KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PolitikRENUNGAN: Krisis Moneter Indonesia 1998 oleh : Wahyu Barata
30-Jul-2014, 02:41 WIB


 
  KabarIndonesia - Setelah beberapa dekade terbuai oleh pertumbuhan yang sangat mengagumkan, di tahun 1998 ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sangat hebat hingga menjadi tragedi. Keadaannya berlangsung sangat tragis dan tercatat sebagai periode paling suram dalam sejarah perekonomian Indonesia. Mungkin kita akan
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Terima Kasih dari Pengguna Jasa 28 Jul 2014 11:56 WIB

Keniscayaan 23 Jul 2014 05:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB


 
Mudik Gratis Bersama Jasa Raharja 26 Jul 2014 23:41 WIB

Resep Pribadi Plecing Kangkung 15 Mei 2014 00:19 WIB

 
 
BUDAYA

Maccera Manurung, Pesta Adat yang Menjadi Pesan Leluhur
Oleh : Abdillah | 28-Jan-2008, 23:45:14 WIB

KabarIndonesia - Untuk mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilan tanaman pertaniaan, masyarakat desa Taulan, kecamatan Cendana, kabupaten Enrekang, Sulawesi selatan, menggelar pesta adat maccera manurung. Pesta adat ini hanya dilakukan dalam delapan tahun sekali, tak heran, jika perhelatan ini digelar, banyak warga Enrekang yang berada di perantauaan menyempatkan diri pulang kampung sekedar untuk mengikuti prosesi adat tersebut.

Masyarakat di daerah yang berhawa sejuk ini mengenal upacara adat maccera manurung sejak ratusan tahun yang lalu, upacara adat tersebut dipimpin oleh tetua adat setempat dan berlangsung dalam beberapa tahapan, prosesi awal yakni menabuh gendang semalam suntuk yang bertujuan untuk membangkitkan tanah. Masyarakat setempat meyakini, tanah adalah inti dari seluruh jagat, sehingga warga setmpat meyakini, tanah inilah yang pertama kali harus dibangunkan. Sementara gendang yang ditabuh adalah sebuah gendang tradisioanal yang hanya dikeluarkan saat upacara adat ini dilangsungkan. Orang-orang yang hadir menyaksikan upacara adat tersebut biasanya berusaha merebut kayu-kayu penabuh yang berjatuhan di sekitar gendang, warga percaya kayu-kayu tersebut memiliki keampuhan mengobati berbagai macam penyakit. Ritual menabuh gendang tua yang dianggap keramat itu dilakukan pada hari jumat.

Keesokan harinya warga yang melagsungkan hajatan ini kemudian melakukan penyembelian hewan berupa kerbau, daging kerbau tersebut di masak secara bergotong royong oleh sejumlah kaum perempaun yang hadir dalam pelaksanaan ritual adat itu, daging kerbau ini nantinya akan di santap oleh para tamu undangan. Ritual berikutnya adalah Majjaga. Dalam acara ini di persembahkan tari-tarian yang di anggap sebagai simbol kesetiaan kepada sang raja dan kerajaan. Para penari yang di dominasi oleh kaum lelaki ini, menari dengan bertelanjang dada di tengah hawa yang sangat dingin.

Ritual selanjutnya adalah Liang wae, yakni mengeluarkan air dari pusat bumi. Mereka melakukan ritual ini di awali dengan berdoa di sebuah lubang sumber mata air yang terletak di tengah hutan yang ketinggiannya mencapai 1.000 Meter di atas permukaan laut. Saat mereka berdoa, air tersebut akan memancar keluar dari lubangnya. Jika mata air tidak memancar biasanya masyarakat yang berda di kabupaten Enrekang ini harus bersiaga dengan kemungkinan buruk seperti gagal panen, atau biasanya ada warga kampung yang menjadi gila.

Sebaliknya jika mata air tersebut memancar, air itu akan menjadi rebutan. Para perantau yang sudah lama meninggalakan Kabupaten Enrekang, biasanya paling bersemangat memperebutkan air yang keluar dari sumber mata air itu. Arifuddin salah seorang warga perantauaan asal Enrekang kepada Pijar mengatakan, setiap pelaksanaan ritual adat maccera manurung ini digelar, ia beserta anak dan istrinya selalu menyempatkan diri untuk hadir, biasanya bapak dua anak ini membawa pulang air yang bersal dari sumber mata air di desa Taulan tersebut. Sebab ia meyakini air itu dapat membawa berkah, "Air yang biasanya keluar dari sumber mata air yang memancar pada saat pelaksanaan pesta adat ini berlangsung saya yakini bisa membawa berkah atau membawa rezki bagi yang menyimpannya" ungkap Arif.

Prosesi akhir yang merupakan puncak dari rangkaian uapacara adat Maccera Manurung ini adalah Mappeong, warga setempat meyakini pemberian persembahan kepada leluhur ini, di berikan sebagai ungkapan rasa syukur atas rezki yang telah diperoleh masyarakat selama delapan tahun. Dalam prosesi Mappeong ini di siapkan beberapa macam makanan diantaranya pisang, ketupat, telor ayam, pinang, daun sirih, beras pulut yang di masak di dalam batang bambu atau warga setempat mengenalnya dengan nama Lemmang. sesajian ini digabung dalam satu wadah dengan dialasi daun waru, kemudian sesajian tersebut dibagikan kepada para tokoh adat yang merupakan keturunan dari puang Kamummu.

Puang Kamummu inilah yang merupakan leluhur yang kerap menyampaikan pesan pesan khusus kepada anak cucunya, sebelum penyampaian pesan dari leluhur mereka ini, sebuah parang yang merupakan pusaka peninggalan puang Kamummu ini, dicuci dengan air kelapa muda yang dilakukan oleh para tokoh adat setempat, konon parang tersebut gagannya terbuat dari tanduk kuda. dan parang pusaka inilah yang sekarang menjadi lambang daerah Kabupaten Enrekang, Sulawesi selatan.

Parang pusaka yang telah dicuci tersebut diarak keliling rumah sebanyak tiga kali dan di iringi dengan Adzan, ini dilambangkan sebagai simbol mengusir hal-hal buruk yang ingin masuk ke desa Taulan itu, warga berharap pelaksanaan pesta adat Maccera Manurung ini dapat mendatangkan hal-hal yang baik dan limpahan rezki yang berlipat ganda dari yang maha pencipta penguasa alam semesta.

Ikutilah Lomba Menulis Surat Cinta!!!
Blog:  http://www.lomba-suratcinta.blogspot.com/ 
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Miniatur Masjid Bahan Bekasoleh : Johanes Krisnomo
25-Jul-2014, 00:40 WIB


 
  Miniatur Masjid Bahan Bekas Jelang Hari Raya Idul Fitri 1435 H, mengundang kreatifitas untuk membuat karya unik berupa minatur sebuah masjid dari barang-barang bekas seperti kardus, kaleng dan bola plastik. Contohnya, Rudi Iskandar (38 thn), karyawan PT. Ultrajaya di Padalarang, Bandung, menyumbangkan hasil karyanya
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
PILPRES 2014: Tidak Perlu Fanatik 07 Jul 2014 19:08 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB


 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Tak Selamanya Teknologi Mahal 03 Jun 2014 09:05 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia