|
|
|
| |
KabarIndonesia - Kampanye lingkungan, sudahkan berdampak positif pada perubahan gaya hidup? Pertanyaan itu ditujukan untuk kita, khususnya masyarakat yang tinggal di kota besar, seperti Jakarta.
Armely Meiviana, mewakili Green Life-style, sebuah komunitas atau tepatnya mailing list yang anggotanya kerap selengkapnya....
|
|
|

EKONOMI
Pasar Kodok, Bali
Oleh : A. Ambarini | 27-Nov-2006, 07:08:19 WIB
|
Siapa yang menyangka dibalik ketenangan kota Tabanan, Bali terdapat sebuah pasar pakaian bekas yang menarik minat masyarakat lokal, wisatawan domestik dan juga mulai diminati wisatawan asing untuk datang dan mengunjungi pasar ini. Pasar ini merupakan pasar pakaian bekas import yang terbesar di Bali disamping banyak lagi pasar pakaian bekas import yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Banyak orang yang masih tidak tahu lokasi pasar ini karena terbatasnya publikasi media akan keberadaan pasar ini. Keberadaan pasar ini lebih banyak tersebar dengan berita dari mulut ke mulut. Sungguhlah sangat mengagetkan ketika kita menjejakkan kaki dipasar ini, terdapat berpuluh-puluh ribu jenis pakaian bekas import yang datang dari Singapore & Jepang
Pasar ini bisa ditempuh sekitar 40 menit dari ibu kota Denpasar, dan terletak di Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Keberadaan pasar ini dimulai sekitar tahun 2001 dan awalnya dimotori oleh para pedagang dari Madura yang mengadu nasib di Bali, namun dalam perkembangannya pasar ini mendapat sambutan dan akhirnya saat ini terdapat aktivitas lebih dari 300 orang pedagang yang tersebar rapi dalam jajaran kios di suatu areal persawahan yang luas. Saat ini 80 % pedagang pakaian bekas ini masih dikuasai kaum urban dari Madura dan sisanya berasal dari Lumajang, dan Bali.
Kenapa disebut Pasar Kodok? menurut informasi para pedagang disana, hal ini terkait karena lokasi persawahan yang menjadi areal pasar tersebut, pada awalnya merupakan areal yang banyak sekali ditemukan binatang kodok. Para pedagang ini mendapatkan pakaian bekas tersebut dari para importer pakaian bekas yang sebagian besar berasal dari wilayah Padang. Biasanya para pedagang itu akan membeli dalam bal-bal (karung) pakaian bekas yang sudah disortir terlebih dulu dan dipisahkan sesuai jenis dan kualitas pakaian bekas itu sendiri. Harga per bal pakaian bekas itu sangat murah, sebut saja dengan Rp. 2,3 juta/bal bisa diperoleh 1000 pcs pakaian bekas untuk anak-anak. Kemudian para pedagang itu pun melanjutkan menjual pakaian-pakaian bekas ke masyarakat di areal pasar Kodok ini. Tak sedikit pedagang yang langsung mencuci setrika pakaian bekas tersebut, namun ada juga yang langsung menjualnya walau dalam keadaan lecek (lusuh). Menurut para pedagang, pakaian bekas yang sudah langsung dilaundry tersebut bisa terjual dengan harga yang lebih tinggi karena pembeli lebih yakin dan tidak perlu takut terkena penyakit.
Pengunjung Pasar Kodok berasal dari berbagai kalangan, dan pangsa pasar terbesar pakaian bekas ini ternyata banyak diminati oleh anak muda khususnya dari kalangan yang mengetahui merek-merek ternama dunia. Selain merefleksikan posisi keuangan anak-anak muda yang terbatas, ia juga menggambarkan gairah akan gaya pakaian-pakaian retro yang otentik dan tidak ada kembarannya. Jenis pakaian yang dijual di pasar Kodok ini biasanya berjumlah terbatas atau malah hanya tersedia sebanyak 1 buah saja sehingga terkesan lebih personal. Efek personalitas ini yang tidak bisa didapat jika kita membeli pakaian di mall atau supermarket karena pakaian-pakaian yang dijual di sana rata-rata dibuat secara massal.
Tetapi umumnya anak-anak muda ini bersikap malu-malu kalau ketahuan membeli pakaian bekas. Sikap malu-malu dari konsumen pakaian bekas ini juga didorong oleh response sebagian besar masyarakat yang menganggap pakaian-pakaian bekas adalah sesuatu yang menjijikkan karena tidak jelas asal-usul sejarahnya, juga berkesan kumuh karena dibeli di pasar kodok yang sudah dikenal sebagai pasar pakaian bekas dan pasar OB (pasar obral) ini.
Mereka yang datang bukan hanya pemakai langsung, namun juga banyak pedagang pakaian bekas dari luar Tabanan yang akan menjual kembali pakaian bekas ini. Biasanya pengunjung sudah memadati pasar kodok sejak pukul 09.00 Wita, dan akan lebih padat pada hari libur, sabtu atau minggu. Menjelang siang hari di hari-hari libur, akan merupakan pemandangan yang biasa jajaran mobil-mobil mewah disepanjang areal persawahan menuju pasar kodok, yang masih sangat bernuansa alami persawahan khas kota Tabanan sebagai lumbung padinya Bali
Di pasar ini akan sangat mudah pengunjung mendapatkan merek-merek terkenal dengan hanya merogoh kocek Rp. 10.000,- s/d Rp. 40.000,- saja. Semua harga tergantung dari jenis pakaian dan bahannya, bahkan untuk pakaian-pakaian anak-anak bisa didapat dengan harga Rp. 3000,- s/d Rp. 5000,-/pcs. Sebut saja merek Levis, Wrangler, Ellesse, Pumma, Burberrys, Nike, Polo, Get used, Religion, GAP, Christian Dior, dan puluhan merek lainnya. Apabila bisa memilih dengan sabar dan tidak terburu-buru jangan kaget kalau kita bisa mendapatkan pakaian bekas bermutu dan dalam kondisi yang masih bagus.
|
|
|
|
|
|
|
|
| |
Hari kelima (31/8) pasca pengungsian akibat adanya letusan Gunung Sinabung, keadaan 1.500 pengungsi di pos penampungan Jambur Taras, Berastagi mulai terganggu masalah kesehatannya. Tim medis yang bertugas mengatakan bahwa penyakit ISPA dan diare mulai menyerang para pengungsi. (*)selengkapnya.... |
|
|
|
|
|