KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalSusi Pudjiastuti, Sosok Kontroversi Namun Sarat Prestasi oleh : Badiyo
31-Okt-2014, 14:31 WIB


 
 
Susi Pudjiastuti, Sosok Kontroversi Namun Sarat Prestasi
KabarIndonesia - Usai pengumuman Kabinet Kerja Jokowi-JK, ada satu sosok menteri yang menjadi sorotan dan perhatian publik dan ramai diperbincangkan masyarakat. Sosok itu tak lain adalah Susi Pudjiastuti yang ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo untuk menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 
Kajati Kalteng Kunjungi Katingan 30 Okt 2014 19:41 WIB


 
Dia yang di Tepian Kali 30 Okt 2014 09:32 WIB

Tak Habis Pikir Dia 30 Okt 2014 09:29 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Musik Baru Indonesia

 
BUDAYA

Musik Baru Indonesia
Oleh : Berty Hari Sulistyo | 31-Aug-2007, 19:47:51 WIB

KabarIndonesia - Musik, sebuah produk budaya yang telah mengubah hidup banyak orang. Musik mampu membawa seseorang dalam ekstase kondisi tertentu, riang, sedih, atau mungkin melankoli. Musik tak pernah mati karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk seni, akan selalu berhadapan dengan indera perasa. Musik adalah milik semua orang, tidak terbatas ruang dan waktu. Musik berkembang, musik berevolusi. Manusia akan senantiasa berusaha memuaskan indera perasanya dan mencari kenikmatan yang lebih.Musik mengiringi eksistensi sebuah kebudayaan.
 
Pun dengan Indonesia, musik tumbuh subur di sini. Keanekaragaman budaya etnis menjadi khazanah latar belakang musik yang lahir dan berkembang. Indonesia punya alat musik, cengkok/pattern musik, dan genre musik yang variatif. Hampir setiap propinsi di Indonesia memiliki genre musiknya sendiri. Setiap daerah memiliki nama genrenya masing-masing, semisal Jawa dengan "tembang"nya. Untuk mempermudah pemahaman pemilahan musik, genre-genre inilah saat ini sering kita sebut -secara umum sebagai musik "etnik/tradisional".  Indonesia telah mengalami evolusi yang panjang dalam bermusik. Jenis musik yang tumbuh subur di negara lain pun juga tumbuh subur dan berkembang di negeri ini. Perkembangan ini terutama terjadi pada masa Orde Baru. Pada masa Soekarno, musik Barat ditolak.
 
Berbarengan dengan banternya modal asing yang masuk, musik asing (terutama Barat) berkembang pesat di Indonesia. Muncul ikon-ikon "pop" Indonesia yang musiknya banyak mengacu pada barat. Musik Indonesia mengalami perubahan kembali. Mainstream musik yang kemudian berkembang pesat adalah pop dengan ikonnya Koes Plus (The Beatles-nya Indonesia). Dari Koes Plus kemudian banyak muncul bintang lain seperti Panbers misalnya.
 
Sementara itu, musik tradisional Indonesia masih berada pada jalurnya sendiri dan mulai dianggap "beda". Pop yang berarti populer dimaknai sebagai musik Barat. Musik Tradisional bukan pop (meskipun populer) karena bukan musik Barat. Industri musik Indonesia juga tidak mau ketinggalan, musik pop yang punya daya tarik kuat bagi masyarakat dimodifikasi besar-besaran. Industri musik pop melejit. Sementara generasi Koes Plus bertambah tua, muncul banyak generasi baru untuk musik, sama juga, mereka berada dalam jalur pop. Hingga kini, puluhan bahkan ratusan artis musik hidup dari "budaya pop" ini.

Tidak ada yang salah dalam musik pop ini. Sekali lagi, musik menyertai jamannya. Sejak Koes Plus sampai sekarang, banyak artis musik Indonesia yang selalu mencoba membawa "bahasa budaya Indonesia" ke dalam musik pop. Panbers misalnya dalam salah satu lagu berbahasa Inggris, coba membantu mempromosikan budaya Indonesia, "Indonesia, My Lovely Country". Atau simak saja lagu-lagu Iwan Fals, hampir sebagian besar lagunya adalah ungkapan kegundahan dirinya terhadap Indonesia. "Umar Bakrie, Umar Bakrie, pegawai negeri...".

Dari banyak artis musik Indonesia itu, salah satu yang menarik bagi saya adalah Guruh Soekarno Putra. Jika sebagian besar artis mencoba membawa "wajah Budaya Indonesia" dalam nada diatonik pop. Guruh sebaliknya. Guruh punya paradigma yang beda. Guruh mencoba berangkat dari konsep dasar bermusik dan berbudaya. Lewat album "Gipsi"nya, Guruh mengangkat kembali musik asli tradisional Indonesia dengan sedikit gubahan pada detailnya. Ia tidak menggubah total nuansa dan nada musik, tetapi lebih mempercantiknya dengan budaya musik pop yang sedang populer saat itu. Guruh hanya memberi kemasan. Simak saja Lagu "Janger Saka", nada dan liriknya asli Bali tetapi ia memberi sentuhan orkestra dan sedikit selipan nada diatonik. Hasilnya, mengagumkan. Dalam album ini, saya rasa Guruh sangat berhasil memberi wajah baru musik Indonesia.

Kini sesudah hampir 40 tahun musik pop barat merajai Indonesia, beberapa artis dan budayawan mulai menggali dan kembali lagi pada musik tradisional. Sama seperti apa yang dilakukan Guruh, mereka mengemas wajah musik tradisional dalam wajah baru yang "lebih enak didengar" dalam telinga generasi saat ini. Artis-Artis ini antara lain Djadug Ferianto, Dewa Budjana, Banjar Teratai Capung, Balawan dan banyak lagi artis lainnya. Di tengah gemuruh dan hiruk pikuk musik rock underground, artis-artis ini mencoba berbicara "lain". Mereka berani berbuat "beda".  Mari kita gali lagi musik tradisional Indonesia, ciptakan wajah musik kontemporer Indonesia baru. Dengarkan musik-musik baru mereka ini dan koleksi lagunya dalam rak cd kita. Jangan sampai musik asli kita disimpan di negeri lain. Kenali jati diri sendiri, kita sebagai generasi muda adalah pewarisnya.

"Kalau kawan tak hati-hati, bisa hilang budaya asli. Kalau hilang budaya asli, harga diri tak ada lagi. Aras kijang krangi Janger" ( Lagu "Geger Gelgel"ciptaan Guruh Soekarno Putra).


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Email: redaksi@kabarindonesia.com
Big News Today..!!! Let's see here http://www.kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Penjual Pisang Bertelanjang Kakioleh : Jumari Haryadi
17-Okt-2014, 23:21 WIB


 
  Penjual Pisang Bertelanjang Kaki Mencari nafkah adalah kewajiban seorang pria terhadap keluarganya. Selain bekerja di sektor formal seperti menjadi PNS dan pegawai swasta, bisa juga dilakukan dengan cara berdagang. Tampak seorang pria tengah membawa pisang yang baru diambil dari kebunnya (16/10/14). Dengan bertelanjang kaki, pria
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Sastra Tanpa Riset 05 Okt 2014 10:09 WIB

 

 
Idul Adha di Leipzig 08 Okt 2014 13:16 WIB


 

 
We Do What We Can Do 30 Okt 2014 09:35 WIB

 
Liga Mahasiswa Kian Bergengsi 29 Okt 2014 23:13 WIB

 

 

 

 

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB

 
Selamat Melayani Pertua-Diaken 12 Okt 2014 11:13 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia