KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiProgram-Program PMOH untuk Top Reporter HOKI, Pegawai Negeri, dan Swasta oleh : Redaksi-kabarindonesia
11-Feb-2018, 16:42 WIB


 
 
KabarIndonesia - Ikuti Program Istimewa bagi yang pernah menjadi Top Reporter HOKI kapan pun Anda terpilih dan berhasrat memperdalam ilmu menulis dan tertarik mengikuti Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH).

Program Instansi pun diberikan kepada Instansi Pemerintah atau Swasta yang
selengkapnya....


 


 
BERITA EKONOMI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Lucunya Negeri Ini 21 Feb 2018 04:39 WIB

Keindahan Khatulistiwa 12 Feb 2018 16:21 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Hapus Tatto Gratis 27 Jan 2018 12:27 WIB

 
 
EKONOMI

Petronas Disayang, Pertamina Ditendang
Oleh : Masykur A. Baddal | 30-Jan-2012, 05:15:33 WIB

KabarIndonesia - Heboh sekitar penanganan bahan bakar minyak (bbm), semakin santer terdengar di dalam negeri. Apalagi semakin mendekatnya rencana penerapan pembatasan penggunaan bahan bakar premium kepada kendaraan pribadi. Sedianya akan dimulai awal April 2012 mendatang.

Hal yang tidak kalah pentingnya, Pertamina sebagai salah satu BUMN yang mendominasi pengelolaan sumber energi bbm di tanah air.  Dari beberapa waktu yang lalu telah merencanakan ekspansi pendirian SPBU di beberapa negara asing. Demi peningkatan efektifitas produksi, layaknya sebuah perusahaan energi yang berskala internasional.

Namun, keinginan tersebut ternyata tidak semudah seperti yang dibayangkan. Malaysia, sebagai salah satu negara tujuan ekspansi Pertamina, tanpa tendeng aling-aling langsung melemparkan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi terlebih dahulu oleh Pertamina, sebelum mendirikan SPBU di negeri jiran itu. Gilanya, persyaratan tersebut dinilai terlalu berat oleh Pertamina karena salah satunya harus mendirikan kilang minyak di negeri itu yang akan menelan investasi minimal USD 20 milyar.

Tentu saja, hal ini sangat bertolak belakang dengan apa yang didapat oleh Malaysia dengan Petronasnya, serta beberapa SPBU asing lainnya yang beroperasi di Indonesia. Karena tanpa harus mendirikan kilang minyak di Indonesia, mereka dapat dengan leluasa mendirikan SPBU di seluruh pelosok tanah air.
 
Perlakuan Malaysia yang dinilai tidak fair tersebut, telah mendorong petinggi di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral berkomentar. Evita Legowo, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi dalam relisnya kepada detik.com (26/1/2012) mengatakan, “Saat ini pemerintah sedang mengkaji, setiap SPBU Asing yang beroperasi di Indonesia wajib mendirikan kilangnya di Indonesia. Kebijakan tersebut sedang kami bahas, termasuk pengetatan izin operasi SPBU Asing di Indonesia.”

Sikap Malaysia yang diskriminatif itu dibanding perlakuan Pemerintah Indonesia terhadap SPBU Petronas Malaysia, yang telah bercokol di Indonesia sejak beberapa tahun yang lalu, serta telah memiliki paling sedikit 19 SPBU tersebar di seluruh nusantara, menyebabkan timbulnya reaksi keras dari masyarakat. Bahkan, beberapa anggota Komisi VII DPR RI, merekomendasikan kepada Pemerintah untuk segera mencabut izin semua SPBU Petronas yang beroperasi di Indonesia.

Seharusnya, dalam menyikapi masalah ini, Pemerintah Indonesia harus mengedepankan langkah persuasif sehingga tidak menimbulkan kerugian finansial yang lebih besar akibat terhentinya aktifitas bisnis. Adapun sikap yang ditunjukkan beberapa anggota Komisi VII DPR RI, bukanlah sebuah solusi tapi hanya ungkapan spontanitas yang timbul akibat dorongan emosional yang sangat tinggi.

Pemerintah, sebelum membuat regulasi berkenaan dengan izin pendirian SPBU asing di dalam negeri, seharusnya terlebih dahulu sudah melakukan studi comparasi dengan beberapa negara asing di kawasan.  Dengan begitu sewaktu diterapkan tidak memberatkan salah satu pihak atau merasa didiskriminasi karena regulasi tersebut telah sesuai dengan yang berlaku di beberapa negara di kawasan, menyangkut izin pendirian SPBU di masing-masing negara.

Namun, hal yang sangat mencengangkan, seolah-olah semua persyaratan yang dibuat selama ini menyangkut izin pendirian SPBU asing di tanah air, hanya berpegang kepada landasan ABS (asal bapak senang), atau berdasarkan order pihak-pihak tertentu. Ini mengakibatkan rentan timbulnya berbagai konflik yang datang silih berganti akibat keputusan yang kurang teruji keakuratannya. Dikhawatirkan dapat mengancam kerjasama yang lebih luas antar kedua bangsa di masa depan. (*)



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://kabarindonesia.com//




 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Astra International Investasi USD150 Juta di GO-JEKoleh : Rohmah Sugiarti
12-Feb-2018, 22:21 WIB


 
  Astra International Investasi USD150 Juta di GO-JEK Menteri Komunikasi & Informasi RI Rudiantara (kedua kiri) bersama Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto (kedua kanan), Chief Executive Officer & Founder Go-Jek Nadiem Makarim (kiri) dan President & Co-Founder Go-Jek Andre Soelistyo berswafoto bersama seusai konferensi pers
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Konsisten Pegang Teguh Netralitas 15 Feb 2018 23:19 WIB


 

 
 

 

 

 

 
Walk to Museum Bahari Yogyakarta 12 Feb 2018 16:23 WIB

 

 

 

 
Nasehat Mengelola Amarah 04 Feb 2018 11:15 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia