KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PendidikanMengakhiri Ujian Nasional (UN) oleh : Syafbrani
20-Apr-2014, 12:39 WIB


 
 
Mengakhiri Ujian Nasional (UN)
KabarIndonesia - Secara kasat mata UN hanyalah merupakan bentuk tes tertulis bagi siswa. Tidak lebih! Tapi jika dibedah secara mikroskopis akan nampaklah jalur konvergensi (penyatuan) yang mengarah pada satu tujuan: TARGET KELULUSAN yang sepertinya sudah menjadi Tuhan!

selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Syukur Kita Kepada Guru 21 Apr 2014 11:07 WIB

Paskah Abadi 21 Apr 2014 11:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Bahasa Surabaya Perlu Ruang untuk Berkesenian

 
BUDAYA

Bahasa Surabaya Perlu Ruang untuk Berkesenian
Oleh : Rokimdakas | 07-Okt-2010, 14:45:51 WIB

KabarIndonesia - Suasana jenaka mengitari Festival Ludrug Anak 2010 di Pendapa Taman Budaya. Para pemain bebas mengekspresikan berbagai masalah kehidupan sekitar lingkungannya dengan menggunakan bahasa Surabaya, bahasa ibu mereka.

Namun di sisi keceriaan tersebut terbersit harapan, betapa perlunya membuat program strategis untuk memberi ruang yang luas bagi bahasa Surabaya sebagai media ungkap guna membentuk kesenian khas Surabaya.

Penguatan warna lokal dalam membangun karakteristik kesenian yang berkembang di Surabaya, patut digerakkan berupa penyadaran kolektif. Bahwa bahasa Surabaya perlu dieksplorasi sebagai media ekspresi berkesenian karena merupakan kekuatan lokal yang patut ditampilkan dalam percaturan seni maupun anasir pematangan proses budaya.

Untuk kali ketiga, Festival Ludrug Anak digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya sebagai ajang stimulasi para remaja agar menggemari kesenian yang menjadi ikon Kota Surabaya. Sebanyak sembilan peserta yang tampil 4 di antaranya terpilih sebagai penyaji terbaik non rangking dan berhak membawa trophy dan dana pembinaan masing-masing sebesar Rp 3 juta.

Mereka adalah Grup Harapan Putri, The Nine Theatre Vision, Bundass dan Samudra yang sekaligus terpilih sebagai grup favorit. Sementara yang tersisih antara lain grup Amuba, Tjap Halilintar, Paling Taktis, Teater Keong dan Sanggar Sumeh Budaya.

Grup Bundass yang mewakili SMAN 12 mengetengahkan lakon Peteng berkisah tentang seorang gadis yang gemar mengumbar kesenangannya bermain asmara sehingga hamil. Dia merasa hidupnya berubah peteng (Jawa: gelap). Cerita ini diangkat dari peristiwa yang terjadi di SMAN 12 pada bulan Juli silam ketika memasuki masa ajaran baru tiba-tiba ditemukan mayat bayi dalam toilet.

Peristiwa yang menggegerkan dan menyita pemberitaan surat kabar itu dalam tempo singkat ditemukan pelakunya yang tak lain adalah siswa baru kelas 9. Kini perkaranya sedang ditangani polisi.

“Kisah ini memang diilhami oleh peristiwa tersebut,” tutur Tresno Taurus, pengajar ekstrakurikuler theater yang telah 20 tahun melatih di sekolah tersebut. Selama seminggu kelompok teather di kawasan Sememi, Benowo itu berlatih intensif.

Menurut pelatihnya, anak-anak tidak mengalami kesulitan apapun dalam menyajikan tontonan yang menggunakan bahasa Surabaya. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan Hengky Kusuma, Kukuh dan Momon tentang humor dan penyutradaraan menilai grup SMAN 12 itu pantas terpilih sebagai penyaji terbaik.

Tidak hanya siswa-siswi SMAN 12 saja yang begitu lancar mengudar dialog gaya Surabaya, tetapi semua penyaji tampak menguasai dengan baik pola tutur yang menjadi ciri khas ludrug disertai humor-humor segar hingga suasana ger-geran. Dari judul cerita yang hendak disajikan penonton sudah wajib tertawa saking lucunya, di antaranya diberi judul "Beranak dalam Toilet atau Sandal Sesehan".


Bahasa Sanskerta

Melihat even tersebut kiranya patut dicermati, institusi yang membidangi seni dan budaya perlu menyiapkan program-program strategis untuk menggunakan bahasa Surabaya sebagai media ungkap. Sebagai bahasa ibu, bahasa Surabaya sudah sepatutnya diberi ruang luas sebagai media ekspresi dalam berkesenian, baik drama, musik maupun sastra untuk membentuk karakteristik secara kuat baik kepribadian maupun seni dan budaya.

Langkah ini diharap mampu menangkal ‘virus’ dialek Jakarta-an yang dicecarkan lewat sinetron di banyak stasiun televisi beserta gaya hidup hedonis.

Mengamati fenomena tersebut Juslifar M. Junus, penulis di Surabaya, salah satu kendala penggunaan bahasa Surabaya karena dianggap tidak intelektual. Sekarang banyak orang tua yang berkomunikasi dengan anak-anaknya menggunakan bahasa Indonesia karena bahasa Surabaya dianggap kurang bergengsi dan tidak intelektual.

Hal ini juga menjadi penyebab mengapa pelajaran bahasa daerah di SD dan SMP menjadi pelajaran yang sering membuat siswa stres karena sulit dipahami.

Meningkahi masalah tersebut cukup menarik mengetengahkan pengamatan Ki Toro, komposer tradisi kontemporer. Menurutnya, pelajaran bahasa daerah yang diajarkan di sekolah merupakan bahasa Jawa Mataraman yang dikembangkan oleh Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Padahal kultur Surabaya atau Jawa Timur sangatlah berbeda karena sumber bahasanya adalah Sansekerta yang tidak mengenal strata bahasa sebagaimana Mataraman.

Sebab itu orang Surabaya akan kesulitan jika dituntut untuk menggunakan krama madya atau krama inggil sebagaimana Mataraman.

Kembali ke soal penggunaan bahasa Surabaya sebagai media ekspresi berkesenian, Prof Dr Sam Abede Pareno, guru besar ilmu komunikasi Universitas Dr Sutomo mengatakan, tontonan di Surabaya seperti teater seharusnya menggunakan bahasa Surabaya.

Dengan begitu akan tercipta tontonan yang karakteristik. Para aktor maupun aktrisnya akan bisa mengekspresikan bahasanya dengan baik karena bahasa itulah yang digunakan berkomunikasi setiap hari.

Kekuatan ini jangan diremehkan. Sayangnya sampai sekarang belum banyak para aktivis theater, sastra dan musik yang menyadari untuk menjadikan bahasa Surabaya sebagai pilar penguat kekaryaan.

Studi Banding
Sebagai studi banding, di Jawa Barat terdapat Kelompok Theater Sunda Kiwari (TSK) yang ajeg menggelar Festival Drama Bahasa Sunda (FDBS) dua tahun sekali. Pada tahun ini telah memasuki penyelenggraan yang ke-11. Acara yang digelar di Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung diikuti oleh 70-an kelompok theater se-Jawa Barat.

Kelompok TSK merupakan satu-satunya theater kontemporer Sunda yang paling eksis dalam melestarikan bahasa daerah dan mengukuhkan budaya Sunda. Kelompok tersebut merupakan kelompok theater Sunda yang terus hidup walau berbagai krisis terus mendera, termasuk krisis materi naskah drama Sunda.

R Dadi P Danusubrata, motor penggerak TSK menuturkan, obsesi yang melatari program tersebut karena adanya fenomena yang memprihatinkan terhadap perkembangan penggunaan bahasa Sunda. Kalangan anak-anak dan remaja Sunda sudah melupakan bahasa indungnya. Lewat Festival Drama Sunda ini juga untuk mengembangkan apreasiasi publik terhadap theater sebagai sarana pendidikan modern dan budaya.

Di samping itu FDS juga dijadikan media untuk mencari potensi theater-theater modern berbahasa Sunda yang mampu membantu TSK dalam mewujudkan program pelestarian bahasa Sunda dengan menggarapan kembali theater tradisional yang nyaris punah seperti Longser, Uyeg dan Ubrug.

Sebagai upaya pelestarian bahasa daerah, di Jawa Tengah pun menyelenggarakan program serupa. Taman Budaya Jawa Tengah menyelenggarakan Festival Sandiwara Berbahasa Jawa tingkat Provinsi Jawa Tengah. Menurut St. Wiyono, ketua panitia yang juga dikenal sebagai sutradara dan pemain ketoprak dan aktor theater, sebagai sebuah cabang kesenian Jawa, sandiwara berbahasa Jawa nyaris tidak mendapatkan perhatian dari banyak pihak.

"Ruang untuk pementasan kelompok theater berbahasa Jawa juga sangat terbatas. Karena itu, meski hanya bisa dilaksanakan setahun sekali, festival ini diharapkan bisa memacu penggiat theater berbahasa Jawa," kata dia. Salah satu kelompok theater berbahasa Jawa yang pernah ada adalah Theater Gapit, Solo.

Semasa jayanya, kelompok ini kerap mendapatkan undangan pentas hingga ke Eropa. Namun kemudian bubar setelah Kentut atau Bambang Widoyo SP, penulis naskah yang merangkap sutradaranya meninggal dunia. Kini kelompok theater tersebut dihidupkan kembali dengan menggunakan nama baru Linguid yang berarti tajam.

Pada Mei lalu, publik Surabaya disuguhi Theater Bengkel Muda Surabaya lewat lakon Blak Kotang yang menggunakan bahasa Surabaya. Melihat tontonan tersebut banyak aktivis theater yang merasa terilhami untuk mengeksplorasi bahasa Surabaya untuk mengekspresikan repertoar.

Di bidang sastra tercatat nama Trinil yang mencoba konsisten untuk menggunaka bahasa Surabaya untuk mengudar kekaryaannya. Sementara di lini musik terdapat grup rock Jangan Asem dan Black Star yang menyajikan musik rap berbahasa Surabaya secara impresif.

Tumbuhnya kesadaran untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai media ungkap kemudian menyimak penyelenggaraan Festival Ludrug Anak kiranya perlu mempertegas perlunya penguatan warna lokal dalam membangun karakteristik kesenian di Surabaya. Dengan menerapkan rumusan strategis, maka kekhawatiran atas kemampuan generasi muda dalam mewarisi ludrug serta kelestarian bahasa Surabaya akan bisa terjawab.

Sebagai sokoguru kehidupan, bahasa Surabaya patut kita kembangkan agar "watak Arek Surabaya" yang egaliter, solider dan antifeodal, yang pernah dicatat dengan tinta emas dalam sejarah pertempuran 10 November 1945 kembali dominan mewarnai kebudayaan. Merdeka! (*)



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//


 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mangga Gedong Gincu, Si Menor yang Menduniaoleh : Irwan Gunawan
19-Apr-2014, 22:28 WIB


 
  Mangga Gedong Gincu, Si Menor yang Mendunia Membicarakan mangga gedong gincu, yang terbayang tentu saja rasanya yang asam manis, tekstur dagingnya yang berserat, bentuknya yang bulat dan warna kulitnya yang kemerah-merahan layaknya wanita berdandan menor dan genit. Inilah kesan pertama ketika menikmati mangga yang kini makin
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pemilu 2014 di Caledonia Baru 10 Apr 2014 11:57 WIB


 
Anjlok, Suara Demokrat di Jatim 20 Apr 2014 12:37 WIB


 

 

 

 
Kampus Terkemuka Nasional 15 Apr 2014 03:51 WIB

 
Zat Besi & Vitamin C 11 Apr 2014 21:57 WIB

Era Kualitas Kehidupan Perempuan 25 Mar 2014 21:45 WIB

 

 

 
Penyertaan Tuhan 20 Apr 2014 00:29 WIB

Satu Langkah Lagi 16 Apr 2014 16:47 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia