KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PolitikRENUNGAN: Krisis Moneter Indonesia 1998 oleh : Wahyu Barata
30-Jul-2014, 02:41 WIB


 
  KabarIndonesia - Setelah beberapa dekade terbuai oleh pertumbuhan yang sangat mengagumkan, di tahun 1998 ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sangat hebat hingga menjadi tragedi. Keadaannya berlangsung sangat tragis dan tercatat sebagai periode paling suram dalam sejarah perekonomian Indonesia. Mungkin kita akan
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Terima Kasih dari Pengguna Jasa 28 Jul 2014 11:56 WIB

Keniscayaan 23 Jul 2014 05:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB


 
Mudik Gratis Bersama Jasa Raharja 26 Jul 2014 23:41 WIB

Resep Pribadi Plecing Kangkung 15 Mei 2014 00:19 WIB

 

Bupati Pertama Magetan, Kerabat Mataram Palilah dari Ki Ageng Mageti

 
BUDAYA

Bupati Pertama Magetan, Kerabat Mataram Palilah dari Ki Ageng Mageti
Oleh : Sutarman | 16-Okt-2010, 22:08:30 WIB

KabarIndonesia - Dalam legenda para pinisepuh ataupun dalam sejarah kuno, Indonesia dulu bernama Nusantara. Demikian juga Kabupaten Magetan dulu bernama Kadipaten Mageti yang dipimpin oleh seorang keturunan Raja dari Kerajaan Mataram dengan gelar Adipati. Saat itu Kadipaten Mageti termasuk wilayah kekuasan Kerajaan Hindu Mataram.

Di masa Kerajaan Mataram diperintah Sultan Agung Hanyokrokusumo tahun 1645 Masehi, rakyat bisa hidup secara berdampingan, damai guyup rukun tentrem kertoraharjo. Namun dengan kedatangan Kompeni (Belanda) ketentraman rakyat terusik.

Apalagi setelah Mataram dipimpin oleh pengggantinya Sultan Amangkurat I pada tahun 1646-1677 kerajaan melemah tak sewibawa saat tahta kerajaan dikendalikan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo. Hal itu karena Sultan Amangkurat I bersekutu dengan Kompeni Belanda (VOC).

Pada tahun 1646, Sultan Amangkurat I mengadakan perjanjian dengan koloni Belanda, sehingga Belanda bisa memperkuat diri dan bisa bebas dari ancaman Mataram. Bahkan pengaruh kolonial Belanda bisa menguasai perdagangan sampai Ternate, Ambon dan Pulau Banda.

Gelagat Sultan Amangkurat I yang tidak beres ini, tercium oleh kalangan kerabat keraton termasuk putranya sendiri yang bernama Adipati Anom dengan gelar Amangkurat II. Kerajaan di pesisir utara yang berpengaruh pun yaitu Pangeran Giri juga mulai melepaskan diri dari Kerajaan Mataram.

Pangeran Trunojoyo dari Madura juga sangat kecewa dengan pamannya sendiri yang bernama Pangeran Cakraningrat II hanya bersenang-senang/foya-foya di pusat Pemerintahan Mataram. Sehingga Pangeran Trunojoyo memberontak Mataram pada tahun 1674 yang didukung oleh kerajaan kecil dari Makasar, Ternate dan Tidore.

Di saat pusat Kerajaan Mataram sudah tidak aman/kacau balau, kerabat keraton yang bernama Basah Bibit atau Basah Gondokusumo dan Patih Mataram yang bernama Pangeran Nrang Kusumo dituduh bersekutu dengan para ulama, beroposisi menantang kebijaksanaan Sultan Amangkurat I.

Atas fitnah/tuduhan itu, Basah Gondokusumo diasingkan di rumah kakeknya yang bernama Basah Suryaningrat di Gedong Kuning Semarang selama 40 hari. Patih Nrang Kusumo meletakkan jabatanya sebagai patih diganti Nrang Boyo II. Kemudian pergi bertapa di bagian timur Gunung Lawu. Nrang Kusumo dan Nrang Boyo II adalah putra dari Patih Nrang Boyo, Kanjeng Gusti Susuhunan Giri IV Mataram.

Dalam pengasingan di Gedong Kuning Semarang, Basah Gondokusumo mendapat nasihat dari kakeknya Basah Suryaningrat. Yang kemudian berdua menyingkir di timur Gunung Lawu karena ada berita di timur Gunung Lawu sedang ada babat hutan. Babat hutan ini dilaksanakan oleh Eyang Buyut Suro yang bergelar Ki Ageng Getas atas perintah Ki Ageng Mageti.

Untuk mendapatkan sebidang tanah pemukiman, Basah Gondokusumo dan kakeknya Basah Suryaningrat di antar oleh Ki Ageng Getas menemui Ki Ageng Mageti di tempat kediamannya di dukuh Gandong Selatan yang sekarang bernama ‘Surya Graha’.

Hasil pertemuan itu, Basah Suryaningrat diberi sebidang tanah di sebelah utara Sungai Gandong sekarang tepatnya di Desa Tambran, Kecamatan Kota Magetan. Peristiwa pemberian sebidang tanah itu setelah mengalami proses musyawarah dan perdebatan antara Basah Suryaningrat dengan Ki Ageng Mageti.

Setelah mengetahui Ki Ageng Mageti kalau Basah Suryaningrat masih kerabat keraton dan sesepuh Mataram yang memang harus memerlukan pengayoman/perlindungan. Sebagai tanda kesetian baktinya dengan Mataram, Ki Ageng Mageti akhirnya mempersembahkan seluruh milik tanahnya.

Setelah menerima seluruh tanah pemberian dari Ki Ageng Mageti sekaligus Basah Suryaningrat melantik/mewisuda cucunya yang bernama Basah Gondokusuma menjadi Adipati, penguasa di tempat baru dengan gelar Yosonegoro yang kemudian dikenal dengan nama Bupati Yosonegoro. Penganugerahan gelar ini terjadi pada tanggal 12 Oktober 1675.

Dengan bangga Basah Suryaningrat dan Yosonegoro (Basah Gondokusumo) selain mendapat persembahan tanah yang barwujud suatu wilayah yang cukup luas dan strategis, lagi mendapat sahabat yang setia mendampingi Ki Ageng Mageti, maka tanah yang baru itu diberi nama tanah Magetan.

Ki Ageng Mageti meninggal di makamkan di Desa Magetan, sekarang Kelurahan Magetan yang terletak di pinggir Sungai Gandong. Ki Ageng Mageti masih kerabat kerajaan Mataram dan sesepuh punggowo di wilayah Lereng Gunung Lawu, seorang pertapa yang sakti dan ahli di bidang pertanian dan strategis ahli perang. (*)


Keterangan foto: Makam Bupati Pertama Magetan Basah Bibit Gondokusumo yang bergelar Yosonegoro



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//




 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Miniatur Masjid Bahan Bekasoleh : Johanes Krisnomo
25-Jul-2014, 00:40 WIB


 
  Miniatur Masjid Bahan Bekas Jelang Hari Raya Idul Fitri 1435 H, mengundang kreatifitas untuk membuat karya unik berupa minatur sebuah masjid dari barang-barang bekas seperti kardus, kaleng dan bola plastik. Contohnya, Rudi Iskandar (38 thn), karyawan PT. Ultrajaya di Padalarang, Bandung, menyumbangkan hasil karyanya
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
PILPRES 2014: Tidak Perlu Fanatik 07 Jul 2014 19:08 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB


 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Tak Selamanya Teknologi Mahal 03 Jun 2014 09:05 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia