KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPemerintah Harus Bersatu Demi Pulihkan Wilayah Terkena Bencana oleh : Rohmah S
17-Okt-2018, 15:20 WIB


 
 
KabarIndonesia- Jakarta, Indonesia menjadi salah satu negara yang sangat rawan terhadap berbagai bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir dan lainnya. Hal ini karena secara geografis Indonesia berada di kelilingi "cincin api (ring of fire)" sehingga potensi terjadi
selengkapnya....


 


 
BERITA EKONOMI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Duhai Kau yang Sedang Diuji 21 Okt 2018 11:53 WIB

Tentang Dia 21 Okt 2018 11:53 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Deklarasi Garda Relawan Jokowi 13 Sep 2018 12:43 WIB

 
 
EKONOMI

Penyebab Kematian Ratusan Ton Ikan di Danau Toba Berhasil Diidentifikasi
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 16-Sep-2018, 17:55:03 WIB

KabarIndonesia - Samosir, Sebagaimana dilansir berbagai media lokal dan nasional bahwa ratusan ton ikan mas dan ikan mujahir kerambah jaring apung jenis (KJA) milik masyarakat, di dusun I kelurahan Pintusona kecamatan Pangururan Samosir. Diperkirakan total berat ribuan ikan yang mati itu mencapai 180-200 ton, sedang pemilik KJA dilaporkan sejumlah 28 Kepala Keluarga.

Mendapat laporan masyarakat, Bupati Samosir bersama SKPD terkait, TNI dan POLRI langsung melakukan kunjungan lapangan untuk meninjau lokasi kejadian dan segera mengambil tindakan serta menginstruksikan agar dilakukan evakuasi ikan yg mati dari KJA dan mengubur di darat dengan menggunakan alat berat (escavator). Evakuasi dan penguburan ikan mati dibantu oleh SKPD terkait seperti Satpol PP ,Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian, BPBD, kecamatan Pangururan, dan masyarakat sekitar Pintusona.

Menjawab pertanyaan media, Bupati Samosir menjelaskan bahwa untuk sementara penyebab kematian ikan tersebut adalah karena ikan kekurangan oksigen, tingginya kepadatan populasi ikan dalam setiap kotak KJA yang sangat mengganggu sirkulasi oksigen yg mengakibatkan kurangnya pasokan oksigen. Di samping itu lokasi KJA tersebut terlalu dangkal diakibatkan surutnya air danau toba dan dasar perairan berlumpur.

Dugaan penyebab utama kematian ikan-ikan tersebut adalah up welling (kekurangan oksigen) diakui kepala bidang Perikanan dinas Pertanian kabupaten Samosir Jhunellis Sinaga, ( 22/08).

“Sebelumnya juga hal itu sudah pernah terjadi di tahun 2016, tepatnya di Tanjung Bunga desa Siogung ogung, dan itu disebabkan karena perubahan suhu dari dasar perairan ke permukaan (Up Welling), sehingga amoniak itu jadi meningkat dan gas-gas beracun yang dari dasar itu jadi ikut naik sehingga oksigen yang diperlukan oleh ikan jadi berkurang dan menyebabkan ikan tersebut mati”, ungkapnya.

"Penyebab lainnya juga karena cuaca, saat ini di Samosir kan cuaca nya lagi kemarau panjang. Angin kencang berpengaruh terhadap perbedaan suhu air di permukaan dan di bawah menyebabkan pergerakan massa air dari bawah ke permukaan. Pergerakan massa air secara vertikal (up welling) ini membawa nutrien dan partikel-partikel dari dasar perairan yg membuat pasokan oksigen untuk ikan menjadi berkurang." jelas Jhunellis.

Berbarengan dengan evakuasi dan penguburan ratusan ton ikan mati tersebut, Bupati Samosir juga meminta Dinas Pertanian untuk membawa sampel ikan, air dan pakan untuk diteliti di laboratorium Medan untuk memastikan secara ilmiah apa penyebab kematian ikan tersebut.

Sementara kepada warga masyarakat dan para pemilik KJA, Bupati Samosir memberi arahan dan permintaan antara lain, pertama, pemilik kerambah apung khususnya yang berdekatan dari lokasi matinya ikan tersebut agar menjauhkan kerambahnya untuk sementara waktu sehingga aroma ikan busuk tidak mempengaruhi ikan lainnya.

Kedua, masyarakat yang memiliki kerambah apung disekitarnya, untuk menjauhi kerambah apung nya agar tidak terdampak penyakit akibat dari bangkai ikan, dan upayakan agar memberi jarak minimal 100 meter jarak dari kerambah yang satu dengan kerambah yang lain.

Ketiga, kepada masyarakat pemilik KJA dihimbau agar mengosongkan KJA minimal 2 bulan dan mencuci net dan semua peralatannya agar situasi normal kembali.

Bupati Samosir berharap kedepannya, pihaknya akan tata zona dan penerapan secara tehknis mengenai kerambah apung masyarakat. ”Saat ini draf nya sudah kita susun, dalam tahun ini semoga dilanjutkan menjadi perda”, terangnya.
Sementara itu diperoleh informasi bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berhasil mengidentifikasi penyebab kematian massal ribuan ekor ikan di kecamatan Pangururan, Danau Toba beberapa bulan lalu.

Kepala Badan Riset dan SDM (BRSDM) KKP, Sjarief Widjaja, mengatakan jika asumsi harga jual ikan adalah Rp 25.000/kg, maka kerugian mencapai Rp 5 miliar. Dia mengatakan penyebab matinya ribuan ikan ini akibat dari terlalu banyaknya jumlah ikan dalam keramba jarring apung (KJA), serta pendangkalan di beberapa sisi danau yang menggunakan KJA hingga kurang dari 20 meter. Terlalu padatnya ikan maka dapat mengakibatkan penurunan suplai oksigen, sehingga ribuan ikan tersebut mati.

Sjarief kemudian menjelaskan beberapa solusi yang disiapkan untuk mencegah hal yang sama terulang kembali di masa depan, yakni:
Pertama, setiap usaha budidaya di perairan tertutup seperti danau harus menghitung luasan danau dan kolom air volumenya. Dari situ kemudian bisa dihitung luas KJA yang diizinkan.

Kedua, harus ditentukan titik-titik danau yang diizinkan untuk membuka KJA. Teluk-teluk tertutup di danau/waduk yang minim arus air tidak diperbolehkan untuk membuka KJA. Lokasi dengan kedalaman di bawah 20 meter (pendangkalan) juga tidak diperbolehkan.

Ketiga, manajemen gulma seperti enceng gondok juga diperlukan, dengan membuat petak-petak seperti sawah di tengah danau, sehingga komposisi gulma, air dan ikan dapat seimbang.

"Gulma ini sifatnya mengikat lumpur sehingga mengakibatkan pendangkalan. Namun di sisi lain dia juga berfungsi sebagai pakan, menjernihkan air, dan dapat menjadi pupuk serta bahan baku kerajinan tangan seperti tas," ujar Sjarief.

Kemudian, solusi berikutnya adalah bergeser ke Culture Based Fisheries (perikanan tangkap berbasis budidaya/CBF), di mana populasi jenis ikan akan diatur berdasarkan zona kedalaman danau.
"Dalam satu tahun, ada masanya danau tidak boleh ditanami, karena dia butuh periode breathing. Di Danau Toba, rekomendasi kita Februari-Juni boleh ada KJA, selebihnya berhenti dulu," katanya.

Saat ini, KKP sudah menerapkan sistem CBF di Waduk Jatiluhur, dan dalam waktu dekat juga akan diterapkan di Waduk Cirata dan Saguling dalam rangka program Citarum Harum. "Ini penting untuk ekonomi lokal. Kalau dari 3 danau ini modelnya berjalan baik, akan kita rekomendasikan sebagai Peraturan Menteri di bulan Maret 2019. Tapi harus kita ujicoba dulu," jelas Sjarief Widjaja dalam konferensi pers di kantornya, Kamis (13/9/2018).(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
BPBD Papua Belajar Analisis dan Pengembangan Organisasioleh : Djuneidi Saripurnawan
28-Aug-2018, 06:07 WIB


 
  BPBD Papua Belajar Analisis dan Pengembangan Organisasi TATTs Program: Analisis dan Pengembangan Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Papua
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Berhutang Oksigen 21 Okt 2018 11:51 WIB


 
Selamat HUT TNI Ke-73 13 Okt 2018 19:46 WIB

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 

 

 
Khasiat Buah Bit untuk Kecantikan 16 Sep 2018 16:05 WIB


 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia