|
KabarIndonesia - Pagi itu mentari menyingsing fajar. Biasnya memancar di antara dedaunan hijau yang dibasahi embun pagi. Segerombolan burung Tasik terbang di antara Bukit Barisan yang masih terselimut kabut. Satu persatu cucu Adam mulai lalu lalang dengan kesibukan masing-masing. Mereka lewat di jalan yang sudah terbungkus aspal dengan senyuman di bibirnya, sembari memikul bakul dan setangkai cangkul. Begitulah suasana pagi di Desa Muara Siambak, Ranah Mandailing Natal, Sumatera Utara. Sejenak kemudian, segerombolan penduduk berbaris mengitari pinggiran jalan seperti mengenakan topi yang begitu lebar, yang ternyata sebuah dulang yang terbuat dari kayu. Beriringan, mereka berjalan menuju sungai Batang Gadis nan jernih airnya. Takjub dengan pemandangan itu! Siapapun pasti terhipnotis untuk mengikuti jejak kaki masyarakat pendulang emas ini. Sungguh pemandangan yang luar biasa.
Muara Siambak merupakan kampung mungil yang terletak di lereng bukit barisan yang menjulang tinggi. Desa yang terletak di Kecamatan Kotanopan, Mandailing Natal di belah sungai Batang Gadis. Sepanjang sisinya, membentang sawah-sawah dengan padi yang mulai menguning. Disebut Muara Siambak, karena di desa ini juga mengalir sungai Siambak yang bermuara ke Batang Gadis. Ranah Mandailing sejak dahulu kala sudah terkenal dengan tanahnya yang banyak mengandung unsur logam, termasuk emas. Ini terbukti dari banyaknya lobang-lobang penambangan yang masih utuh hingga sekarang, sebagai bekas penambangan kolonial Belanda dahulu. Dan bukti ini masih bisa dilihat dari banyaknya masyarakat yang bermatapencaharian sebagai penambang emas tradisional. Manggore merupakan istilah orang Mandailing untuk menyebutkan penambangan emas di sungai. Dan biasanya manggore ini dilakukan menggunakan dulang yang terbuat dari kayu. Gusti (27) salah seorang penambang memaparkan, untuk melakukan penambangan langkah pertama adalah mencari lokasi penambangan yang cocok di sekitar pinggiran sungai. ”Pertama kita pastikan dulu tempatnya. Bisa saja di pinggiran sungai. Atau kalau kita sanggup, di tengah sungai juga bisa,” papar Gusti, sembari duduk bersila di atas batu seraya mengisap rokok di pinggiran sungai. Tempat tersebut kemudian di empang dengan batu, agar arus sungai tidak membongkar tambang ketika dikorek ke bawah. Di hilir tambang, dipasang papan berdinding yang dialiri arus air sungai. Sebelumnya, papan yang disebut ”handaran” ini ditutupi dengan plastik dan karung goni jerami. Biasanya aksi penambangan ini dilakukan secara berkelompok, empat sampai lima orang perkelompok.
Salah seorang kemudian masuk ke dalam tambang, dan mulai melakukan pengorekan, menggunakan centong yang terbuat dari plat drum. Tanah yang dikeruk kemudian dimasukkan ke dalam papan pengayakan. Sementara yang lainnya, duduk atau jongkok di atas handaran, untuk mengurai pasir korekan. ”Ya! Beginilah bang caranya. Batu dan pasir akan hanyut dibuat arus sungai. Sementara yang berbentuk logam seperti emas akan tertinggal di atas goni jerami. Jadi kita tinggal mengambilnya, dan memasukkannya ke tempat yang sudah disediakan,” urai Gusti, sambil menunjukkan sekeping mas sebesar biji cabai yang terlihat mengkilat di atas goni jerami. Lanjut Gusti, karena setiap saat dikorek, otomatis tambang akan semakin dalam. Kadang kala bisa mencapai 3 meter ke dasar sungai. Semakin dalam lobang yang dikorek, semakin besar harapan menemukan emas yang dicari. Dan tentunya semakin sulit untuk melakukan pengorekan karena harus menyelam ke dasar lobang untuk mengambil tanah korekan. Gusti juga menjelaskan, selain dengan cara ini, sebagian masyarakat sudah ada yang menggunakan mesin pengisap tanah atau istilahnya ”Mardompeng”. Sebenarnya sambung gusti, caranya hampir sama. Kelebihannya dengan mesin, kapasitas penambangannya bisa lebih dalam. Dan tentunya, biaya operasionalnya lebih besar. Sebenarnya kata Gusti, dari tahun ke tahun tetap tanah itu juga yang ditambang oleh masyarakat. Usai ditambang dan emasnya dikuras, lobang kemudian dengan sendirinya tertutup kembali karena arus air. Jika musim Manggore datang, tanah ini kemudian ditambang lagi. Uniknya, masyarakat tetap saja menemukan emas di dalamnya. Aktivitas penambangan ini sebenarnya merupakan mata pencaharian musiman di desa ini. Sedangkan mata pencaharian asli masyarakat di Desa Muara Siambak adalah menyadap getah pokok karet. Namun karena murahnya harga karet akibat deraan krisis global, masyarakat beralih profesi menjadi penambang emas. Hasilnya juga lumayan. Bila sedang bagus, masyarakat bisa bergaji hingga ratusan ribu perharinya. Apalagi saat ini harga emas dunia tengah melonjak. Bila sore telah menjemput, para penambang ini pun segera menghentikan aktivitasnya. Handaran kemudian diangkat, untuk dibersihkan. Logam dan pasir halus yang menempel di karung goni kemudian disiramkan ke atas dulang, untuk memisahkan biji mas dengan biji besi. Para penambang ini kemudian pulang ke rumah masing-masing dengan mas yang didapat, sembari beristirahat menunggu mentari esok datang kembali. (*)
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://www.kabarindonesia.com/
|