KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalJalan Berliku Divestasi Tuntas, Kontrak Karya Freeport Sah Menjadi IUPK oleh : Wahyu Ari Wicaksono
22-Des-2018, 04:36 WIB


 
 
KabarIndonesia - Setelah sekitar dua tahun proses negosiasi intensif yang melibatkan pemerintah, Holding Industri Pertambangan PT INALUM (Persero), Freeport McMoRan Inc. (FCX) dan Rio Tinto, akhirnya pada hari ini telah resmi terjadi pengalihan saham mayoritas (divestasi) PT Freeport Indonesia (PTFI)
selengkapnya....


 


 
BERITA EKONOMI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Terbunuh Cinta Sendiri 05 Jul 2020 14:46 WIB

Negeri Nestapa 23 Jun 2020 09:15 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
LOVE STORY BIBI LUNG & YOKO 27 Jun 2020 05:00 WIB

 
YUUK DEMO NGEPUNG SURGA! 27 Jun 2020 06:33 WIB

 

Resensi Buku

 
EKONOMI

Resensi Buku
Oleh : Muhammad Arif | 06-Des-2010, 14:20:22 WIB

Judul : Negara Centeng: Negara dan Saudagar di Era Globalisasi
Penulis : I. Wibowo
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Terbit : I, 2010
Tebal : viii+270 halaman

Civil Society Yes Globalisation No
Oleh: Muhammad Arif*

Saat ini globalisasi bukan lagi sekedar mimpi. Kemajuan di bidang teknologi komunikasi dan transportasi telah memuluskan jalan bagi globalisasi untuk menjadi nyata. Dengan dukungan Internasional Governmental Organizations (IGO)—semisal IMF (Internasional Monetary Fund), World Bank, dan WTO (World Trade Organization)—begitu mudahnya para saudagar menancapkan korporasi-korporasinya dan menjual produk-produknya di berbagi belahan dunia. Begitu mudahnya mereka mengeruk sumberdaya dan mempekerjakan buruh murah di mana mereka mau.

Di Indonesia, gerak globalisasi tersebut sangat nyata. Pagi-pagi kita bangun, mandi memakai sabun LUX dan menggosok gigi dengan Pepsodent, yang keduanya merupakan produk dari Multinasional Corporation (MNC) bernama Unilever. Sehabis mandi mungkin minum kopi Nescafe, produk MNC Nestle. Kemudian berangkat ke tempat kerja dengan kendaraan bermotor produk salah satu MNC dari Jepang.

Di tempat kerja kita bekerja dengan bantuan komputer bermerk Acer yang dihasilkan oleh MNC asal Taiwan.kalau berbelanja mungkin kita lebih suka berbelanja di pasar serba ada bernama Carrefour, MNC dari Prancis. Tak lupa juga HP alat komunikasi mutlak kita sehari-hari, mungkin bermerk Nokia yang merupakan produk MNC dari Firlandia. Sulit dibayangkan seandainya Indonesia menutup diri dari globalisasi.

Melihat manfaat globalisasi seperti yang telah digambarkan di atas, maka banyak Negara memandang bahwa, untuk menjadi Negara yang maju harus mengikuti arus globalisasi, dalam hal ini globalisasi ekonomi. Jika Negara mengikuti arus globalisasi ekonomi, maka ia akan menerapkan golden straitjacket—perdangan bebas dan pasar bebas yang menjadi consensus global dan kemudian dikenal dengan Washington consensus—untuk bisa bersaing ditengah derasnya arus globalisasi. Dengan demikian, sulit untuk menentukan siapa masuk dalam tapal batas Negara apa dan global capital markets tidak lagi minta izin kepada Negara untuk menentukan nilai tukar mata uang.

Berangkat dari fakta tersebut kemudian Kenichi Omahe mempertanyakan eksistensi Negara dan menulis buku yang berjudul The End of Nation—State. Dengan alasan ekonomi global Omaahe mengatakan bahwa lenyapnya Negara adalah sebuah keniscayaan. Argumentasi Omahe tentang musnahnya Negara inilah yang berusaha ditinjau ulang oleh I. Wibowo dalam buku ini.
Di era globalisasi ini memang sangat relevan apabila peran dari Negara dipertanyakan. Hubungan antara Negara dan saudagar di era globalisasi mengalami keretakan dan saudagar tampil lebih kuat daripada Negara. Saudagar bisa mengadakan relokasi perusahaannya jika ekonomi di Negara asalnya mengalami kemunduran. (hal. 6) sementara Negara cenderung mengalah pada saudagar demi mempertahankan hidupnya.

Dalam buku yang berjudul negara centeng: negara dan saudagar di era globalisasi ini dijelaskan bahwa Negara tidaklah lenyap seperti yang telah dinyatakan oleh Omahe. Akan tetapi, Negara telah kehilangan esensinya sebagai pemegang kedaulatan dan pelindung warga negarnya. Karena tuntutan para saudagar global Negara lebih memilih melindungi para saudagar daripada warga negaranya. Walaupun MNC-MNC milik saudagar-saudagar itu nantinya menjadi pemeras buruh dan perusak lingkungan, Negara tetap mengijinkannya untuk beroprasi.

Mengembangkan konsep Hertz, buku setebal 270 halaman ini menegaskan bahwa Negara telah beralih menjadi centeng, menjadi pelindung bayaran sekelompok kecil saudagar nasional maupun global. Karena para saudagar membawa uang yang dibutuhkan Negara untuk menyelenggarakan Negara, maka kemudian Negara memeberikan jaminan keamanan bagi mereka. Saat ini memang sudah banyak saudagar yang mengusahakan sendiri pengawal dalam proses distribusi produk-produknya, tetapi hal ini merupakan gejala.

Selain mengajak pembaca untuk mengetahui tentang hubungan antara Negara dan saudagar di era globalisasi, buku ini juga menyinggung tentang global civil society. Global civil society adalah gerakan banyak kelompok dan organisasi di dunia yang menggugat proyek globalisasi. Dengan adanya global civil society ini dapat diketahui bahwa sekalipun Negara keteteran mengahdapi globalisasi ekonomi, masih ada sekelompok orang yang mau berjuang membela rakyat. Tetapi sayangnya usaha cemerlang yang dilakukan oleh kelompok-kelompok itu kurang mendapatkan dukungan dari Negara.

Akhirnya sekalipun buku ini tidak sempurna, buku ini tetap sangat menarik untuk dibaca. Selain bahasanya renyah, buku ini juga telah melengkapi kepustakaan kita tentang neoliberalisme dan globalisasi yang saat ini sedang kita hadapi.

*Muhammad Arif adalah peneliti The al-Falah Institute Yogyakarta


www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Sambal Oelek Indonesia Buatan ASoleh : Fida Abbott
02-Jun-2020, 02:23 WIB


 
  Sambal Oelek Indonesia Buatan AS Sambal Oelek ini saya temukan di Walmart Supercenter, Parkesburg, Pennsylvania. Awalnya saya mengira buatan salah satu negara Asia selain Indonesia karena tulisan di depan botolnya. Ternyata buatan Amerika Serikat. Tampaknya Indonesia harus meningkatkan persaingannya di pasar bebas dan jeli membidik
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 
MANG UCUP ITU CHINA BANANA 28 Jan 2020 00:52 WIB

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia