KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPresiden Jokowi: Awasi Penyaluran Bansos, Libatkan KPK, BPKP Dan Kejaksaan oleh : Danny Melani Butarbutar
19-Mei-2020, 13:27 WIB


 
  KabarIndonesia Mengutip infoKABINET.id, dikabarkan bahwa terkait penyaluran bansos terkait pandemi covid-19 yang ditengarai salah sasaran dan diduga disalahgunakan, Presiden Jokowi secara tegas meminta untuk diawasi.

“Untuk sistem pencegahan, minta saja didampingi dari KPK, BPKP, atau dari Kejaksaan. Kita
selengkapnya....


 


 
BERITA EKONOMI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 
Melawan Hoax Virus Corona 21 Mei 2020 15:19 WIB


 
Aroma Kematian 09 Mei 2020 13:56 WIB

Selamat Malam Kehidupan 25 Apr 2020 14:27 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
EKONOMI

Batam dan air
Oleh : Edy Burmansyah | 29-Des-2006, 20:26:10 WIB

Oleh : Edy Burmansyah

Peperangan berikutnya adalah pertempuran memperebutkan air (Boutros-Boutros-Ghali, 1993)

Batam kelak adalah Gunung Kidul di tahun 1960’an. Saya membayangkan itu beberapa hari lalu, setelah membaca hasil penelitian BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) tentang ancaman krisis air bersih di Batam yang diprediksi bakal terjadi pada tahun 2009.

Dihadapan saya, laporan penelitian itu menghadirkan kegerian yang tak pernah sama sekali terbayangkan: “Jika perhitungan kebutuhan air bersih di Batam didasarkan pada kecepatan perkembangan penduduk. Dan berdasarkan perhitungan tersebut, jumlah penduduk di pulau Batam diprediksi akan mencapai 1.050.000 jiwa pada tahun 2010, serta akan mencapai 1.450.000 jiwa sepuluh tahun kemudian. Sementara kebutuhan air bersih perkapita diasumsikan sebesar 350 liter per hari (standar kebutuhan air bersih di kota metropolitan dunia termasuk kebutuhan air domestik dan industri 300 hingga 400 liter/orang/hari). Sedangkan kapasitas suplly air bersih maksimum di Batam adalah 3.850 liter per detik, maka defisit air bersih di Batam akan terjadi pada tahun 2009, yaitu ketika jumlah penduduk di Batam mencapai 950.000 orang.”

Batam 2009 adalah Gunung Kidul di tahun 1960’an, satu wilayah tandus, nun di Yogyakarta, ketika hujan bersembunyi di balik awan dan musim kemarau seperti begitu betah dan enggan beranjak. Gunung Kidul 1960’an adalah masa dimana air bersih jauh lebih berharga dibandingkan satu kilo gram berlian atau emas, dan setetes air dapat seketika mengundang amuk massa.

Barang kali suatu hari nanti kulit kita mungkin memang sudah tak semulus sekarang ini, hitam legam, penuh dengan daki, dan badan kita mengeluar bau yang tak sedap karena kita hanya mandi dua hari sekali. Batam di tahun 2009 itu disesaki oleh orang-orang yang lelah dan lusuh, anak-anak yang kehausan, pemandangan panjang ibu-ibu dengan galon-galon air di tangan, serupa dengan kisah orang-orang antre air bersih pasca Sunami di Aceh. Bahkan mungkin pada hari-hari itu kita akan saling menghunuskan pedang dengan tetangga sebelah rumah. Atau juga lembaran-lembaran koran hanya diisi berita tentang perceraian suami-istri yang disebabkan ketiadaan air bersih.

Sementara yang lain terjebak dalam kekacauan, sebagian memutuskan untuk memenuhi ruang-ruang di pelabuhan domestik dan beton Sekupang, juga Bandara Hang Nadim, mereka hendak pulang kampong, mungkin pindah ke daerah lain guna mencari penghidupan baru. Pada titik itu Batam memang bukan dianggap rumah bersama, melainkan kos-kosan yang dapat ditingalkan kapan saja. Juga bagi investor asing maupun penanam modal dalam negeri. Ketika sudah tak ada lagi kenyamanan, maka pilihanya hanyalah Hengkang. Diseberang sana, Vietnam, Malaysia dan China menjanjikan tanah masa depan yang lebih baik.

Lalu seketika kawasan-kawasan industri hanya diisi oleh sedikit perusahaan yang tetap berusahaan bertahan meski itu susah sungguh. Karenanya Batam perlahan tapi pasti menjadi kota mati, kembali seperti sediakala ketika pulau ini masih cuma seongok tanah di seberang Singapura yang tak banyak dilirik orang. bedanya; jika dahulu sebelum dikembangkan jadi kawasan industri masih banyak hutan lebat dan nelayan-nelayan suka ria menangkap ikan, kelak ketika ditinggalkan pergi banyak penghuninya, Batam kota lebih menyerupai kota Sarajevo setelah perang Balkan berhenti, yang tersisa; gedung-gedung yang berdebu dan jorok, alang-alang yang tumbuh liar, dan jalan-jalan yang sunyi. Batam bakal jadi sarang persembunyian penyamun setelah merampok di Singapura atau Malaysia.

Dan bayang-bayang ke-ngerian itu terasa semakin dekat dan nyata saat Dam Baloi yang berfungsi sebagai tempat penampungan air dengan kapasitas penyimpanan 200.000 m3 dan mampu menghasilkan penyediaan air bersih sebesar 60 liter/detik, dialokasikan kepada pemilik modal untuk dibangun kawasan komersil. Belakangan ini saya ingin tahu, mengapa pemerintah secara sadar dan sewenang-wenang mengundang chaos kehadapan masa depan kita?. Saya mencari jawab, tapi tak dapat, saya tak tahu walaupun saya ingin tahu, tapi akhirnya saya tak tahu lagi bagaimana untuk tahu.

Saya tak tahu, mengapa kekuasan selalu akrab dan bersahabat dengan mereka yang suka menjual rohnya pada setan, juga keserakahan. Barangkali kekuasan memang suka mengutif Giambattista Vico dari Abad ke-18 Italia: Justru dari kebengsian, kebakhilan, dan ambisi manusia, telah lahir banyak hal yang baik di dunia. Dan keserahkan jugalah yang menyebabkan hutan lindung di gunduli, lalu diganti dengan hutan-hutan ruko, sehingga krisis air bersih di Batam yang diprediksi akan terjadi di tahun 2009, menyorotkan mata tajamnya.

Tapi barangkali inilah yang dimaksud; “ I’exploitation de l’homme par’lhomme “ (pengisapan manusia oleh manusia). ***

Edy Burmansyah, Direktur Eksekutif CSPP

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Saus Sate Indonesia Buatan Thailandoleh : Fida Abbott
22-Mar-2020, 03:07 WIB


 
  Saus Sate Indonesia Buatan Thailand Saus sate Indonesia ini saya temukan di toko kelontong daerah Chester, negara bagian Pennsylvania, AS. Harganya turun drastis dari $6.99 menjadi $0.99. Jumlahnya banyak sekali yang disetok di rak. Senang melihat salah satu saus terkenal Indonesia dijual di AS. Sayangnya,
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
DIE HARD - SUSAH MATEK 23 Mei 2020 10:41 WIB

 

 

 

 

 
MANG UCUP ITU CHINA BANANA 28 Jan 2020 00:52 WIB

 

 

 

 

 

 
SATU DETIK SETELAH KEMATIAN 26 Mei 2020 08:28 WIB

BACA ALKITAB ITU MENYEHATKAN 23 Mei 2020 12:40 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia