KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniTeologi Inklusif Sebagai Alternatif oleh : Gunoto Saparie
18-Des-2017, 07:04 WIB


 
 
KabarIndonesia - Mendengar istilah "teologi inklusif", saya langsung teringat kepada Nurcholish Madjid. Nurcholish adalah salah seorang cendekiawan muslim yang concern cukup mendalam terhadap persoalan hubungan agama-agama dan dialog antaragama. Ia secara teoritis mengedepankan pencarian dan konsep titik temu agama-agama secara eksplisit
selengkapnya....


 


 
BERITA EKONOMI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Jatuh Cinta Kepada Telaga 26 Nov 2017 11:31 WIB

Dunia Imitasi 23 Nov 2017 15:40 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Beda Hemat dan Pelit

 
EKONOMI

Beda Hemat dan Pelit
Oleh : Setyo Sudirman | 15-Aug-2017, 02:01:09 WIB

KabarIndonesia - Kita tentu pernah dikata-katai "pelit" dari teman, sahabat dan kenalan kita. Entah mengapa, banyak dari kita terlalu gampang menuduh teman, sahabat dan kenalan dengan kata-kata ini, padahal kita tak tahu persis kondisi keuangannya. Antara pelit dan hemat, kita tak pernah peduli.

Jadinya tak heran, kata pelit itu lebih gampang nyosor dari mulut kita untuk mereaksi seseorang yang tak mau mentraktir, tak mau berbagi hingga tak mau memberi tanpa melihat konteks dan kondisi riilnya.

Pelit jelas kosa kata negatif yang bila diucapkan bisa menyakitkan lawan bicara. Kata pelit berkonotasi negatif dengan merujuk pada kata kikir alias tidak suka memberikan sesuatu pada orang lain.

Uniknya, dalam pergaulan sehari-hari, kata pelit ini bisa menjadi semacam senjata yang digunakan untuk mendesak atau "memaksa" seseorang agar mau mentraktir, membeli atau memberikan sesuatu.

Orang yang kikir biasanya tidak disukai yang lain. Ketika hendak membantu yang lain, ia banyak berpikir karena takut uangnya berkurang. Saat bencana pun, orang yang tergolong kikir tak mau mau memberi bantuan. Kalau pun ikut memberi bantuan, nominalnya sangat kecil. Bisa saja ia beralasan ogah membantau sesama yang sedang terkena bencana karena merasa belum kaya. Begitulah gambaran orang kikir.

Berbeda dengan orang yang kikir, mereka yang hemat itu menggunakan uang dengan cermat dan hati-hati supaya tidak lekas habis. Pada praktek pergaulan dan kehidupan sehari-hari, orang yang hemat tak jarang juga jadi sasaran tembak kata-kata pelit. Hebat dan kikir itu campur-aduk.

Orang yang hemat itu biasanya memiliki perencanaan dan pengelolaan uang yang baik. Ia mampu mengelola keuangannya dengan bijak tatkala harus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, bayar tagihan bulanan, menabung hingga investasi.

Menjadi hemat dengan dituding kikir tentu lebih baik daripada menjadi tidak kikir alias royal, tapi ternyata keuangannya acak-kadul. Nah, menjadi hemat di era digital seperti saat ini tidak lah sulit. Banyak platform modern yang memudahkan kita untuk mengalokasikan dana-dana yang kita miliki seperti Platform IPOTPAY.

Fintech ini memberikan kemudahan untuk bayar, beli dan transfer uang dengan jadwal yang rapi sekaligus memberikan imbal hasil sebesar 7-9 % pertahun untuk dana yang tersimpan di dalamnya. Hemat dengan platform modern membuat keuangan pribadi terkelola dengan baik. (*)

Sumber Foto
: furkoni.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Kumpul Akbar Wirausahawan Suzuki 2017oleh : Rohmah Sugiarti
16-Des-2017, 22:18 WIB


 
  Kumpul Akbar Wirausahawan Suzuki 2017 PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) bersama main dealer di 36 kota Indonesia gelar kembali Kumpul Akbar Wirausahawan Suzuki (KAWIR). KAWIR pada tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga kalinya, setelah sebelumnya diadakan pada tahun 2014 dan 2015 lalu. Kali ini
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia