KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PendidikanSayembara Menulis Surat Untuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan oleh : Wahyu Ari Wicaksono
26-Jul-2016, 12:57 WIB


 
 
Sayembara Menulis Surat Untuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
KabarIndonesia - Menyambut perayaan Bulan Bahasa dan Sastra 2016, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengajak anak-anak siswa SD/Madrasah Ibtidaiah kelas 4, 5, dan 6 serta siswa SMP/Madrasah Sanawiah kelas 7 di seluruh Indonesia untuk mengikuti sayembara menulis surat kepada Menteri
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Lowongan Desain Grafis Freelance 11 Jul 2016 15:53 WIB

 

 
Menanti 27 Jul 2016 19:43 WIB

HARAPAN 27 Jul 2016 19:38 WIB

 
Desa Cimanggu Menuju Desa Wisata 18 Mei 2016 10:53 WIB


 
BERITA LAINNYA
 

 
Anakku Tertular Virus Menulis 23 Jun 2016 10:38 WIB

 
 
BUDAYA

Maccera Manurung, Pesta Adat yang Menjadi Pesan Leluhur
Oleh : Abdillah | 28-Jan-2008, 23:45:14 WIB

KabarIndonesia - Untuk mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilan tanaman pertaniaan, masyarakat desa Taulan, kecamatan Cendana, kabupaten Enrekang, Sulawesi selatan, menggelar pesta adat maccera manurung. Pesta adat ini hanya dilakukan dalam delapan tahun sekali, tak heran, jika perhelatan ini digelar, banyak warga Enrekang yang berada di perantauaan menyempatkan diri pulang kampung sekedar untuk mengikuti prosesi adat tersebut.

Masyarakat di daerah yang berhawa sejuk ini mengenal upacara adat maccera manurung sejak ratusan tahun yang lalu, upacara adat tersebut dipimpin oleh tetua adat setempat dan berlangsung dalam beberapa tahapan, prosesi awal yakni menabuh gendang semalam suntuk yang bertujuan untuk membangkitkan tanah. Masyarakat setempat meyakini, tanah adalah inti dari seluruh jagat, sehingga warga setmpat meyakini, tanah inilah yang pertama kali harus dibangunkan. Sementara gendang yang ditabuh adalah sebuah gendang tradisioanal yang hanya dikeluarkan saat upacara adat ini dilangsungkan. Orang-orang yang hadir menyaksikan upacara adat tersebut biasanya berusaha merebut kayu-kayu penabuh yang berjatuhan di sekitar gendang, warga percaya kayu-kayu tersebut memiliki keampuhan mengobati berbagai macam penyakit. Ritual menabuh gendang tua yang dianggap keramat itu dilakukan pada hari jumat.

Keesokan harinya warga yang melagsungkan hajatan ini kemudian melakukan penyembelian hewan berupa kerbau, daging kerbau tersebut di masak secara bergotong royong oleh sejumlah kaum perempaun yang hadir dalam pelaksanaan ritual adat itu, daging kerbau ini nantinya akan di santap oleh para tamu undangan. Ritual berikutnya adalah Majjaga. Dalam acara ini di persembahkan tari-tarian yang di anggap sebagai simbol kesetiaan kepada sang raja dan kerajaan. Para penari yang di dominasi oleh kaum lelaki ini, menari dengan bertelanjang dada di tengah hawa yang sangat dingin.

Ritual selanjutnya adalah Liang wae, yakni mengeluarkan air dari pusat bumi. Mereka melakukan ritual ini di awali dengan berdoa di sebuah lubang sumber mata air yang terletak di tengah hutan yang ketinggiannya mencapai 1.000 Meter di atas permukaan laut. Saat mereka berdoa, air tersebut akan memancar keluar dari lubangnya. Jika mata air tidak memancar biasanya masyarakat yang berda di kabupaten Enrekang ini harus bersiaga dengan kemungkinan buruk seperti gagal panen, atau biasanya ada warga kampung yang menjadi gila.

Sebaliknya jika mata air tersebut memancar, air itu akan menjadi rebutan. Para perantau yang sudah lama meninggalakan Kabupaten Enrekang, biasanya paling bersemangat memperebutkan air yang keluar dari sumber mata air itu. Arifuddin salah seorang warga perantauaan asal Enrekang kepada Pijar mengatakan, setiap pelaksanaan ritual adat maccera manurung ini digelar, ia beserta anak dan istrinya selalu menyempatkan diri untuk hadir, biasanya bapak dua anak ini membawa pulang air yang bersal dari sumber mata air di desa Taulan tersebut. Sebab ia meyakini air itu dapat membawa berkah, "Air yang biasanya keluar dari sumber mata air yang memancar pada saat pelaksanaan pesta adat ini berlangsung saya yakini bisa membawa berkah atau membawa rezki bagi yang menyimpannya" ungkap Arif.

Prosesi akhir yang merupakan puncak dari rangkaian uapacara adat Maccera Manurung ini adalah Mappeong, warga setempat meyakini pemberian persembahan kepada leluhur ini, di berikan sebagai ungkapan rasa syukur atas rezki yang telah diperoleh masyarakat selama delapan tahun. Dalam prosesi Mappeong ini di siapkan beberapa macam makanan diantaranya pisang, ketupat, telor ayam, pinang, daun sirih, beras pulut yang di masak di dalam batang bambu atau warga setempat mengenalnya dengan nama Lemmang. sesajian ini digabung dalam satu wadah dengan dialasi daun waru, kemudian sesajian tersebut dibagikan kepada para tokoh adat yang merupakan keturunan dari puang Kamummu.

Puang Kamummu inilah yang merupakan leluhur yang kerap menyampaikan pesan pesan khusus kepada anak cucunya, sebelum penyampaian pesan dari leluhur mereka ini, sebuah parang yang merupakan pusaka peninggalan puang Kamummu ini, dicuci dengan air kelapa muda yang dilakukan oleh para tokoh adat setempat, konon parang tersebut gagannya terbuat dari tanduk kuda. dan parang pusaka inilah yang sekarang menjadi lambang daerah Kabupaten Enrekang, Sulawesi selatan.

Parang pusaka yang telah dicuci tersebut diarak keliling rumah sebanyak tiga kali dan di iringi dengan Adzan, ini dilambangkan sebagai simbol mengusir hal-hal buruk yang ingin masuk ke desa Taulan itu, warga berharap pelaksanaan pesta adat Maccera Manurung ini dapat mendatangkan hal-hal yang baik dan limpahan rezki yang berlipat ganda dari yang maha pencipta penguasa alam semesta.

Ikutilah Lomba Menulis Surat Cinta!!!
Blog:  http://www.lomba-suratcinta.blogspot.com/ 
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pemudik Sepeda Motoroleh : Zulkarnaen Syri Lokesywara
11-Jul-2016, 01:18 WIB


 
  Pemudik Sepeda Motor Para pemudik bersepeda motor melintas di Jalan Klaten Selatan pada ruas Jalan Jogja-Solo, untuk kembali ke Jakarta, Minggu, 10 Juli 2016. Sepeda motor menjadi pilihan ribuan pemudik karena fleksibilitas moda angkutan ini. Meskipun beberapa perusahaan menyediakan angkutan gratis untuk mudik,
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 

 

 

 
Sayur untuk Hidup 13 Jun 2016 09:27 WIB


 

 

 

 

 

 
  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia