|
KabarIndonesia - TERUSIR dari tanahair bagi kaum eksil Indonesia tidaklah mudah merancang pulang, padahal pulang adalah naluri alami, bahkan bagi si tuna-wisma. Fenomena ini lekat begitu saja pada diri manusia ibarat seekor burung: ke mana pun terbang akhirnya pulang ke sarang. Kian lama seseorang meninggalkan kampung halaman, apapun sebabnya, kian erat pula naluri ini terpadu rasa rindu dan kecintaan pada rumah dan kampung halaman tempat tinggal keluarganya. Namun masalah pulang ini terhalang oleh hilangnya kewarganegaraan yang dengan sewenang-wenang dirampas penguasa Orba. Sejak era reformasi yang gagal itu setidaknya mereka pernah menghadapi 2 menteri yang konon bertugas menyelesaikan soal kewarganegaraan mereka, yakni Yusril Ihza Mahendra dan Hamid Awalludin, dua-duanya Menteri Hukum dan HAM di bawah presiden yang berbeda: Abdurrachman Wahid dan Susilo Bambang Yudhoyono. Pengarang eksil hanya segelintir dari jumlah mereka yang ribuan di Eropa, namun memiliki problematiknya sendiri. Tulisan ini mencoba menguak masalah mereka di bidang sastra. Sebagai sesama anak bangsa yang kelewat lama berada di luar tanahair, mereka pun memiliki naluri rindu pulang yang kadang tak tertahankan. Selarik puisi sempat coba membangkit kembali naluri yang nyaris terlupakan ini,
si anak hilang segeralah pulangbunda dirundung malang (hlm. 9 ILALANG, kumpulan puisi 1987) Mereka memang tak pernah punya pretensi jadi juru selamat bagi bangsa dan tanahairnya yang tak henti-hentinya dilanda bencana multi-dimensi, namun memiliki naluri budaya sebagai anak bangsa yang tak bisa tinggal diam ketika sang Ibu dirundung malang. Hanya, karena puluhan tahun mereka terusir dari tanahair, tidaklah mudah mencoba tampil kembali di bumi sastra tanahairnya. Mereka ketinggalan jaman, tersekap dalam perangkap mitos angkatan 1950-an, sangat kentara pada pola karya-karya tulisnya. Dalam Epilog untuk buku kumpulan cerpen Martin Aleida Leontin Dewangga (Penerbit Buku Kompas, 2003), Dr. Asvi Warman Adam menyinggung karangan-karangan „penulis kiri" termasuk yang eksil kecuali karya-karya Pramudya Ananta Toer. Menelaah naskah „penulis T" yang pernah dibacanya, sejarawan senior LIPI ini terkesan, yang diceritakan adalah „kisah suasana tahun 1950-an dengan pilihan kata yang terasa ganjil bagi pembaca yang berdiam di Indonesia".
Kebetulan penyaji tulisan ini termasuk yang eksil dan tentu saja tidak berdiam di Indonesia. Eloknya Pak Asvi sangat berbasa-basi, segan berterus-terang siapa disebutnya „penulis T". Namun kesan beliau sesuai kenyataan. Toh realitas itu tidak hadir begitu saja tanpa latar belakang sejarah yang parah dan lama, sangat lama. Mudah-mudahan hanya melibatkan „penulis T". Sejarah bangsa ini mencatat, masa-masa produktif pengarang eksil telah dirampas, karangan-karangan mereka sebelum maupun selama kekuasaan Orba dikenakan larangan resmi, manusianya dipencilkan dari induk budaya Tanahairnya, disisihkan dari pergaulan masyarakatnya. Sebagai pengarang tentu saja mereka tak akan bungkam, melainkan tetap memanfaatkan dan membela kebebasannya untuk bersuara, namun tak dapat mereka lakukan dalam lingkungan kehidupan masyarakat maupun khazanah sastra Tanahairnya.
Seseorang yang terasing dari masyarakat Ibu selama itu (sejak 1965), sendirinya terasing dan ketinggalan pula dalam segala hal yang menyangkut perkembangan baru budaya tanahairnya, tak terkecuali wacana kultural terkait kreativitas sastra dalam bahasa Ibu yang berkembang begitu pesat di Indonesia sejak mereka meninggalkan negerinya. Mereka sangat ketinggalan dalam penguasaan gaya bahasa dan tehnik mengarang, terjebak kosakata yang kian kaya, sarat kata-kata singkatan maupun vokabulari bahasa asing yang dikemas begitu bebas dan sangat invasif menyusup ke dalam bahasa Indonesia. Bagi saya pengaruh bahasa asing sampai porsi tertentu telah memperkaya dan nampaknya juga mendorong modernisasi bahasa Indonesia. Namun proses kejenuhan yang nyaris tak terkendali itu kian terasa menggusur karakter asli bahasa Indonesia sendiri seperti banyak terdapat dalam teks-teks intelek bertema kerohanian (agama, filsafat, sosiologi, seni dsb.) dengan gaya pseudosain yang kebarat-baratan. Para penulis eksil seolah dihadapkan pada tulisan-tulisan bilingual yang memerlukan banyak sekali catatan kaki. Tetapi mereka perlu mengikuti proses „modernisasi" ini dengan sikap kritis, objektif dan selektif. Tak ada pilihan lain jika tak ingin terus-terusan ketinggalan jaman. Malangnya, di luar tanahair para penulis eksil tak memiliki media penerbitan sebagai bumi kelahiran karya-karyanya kecuali beberapa terbitan sederhana di Belanda di kalangan komunitas terbatas dengan para editor yang sangat bersemangat tetapi kekurangan dukungan, terutama dari pembaca dengan standar apresiasi sastra yang memadai. Memahami hal ini saya cenderung mengimbau sikap introspektif, mawas diri, menyadari keterbatasan mutu karya-karya yang disajikan sebagai faktor pemicu minimnya minat pembaca. Kenyataannya sejak 4-5 tahun ini majalah Arah, Kreasi dan Arena yang pernah mereka kelola dihentikan penerbitannya.
Terbitnya buku kumpulan puisi Di Negeri Orang (Penerbit Amanah Lontar, 2002), merupakan upaya bersama tanpa menuai gema yang agak berarti bagi khazanah sastra Indonesia. Beberapa pengarang prosa dan puisi seperti Utuy Tatang Sontani, Agam Wispi, Sobron Aidit (ketiga-tiganya sudah almarhum), Hersri Setiawan, JJ Kusni dan Asahan Alham, sempat menggeliat sebagai pengarang eksil yang terpencil dari realitas kehidupan rakyatnya, namun mencoba memberi arti perlawanan moral terhadap kekuasaan tiran.
Munculnya gerakan reformasi di tanahair sejak pertengahan 1990-an celah demi celah telah menguak pintu kebebasan bersuara dan juga kesempatan yang relatif luas bagi underground literary, termasuk para pengarang eksil, untuk tampil kembali dengan agak leluasa di Indonesia. Tetapi kebanyakan media penerbitan yang terbiasa melakukan selfcencorship karena ancaman pemberangusan puluhan tahun lamanya di bawah kekuasaan Orba, tetap saja bersikap wait and see, ogah-ogahan meninggalkan prasangka lama terhadap pulangnya si anak hilang. Sastra koran nyaris tak punya peran dalam pemulihan kebebasan mereka di bidang sastra. Sebaliknya para penerbit buku nampak lebih berani membuka pintu. Sebut saja misalnya, Hasta Mitra, Penerbit Buku Kompas, Amanah Lontar, Indonesia Tera, Yayasan Obor dan sejumlah penerbit di berbagai kota yang bekerjasama dengan para aktivis HAM. Kebebasan pengarang setelah Suharto tumbang ternyata tak cukup memberi peluang bagi lenyapnya prasangka lama seolah semua penulis eksil adalah tukang-tukang ganyang, sisa-sisa pengarang Lekra. Pemanfaatan situs-situs internet tanpa pengarahan kriteria sastra, di satu pihak telah membuka lebar-lebar pintu gerbang rumah sastra Indonesia, tetapi di pihak lain nampak lebih banyak menjanjikan produk kuantitatif daripada mutu yang diinginkan. Perihal mutu tentu saja setiap saat orang bebas berdebat, tetapi realitas itu tetap merupakan tragedi tersendiri karena para pengarang eksil sampai saat ini tercampak di luar garis demarkasi era reformasi yang gagal itu. Mereka tetap si anak hilang, kehilangan kewarganegaraan dan hak-hak sipilnya dalam masyarakat yang konon berpredikat madani. Betapa penting peran bahasa di segala bidang di jaman kita. Semua cabang disiplin keilmuan (matematika, fisika, kimia, politik, tehnik, sosial, filsafat, bahkan teologi dsb.) yang bergulat di ranah teori dan logika, pada dasarnya mengejawantah melalui bahasa, rangkaian kata-kata berbentuk huruf-huruf. Franz Magnis Suseno, guru besar Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, bahkan coba menggapai Tuhan melalui sarana bahasa dan filsafat tanpa pretensi membuktikan keberadaan Tuhan („Menalar Tuhan" - Penerbit Kanisius 2006). Hanya dengan bahasa manusia bisa memadukan logika, perasaan dan penemuan-penemuan mereka dalam karya ilmiah yang sistematis berupa karya tulis yang berguna bagi perkembangan peradaban umat manusia sejak ribuan tahun lalu sampai di masa depan. Hanya dengan bahasa manusia mampu berkomunikasi dengan sesamanya atas dasar etika dan estetika: ciri yang membedakannya dengan binatang. Perkembangan dunia sastra dan ilmu pengetahuan pada gilirannya juga menuntut taraf kecanggihan tertentu dalam penggunaan bahasa. Tak henti-hentinya. Tak habis-habisnya. Bagi saya karya sastra merupakan refleksi kehidupan masyarakatnya, sekaligus barometer taraf peradaban dan moral pengarang, karena semua karya sastra, prosa dan puisi, fiksi atau non-fiksi, selalu mengacu pada cita-cita tertentu. Kritik sastra bukan sastra itu sendiri, tapi saudara kembarnya: jembatan komunikasi kemanusiaan antara sastrawan dan khalayak pembaca.
Dalam praktik kehidupan sehari-hari tak semua orang punya minat membaca karya sastra dan tak seorang jua bisa memaksa seseorang agar berminat membacanya. Berminat atau tidak, mungkin terkait bakat, latar belakang hidup masing-masing dalam keluarga dan pergaulan masyarakatnya, atau proses pendidikan formal yang mereka lalui. Di sini jelas berlaku azas kebebasan yang harus dihargai: bebas berminat atau tidak berminat, bebas percaya maupun tidak percaya, pada pesan dan gagasan sastrawan. Hakekat dan ciri hidup manusia sebagai makhluk sosial bukan cuma persamaan tetapi juga perbedaan mereka: unity in diversity. Mereka seolah ditakdirkan untuk menjaga dan menghargai dua-duanya, bukan mempersetankan salah satu hanya karena latarbelakang ras, etnik, politik, ideologi, agama dan status sosial yang berbeda.
Namun daya pikat karya sastra akan mampu menarik minat masyarakatnya bila ia mengemban pesan dan gagasan yang ada hubungan langsung atau tak langsung dengan problematik kehidupan masyarakatnya dan bukan hanya berkutat pada keindahan bahasa semata. Unsur pesan dan gagasan merupakan faktor utama yang tak terpisahkan dari estetika bahasa. Keduanya bagaikan kulit dan isi dalam proses biologis keranuman buah-buahan. Pada wacana ini pengarang ditantang untuk mengambil sikap individual, mencari jati dirinya, membangun kepribadian, karena dia bukan duplikat siapapun. Hanya dengan begitu seorang pengarang dapat menjawab, siapa sebenarnya dirinya. Sampai benar-benar menguasai tehnik mengarang diperlukan waktu dan pengalaman praktis dan rutin di bidang bahasa. Kegagalan demi kegagalan menghadapi malaekat pengelola rubrik sastra, memang sangat mengecewakan tetapi perlu. Tanpa kesadaran ini seorang (calon) pengarang sejak awal sudah gagal meraih cita-citanya. Tapi sempatkah para pengarang eksil berpacu melawan waktu? Utuy Tatang Sontani, Agam Wispi dan Sobron Aidit bahkan telah mendahului mereka. Siapa masih sempat menggeliat? Generasi anak-cucu mereka barangkali?**Köln, akhir Mai 2007 Soeprijadi Tomodihardjo cerpenis, tinggal di Jerman. |