KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PendidikanGerakan Humanisasi Dunia Pendidikan oleh : Amir Tengku Ramly
21-Nov-2014, 10:22 WIB


 
  KabarIndonesia - Jakarta, Selama puluhan tahun pendidikan Indonesia telah mempraktekkan satu konsep pendidikan yang kurikulumnya bermuara pada ‘dehumanisasi’. Inilah kenyataan paling pahit dalam negara yang mengagungkan hak asasi dan kemanusiaan yang adil dan beradab.  Reformasi dengan segala kekuatan
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 
Pelaku Judi Dadu Gurak Diamankan 17 Nov 2014 14:58 WIB

 
Kepiawaian Jemari Pencari Nafkah 21 Nov 2014 11:04 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Ibu, Ayah, Tunggu Aku! 21 Nov 2014 10:29 WIB


 
 
BUDAYA

(Resensi Buku) Memasuki Dunia Klenik Soeharto
Oleh : Denny Ardiansyah | 19-Jan-2007, 23:53:38 WIB

Oleh: Denny Ardiansyah

Judul Buku      : DUNIA SPIRITUAL SOEHARTO;
                              
Menelusuri Laku Ritual, Tempat-Tempat
                               dan Guru Spiritualnya
Penulis            : Arwan Tuti Artha
Tebal               : 197 halaman
Tahun Terbit   : 2007, Cetakan I
Penerbit           : Galangpress

Salah satu bagian dari kebudayaan kita yang telah dilupakan namun banyak digunakan oleh masyarakat adalah klenik. Klenik menjadi sesuatu yang dilupakan karena dianggap kuno dan tidak sesuai dengan peradaban modern. Pun klenik lebih berdekatan dengan mistik dan mitos yang tidak sejalan dengan ilmu pengetahuan saat ini yang mengandalkan logika empiris dan rasional-nya. Namun, ditengah kondisi tersebut, masih tetap saja ada individu di masyarakat kita yang mempraktekkan ilmu klenik itu.

Tak peduli dengan jabatan, status atau pendidikan; individu tetap saja memiliki peluang yang sama untuk melakukan praktek klenik. Ketika tertimpa sebuah masalah, banyak kita mendengar ada saja individu yang mendatangi subyek klenik-dukun, paranormal, tukang sihir. Subyek klenik kemudian meminta pertolongan kepada obyek klenik-hantu, jin, tuyul-agar bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi individu. Pertolongan itu diberikan melalui medium klenik-santet, tenung, ramalan dan pelet. Selain itu, masih banyak lagi ragam perilaku klenik tanpa menggunakan jasa subyek klenik dan sampai kini masih beredar di masyarakat-seperti petung.   

Leluhur adalah pihak yang menciptakan klenik melalui pergulatan hidup mereka. Oleh karena itu, klenik juga bisa disebut sebagai ilmu pengetahuan. Klenik memiliki sekian metode yang diturunkan leluhur masyarakat kita dan mengalir dalam sebuah nafas kebudayaan. Hanya saja, memang klenik masih sulit untuk dibuktikan dengan standar ilmiah ala ilmu pengetahuan barat. 

Arwan Tuti Artha memasuki dunia Soeharto secara tidak lazim. Hasratnya untuk melihat Soeharto melalui sisi klenik pun dituntaskan dalam buku setebal 197 halaman ini. Secara jujur, Arwan Tuti Artha mengakui bahwa pembuktian dari isi buku ini memang sangat sulit. Tetapi sebagai sebuah pembelajaran, buku ini cukup baik memaparkan sebuah analisa mengenai kearifan klenik. Dan Soeharto hanyalah satu dari sekian banyak individu di negara kita yang tetap setia dengan ajaran leluhurnya.

Klenik hanya merupakan sebagian kecil dari ilmu leluhur kita. Maka dari itu, sungguh tidak arif menjustifikasi bahwa semu ilmu leluhur adalah sesat. Terkait klenik, pemerintah kolonial Belanda pernah mengeluarkan aturan yang melarang raja-raja di Jawa untuk berziarah ke makam leluhur mereka (hal.16). Hal ini karena muncul ketakutan dari pemerintah kolonial pada masa itu, akan perkembangan ilmu klenik. Tentu saja, karena klenik identik dengan black magic.           

Penting bagi kita untuk menelusuri makna sejati yang tertuang dalam ajaran leluhur. Sangat tidak adil jika kita menggunakan ajaran leluhur hanya pada sisi tertentu saja. Ajaran leluhur masyarakat kita mengajarkan tentang harmonisasi. Hal ini pula yang coba diwujudkan Soeharto melalui konsep stabilitas nasional. Hanya saja, harmonisasi yang dimaksudkan leluhur sangat berkait erat dengan individu. Jadi individu harusnya melakukan segala proses yang mendukung eksistensi dirinya dengan selalu saja melibatkan diri bersama alam dan masyarakat.      

Harmonisasi dalam pandangan leluhur ini lebih menitikberatkan pada kesadaran individu dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Menyatu dengan alam dan masyarakat, membuat pemimpin bisa menjadi arif dan bijaksana. Alam akan selalu memberi isyarat kepada pemimpin mengenai pola kepemimpinan yang dijalankan olehnya. Soeharto yang selalu melakukan lelaku ritual untuk mendapatkan dukungan dari sisi spiritual ini, gagal membaca tanda-tanda alam terkait pola kepemimpinannya. Pada penutupan sidang umum MPR tahun 1998 palu yang dipakai untuk mensahkan hasil sidang, patah ketika dipukulkan oleh Harmoko (Ketua Umum MPR saat itu) (hal.77). 

Semua tentu menyadari bahwa kepemimpinan Soeharto adalah mimpi buruk bagi para golongan kritis. Pembungkaman dan penculikan selalu saja mengintai kelompok kritis di negeri ini. Maka dari itu, ketika turun dari tampuk kepemimpinan, Soeharto layaknya Satria Mukti Wibawa Kesandhung Kesampar. Konsep ini mengacu model kepemimpinan versi Ranggawarsita, yaitu pemimpin yang awalnya begitu dipuji namun dihujat ketika sudah turun oleh masyarakat. Kepemimpinan model ini tidak meninggalkan sesuatu yang baik bagi masyarakat yang pernah dipimpinnya. Soeharto dengan segala kekuasaannya seolah gagal mempelajari model kepemimpinan yang bisa dicintai masyarakat dan memberi kemakmuran pada bangsa sesuai tuntunan leluhur (104-110).       
    
Buku ini dilengkapi dengan foto dan sejumlah nama tempat yang pernah didatangi Soeharto dalam rangka menjalankan ritual klenik. Tetapi, bukan berarti kita bisa mengikuti jejaknya dalam hal ini. Kita diajarkan tentang kearifan melalui contoh kesalahan Soeharto oleh Arwan Tuti Artha dalam buku ini. Klenik harus ditakar ulang, ditimbang dengan benar oleh kita sebelum melakukannya. Yang terpenting adalah menjalankan hidup mencapai harmoni sesuai ajaran leluhur. Tentu saja, agar hidup ini tidak menjadi seperti Soeharto; awalnya dianggap pembangunan namun diakhir hidupnya diberi label layaknya ‘Bapak Perusakan Bangsa'.(*)

*)Denny Ardiansyah, Pembaca buku mukim di Jember, Jawa Timur

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Crowne Plaza Semarangoleh : Kabarindonesia
20-Nov-2014, 19:12 WIB


 
  Crowne Plaza Semarang Crowne Plaza adalah sebuah hotel Internasional terbaru di Semarang. Hotel ini merupakan bagian dari Grup Hotel InterContinental, sebuah hotel baru yang dinamik dan terdapat di hampir 60 Negara di dunia.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Sisi Negatif Aksi Unjuk Rasa 21 Nov 2014 11:06 WIB

Kreatif dalam Keterbatasan 20 Nov 2014 19:23 WIB

 

 

 

 

 
Jadwal Piala AFF 2014 22 Nov 2014 12:04 WIB

Timnas Indonesia Tiba di Vietnam 20 Nov 2014 15:15 WIB

 
Dian Ediono, Pemimpin Masa Depan 07 Nov 2014 01:42 WIB


 

 
DNA Bisa Diedit? 18 Nov 2014 19:11 WIB


 
Drone Konservasi Pemkab Katingan 17 Nov 2014 14:59 WIB

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB

 
Selamat Melayani Pertua-Diaken 12 Okt 2014 11:13 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia