KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Top ReporterTop Reporter Bulan Juli 2014 Kategori Berita Artikel oleh : Redaksi-kabarindonesia
23-Jul-2014, 06:01 WIB


 
 
Top Reporter Bulan Juli 2014 Kategori Berita Artikel
KabarIndonesia - Pada bulan Juli 2014, Redaksi KabarIndonesia telah memilih Sdr. Rio Anggoro sebagai Top
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Keniscayaan 23 Jul 2014 05:12 WIB

Kenangan 15 Jul 2014 22:58 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB


 
Resep Pribadi Plecing Kangkung 15 Mei 2014 00:19 WIB


 

Basa Sunda

 
BUDAYA

Basa Sunda
Oleh : Dr Rochajat Harun Med. | 20-Jun-2008, 12:38:41 WIB

KabarIndonesia - Bahasa merupakan identitas dari sebuah masyarakat, etnis, maupun bangsa. Demikian pula basa  (bahasa) Sunda adalah identitas budaya masyarakat Sunda. Sejak dua ratusan tahun yang lalu, hingga detik ini pun tidak pernah lepas dari pengaruh bahasa lain.

Perubahan adalah suatu keniscayaan, termasuk terhadap bahasa Sunda. Sekuat apapun usaha-usaha pemurnian, atau pembatasan masuknya akulturasi bahasa, pada akhirnya tidak akan mampu membendung perubahan. Menurut para akhli, bahasa akan selalu berdialektika dengan zaman. Sampai kini, basa Sunda semakin kaya akan bahasa resapan, dan tentu saja semakin jauh dari walagri. Ada beberapa catatan sejarah bahwa runtuhnya kerajaan Sunda tahun 1579, serta terjajahnya kerajaan Galuh (1595), dan Sumedanglarang (1620) oleh kerajaan Mataram, menyebabkan jati diri Sunda terpuruk. Sejak itu para bangsawan Sunda, dalem atau bupati di Priangan pada umumnya menggunakan basa Jawa dalam berbicara maupun surat menyurat.

Pada jaman Mataram, basa Sunda dianggap basa kampungan, basa cacah, basa somahan. Tak patut dipakai dalam pergaulan sehari-hari para menak waktu itu. Dalam hal ini penggunaan basa Jawa dianggapnya lebih menak, ningrat, serta bisa memperkuat posisi dan jabatan seseorang.

Memang benar, terpuruknya basa dan budaya Sunda adalah akibat jatuhna kerajaan Sunda oleh Mataram. Ini dperkuat oleh pendapat Ayip Rosidi, seorang budayawan dan sastrawan Sunda. Namun adanya penelitian yang dilakukan oleh orang Belanda seperti Andries de Wilde dan Taco Roorda pada abad ke 19, bahasa Sunda mulai mendapatkan perhatian kembali dan menjadi objek penelitian para peneliti Eropah.

Bahasa Sunda berbeda dengan bahasa Jawa, maupun Melayu. Demikian pernyataan Profesor Taco Roorda tahun 1841 yang pernah menerbitkan kamus Sunda pertama yang berjudul Nederduitsch-Maleisch en Soendasch Woordenboek. Bahasa Sunda diakui sebagai bahasa mandiri yang berbeda dengan bahasa Jawa. Sejak itu tambah banyak sarjana-sarjana Belanda yang mengadakan penelitian tentang budaya dan bahasa Sunda.

Karya-karya ilmiahmya cukup banyak. Dan sejak itulah orang Sunda mulai sadar dan punya kebanggaan terhadap bahasa dan jati dirinya sebagai orang Sunda. Upaya para inohong Sunda untuk membangkitkan kembali bahasanya itu, sudah berjalan lama. Saya teringat pada sebuah puisi Sunda yang ditulis oleh Moehamad Moesa tahun 1867: Anoe matak basa Soenda, Diseboetkeun hudang gering, Tapi tatjan djagdjag pisan, Buktina tatjan walagri, Basana tatjan bersih, Tjampur Djawa djeung Melayoe.

Dari penggalan bait puisi tersebut tersurat tentang eksistensi bahasa Sunda pada zamannya. Namun, budaya dan identitas Sunda, yang dulu sempat kehilangan jati dirinya karena pengaruh Jawa, hingga pernah pada masanya para menak-menak Sunda menganggap bahasa dan identitas Sunda lebih rendah derajatnya dibandingkan dengan bahasa Jawa atau Melayu, kini telah jauh menemukan jatidiri nya. Bisa kita lihat misalnya wacana-wacana kesundaan yang sekarang tengah booming. Karenanya, basa Sunda sebagai identitas masyarakat Sunda, seyogianya ditempatkan pada wilayah yang selayaknya, yakni ”roh” budaya masyarakat Sunda, sehingga dia tidak akan lengang menghilang dari masyarakat Sunda sendiri.

Saya sangat simpati adanya anjuran dari pak Budyana Kepala Dinas BUDPAR Propinsi Jawa Barat, beberapa waktu yang lalu, yang menganjurkan kepada seluruh staf dan karyawannya agar menggunakan basa Sunda di kantornya.

Sebagai catatan kecil, beberapa hari yang lalu saya terima E-mail lewat internet dari seorang sahabat yang telah lama bermukim di Netherland. Dia minta diajarin basa Sunda. Alasannya, karena beliau banyak membaca tulisan saya di www.kabarindonesia.com, yang seringkali saya bumbui dalam tulisan tersebut dengan kalimat dan uraian dalam basa Sunda. Katanya, gara-gara itu, dia jadi sangat kangen terhadap basa Sunda. Bahkan tulisan dia dalam basa Sunda yang katanya rada amburadul akan dikirim kepada saya untuk dikoreksi, yang nantinya akan disebar-luaskan ke teman-temannya di Eropa.

Saya benar-benar terenyuh terhadap permintaan itu. Eumh deudeuh teuing, urang Sunda nu tos lila ngumbara di nagri deungeun, kiwari masih keneh nineung kana basa indungna. Aya kahayang, niat ngorehan deui jati dirina salaku urang Sunda. Ada cerita lain, setahun yang lalu pada waktu saya silaturachmi ke ipar saya Nano S., seniman moyan yang tinggal di Cigereleng Bandung. Saya bertemu dengan seorang wanita Amerika yang sedang bertamu ke Nano, namanya non Becky. Diperkenalkan bahwa wanita demplon itu asal Amerika, spontan saya nyorocos ngocoblak bicara kepadanya dalam bahasa Inggris sleng Teksas. Tadina mah hayang legeg. Saya katakan bahwa saya juga pernah belajar di Houston Texas 2 tahun lebih tahun 1978. Belajar di SHSU, dan sebagainya dan sebagainya.

Sewaktu saya menanyakan dengannya  asal dari mana, dan kenapa ada di Indonesia. Jawabannya membuat mulut saya calangap terperanjat, olohok mata simeuteun. Enon Beky menjawab: “Abdi tos langkung dua tahun didieu diajar basa Sunda. Oge diajar mamaos karawitan Sunda ti pak Nano. Alhamdulillah abdi tos tiasa cumarios nganggo basa Sunda. Oge tembang karawitan tos lancar sakumaha piwuruk pak Nano. Malihan mah rekaman kasetna ge tos nyebar di toko-toko kaset”. Mendengar jawaban tersebut, betul-betul kembali saya terkesiap. Si bedul, sugan teh moal kitu jawabanana. Puguh we asa kapupul bayu. Rasa malu campur aduk. Geuning urang luar negeri ge boh ti Netherland, Amerika, Jepang, China dan sebagainya, banyak yang berminat dan gandrung akan basa Sunda-nya. (Dr Rochajat Harun Med.)


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com


 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pasmar-2 Marinir Gelar Latihan Pengendalian Demonstrasi Massaoleh : Dispen Kormar
18-Jul-2014, 21:20 WIB


 
  Pasmar-2 Marinir Gelar Latihan Pengendalian Demonstrasi Massa Dalam rangka memelihara kesiapsiagaan pasukan yang akan diterjunkan dalam proses pengamanan Pemilihan Presiden (Pilpres) yang pada 22 Juli mendatang memasuki tahap rekapitulasi suara di KPU, satu Satuan Setingkat Batalyon (SSY) pasukan siaga Pam Pilpers Pasmar-2 Marinir menggelar Latihan penanggulangan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
PILPRES 2014: Tidak Perlu Fanatik 07 Jul 2014 19:08 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB


 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Tak Selamanya Teknologi Mahal 03 Jun 2014 09:05 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia