KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
InternasionalGaruda Indonesia Menerima "Passenger Airline of the Year Award - Antarbenua" oleh : Kabarindonesia
29-Mar-2015, 18:41 WIB


 
 
Garuda Indonesia Menerima
KabarIndonesia - Schiphol (Belanda), Pada tanggal 26 Maret 2015 yang lampau Schiphol (Belanda) telah memberikan berbagai macam Aviation
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Kerja di Bawah Panas 24 Mar 2015 00:41 WIB

Kepada Machfud Azhari SE 23 Mar 2015 05:23 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Sepenggal Kisah Menuju Ambarawa 20 Mar 2015 14:38 WIB

 

Musik Baru Indonesia

 
BUDAYA

Musik Baru Indonesia
Oleh : Berty Hari Sulistyo | 31-Aug-2007, 19:47:51 WIB

KabarIndonesia - Musik, sebuah produk budaya yang telah mengubah hidup banyak orang. Musik mampu membawa seseorang dalam ekstase kondisi tertentu, riang, sedih, atau mungkin melankoli. Musik tak pernah mati karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk seni, akan selalu berhadapan dengan indera perasa. Musik adalah milik semua orang, tidak terbatas ruang dan waktu. Musik berkembang, musik berevolusi. Manusia akan senantiasa berusaha memuaskan indera perasanya dan mencari kenikmatan yang lebih.Musik mengiringi eksistensi sebuah kebudayaan.
 
Pun dengan Indonesia, musik tumbuh subur di sini. Keanekaragaman budaya etnis menjadi khazanah latar belakang musik yang lahir dan berkembang. Indonesia punya alat musik, cengkok/pattern musik, dan genre musik yang variatif. Hampir setiap propinsi di Indonesia memiliki genre musiknya sendiri. Setiap daerah memiliki nama genrenya masing-masing, semisal Jawa dengan "tembang"nya. Untuk mempermudah pemahaman pemilahan musik, genre-genre inilah saat ini sering kita sebut -secara umum sebagai musik "etnik/tradisional".  Indonesia telah mengalami evolusi yang panjang dalam bermusik. Jenis musik yang tumbuh subur di negara lain pun juga tumbuh subur dan berkembang di negeri ini. Perkembangan ini terutama terjadi pada masa Orde Baru. Pada masa Soekarno, musik Barat ditolak.
 
Berbarengan dengan banternya modal asing yang masuk, musik asing (terutama Barat) berkembang pesat di Indonesia. Muncul ikon-ikon "pop" Indonesia yang musiknya banyak mengacu pada barat. Musik Indonesia mengalami perubahan kembali. Mainstream musik yang kemudian berkembang pesat adalah pop dengan ikonnya Koes Plus (The Beatles-nya Indonesia). Dari Koes Plus kemudian banyak muncul bintang lain seperti Panbers misalnya.
 
Sementara itu, musik tradisional Indonesia masih berada pada jalurnya sendiri dan mulai dianggap "beda". Pop yang berarti populer dimaknai sebagai musik Barat. Musik Tradisional bukan pop (meskipun populer) karena bukan musik Barat. Industri musik Indonesia juga tidak mau ketinggalan, musik pop yang punya daya tarik kuat bagi masyarakat dimodifikasi besar-besaran. Industri musik pop melejit. Sementara generasi Koes Plus bertambah tua, muncul banyak generasi baru untuk musik, sama juga, mereka berada dalam jalur pop. Hingga kini, puluhan bahkan ratusan artis musik hidup dari "budaya pop" ini.

Tidak ada yang salah dalam musik pop ini. Sekali lagi, musik menyertai jamannya. Sejak Koes Plus sampai sekarang, banyak artis musik Indonesia yang selalu mencoba membawa "bahasa budaya Indonesia" ke dalam musik pop. Panbers misalnya dalam salah satu lagu berbahasa Inggris, coba membantu mempromosikan budaya Indonesia, "Indonesia, My Lovely Country". Atau simak saja lagu-lagu Iwan Fals, hampir sebagian besar lagunya adalah ungkapan kegundahan dirinya terhadap Indonesia. "Umar Bakrie, Umar Bakrie, pegawai negeri...".

Dari banyak artis musik Indonesia itu, salah satu yang menarik bagi saya adalah Guruh Soekarno Putra. Jika sebagian besar artis mencoba membawa "wajah Budaya Indonesia" dalam nada diatonik pop. Guruh sebaliknya. Guruh punya paradigma yang beda. Guruh mencoba berangkat dari konsep dasar bermusik dan berbudaya. Lewat album "Gipsi"nya, Guruh mengangkat kembali musik asli tradisional Indonesia dengan sedikit gubahan pada detailnya. Ia tidak menggubah total nuansa dan nada musik, tetapi lebih mempercantiknya dengan budaya musik pop yang sedang populer saat itu. Guruh hanya memberi kemasan. Simak saja Lagu "Janger Saka", nada dan liriknya asli Bali tetapi ia memberi sentuhan orkestra dan sedikit selipan nada diatonik. Hasilnya, mengagumkan. Dalam album ini, saya rasa Guruh sangat berhasil memberi wajah baru musik Indonesia.

Kini sesudah hampir 40 tahun musik pop barat merajai Indonesia, beberapa artis dan budayawan mulai menggali dan kembali lagi pada musik tradisional. Sama seperti apa yang dilakukan Guruh, mereka mengemas wajah musik tradisional dalam wajah baru yang "lebih enak didengar" dalam telinga generasi saat ini. Artis-Artis ini antara lain Djadug Ferianto, Dewa Budjana, Banjar Teratai Capung, Balawan dan banyak lagi artis lainnya. Di tengah gemuruh dan hiruk pikuk musik rock underground, artis-artis ini mencoba berbicara "lain". Mereka berani berbuat "beda".  Mari kita gali lagi musik tradisional Indonesia, ciptakan wajah musik kontemporer Indonesia baru. Dengarkan musik-musik baru mereka ini dan koleksi lagunya dalam rak cd kita. Jangan sampai musik asli kita disimpan di negeri lain. Kenali jati diri sendiri, kita sebagai generasi muda adalah pewarisnya.

"Kalau kawan tak hati-hati, bisa hilang budaya asli. Kalau hilang budaya asli, harga diri tak ada lagi. Aras kijang krangi Janger" ( Lagu "Geger Gelgel"ciptaan Guruh Soekarno Putra).


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Email: redaksi@kabarindonesia.com
Big News Today..!!! Let's see here http://www.kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Ngampar Boekoeoleh : Johanes Krisnomo
22-Mar-2015, 21:44 WIB


 
  Ngampar Boekoe Sepintas, gelaran buku di Taman Pemkot Cimahi nampak seperti jualan buku bacaan, Minggu (22/03/15). Nyatanya berbeda, buku gratis dibaca, di antara lalu-lalang orang-orang yang bersantai menikmati segarnya udara pagi. Dengan jumlah buku yang sangat terbatas, beberapa anak-anak muda, mendirikan sebuah
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Kritik Pendidikan Gaya Bank 24 Mar 2015 00:37 WIB

Game dan Masa Depan 22 Mar 2015 01:25 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 
Ginjal Sehat Untuk Semua 19 Mar 2015 11:52 WIB

 
Rambu Car Free Day Di Bogor 06 Mar 2015 21:06 WIB

 

 

 
  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia