KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniSwasembada Pangan Era Pembangunan, Sebuah Kenangan akan Harapan oleh : Iin Suwandi
04-Mar-2015, 11:53 WIB


 
  KabarIndonesia - Pangan merupakan salah satu kebutuhan primer yang paling mendasar bagi manusia. Kebutuhan pangan sangat penting bagi kehidupan umat manusia yang akan mempengaruhi sendi kehidupan lainnya. Kehidupan sosial politik suatu negara akan terganggu manakala rakyat lapar karena seluruh rakyat
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Di Rantau Kurindu Ibu Pertiwi 06 Mar 2015 21:00 WIB

Derita Hilang, Keluhan Hilang 04 Mar 2015 11:45 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Banjir Bikin Stres Deera Idol! 18 Feb 2015 20:35 WIB


 

 

Bupati Pertama Magetan, Kerabat Mataram Palilah dari Ki Ageng Mageti

 
BUDAYA

Bupati Pertama Magetan, Kerabat Mataram Palilah dari Ki Ageng Mageti
Oleh : Sutarman | 16-Okt-2010, 22:08:30 WIB

KabarIndonesia - Dalam legenda para pinisepuh ataupun dalam sejarah kuno, Indonesia dulu bernama Nusantara. Demikian juga Kabupaten Magetan dulu bernama Kadipaten Mageti yang dipimpin oleh seorang keturunan Raja dari Kerajaan Mataram dengan gelar Adipati. Saat itu Kadipaten Mageti termasuk wilayah kekuasan Kerajaan Hindu Mataram.

Di masa Kerajaan Mataram diperintah Sultan Agung Hanyokrokusumo tahun 1645 Masehi, rakyat bisa hidup secara berdampingan, damai guyup rukun tentrem kertoraharjo. Namun dengan kedatangan Kompeni (Belanda) ketentraman rakyat terusik.

Apalagi setelah Mataram dipimpin oleh pengggantinya Sultan Amangkurat I pada tahun 1646-1677 kerajaan melemah tak sewibawa saat tahta kerajaan dikendalikan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo. Hal itu karena Sultan Amangkurat I bersekutu dengan Kompeni Belanda (VOC).

Pada tahun 1646, Sultan Amangkurat I mengadakan perjanjian dengan koloni Belanda, sehingga Belanda bisa memperkuat diri dan bisa bebas dari ancaman Mataram. Bahkan pengaruh kolonial Belanda bisa menguasai perdagangan sampai Ternate, Ambon dan Pulau Banda.

Gelagat Sultan Amangkurat I yang tidak beres ini, tercium oleh kalangan kerabat keraton termasuk putranya sendiri yang bernama Adipati Anom dengan gelar Amangkurat II. Kerajaan di pesisir utara yang berpengaruh pun yaitu Pangeran Giri juga mulai melepaskan diri dari Kerajaan Mataram.

Pangeran Trunojoyo dari Madura juga sangat kecewa dengan pamannya sendiri yang bernama Pangeran Cakraningrat II hanya bersenang-senang/foya-foya di pusat Pemerintahan Mataram. Sehingga Pangeran Trunojoyo memberontak Mataram pada tahun 1674 yang didukung oleh kerajaan kecil dari Makasar, Ternate dan Tidore.

Di saat pusat Kerajaan Mataram sudah tidak aman/kacau balau, kerabat keraton yang bernama Basah Bibit atau Basah Gondokusumo dan Patih Mataram yang bernama Pangeran Nrang Kusumo dituduh bersekutu dengan para ulama, beroposisi menantang kebijaksanaan Sultan Amangkurat I.

Atas fitnah/tuduhan itu, Basah Gondokusumo diasingkan di rumah kakeknya yang bernama Basah Suryaningrat di Gedong Kuning Semarang selama 40 hari. Patih Nrang Kusumo meletakkan jabatanya sebagai patih diganti Nrang Boyo II. Kemudian pergi bertapa di bagian timur Gunung Lawu. Nrang Kusumo dan Nrang Boyo II adalah putra dari Patih Nrang Boyo, Kanjeng Gusti Susuhunan Giri IV Mataram.

Dalam pengasingan di Gedong Kuning Semarang, Basah Gondokusumo mendapat nasihat dari kakeknya Basah Suryaningrat. Yang kemudian berdua menyingkir di timur Gunung Lawu karena ada berita di timur Gunung Lawu sedang ada babat hutan. Babat hutan ini dilaksanakan oleh Eyang Buyut Suro yang bergelar Ki Ageng Getas atas perintah Ki Ageng Mageti.

Untuk mendapatkan sebidang tanah pemukiman, Basah Gondokusumo dan kakeknya Basah Suryaningrat di antar oleh Ki Ageng Getas menemui Ki Ageng Mageti di tempat kediamannya di dukuh Gandong Selatan yang sekarang bernama ‘Surya Graha’.

Hasil pertemuan itu, Basah Suryaningrat diberi sebidang tanah di sebelah utara Sungai Gandong sekarang tepatnya di Desa Tambran, Kecamatan Kota Magetan. Peristiwa pemberian sebidang tanah itu setelah mengalami proses musyawarah dan perdebatan antara Basah Suryaningrat dengan Ki Ageng Mageti.

Setelah mengetahui Ki Ageng Mageti kalau Basah Suryaningrat masih kerabat keraton dan sesepuh Mataram yang memang harus memerlukan pengayoman/perlindungan. Sebagai tanda kesetian baktinya dengan Mataram, Ki Ageng Mageti akhirnya mempersembahkan seluruh milik tanahnya.

Setelah menerima seluruh tanah pemberian dari Ki Ageng Mageti sekaligus Basah Suryaningrat melantik/mewisuda cucunya yang bernama Basah Gondokusuma menjadi Adipati, penguasa di tempat baru dengan gelar Yosonegoro yang kemudian dikenal dengan nama Bupati Yosonegoro. Penganugerahan gelar ini terjadi pada tanggal 12 Oktober 1675.

Dengan bangga Basah Suryaningrat dan Yosonegoro (Basah Gondokusumo) selain mendapat persembahan tanah yang barwujud suatu wilayah yang cukup luas dan strategis, lagi mendapat sahabat yang setia mendampingi Ki Ageng Mageti, maka tanah yang baru itu diberi nama tanah Magetan.

Ki Ageng Mageti meninggal di makamkan di Desa Magetan, sekarang Kelurahan Magetan yang terletak di pinggir Sungai Gandong. Ki Ageng Mageti masih kerabat kerajaan Mataram dan sesepuh punggowo di wilayah Lereng Gunung Lawu, seorang pertapa yang sakti dan ahli di bidang pertanian dan strategis ahli perang. (*)


Keterangan foto: Makam Bupati Pertama Magetan Basah Bibit Gondokusumo yang bergelar Yosonegoro



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//




 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Kecamatan Tanjung Raja Menjadi Juara MTQ ke-42 Lampung Utaraoleh : Jumari Haryadi
01-Mar-2015, 10:19 WIB


 
  Kecamatan Tanjung Raja Menjadi Juara MTQ ke-42 Lampung Utara Lomba MTQ ke-42 Lampung Utara yang berlangsung sejak 23 Februari 2015 di desa Subik Kecamatan Abung Tengah berakhir pada 27 Februari 2015. Kegiatan yang diikuti 230 peserta dari 23 kecamatan tersebut dimenangkan oleh Kecamatan Tanjung Raja dan menempatkannya sebagai
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Dukung Program Swasembada Pangan 05 Mar 2015 05:55 WIB

Jangan Takut Ancaman Pihak Asing 05 Mar 2015 05:54 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 
PKK Harus Mengefektifkan Posyandu 06 Mar 2015 21:09 WIB


 
Rambu Car Free Day Di Bogor 06 Mar 2015 21:06 WIB


 

 
Belajar dari Kehidupan Lebah 18 Feb 2015 20:28 WIB

 
  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia