyak 467.155 orang meninggal dunia.

Di Indonesia dilaporkan update kasus harian pada Minggu sebanyak 862 kasus baru sehingga total infeksi sebanyak 45.891 kasus. Sedangkan total korban meninggal di Indonesia berjumlah 2.465 orang. Indonesia berada di peringkat satu Asia Tenggara dan 29 dunia terdampak Covid-19.

Menurut epidemiolog dr Dicky Budiman M.Sc.PH, PhD (Cand) Global Health Security CEPH Griffith University, yang dihubungi Kompas.com. Minggu (21/6), mengatakan bahwa kondisi sekarang ini memang berbahaya. "Fase saat ini memang cenderung mengkhawatirkan," kata Dicky.

Pihaknya menjelaskan, seseorang merasakan kejenuhan setelah berbulan-bulan di rumah memang menjadi permasalahan klasik dalam sejarah pandemi. Kondisi tersebut juga seperti yang terjadi pada pandemi di tahun 1918-1920.

Meski begitu, masyarakat seharusnya tetap waspada dan tidak boleh abai terhadap upaya pencegahan. "Ini penyakitnya karena penyakit yang menular dengan mudah ketika orang abai terhadap pencegahan. Dalam sejarah pandemi ada peningkatan kasus, akhirnya banyak yang sakit," kata Dicky.

Bahkan, peningkatan kasus Covid-19 secara global pada dua hari terakhir menembus angka 100.000 kasus baru hariannya. "Ini ada tanda yang sangat serius," sebutnya.

Sementara itu, Dicky mengungkapkan bahwa penambahan kasus salah satunya dapat terlihat jika setiap negara tetap konsisten melakukan upaya test, namun hal ini tetap harus dilakukan. Saat test dilonggarkan karena kesalahpahaman bahwa banyaknya kasus diakibatkan lantaran test yang dilakukan, ini yang harus dibenarkan.

"Banyaknya kasus bukan akibat langsung daripada adanya banyak testing. Banyaknya kasus itu karena memang adanya kasus Covid-19 masyarakat yang sudah terjadi akibat penularan sebelum-sebelumnya," papar Dicky.

Sehingga, lanjut dia, testing merupakan upaya untuk mendeteksi bukan membuat kasus menjadi semakin banyak. Testing juga diperlukan untuk mengetahui apakah suatu wilayah telah terkendali dan berdampak pada pemulihan kasus.

Lebih lanjut, peringatan yang disampaikan WHO haruslah disikapi serius oleh seluruh pihak. "Ini peringatan yang berdasarkan pengalaman pandemi sebelumnya, research, dan pertimbangan analisa terkini," ujarnya.

Dicky memaparkan, fase berbahaya saat pandemi seringkali terjadi ketika pelonggaran kewaspadaan, intervensi atau strategi baik dilakukan di pemerintah maupun masyarakat. "Ini harus diantisipasi, kita harus sabar. Kita harus belajar dari pandemi ratusan tahun lalu," kata dia.

Ia menambahkan, potensi bahwa Covid-19 masih terus terjadi tetap ada, mengartikan adanya potensi penyebaran penularan akan terus berjalan. "Kalau abai, justru ada kemungkinan bisa meningkat lagi. Dan ini artinya berpotensi meningkatkan jumlah orang sakit, berpotensi meningkatkan angka kematian," tuturnya.

Penyakit masih tetap menjadi sesuatu yang berbahaya karena belum terlalu banyak diketahui karakter penyakit hingga dampaknya pada tubuh. "Karena semakin kita lihat dari hasil research ternyata ini bukan penyakit di saluran pernapasan saja. Tapi bersifat sistemik, menyerang hampir seluruh organ," paparnya.

Sehingga, seberapa jauh dampaknya harus tetap diantisipasi dan sebisa mungkin untuk mencegahnya. (*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Solidaritas Mahasiswa dan Pemuda Papua Nyatakan Dukungan Agar Otsus Jilid II Dilanjutkan pada Peringatan Hari Pahlawan Menyadari bahwa sejarah perjuangan pahlawan nasional Republik Indonesia khususnya yang tercermin pada peristiwa 10 November 2020 patut dikenang dan diteladani sebagai upaya generasi muda Indonesia dalam menghormati para pejuang yang telah merebut bangsa ini dari zaman penjajah hingga nyawa mereka
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
MENJAGA INTEGRITAS INTELEKTUAL. 19 Okt 2020 01:59 WIB

 

 

 
Kenaikan Cukai Rokok Ditunda 04 Nov 2020 00:50 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia