KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalRobert T.S. Nio Didaulat Menjadi Peragawan Tertua di Indonesia oleh : Redaksi HOKI
24-Nov-2017, 23:27 WIB


 
 
KabarIndonesia – Jakarta, Ada yang unik dalam peragaan busana (fashion show) bertajuk “Imagine Possibilities Fashion Trunk Show” oleh desainer Anthony Bachtiar yang digelar di Jakarta Creative Hub Jakarta tadi malam (25/11).

Pada peragaan busana yang dimulai pukul
selengkapnya....


 


 
BERITA EKONOMI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Dunia Imitasi 23 Nov 2017 15:40 WIB

Kontemplasi (تفكر) 23 Nov 2017 09:41 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
EKONOMI

Membongkar Relasi Eksploitatif Bank dan Nasabah
Oleh : Setyo Sudirman | 23-Aug-2017, 09:55:28 WIB

KabarIndonesia - Bunga tabungan nasabah tetap rendah, sementara saat harus meminjam uang ke bank yang notabene kita menjadi nasabahnya, bunga yang dikenakan melejit jauh di atas inflasi dan terkesan mencekik.

Narasi besar (grand narrative) seperti kapitalisme dan komunisme memang telah berlalu. Yang kini berseliweran di sekitar kita adalah kombinasi ekspansi modal finansial dan kemajuan teknologi yang melaju dengan daya gedor dominasi dan hegemoni. Harus diakui narasi besar ini tidak melaju dengan desain besar karena telah menjelma menjadi siluman dan drakula rakus yang masuk ke hampir semua bidang kehidupan personal dan sosial kita.

Tak ayal, muncullah bermacam-macam model siluman dan drakula rakus, lengkap mulai dari yang biadab hingga yang beradab. Wujud nyata dari hegemoni ekspansi modal finansial di Indonesia saat ini adalah perbankan. Uniknya, sadar tidak sadar, langsung tidak langsung, kita menjadi suporter pasif dan aktif ekspansi modal finansial dunia perbankan yang hadir dengan daya gedor eksploitatifnya. Alhasil, dunia perbankan makin kokoh.
Kantor-kantor cabang bank dibuka hingga di wilayah pinggiran dengan gedung yang megah. Beragam fasilitas bank makin mudah dijumpai di manapun. Laporan laba tahunan bank pun triliunan. Sayangnya, nasabah tetap saja dirugikan. Bunga tabungan nasabah tetap rendah, sementara saat harus meminjam uang ke bank yang notabene kita menjadi nasabahnya, bunga yang dikenakan melejit jauh di atas inflasi dan terkesan mencekik.

Fakta ini jelas memunculkan gagasan relasi ekploitatif nasabah-bank. Bank tentu nyaman dengan relasi model seperti ini. Oleh sebab itu, untuk merawat relasi ekploitatif ini bank bergerilya untuk meninabobokan nasabah. Bank melakukan gerilya senyap yang sejatinya melakukan kekerasan simbolis.

Gerilya senyap itu mewujud dalam bentuk iklan. Iklan-iklan perbankan menerkam dan mengepung kita dimana pun kita berada. Sebagai suatu gerakan yang simbolis, ia tak menyebabkan luka fisik. Kata-kata yang kuat mengurung nasabah dengan iming-iming yang menggiurkan. Bahasa iklan perbankan menentukan cara melihat, merasakan, berpikir dan bertindak.

Benoit Heilbrunn (2003) alam karyanya “La douce violence des marques” dans “Pascal Lardellier, Violence Mediatiques” Paris: L'Harmattan, memaparkan bahasa iklan menerobos semua celah kehidupan sehari-hari.

Iklan menguntit kita. Ia ada di dekat pintu masuk tol, dekat stasiun, pasar, tempat nongkrong, bahkan di hingga di toilet dan menempel di dinding tempat ibadah yang dianggap sebagai tempat suci.

Kemanapun kita pergi, iklan menyapa kita. Bahkan, begitu kita nangkring di toilet dan membuka smartphone, ia ada di sana. Ia yang hadir dalam keseharian menurut Dr. Haryatmoko “Etika Komunikasi: Manipulasi Media, Kekerasan dan Pornografi” (Kanisius: 2007), menyatu dalam hidup sehari-hari.

Rayuan bank hadir di kehidupan sehari-hari tanpa keganjilan, keanehan, keterkejutan atau penolakan karena memang telah terjadi persekongkolan tak sadar antara produk dan nasabah. Banyak dari kita merasa sadar, tetapi sejatinya kenal “gendam”.

Iklan-iklan, promo dan layanan baru meninabobokkan nasabah. Cara-cara menggiurkan ini hanya strategi bank menahan nasabah. Perbankan menginginkan nasabah terus menabung dengan bunga kecil plus potongan ini-itu mulai biaya administrasi yang besarnya bervariasi mulai dari ribuan rupiah per bulan hingga Rp 20 ribu per bulan.

Ada lagi yang namanya biaya penalti dimana pemilik rekening dengan saldo kurang dari jumlah minimal yang ditetapkan bank biasanya dikenakan penalti. Menyusul biaya transfer dan tarik tunai antar bank. Besaran biaya ini bervariasi mulai dari Rp 6.500 per transaksi. Ada lagi, biaya penggantian kartu kredit yang hilang atau rusak dan biaya pembayaran tagihan via ATM. Ini semua potret konkret bagaimana relasi eksploitatif itu terjadi.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Mendes PDTT Ajak Astra Lanjutkan Membangun Indonesia dari Wilayah Terluar Mendes PDTT Republik Indonesia Eko Putro Sandjojo melakukan pemeriksaan darah di booth pengobatan gratis yang disediakan dalam acara Festival Kesehatan Inspirasi 60 Tahun Astra di Hotel Rinra Makassar hari ini (18/11). Acara Festival Kesehatan ini mendapatkan respon positif dari masyarakat
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Beriman dan Bijaksana 12 Nov 2017 06:45 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia