KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
DaerahJokowi - JK Resmi Menang di Sumut oleh : Jenda Bangun
20-Jul-2014, 17:37 WIB


 
 
Jokowi - JK Resmi Menang di Sumut
KabarIndonesia - Medan, Hasil rekapitulasi penghitungan perolehan suara pemilihan Presiden 2014 tingkat Provinsi Sumatera Utara, pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla meraih kemenangan dengan total perolehan suara 3.494.835 suara atau 55,24 persen.

Demikian
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Kenangan 15 Jul 2014 22:58 WIB

Indonesia Memilih 12 Jul 2014 09:14 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB


 
Resep Pribadi Plecing Kangkung 15 Mei 2014 00:19 WIB


 
 
BUDAYA

(Resensi Buku) Memasuki Dunia Klenik Soeharto
Oleh : Denny Ardiansyah | 19-Jan-2007, 23:53:38 WIB

Oleh: Denny Ardiansyah

Judul Buku      : DUNIA SPIRITUAL SOEHARTO;
                              
Menelusuri Laku Ritual, Tempat-Tempat
                               dan Guru Spiritualnya
Penulis            : Arwan Tuti Artha
Tebal               : 197 halaman
Tahun Terbit   : 2007, Cetakan I
Penerbit           : Galangpress

Salah satu bagian dari kebudayaan kita yang telah dilupakan namun banyak digunakan oleh masyarakat adalah klenik. Klenik menjadi sesuatu yang dilupakan karena dianggap kuno dan tidak sesuai dengan peradaban modern. Pun klenik lebih berdekatan dengan mistik dan mitos yang tidak sejalan dengan ilmu pengetahuan saat ini yang mengandalkan logika empiris dan rasional-nya. Namun, ditengah kondisi tersebut, masih tetap saja ada individu di masyarakat kita yang mempraktekkan ilmu klenik itu.

Tak peduli dengan jabatan, status atau pendidikan; individu tetap saja memiliki peluang yang sama untuk melakukan praktek klenik. Ketika tertimpa sebuah masalah, banyak kita mendengar ada saja individu yang mendatangi subyek klenik-dukun, paranormal, tukang sihir. Subyek klenik kemudian meminta pertolongan kepada obyek klenik-hantu, jin, tuyul-agar bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi individu. Pertolongan itu diberikan melalui medium klenik-santet, tenung, ramalan dan pelet. Selain itu, masih banyak lagi ragam perilaku klenik tanpa menggunakan jasa subyek klenik dan sampai kini masih beredar di masyarakat-seperti petung.   

Leluhur adalah pihak yang menciptakan klenik melalui pergulatan hidup mereka. Oleh karena itu, klenik juga bisa disebut sebagai ilmu pengetahuan. Klenik memiliki sekian metode yang diturunkan leluhur masyarakat kita dan mengalir dalam sebuah nafas kebudayaan. Hanya saja, memang klenik masih sulit untuk dibuktikan dengan standar ilmiah ala ilmu pengetahuan barat. 

Arwan Tuti Artha memasuki dunia Soeharto secara tidak lazim. Hasratnya untuk melihat Soeharto melalui sisi klenik pun dituntaskan dalam buku setebal 197 halaman ini. Secara jujur, Arwan Tuti Artha mengakui bahwa pembuktian dari isi buku ini memang sangat sulit. Tetapi sebagai sebuah pembelajaran, buku ini cukup baik memaparkan sebuah analisa mengenai kearifan klenik. Dan Soeharto hanyalah satu dari sekian banyak individu di negara kita yang tetap setia dengan ajaran leluhurnya.

Klenik hanya merupakan sebagian kecil dari ilmu leluhur kita. Maka dari itu, sungguh tidak arif menjustifikasi bahwa semu ilmu leluhur adalah sesat. Terkait klenik, pemerintah kolonial Belanda pernah mengeluarkan aturan yang melarang raja-raja di Jawa untuk berziarah ke makam leluhur mereka (hal.16). Hal ini karena muncul ketakutan dari pemerintah kolonial pada masa itu, akan perkembangan ilmu klenik. Tentu saja, karena klenik identik dengan black magic.           

Penting bagi kita untuk menelusuri makna sejati yang tertuang dalam ajaran leluhur. Sangat tidak adil jika kita menggunakan ajaran leluhur hanya pada sisi tertentu saja. Ajaran leluhur masyarakat kita mengajarkan tentang harmonisasi. Hal ini pula yang coba diwujudkan Soeharto melalui konsep stabilitas nasional. Hanya saja, harmonisasi yang dimaksudkan leluhur sangat berkait erat dengan individu. Jadi individu harusnya melakukan segala proses yang mendukung eksistensi dirinya dengan selalu saja melibatkan diri bersama alam dan masyarakat.      

Harmonisasi dalam pandangan leluhur ini lebih menitikberatkan pada kesadaran individu dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Menyatu dengan alam dan masyarakat, membuat pemimpin bisa menjadi arif dan bijaksana. Alam akan selalu memberi isyarat kepada pemimpin mengenai pola kepemimpinan yang dijalankan olehnya. Soeharto yang selalu melakukan lelaku ritual untuk mendapatkan dukungan dari sisi spiritual ini, gagal membaca tanda-tanda alam terkait pola kepemimpinannya. Pada penutupan sidang umum MPR tahun 1998 palu yang dipakai untuk mensahkan hasil sidang, patah ketika dipukulkan oleh Harmoko (Ketua Umum MPR saat itu) (hal.77). 

Semua tentu menyadari bahwa kepemimpinan Soeharto adalah mimpi buruk bagi para golongan kritis. Pembungkaman dan penculikan selalu saja mengintai kelompok kritis di negeri ini. Maka dari itu, ketika turun dari tampuk kepemimpinan, Soeharto layaknya Satria Mukti Wibawa Kesandhung Kesampar. Konsep ini mengacu model kepemimpinan versi Ranggawarsita, yaitu pemimpin yang awalnya begitu dipuji namun dihujat ketika sudah turun oleh masyarakat. Kepemimpinan model ini tidak meninggalkan sesuatu yang baik bagi masyarakat yang pernah dipimpinnya. Soeharto dengan segala kekuasaannya seolah gagal mempelajari model kepemimpinan yang bisa dicintai masyarakat dan memberi kemakmuran pada bangsa sesuai tuntunan leluhur (104-110).       
    
Buku ini dilengkapi dengan foto dan sejumlah nama tempat yang pernah didatangi Soeharto dalam rangka menjalankan ritual klenik. Tetapi, bukan berarti kita bisa mengikuti jejaknya dalam hal ini. Kita diajarkan tentang kearifan melalui contoh kesalahan Soeharto oleh Arwan Tuti Artha dalam buku ini. Klenik harus ditakar ulang, ditimbang dengan benar oleh kita sebelum melakukannya. Yang terpenting adalah menjalankan hidup mencapai harmoni sesuai ajaran leluhur. Tentu saja, agar hidup ini tidak menjadi seperti Soeharto; awalnya dianggap pembangunan namun diakhir hidupnya diberi label layaknya ‘Bapak Perusakan Bangsa'.(*)

*)Denny Ardiansyah, Pembaca buku mukim di Jember, Jawa Timur

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pasmar-2 Marinir Gelar Latihan Pengendalian Demonstrasi Massaoleh : Dispen Kormar
18-Jul-2014, 21:20 WIB


 
  Pasmar-2 Marinir Gelar Latihan Pengendalian Demonstrasi Massa Dalam rangka memelihara kesiapsiagaan pasukan yang akan diterjunkan dalam proses pengamanan Pemilihan Presiden (Pilpres) yang pada 22 Juli mendatang memasuki tahap rekapitulasi suara di KPU, satu Satuan Setingkat Batalyon (SSY) pasukan siaga Pam Pilpers Pasmar-2 Marinir menggelar Latihan penanggulangan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
PILPRES 2014: Tidak Perlu Fanatik 07 Jul 2014 19:08 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB


 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Tak Selamanya Teknologi Mahal 03 Jun 2014 09:05 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia