KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PolitikRENUNGAN: Krisis Moneter Indonesia 1998 oleh : Wahyu Barata
30-Jul-2014, 02:41 WIB


 
  KabarIndonesia - Setelah beberapa dekade terbuai oleh pertumbuhan yang sangat mengagumkan, di tahun 1998 ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sangat hebat hingga menjadi tragedi. Keadaannya berlangsung sangat tragis dan tercatat sebagai periode paling suram dalam sejarah perekonomian Indonesia. Mungkin kita akan
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Terima Kasih dari Pengguna Jasa 28 Jul 2014 11:56 WIB

Keniscayaan 23 Jul 2014 05:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB


 
Mudik Gratis Bersama Jasa Raharja 26 Jul 2014 23:41 WIB

Resep Pribadi Plecing Kangkung 15 Mei 2014 00:19 WIB

 

Basa Sunda

 
BUDAYA

Basa Sunda
Oleh : Dr Rochajat Harun Med. | 20-Jun-2008, 12:38:41 WIB

KabarIndonesia - Bahasa merupakan identitas dari sebuah masyarakat, etnis, maupun bangsa. Demikian pula basa  (bahasa) Sunda adalah identitas budaya masyarakat Sunda. Sejak dua ratusan tahun yang lalu, hingga detik ini pun tidak pernah lepas dari pengaruh bahasa lain.

Perubahan adalah suatu keniscayaan, termasuk terhadap bahasa Sunda. Sekuat apapun usaha-usaha pemurnian, atau pembatasan masuknya akulturasi bahasa, pada akhirnya tidak akan mampu membendung perubahan. Menurut para akhli, bahasa akan selalu berdialektika dengan zaman. Sampai kini, basa Sunda semakin kaya akan bahasa resapan, dan tentu saja semakin jauh dari walagri. Ada beberapa catatan sejarah bahwa runtuhnya kerajaan Sunda tahun 1579, serta terjajahnya kerajaan Galuh (1595), dan Sumedanglarang (1620) oleh kerajaan Mataram, menyebabkan jati diri Sunda terpuruk. Sejak itu para bangsawan Sunda, dalem atau bupati di Priangan pada umumnya menggunakan basa Jawa dalam berbicara maupun surat menyurat.

Pada jaman Mataram, basa Sunda dianggap basa kampungan, basa cacah, basa somahan. Tak patut dipakai dalam pergaulan sehari-hari para menak waktu itu. Dalam hal ini penggunaan basa Jawa dianggapnya lebih menak, ningrat, serta bisa memperkuat posisi dan jabatan seseorang.

Memang benar, terpuruknya basa dan budaya Sunda adalah akibat jatuhna kerajaan Sunda oleh Mataram. Ini dperkuat oleh pendapat Ayip Rosidi, seorang budayawan dan sastrawan Sunda. Namun adanya penelitian yang dilakukan oleh orang Belanda seperti Andries de Wilde dan Taco Roorda pada abad ke 19, bahasa Sunda mulai mendapatkan perhatian kembali dan menjadi objek penelitian para peneliti Eropah.

Bahasa Sunda berbeda dengan bahasa Jawa, maupun Melayu. Demikian pernyataan Profesor Taco Roorda tahun 1841 yang pernah menerbitkan kamus Sunda pertama yang berjudul Nederduitsch-Maleisch en Soendasch Woordenboek. Bahasa Sunda diakui sebagai bahasa mandiri yang berbeda dengan bahasa Jawa. Sejak itu tambah banyak sarjana-sarjana Belanda yang mengadakan penelitian tentang budaya dan bahasa Sunda.

Karya-karya ilmiahmya cukup banyak. Dan sejak itulah orang Sunda mulai sadar dan punya kebanggaan terhadap bahasa dan jati dirinya sebagai orang Sunda. Upaya para inohong Sunda untuk membangkitkan kembali bahasanya itu, sudah berjalan lama. Saya teringat pada sebuah puisi Sunda yang ditulis oleh Moehamad Moesa tahun 1867: Anoe matak basa Soenda, Diseboetkeun hudang gering, Tapi tatjan djagdjag pisan, Buktina tatjan walagri, Basana tatjan bersih, Tjampur Djawa djeung Melayoe.

Dari penggalan bait puisi tersebut tersurat tentang eksistensi bahasa Sunda pada zamannya. Namun, budaya dan identitas Sunda, yang dulu sempat kehilangan jati dirinya karena pengaruh Jawa, hingga pernah pada masanya para menak-menak Sunda menganggap bahasa dan identitas Sunda lebih rendah derajatnya dibandingkan dengan bahasa Jawa atau Melayu, kini telah jauh menemukan jatidiri nya. Bisa kita lihat misalnya wacana-wacana kesundaan yang sekarang tengah booming. Karenanya, basa Sunda sebagai identitas masyarakat Sunda, seyogianya ditempatkan pada wilayah yang selayaknya, yakni ”roh” budaya masyarakat Sunda, sehingga dia tidak akan lengang menghilang dari masyarakat Sunda sendiri.

Saya sangat simpati adanya anjuran dari pak Budyana Kepala Dinas BUDPAR Propinsi Jawa Barat, beberapa waktu yang lalu, yang menganjurkan kepada seluruh staf dan karyawannya agar menggunakan basa Sunda di kantornya.

Sebagai catatan kecil, beberapa hari yang lalu saya terima E-mail lewat internet dari seorang sahabat yang telah lama bermukim di Netherland. Dia minta diajarin basa Sunda. Alasannya, karena beliau banyak membaca tulisan saya di www.kabarindonesia.com, yang seringkali saya bumbui dalam tulisan tersebut dengan kalimat dan uraian dalam basa Sunda. Katanya, gara-gara itu, dia jadi sangat kangen terhadap basa Sunda. Bahkan tulisan dia dalam basa Sunda yang katanya rada amburadul akan dikirim kepada saya untuk dikoreksi, yang nantinya akan disebar-luaskan ke teman-temannya di Eropa.

Saya benar-benar terenyuh terhadap permintaan itu. Eumh deudeuh teuing, urang Sunda nu tos lila ngumbara di nagri deungeun, kiwari masih keneh nineung kana basa indungna. Aya kahayang, niat ngorehan deui jati dirina salaku urang Sunda. Ada cerita lain, setahun yang lalu pada waktu saya silaturachmi ke ipar saya Nano S., seniman moyan yang tinggal di Cigereleng Bandung. Saya bertemu dengan seorang wanita Amerika yang sedang bertamu ke Nano, namanya non Becky. Diperkenalkan bahwa wanita demplon itu asal Amerika, spontan saya nyorocos ngocoblak bicara kepadanya dalam bahasa Inggris sleng Teksas. Tadina mah hayang legeg. Saya katakan bahwa saya juga pernah belajar di Houston Texas 2 tahun lebih tahun 1978. Belajar di SHSU, dan sebagainya dan sebagainya.

Sewaktu saya menanyakan dengannya  asal dari mana, dan kenapa ada di Indonesia. Jawabannya membuat mulut saya calangap terperanjat, olohok mata simeuteun. Enon Beky menjawab: “Abdi tos langkung dua tahun didieu diajar basa Sunda. Oge diajar mamaos karawitan Sunda ti pak Nano. Alhamdulillah abdi tos tiasa cumarios nganggo basa Sunda. Oge tembang karawitan tos lancar sakumaha piwuruk pak Nano. Malihan mah rekaman kasetna ge tos nyebar di toko-toko kaset”. Mendengar jawaban tersebut, betul-betul kembali saya terkesiap. Si bedul, sugan teh moal kitu jawabanana. Puguh we asa kapupul bayu. Rasa malu campur aduk. Geuning urang luar negeri ge boh ti Netherland, Amerika, Jepang, China dan sebagainya, banyak yang berminat dan gandrung akan basa Sunda-nya. (Dr Rochajat Harun Med.)


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com


 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Miniatur Masjid Bahan Bekasoleh : Johanes Krisnomo
25-Jul-2014, 00:40 WIB


 
  Miniatur Masjid Bahan Bekas Jelang Hari Raya Idul Fitri 1435 H, mengundang kreatifitas untuk membuat karya unik berupa minatur sebuah masjid dari barang-barang bekas seperti kardus, kaleng dan bola plastik. Contohnya, Rudi Iskandar (38 thn), karyawan PT. Ultrajaya di Padalarang, Bandung, menyumbangkan hasil karyanya
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
PILPRES 2014: Tidak Perlu Fanatik 07 Jul 2014 19:08 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB


 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Tak Selamanya Teknologi Mahal 03 Jun 2014 09:05 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia