KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniSembilan Butir Testimoni Untuk Presiden Jokowi oleh : Berthy B Rahawarin
01-Okt-2014, 16:21 WIB


 
 
Sembilan Butir Testimoni Untuk Presiden Jokowi
KabarIndonesia - Jakarta, Inilah Sembilan Butir Testimoni untuk Presiden (terpilih) Joko "Jokowi" Widodo dari diskusi politik dengan tema "Etika Politik Impian Rakyat: Testimoni untuk Presiden Jokowi".

Narasumber dalam diskusi politik tersebut adalah guru besar dan pakar psikologi-politik Universitas
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Kebebasan Diri 29 Sep 2014 05:20 WIB

Kata-kata Nan Muncul Tiba-tiba 26 Sep 2014 05:49 WIB

 
Tigi Menuju Perubahan! 25 Sep 2014 13:11 WIB



 
BERITA LAINNYA
 
Gita Gutawa, Diva Muda Indonesia 06 Sep 2014 09:34 WIB

Raffi Achmad Tagih Janji Jokowi 31 Aug 2014 04:13 WIB

 
Hobi Fotografi Tak Harus Mahal 29 Sep 2014 02:39 WIB


 

Basa Sunda

 
BUDAYA

Basa Sunda
Oleh : Dr Rochajat Harun Med. | 20-Jun-2008, 12:38:41 WIB

KabarIndonesia - Bahasa merupakan identitas dari sebuah masyarakat, etnis, maupun bangsa. Demikian pula basa  (bahasa) Sunda adalah identitas budaya masyarakat Sunda. Sejak dua ratusan tahun yang lalu, hingga detik ini pun tidak pernah lepas dari pengaruh bahasa lain.

Perubahan adalah suatu keniscayaan, termasuk terhadap bahasa Sunda. Sekuat apapun usaha-usaha pemurnian, atau pembatasan masuknya akulturasi bahasa, pada akhirnya tidak akan mampu membendung perubahan. Menurut para akhli, bahasa akan selalu berdialektika dengan zaman. Sampai kini, basa Sunda semakin kaya akan bahasa resapan, dan tentu saja semakin jauh dari walagri. Ada beberapa catatan sejarah bahwa runtuhnya kerajaan Sunda tahun 1579, serta terjajahnya kerajaan Galuh (1595), dan Sumedanglarang (1620) oleh kerajaan Mataram, menyebabkan jati diri Sunda terpuruk. Sejak itu para bangsawan Sunda, dalem atau bupati di Priangan pada umumnya menggunakan basa Jawa dalam berbicara maupun surat menyurat.

Pada jaman Mataram, basa Sunda dianggap basa kampungan, basa cacah, basa somahan. Tak patut dipakai dalam pergaulan sehari-hari para menak waktu itu. Dalam hal ini penggunaan basa Jawa dianggapnya lebih menak, ningrat, serta bisa memperkuat posisi dan jabatan seseorang.

Memang benar, terpuruknya basa dan budaya Sunda adalah akibat jatuhna kerajaan Sunda oleh Mataram. Ini dperkuat oleh pendapat Ayip Rosidi, seorang budayawan dan sastrawan Sunda. Namun adanya penelitian yang dilakukan oleh orang Belanda seperti Andries de Wilde dan Taco Roorda pada abad ke 19, bahasa Sunda mulai mendapatkan perhatian kembali dan menjadi objek penelitian para peneliti Eropah.

Bahasa Sunda berbeda dengan bahasa Jawa, maupun Melayu. Demikian pernyataan Profesor Taco Roorda tahun 1841 yang pernah menerbitkan kamus Sunda pertama yang berjudul Nederduitsch-Maleisch en Soendasch Woordenboek. Bahasa Sunda diakui sebagai bahasa mandiri yang berbeda dengan bahasa Jawa. Sejak itu tambah banyak sarjana-sarjana Belanda yang mengadakan penelitian tentang budaya dan bahasa Sunda.

Karya-karya ilmiahmya cukup banyak. Dan sejak itulah orang Sunda mulai sadar dan punya kebanggaan terhadap bahasa dan jati dirinya sebagai orang Sunda. Upaya para inohong Sunda untuk membangkitkan kembali bahasanya itu, sudah berjalan lama. Saya teringat pada sebuah puisi Sunda yang ditulis oleh Moehamad Moesa tahun 1867: Anoe matak basa Soenda, Diseboetkeun hudang gering, Tapi tatjan djagdjag pisan, Buktina tatjan walagri, Basana tatjan bersih, Tjampur Djawa djeung Melayoe.

Dari penggalan bait puisi tersebut tersurat tentang eksistensi bahasa Sunda pada zamannya. Namun, budaya dan identitas Sunda, yang dulu sempat kehilangan jati dirinya karena pengaruh Jawa, hingga pernah pada masanya para menak-menak Sunda menganggap bahasa dan identitas Sunda lebih rendah derajatnya dibandingkan dengan bahasa Jawa atau Melayu, kini telah jauh menemukan jatidiri nya. Bisa kita lihat misalnya wacana-wacana kesundaan yang sekarang tengah booming. Karenanya, basa Sunda sebagai identitas masyarakat Sunda, seyogianya ditempatkan pada wilayah yang selayaknya, yakni ”roh” budaya masyarakat Sunda, sehingga dia tidak akan lengang menghilang dari masyarakat Sunda sendiri.

Saya sangat simpati adanya anjuran dari pak Budyana Kepala Dinas BUDPAR Propinsi Jawa Barat, beberapa waktu yang lalu, yang menganjurkan kepada seluruh staf dan karyawannya agar menggunakan basa Sunda di kantornya.

Sebagai catatan kecil, beberapa hari yang lalu saya terima E-mail lewat internet dari seorang sahabat yang telah lama bermukim di Netherland. Dia minta diajarin basa Sunda. Alasannya, karena beliau banyak membaca tulisan saya di www.kabarindonesia.com, yang seringkali saya bumbui dalam tulisan tersebut dengan kalimat dan uraian dalam basa Sunda. Katanya, gara-gara itu, dia jadi sangat kangen terhadap basa Sunda. Bahkan tulisan dia dalam basa Sunda yang katanya rada amburadul akan dikirim kepada saya untuk dikoreksi, yang nantinya akan disebar-luaskan ke teman-temannya di Eropa.

Saya benar-benar terenyuh terhadap permintaan itu. Eumh deudeuh teuing, urang Sunda nu tos lila ngumbara di nagri deungeun, kiwari masih keneh nineung kana basa indungna. Aya kahayang, niat ngorehan deui jati dirina salaku urang Sunda. Ada cerita lain, setahun yang lalu pada waktu saya silaturachmi ke ipar saya Nano S., seniman moyan yang tinggal di Cigereleng Bandung. Saya bertemu dengan seorang wanita Amerika yang sedang bertamu ke Nano, namanya non Becky. Diperkenalkan bahwa wanita demplon itu asal Amerika, spontan saya nyorocos ngocoblak bicara kepadanya dalam bahasa Inggris sleng Teksas. Tadina mah hayang legeg. Saya katakan bahwa saya juga pernah belajar di Houston Texas 2 tahun lebih tahun 1978. Belajar di SHSU, dan sebagainya dan sebagainya.

Sewaktu saya menanyakan dengannya  asal dari mana, dan kenapa ada di Indonesia. Jawabannya membuat mulut saya calangap terperanjat, olohok mata simeuteun. Enon Beky menjawab: “Abdi tos langkung dua tahun didieu diajar basa Sunda. Oge diajar mamaos karawitan Sunda ti pak Nano. Alhamdulillah abdi tos tiasa cumarios nganggo basa Sunda. Oge tembang karawitan tos lancar sakumaha piwuruk pak Nano. Malihan mah rekaman kasetna ge tos nyebar di toko-toko kaset”. Mendengar jawaban tersebut, betul-betul kembali saya terkesiap. Si bedul, sugan teh moal kitu jawabanana. Puguh we asa kapupul bayu. Rasa malu campur aduk. Geuning urang luar negeri ge boh ti Netherland, Amerika, Jepang, China dan sebagainya, banyak yang berminat dan gandrung akan basa Sunda-nya. (Dr Rochajat Harun Med.)


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com


 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
International Press Card KabarIndonesiaoleh : Kabarindonesia
30-Sep-2014, 14:56 WIB


 
  International Press Card KabarIndonesia International Press Card HOKI ini merupakan Press Card yang bergengsi dan mempunyai nilai yang tinggi. Bagi mereka yang tertarik untuk bisa mendapatkan International Press Card HOKI sebagai reporter ataupun fotografer, silahkan menghubungi Redaksi KabarIndonesia melalui email ke info@kabarindonesia.com dengan subject/judul: “Saya
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Literasi untuk Edukasi Bencana 25 Sep 2014 12:37 WIB

 

 

 

 

 
Indonesia Siap Hadapi Thailand 22 Sep 2014 13:06 WIB

Asian Games 2014 Resmi Dibuka 22 Sep 2014 11:59 WIB

 

 

 
Hati-Hati Lahir Premature 01 Okt 2014 16:27 WIB


 

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB


 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia