KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalJalan Berliku Divestasi Tuntas, Kontrak Karya Freeport Sah Menjadi IUPK oleh : Wahyu Ari Wicaksono
22-Des-2018, 04:36 WIB


 
 
KabarIndonesia - Setelah sekitar dua tahun proses negosiasi intensif yang melibatkan pemerintah, Holding Industri Pertambangan PT INALUM (Persero), Freeport McMoRan Inc. (FCX) dan Rio Tinto, akhirnya pada hari ini telah resmi terjadi pengalihan saham mayoritas (divestasi) PT Freeport Indonesia (PTFI)
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Terbunuh Cinta Sendiri 05 Jul 2020 14:46 WIB

Negeri Nestapa 23 Jun 2020 09:15 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
LOVE STORY BIBI LUNG & YOKO 27 Jun 2020 05:00 WIB

 
YUUK DEMO NGEPUNG SURGA! 27 Jun 2020 06:33 WIB

 
 
BUDAYA

Seks, Seks dan Seks
Oleh : Supadiyanto S.sos.i. M.i.kom. | 14-Apr-2007, 19:32:30 WIB

KabarIndonesia - Merunut hasil sebuah survei-materi tayangan infotainment di beragam teve hanya lima belas persen saja bemuatan pendidikan. Selebihnya dipenuhi dengan muatan seks. Dengan lain kata, 85 persen berisi tontonan berbau seks, seks dan seks. Bila benar hasil survei di atas, tamatlah riwayat masa depan generasi muda negeri ini.

Cukup realistis adanya, tayangan infotainment yang menjadi menu wajib berbagai stasiun teve di Tanah Air, tak lepas dari jeratan industri seks. Sebuah mosaik bisnis seks kelas tinggi (high class of bussiness of sex's) yang menawarkan beragam sensasi dan fantasi nafsu syahwat-yang terbingkai kamuflasean apik dalam sajian informasi dan hiburan (information and entertainment).

Tak salah, akibat tayangan infotaiment sarat dengan tontonan "syur" itu, membuat jutaan pemirsa terbelalak memelototi layar kaca. Akibat termanjakan dunia inderawi sekaligus imajinatif mereka sembari menonton sajian infotainment itu. Naas, bahaya dari keteledoran tayangan infotainment yang mengobral nafsu syahwat tersebut, kurang mendapat perhatian serius dari para orang tua serta pemerhati media.

Dalam ilmu komunikasi-terdapat teori jarum hipodermik (hypodhermic needle theory) yang menyatakan bahwa-segala hal yang di-blow up media massa cetak dan elektronik berkecenderungan bakal ditelan mentah-mentah (ditiru) oleh para pemirsanya. Begitupun dengan tayangan infotainment yang terkemas apik dalam bentuk multivariatif tayangan itu; otomatis pula berpengaruh besar bagi perilaku kalangan penonton. Tontonan yang kerap menyajikan adegan ranjang dan atau perkembangan kehidupan selebritis yang sarat kehidupan glamoristis nan menghedonis itu, praktis mengundang birahi pemirsa. Bukan malah dijauhi penonton, perbuatan serong yang kerap dilakukan para selebritis itu; oleh para penonton sendiri ditiru sekaligus dipraktekkan. Klimaksnya, banyak Anak Baru Gedhe (ABG) yang mejadi korban pelampiasan seksual kaum Adam. Atau malahan, mereka sendiri (para remaja itu) meski belum resmi menikah; dengan kesadaran penuh melakukan hubungan seksual atas dasar suka sama suka. Bila benar terjadi hal demikian, bagaimanakah nasib generasi muda bangsa ini?

Citra negatif tayangan infotainment yang hanya mengumbar nafsu seks saja, mesti segera diubah demi masa depan moralitas bangsa ini. Sebab, kontribusi media massa elektronik (teve) dalam mencerdaskan publik sangatlah besar. Namun sebaliknya, bila media massa disalahgunakan seperti dengan menayangkan sajian infotainment yang sarat adegan seks; berbalik arah menjadi senjata perusak moralitas terefektif bagi generasi muda di negeri berpenghuni 210 juta jiwa ini. Maka, para pelaku media massa khususnya elektronik (teve) sebagai pilar keempat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, wajib menjalankan profesinya dengan bertumpu pada nilai-nilai luhur budaya lokal kita. Dalam kerangka itulah, perealisasian idealisme media massa guna mempercepat arah pembangunan bangsa ini menjadi hal terpenting (substantif).

Di sinilah peran sentral sosok sekaliber Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo), Sofyan Djalil dalam memboleh tidakkannya tayangan teve beredar. Bila melenceng dari aturan moralitas bangsa ini, wajib hukumnya tayangan itu mendapatkan somasi keras dan segera melarang penayangan program serupa.

Koheren dengan itu, kalangan pelaku bisnis media massa, hendaklah pula memiliki komitmen tinggi dalam menjalankan profesinya. Ini dimaksudkan agar idealisme pers (media massa) yang diharapkan publik sebagai pengontrol atas policy duet pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla (SBY-JK) di alam reformasi ini tetap berjalan sesuai dengan koridor hukum yang telah disepakati bersama.

Tayangan infotainment mestinya segera dikembalikan seperti khittah-nya. Sebagai tontonan yang bisa menghibur namun sarat dengn muatan informatif bagi kalangan pemirsa. Bukan malah dijadikan tayangan pelampiasan nafsu syahwat. Juga sebagai kepanjangan mata rantai industri seks secara menasional. Memang diperlukan kesadaran kolektif agar bisa menciptakan tayangan teve yang mencerdaskan bukan membodohi. Karena di dalam industri pertelevisian nasional, tak saja terjadi persaingan bisnis super ketat antar puluhan stasiun teve. Diperlukan kearifan budaya, semacam kesadaran moralitas yang tinggi dari para pemilik modal stasiun teve bersangkutan dalam memprogram-agendakan acara yang bakal ditayangkan. Karena disadari bersama, kekuatan media massa elektronik sebagi kekuatan keempat dalam pilar perekonstruksi sebuah bangsa, kuasa mengagenda-settingkan wacana bersama yang akan dihembuskan di tengah publik.

Untuk itulah, tayangan infotainment harus dikemas dengan nuansa edukatif yang kaya akan informasi positif. Tayangan itu tak boleh lagi dijadikan ajang obral nafsu syahwat bagi sementara pihak. Sementara ekses negatifnya berdampak luas pada publik. Bukankah hal itu sangat merugikan bagi masa depan negeri ini?

*) Supadiyanto,
Peneliti muda pada ICRC, mahasiswa Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta&Jurdik Matematika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Sambal Oelek Indonesia Buatan ASoleh : Fida Abbott
02-Jun-2020, 02:23 WIB


 
  Sambal Oelek Indonesia Buatan AS Sambal Oelek ini saya temukan di Walmart Supercenter, Parkesburg, Pennsylvania. Awalnya saya mengira buatan salah satu negara Asia selain Indonesia karena tulisan di depan botolnya. Ternyata buatan Amerika Serikat. Tampaknya Indonesia harus meningkatkan persaingannya di pasar bebas dan jeli membidik
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 
MANG UCUP ITU CHINA BANANA 28 Jan 2020 00:52 WIB

 

 

 

 

 
HOW ARE YOU MY FRIEND? 27 Jun 2020 05:21 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia