KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniMasa Isolasi Itu Adalah Anugerah Dari Tuhan oleh : Kabarindonesia
01-Apr-2020, 10:45 WIB


 
 
KabarIndonesia - Rasa kuatir dan takut umat manusia di bumi melanda semua negara akibat pandemik covid-19. Banyak negara mengambil keputusan untuk lockdown, kebijakan social distancing bahkan meminta setiap orang untuk karantina sendiri di rumah.Di tengah masyarakat yang demikian, timbul pro
selengkapnya....


 


 
BERITA EKONOMI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Rembulan di Celah Matamu 07 Mar 2020 15:27 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
YUK LAWAN WABAH KESEPIAN ! 21 Mar 2020 12:41 WIB


 

Perlu Grand Design Strategi Pembangunan Inklusif Terhadap ‘Unbalanced Growth’ di Indonesia

 
EKONOMI

Perlu Grand Design Strategi Pembangunan Inklusif Terhadap ‘Unbalanced Growth’ di Indonesia
Oleh : Dantas | 25-Des-2019, 01:12:26 WIB

KabarIndonesia  Mencermati kondisi perekonomian Indonesia belakangan ini dalam Pemeritahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), ada beberapa analisis yang berkembang dari kalangan akdemisi dan pemerhati yang perlu menjadi perhatian.      
Dalam Seminar bertajuk ‘Refleksi Ekonomi Akhir Tahun dan Outlook 2020', Prof. Mudrajad Kuncoro, Ph.D, Rektor Universitas Trilogi berpendapat, perlu Grand Design Strategi Pembangunan Inklusif Pertumbuhan Ekonomi, dalam mendorong pertumbuhan ekonomi secara makro.
 
Menurut Guru Besar ilmu Ekonomi pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) ini, kondisi tersebut merujuk kepada masih adanya ketidakseimbangan pertumbuhan (unbalanced growth) di berbagai wilayah dan kalangan di Indonesia, sehingga menciptakan perlambatan terhadap stimulus pertumbuhan ekonomi.

Dikatakan Rektor yang baru menjabat Nopember 2019 lalu ini, salah satu indikatornya adalah, ketika income per kapita masyarakat meningkat, tidak serta merta kesenjangan pendapatan itu dinikmati secara merata oleh masyarakat.   "Ketika income per capita masyarakat meningkat, kesenjangan pendapatan masyarakat justru makin tinggi. Berarti kenaikan income per capita itu hanya dinikmati oleh kalangan atau wilayah tertentu saja," ungkapnya sebagai pembicara pertama seminar, di gedung Auditorium, lantai 2, Kampus Universitas Trilogi, Kalibata, Jakarta Selatan, Jum'at (20/12/2019). 
 
Dalam penelitiannya, hipotesis Kuznets tentang grafik U-Terbalik tidak terbukti di Indonesia. Malah hubungan ketimpangan dan GDP per kapita berbentuk huruf U selama 1964-2015 menunjukkan, makin tinggi pendapatan per kapita malah cenderung meningkatkan ketimpangan di Indonesia.

Menurut penulis 53 buku ekonomi ini, terjadinya ketimpangan antar provinsi sebagai Unbalanced development, dimana penyumbang utama ekonomi Indonesia adalah provinsi yang: (1) padat penduduk (Jawa); (2) kaya dengan sumberdaya alam (Riau, Sumut, Kaltim, Sulsel, Sumsel).

Sementara pertumbuhan Indonesia ditopang oleh konsumsi (consumption-driven growth), tapi unbalanced growth. Pada tahun 2019 triwulan II, konsumsi rumah tangga merupakan penopang utama ekonomi Indonesia (55,79% terhadap PDB Indonesia), diikuti oleh investasi (31,25%), pengeluaran pemerintah (8,71%), dan net export (-0,92%).
   
Dikatakan doktor lulusan University of Melbourne ini, perekonomian Indonesia tetap berdaya tahan meski unbalanced growth. Ada bauran kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah, yang diharapkan dapat mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang diprakirakan berada di sekitar 5,1% pada 2019 dan meningkat dalam kisaran 5,1-5,5% pada tahun 2020. Sedangkan pada Triwulan ke-3 tahun 2019, meski pertumbuhan ekonomi nasional 5.02%, provinsi yang tumbuh di atas 6% adalah Kaltim, Kaltara, Sultra,Sulteng, NTB, DIY, DKI.
  
Sementara itu, lanjutnya, sektor penopang utama ekonomi Indonesia yakni industrialisasi, yang telah membawa perubahan struktur ekonomi Indonesia sejak 1990-an. Dan sejak tahun 2000, ada 3 (tiga leading sektor Indonesia yakni: industri manufaktur, perdagangan-hotel-restoran, pertanian. 

Tapi anehnya, transformasi pasar tenaga kerja tidak sejalan dengan transformasi struktur ekonomi selama 2011-2018, yang masih didominasi sektor pertanian (30-38%), diikuti perdagangan-hotel-resto (20-23%), industri pengolahan (13-14%), dan konstruksi (5-6%). Mayoritas pelaku sektor pertanian adalah buruh tani dan petani gurem (kurang dari 0,25 ha).

Disisi lain, ada 4 (empat) kendala dalam mengembangkan industri di luar Pulau Jawa Infrastruktur Listrik, jalan, rel kereta api, pelabuhan, dan air kondisinya kurang memadai Tata Ruang Belum semua kabupaten atau kota telah mempersiapkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), khususnya kawasan industri Minat Pembangunan minat swasta untuk membangun kawasan industri yang baru, terutama ke luar Jawa juga masih kurang.

Kendala lainnya, dalam memulai bisnis di Indonesia masih membutuhkan 10 prosedur, dengan memakan waktu 20 hari pengurusan izin, dan biaya 6,1% dari pendapatan per kapita.  Sedangkan 16 Paket kebijakan pemerintah belum  mampu menjawab persoalan investasi.   Hal ini ditunjukkan dalam daya saing global Indonesia tahun 2019, berada di peringkat ke-50, yang menurun dibandingkan 2018 (peringkat ke-47) dan awal era Jokowi (peringkat ke-34 tahun 2015). Demikian juga masih buruknya dalam ‘labour market efficiency' dan ‘technological readiness'. 

Sebab itu menurut Guru Besar yang dikukuhkan di usia 39 tahun ini, untuk medorong pertumbuhan ekonomi, Pemerintah perlu membuat Grand Design Strategi Pembangunan Inklusif untuk mengatasi ‘Unbalance Growth' dengan menetapkan beberapa langkah berupa: Kebijakan Penciptaan iklim investasi yang probisnis; Kebijakan Anggaran Daerah; Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan UMKM; dan Pengembangan wilayah, daerah, desa.
  
Dengan pertumbuhan ekonomi, tentu harus mampu menciptakan lapangan kerja baru, dan di sisi lain, harus mendukung terhadap penurunan tingkat kemiskinan. Penurunan tingkat kemiskinan harus pula berorientasi terhadap Program Pemenuhan Kebutuhan Dasar untuk 40% penduduk termiskin; dan Program Pemberdayaan & Kewirausahaan, sehingga keseluruhan dapat mencapai Peningkatan Kesejahteraan Rakyat dan Pembangunan Inklusif.
    
Sementara itu, pembicara seminar lainnya adalah, Dr. Ir. Benny Pasaribu, M.Ec (mantan Ketua KPPU); Ir. H. Erman Soeparno, MBA., M.Si (mantan Menteri Tenaga Kerja); Dr. Ir. Mangasi Panjaitan, ME (Rektor Universitas Mpu Tantular 2017-2019/Alumni Lemhannas). Seminar dikendalikan moderator, Dr. M. Rizal Taufikurahman (dosen Universitas Trilogi).
   
Seminar dihadiri beberapa mantan pejabat negara antara lain: Drs. Subiyakto Tjakrawerdaja, Menteri Koperasi Indonesia pada tahun 1993 hingga tahun 1998 pada Kabinet Pembangunan VI dan Kabinet Pembangunan VII, yang juga sebagai Ketua Yayasan Pengembangan Pendidikan Indonesia Jakarta (YPPIJ), Prof. Dr. Haryono Soeyono, mantan Ketua BKKBN, Prof. Laode Kamaluddin (mantan anggota DPR/MPR RI), Dr. Kabul, dan lain-lain.
 
Acara seminar berlangsung dengan dinamis, yang diikuti sekitar 500-an peserta, yang terdiri dari: para mahasiswa Universitas Trilogi, mahasiswa Universitas Indonesia, dan mahasiswa dan para dosen dari Universitas swasta di wilayah LL Dikti III Jakarta. Rencananya, Seminar ini akan digelar berseri sekali sebulan, dengan memilih topik-topik ekonomi yang up to date. (*)

Foto: Prof. Mudrajad Kuncoro, Ph.D, Rektor Universitas Trilogi saat presentasi.

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Saus Sate Indonesia Buatan Thailandoleh : Fida Abbott
22-Mar-2020, 03:07 WIB


 
  Saus Sate Indonesia Buatan Thailand Saus sate Indonesia ini saya temukan di toko kelontong daerah Chester, negara bagian Pennsylvania, AS. Harganya turun drastis dari $6.99 menjadi $0.99. Jumlahnya banyak sekali yang disetok di rak. Senang melihat salah satu saus terkenal Indonesia dijual di AS. Sayangnya,
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 
MANG UCUP ITU CHINA BANANA 28 Jan 2020 00:52 WIB

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia