KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
EkonomiMenjadi Milenial Produktif Masa Pandemi Covid-19 oleh : Setyo Sudirman
09-Sep-2020, 16:35 WIB


 
 
KabarIndonesia - Salah satu kepiawaian generasi milenial dibandingkan generasi sebelumnya adalah kemahiran dalam teknologi. Boleh dikata, generasi memang sudah terpapar teknologi sudah sejak lahir.

Kalau generasi sebelum milenial biasa menikmati teknologi dengan gegap gempita televisi, milenial sudah beda arahnya dengan
selengkapnya....


 


 
BERITA IPTEK LAINNYA







 
BERITA LAINNYA
 

 

 
M E R D E K A !!! 17 Aug 2020 06:01 WIB

Terbunuh Cinta Sendiri 05 Jul 2020 14:46 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
IPTEK

Strategi Pendidikan Dalam Pengembangan Geopark Kaldera Toba
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 27-Jul-2020, 06:43:02 WIB

KabarIndonesia - Humbanghas, Rekomendasi UNESCO mendesak untuk ditindaklanjuti oleh pemerintah secara holistik dan teknis. Edukasi konservasi sebagai bagian mitigasi awal dari peluang munculnya bencana alam harus dilakukan di Geopark Kaldera Toba.

Dalam sidang ke-209 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris, 7 Juli 2020, Kaldera Toba akhirnya resmi ditetapkan menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark, setelah sempat ditolak pada pengusulan sebelumnya. Namun, diterimanya Kaldera Toba bukan berarti tugas sudah selesai. Ada enam rekomendasi UNESCO untuk Kaldera Toba.

Dari keenam rekomendasi itu, setidaknya dua rekomendasi terkait dengan strategi pendidikan. Mengembangkan pendidikan melalui bekerja dalam kemitraan dengan UNESCO Global Geopark lainnya. Serta meningkatkan strategi kegiatan pendidikan untuk memfasilitasi pengembangan program pembelajaran dengan alat interaktif untuk siswa sekolah.

Bersama teman-teman di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) dan di berbagai komunitas lainnya, saya sempat termasuk aktif berkesenian hingga keliling Danau Toba. Karena itu, saya termasuk orang yang sempat kecewa ketika usulan Geopark Kaldera Toba ditolak oleh UNESCO. Namun, penolakan tersebut tentu bukan tanpa dasar.

Wawasan ekologis geopark harus mendukung geodiversity, biodiversity, dan culturediversity. Dalam pada inilah, saya pikir pembangunan yang kini disemarakkan di Danau Toba harus benar-benar diperhatikan ulang supaya tak melulu mengejar kemoderenan melalui jargon Monaco of Asia.

Sekali lagi, diterimanya Kaldera Toba sebagai anggota UGG bukan berarti tugas sudah selesai. Kemewahan bisa dikejar, tetapi kealamian harus tetap dijaga, baik kealamian kultur maupun alam lingkungan dan sebagainya.

Saat ini, permasalahan soal keindahan danau adalah masifnya keramba apung. Memang, sudah bukan zamannya lagi selalu mengandalkan pancing untuk menangkap ikan. Perlu usaha yang lebih terukur, seperti beternak ikan. Namun, beternak ikan melalui keramba apung yang terlalu masif bisa-bisa akan menggugurkan keanggotaan Kaldera Toba sebagai geopark.

Sebagai contoh, pada akhir 2016, saat kami pentas keliling sebagai bagian edukasi pariwisata, ada jargon menarik dari Pemkab Humbahas: keramba No, keramas yes!. Namun, jargon itu tak mempan hingga hari ini, bahkan di tempat yang sama dua bulan kemudian (awal tahun 2017), sekurang-kurangnya sebanyak 249,6 ton ikan mati mendadak.

Air danau di Bakara yang sempat kelihatan biru pun mendadak keruh. Wisatawan lalu berkurang karena tak tahan pada bau yang menyengat (Kompas, 13/01/2017). Kematian massal ikan ini menjadi bukti, jika terlalu banyak keramba, air menjadi racun.

Masalah lainnya adalah penghijauan lingkungan di sekitar danau. Hutan di sekitar Danau Toba kini bermasalah. Perlu penghijauan ulang yang alami. Artinya, izin kelola hutan perlu dipikirkan ulang. Pasalnya, di sekitar danau kini banyak hutan homogen (tidak alami).

Pemandangan indah di Danau Toba memang termasuk sebagai sumber daya alam yang tak akan habis. Namun, jika kealamian hutan terganggu, keasrian danau pun bisa terancam sehingga sumber daya alam Danau Toba berubah menjadi sumber daya alam terbatas. Padahal diketahui bersama, hutan adalah penyokong utama keasrian danau.

Di samping itu, pembangunan masif yang kini tengah berembus kencang di sekitaran Danau Toba harus dibuat lebih hati-hati. Jangan sampai atas nama pembangunan, keasrian budaya dan berbagai situs kultural dibabat habis. Ada banyak situs kultural di sekitaran danau, semua itu harus dijaga tanpa terkecuali.

Pembangunan boleh saja selagi berbentuk penambahan manfaat dan fungsi, bukan malah alih fungsi. Bali perlu dicontoh. Sekalipun sudah diserbu oleh turis mancanegara, kultur di sekitar Bali tetap terjaga dengan awet dan justru itulah yang mengundang turis datang.

Dalam hal ini, pembangunan bisa diarahkan pada, selain penambahan manfaat, eksplorasi tempat-tempat yang kurang produktif. Tempat-tempat terjal, misalnya, bisa diorkestrasikan menjadi tempat wisata rekreasi (ekstrem).

Sekaitan hal ini, semua tempat produktif dan sakral, juga tempat yang mengandung nilai sejarah tinggi, harus dihindari dari pembangungan alih fungsi. Pusat penelitian pun bisa dibangun di sana. Apalagi, konon, letusan Gunung Toba merupakan letusan paling dahsyat di bumi ini.

Pusat penelitian ini kelak menjadi saksi sejarah betapa peradaban tetap selamat dari letusan maha dahsyat Gunung Toba. Karena itu, peradaban masyarakat di sekitar danau tak bisa dipinggirkan. Pembangunan dengan meminggirkan adab masyarakat setempat, selain menuai penolakan sehingga pembangunan tak lancar, juga akan mengurangi wibawa Kaldera Toba.

Ada banyak adat kebiasaan Toba yang bisa diolah sebagai sesuatu yang berdampak ekonomis. Pemulangan tulang-belulang sanak saudara dari negeri jauh bisa menjadi salah satu contoh.

Pada akhirnya, disetujuinya Danau Toba sebagai geopark adalah bukti awal dari kesadaran kita bahwa Danau Toba perlu dibangun dengan mengandalkan konsep geodiversity, biodiversity, dan culturediversity. Artinya, membangun Danau Toba tak selalu hanya karena alasan ekonomi.

Jika selama ini Danau Toba dipandang sebatas rupiah sehingga hutan dibabat dan danau disesaki dengan keramba, paradigma itu harus segera ditata ulang kembali. Tak selamanya uang harus dibayar dengan uang.

Walau demikian, potensi rupiah dari pembangunan Danau Toba sangat besar. Pasalnya, jika dikelola dengan baik, Danau Toba berpeluang menjadi irisan wisata alam dan wisata kultural, bahkan spiritual.

Ini peluang bagus karena jika mengacu pada data Boston Globe, sejumlah biro perjalanan wisata di Amerika Serikat mencatat pertumbuhan yang sangat pesat, bahkan pernah sampai menembus angka 164 persen atau jika dirata-ratakan lebih dari 30 persen per tahunnya. Pertumbuhan ini sangat luar biasa.

Menurut World Tourism Organization (WTO), setiap tahun industri pariwisata dunia hanya tumbuh rata-rata 4 persen. Uniknya, peningkatan tajam ini bukan karena semakin banyak pantai yang menawan, gunung yang menjulang, jalan yang berkelok, tetapi lebih pada wisata spiritual dan kultural.

Masyarakat rupanya sudah cenderung mencari ketenangan dan kealamian. Untuk inilah, saya pikir peran pendidikan sangat penting buat menjawab dua dari enam rekomendasi yang diberikan UNESCO. Mendesak untuk ditindaklanjuti oleh pemerintah secara holistik dan teknis. Edukasi konservasi alam harus segera digalakkan, terutama ke ruang pendidikan.

Geopark dengan pengajaran harus dilakukan di dalam wilayah Geopark Kaldera Toba dengan manajemen yang wajib memfasilitasi pengembangan program pembelajaran dengan alat interaktif untuk siswa. Edukasi konservasi sebagai bagian mitigasi awal dari peluang munculnya bencana alam harus dilakukan.

Apalagi, beberapa waktu belakangan ini, banjir rob sudah mulai terjadi di danau. Mulai punahnya beberapa tumbuhan dan hewan endemik di sekitar danau dan, pada saat yang sama, terlalu membeludaknya jumlah ikan di keramba adalah juga bagian dari bencana.(*)

(Penulis: Riduan Situmorang, Guru SMAN 1 Doloksanggul, Aktif Berkesenian di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Medan dan Toba Writers Forum (TWF)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Obyek Wisata Rohani Salib Kasih Dibuka Kembalioleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
10-Jun-2020, 09:39 WIB


 
  Obyek Wisata Rohani Salib Kasih Dibuka Kembali Obyek wisata rohani Salib Kasih di pegunungan Siatas Barita, Tapanuli Utara dibuka kembali sejak Jumat (5/6), setelah dua bulan lebih ditutup akibat wabah Covid-19. Lokasi wisata ini salah satu destinasi unggulan yang dibangun bupati Lundu Panjaitan tahun 1993. Puluhan ribu
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia