KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
RohaniDualitas Ghaib-Nyata (2): Menemukan Resonansi Ilahi oleh : Tonny Djayalaksana
10-Des-2018, 15:05 WIB


 
 
KabarIndonesia - Pada tulisan "Dualitas Ghaib-Nyata Bagian 1" telah dipaparkan tentang adanya fenomena manusia yang bisa berbicara dengan flora dan fauna. Temuan kenyataan tersebut serupa dengan yang diceritakan dalam Al Quran tentang Nabi Daud dan Nabi Sulaiman yang diberi keutamaan
selengkapnya....


 


 
BERITA IPTEK LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sepertiga Malam 05 Nov 2018 15:57 WIB

Duhai Kau yang Sedang Diuji 21 Okt 2018 11:53 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
IPTEK

Perdu dan Dedaunan Diolah Menjadi Pupuk Organik Cair Hasilnya Menggembirakan Petani Samosir
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 18-Mei-2018, 02:14:06 WIB

KabarIndonesia - Samosir, Rintik gerimis yang membasahi bumi 'kepingan surga' Samosir, tidak menyurutkan niat sejumlah petani belajar dan praktik langsung pembuatan kompos di Desa Pindaraya Kabupaten Samosir, Senin (14/5/2018).

Laporan rekan jurnalis Arjuna Bakkara, tribunnewsmedan.com mengabarkan bahwa edukasi tersebut dimotori oleh relawan tani Erwin Landy dan difasilitasi Dinas Lingkungan Hidup Sumatera Utara. Erwin Landy, seorang ahli pertanian merupakan orang yang telah lama jatuh cinta dengan Samosir, dan mendedikasikan diri bersama petani Samosir Frans Siallagan mencoba membuka mata petani-petani kecil di Pulau Samosir.

Menggunakan peralatan seadanya, dan semak-semak/perdu "sipaet-paet" sebagai bahan dasar Pupuk Organik Cair (POC). Kepada petani, Erwin menjelaskan bagaimana mengolahnya menjadi pupuk organik yang baik. Sambil menunjukkan "sipaet-paet" dia menyulap tumbuhan itu hingga fermentasi menjadi kompos. Bahan baku lainnya seperti jerami, rumput, gedebog pisang, limbah dapur semua dicincang.

Menurut Erwin, produk yang dihasilkan tak hanya pupuk semata, hasil fermentasi dapat juga dijadikan sebagai pengusir hama tanpa membunuh.
"Selain menambah kesuburan tanaman, kalau ada hama, seperti burung yang mau memakan padi maka akan pergi begitu saja. Begitu pun hama lainnya, tak perlu berdosa memusnahkannya dengan racun, tapi hama-hama akan pergi begitu saja dan tanaman terjaga," ujar Erwin yang akrab disapa Bumi Samosir ini.

Erwin, pria berdarah Jawa ini mengatakan "bertani organik menggunakan pupuk alam' memang seperti terdengar kuno, teknologinya sederhana, namun mempunyai dampak yang sangat luar biasa."

Di tengah 'kepungan' pestisida yang cukup merajalela, petani-petani ini selain diedukasi melestarikan alam dalam membangun pertanian, hasil pertanian yang mumpuni juga telah dirasakan sebagian petani. Dia berharap petani semakin menggalakkan pengadaan pupuk organik. Apalagi bahan mentah pupuknya bertebaran di segala penjuru pulau Samosir dan semak perdu "bunga sipaet-paet" adalah bahan baku yang paling bagus untuk dipermentasi.

Menurut Erwin, inisiatif mereka selama ini tanpa campur tangan pemerintah, dia mengedukasi petani. Sebagai relawan yang bergelut 15 tahun fokus, dia mencari solusi untuk mengatasi permasalahan pertanian di Samosir. Dengan teknologi yang murah, dan bahan baku yang ada di alam sekitar petani mulai semangat meninggalkan pestisida.

Sementara itu, Frans Siallagan, petani yang bermukim di Pindaraya Samosir mengatakan, kompos organik yang dihasilkan menjadi pilihan alternatif baginya. Pengolahannya dianggap mudah, bahkan secara manual saja petani dapat memproduksi, hanya bermodalkan drum atau tong sebagai wadah fermentasi. Menggunakan pupuk organik hasil tanamnya telah lebih baik. Produksi pertanian meningkat, dan tak lagi ketergantungan penggunaan pupuk kimia.

Kini, petani-petani binaan tersebut berkomitmen kembali menerapkan pola pertanian para pendahulu sebagai bentuk kearifan lokal. Penggunaan pupuk organik dianggap cukup berguna dalam memperbaiki tekstur tanah serta ramah lingkungan.

"Kerusakan struktur dan tekstur tanah menjadi berkurang dan kerugian akibat gagal panen tak lagi mengganggu. Dulu, petani lain gagal panen, tetapi dengan pupuk organik ini kami lepas dari kegagalan," ujarnya.

Diakuinya, penggunaan pupuk kimia jauh lebih praktis, sehingga petani cenderung memilihnya dalam budidaya tanaman mereka. Tetapi dengan bahan-bahan yang ada, daun bambu, batang pisang serta daun lamtoro, pupuk kandang, "sipaet-paet" telah menggeser sedikit demi sediki pestisida dan menghasilkan produksi serta mutu tanaman yang lebih baik.

Sementara itu, Erwin juga mengajak pengusaha hotel di Tuktuk agar dapat mengolah limbah menjadi pupuk organik sehingga bermanfaat bagi petani. Hal itu didukung Kepala UPT Pengelolaan Kualitas Air Danau Toba, Fauzi Ibsa Tarigan, yang turut had
"Penggunaan pupuk kimia dalam budi daya tanaman semakin memprihatinkan. Kualitas dan produksi pertanian mengalami penurunan. Kerenanya, penggunaan kompos pengganti pupuk kimia menguntungkan dan lebih tepat," ujarnya.

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australiaoleh : Rohmah S
10-Des-2018, 22:14 WIB


 
  Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australia 20 pelari dari 6 negara: Indonesia, Australia, Amerika, Inggris, New Zealand dan Swedia ikuti swimrun di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan dengan jarak lari 20km dan berenang 3km. Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk Boy Kelana Soebroto (kiri)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Khasiat Buah Bit untuk Kecantikan 16 Sep 2018 16:05 WIB


 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia