KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniJangan Sepelekan Sampah oleh : Nurfitriani Wardiyanto
25-Nov-2014, 19:19 WIB


 
 
Jangan Sepelekan Sampah
KabarIndonesia - Sampah adalah topik pembahasan yang tidak ada habisnya. Mulai dari timbunan sampah, sampah yang berserakan di mana-mana dan sampah yang menjadi penyebab banjir. Lalu, salah siapakah masalah sampah tersebut?

Kurangnya kesadaran warga untuk merawat lingkungannya itu permasalahan
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 
Pelaku Judi Dadu Gurak Diamankan 17 Nov 2014 14:58 WIB

 
Kepiawaian Jemari Pencari Nafkah 21 Nov 2014 11:04 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Ibu, Kasihmu Tiada Dua 25 Nov 2014 10:37 WIB


 

Musik Baru Indonesia

 
BUDAYA

Musik Baru Indonesia
Oleh : Berty Hari Sulistyo | 31-Aug-2007, 19:47:51 WIB

KabarIndonesia - Musik, sebuah produk budaya yang telah mengubah hidup banyak orang. Musik mampu membawa seseorang dalam ekstase kondisi tertentu, riang, sedih, atau mungkin melankoli. Musik tak pernah mati karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk seni, akan selalu berhadapan dengan indera perasa. Musik adalah milik semua orang, tidak terbatas ruang dan waktu. Musik berkembang, musik berevolusi. Manusia akan senantiasa berusaha memuaskan indera perasanya dan mencari kenikmatan yang lebih.Musik mengiringi eksistensi sebuah kebudayaan.
 
Pun dengan Indonesia, musik tumbuh subur di sini. Keanekaragaman budaya etnis menjadi khazanah latar belakang musik yang lahir dan berkembang. Indonesia punya alat musik, cengkok/pattern musik, dan genre musik yang variatif. Hampir setiap propinsi di Indonesia memiliki genre musiknya sendiri. Setiap daerah memiliki nama genrenya masing-masing, semisal Jawa dengan "tembang"nya. Untuk mempermudah pemahaman pemilahan musik, genre-genre inilah saat ini sering kita sebut -secara umum sebagai musik "etnik/tradisional".  Indonesia telah mengalami evolusi yang panjang dalam bermusik. Jenis musik yang tumbuh subur di negara lain pun juga tumbuh subur dan berkembang di negeri ini. Perkembangan ini terutama terjadi pada masa Orde Baru. Pada masa Soekarno, musik Barat ditolak.
 
Berbarengan dengan banternya modal asing yang masuk, musik asing (terutama Barat) berkembang pesat di Indonesia. Muncul ikon-ikon "pop" Indonesia yang musiknya banyak mengacu pada barat. Musik Indonesia mengalami perubahan kembali. Mainstream musik yang kemudian berkembang pesat adalah pop dengan ikonnya Koes Plus (The Beatles-nya Indonesia). Dari Koes Plus kemudian banyak muncul bintang lain seperti Panbers misalnya.
 
Sementara itu, musik tradisional Indonesia masih berada pada jalurnya sendiri dan mulai dianggap "beda". Pop yang berarti populer dimaknai sebagai musik Barat. Musik Tradisional bukan pop (meskipun populer) karena bukan musik Barat. Industri musik Indonesia juga tidak mau ketinggalan, musik pop yang punya daya tarik kuat bagi masyarakat dimodifikasi besar-besaran. Industri musik pop melejit. Sementara generasi Koes Plus bertambah tua, muncul banyak generasi baru untuk musik, sama juga, mereka berada dalam jalur pop. Hingga kini, puluhan bahkan ratusan artis musik hidup dari "budaya pop" ini.

Tidak ada yang salah dalam musik pop ini. Sekali lagi, musik menyertai jamannya. Sejak Koes Plus sampai sekarang, banyak artis musik Indonesia yang selalu mencoba membawa "bahasa budaya Indonesia" ke dalam musik pop. Panbers misalnya dalam salah satu lagu berbahasa Inggris, coba membantu mempromosikan budaya Indonesia, "Indonesia, My Lovely Country". Atau simak saja lagu-lagu Iwan Fals, hampir sebagian besar lagunya adalah ungkapan kegundahan dirinya terhadap Indonesia. "Umar Bakrie, Umar Bakrie, pegawai negeri...".

Dari banyak artis musik Indonesia itu, salah satu yang menarik bagi saya adalah Guruh Soekarno Putra. Jika sebagian besar artis mencoba membawa "wajah Budaya Indonesia" dalam nada diatonik pop. Guruh sebaliknya. Guruh punya paradigma yang beda. Guruh mencoba berangkat dari konsep dasar bermusik dan berbudaya. Lewat album "Gipsi"nya, Guruh mengangkat kembali musik asli tradisional Indonesia dengan sedikit gubahan pada detailnya. Ia tidak menggubah total nuansa dan nada musik, tetapi lebih mempercantiknya dengan budaya musik pop yang sedang populer saat itu. Guruh hanya memberi kemasan. Simak saja Lagu "Janger Saka", nada dan liriknya asli Bali tetapi ia memberi sentuhan orkestra dan sedikit selipan nada diatonik. Hasilnya, mengagumkan. Dalam album ini, saya rasa Guruh sangat berhasil memberi wajah baru musik Indonesia.

Kini sesudah hampir 40 tahun musik pop barat merajai Indonesia, beberapa artis dan budayawan mulai menggali dan kembali lagi pada musik tradisional. Sama seperti apa yang dilakukan Guruh, mereka mengemas wajah musik tradisional dalam wajah baru yang "lebih enak didengar" dalam telinga generasi saat ini. Artis-Artis ini antara lain Djadug Ferianto, Dewa Budjana, Banjar Teratai Capung, Balawan dan banyak lagi artis lainnya. Di tengah gemuruh dan hiruk pikuk musik rock underground, artis-artis ini mencoba berbicara "lain". Mereka berani berbuat "beda".  Mari kita gali lagi musik tradisional Indonesia, ciptakan wajah musik kontemporer Indonesia baru. Dengarkan musik-musik baru mereka ini dan koleksi lagunya dalam rak cd kita. Jangan sampai musik asli kita disimpan di negeri lain. Kenali jati diri sendiri, kita sebagai generasi muda adalah pewarisnya.

"Kalau kawan tak hati-hati, bisa hilang budaya asli. Kalau hilang budaya asli, harga diri tak ada lagi. Aras kijang krangi Janger" ( Lagu "Geger Gelgel"ciptaan Guruh Soekarno Putra).


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Email: redaksi@kabarindonesia.com
Big News Today..!!! Let's see here http://www.kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Crowne Plaza Semarangoleh : Kabarindonesia
20-Nov-2014, 19:12 WIB


 
  Crowne Plaza Semarang Crowne Plaza adalah sebuah hotel Internasional terbaru di Semarang. Hotel ini merupakan bagian dari Grup Hotel InterContinental, sebuah hotel baru yang dinamik dan terdapat di hampir 60 Negara di dunia.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Sisi Negatif Aksi Unjuk Rasa 21 Nov 2014 11:06 WIB

Kreatif dalam Keterbatasan 20 Nov 2014 19:23 WIB

 

 

 
PDAM Harus Benahi Pelayanan 26 Nov 2014 15:03 WIB


 
1795 RTS Pulpis Terima Dana PSKS 26 Nov 2014 15:05 WIB


 
Thailand Permalukan Singapura 2-1 24 Nov 2014 11:17 WIB

 
Dian Ediono, Pemimpin Masa Depan 07 Nov 2014 01:42 WIB


 

 
Putri Tidur Dalam Realita 25 Nov 2014 10:38 WIB

Alzheimer, Tua Muda Berisiko 23 Nov 2014 12:01 WIB

 
Pejuang Cilik 25 Nov 2014 19:26 WIB


 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB

 
Selamat Melayani Pertua-Diaken 12 Okt 2014 11:13 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia