KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PendidikanMengakhiri Ujian Nasional (UN) oleh : Syafbrani
20-Apr-2014, 12:39 WIB


 
 
Mengakhiri Ujian Nasional (UN)
KabarIndonesia - Secara kasat mata UN hanyalah merupakan bentuk tes tertulis bagi siswa. Tidak lebih! Tapi jika dibedah secara mikroskopis akan nampaklah jalur konvergensi (penyatuan) yang mengarah pada satu tujuan: TARGET KELULUSAN yang sepertinya sudah menjadi Tuhan!

selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Syukur Kita Kepada Guru 21 Apr 2014 11:07 WIB

Paskah Abadi 21 Apr 2014 11:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
BUDAYA

Keunikan Nama Batak Toba
Oleh : Hotma D.l. Tobing | 02-Jul-2012, 19:45:32 WIB

KabarIndonesia - Pembaca tentu acap mendengar nama  suku Batak, dalam hal ini Batak Toba, yang mungkin lucu bagi yang mendegarnya. Misalnya ada yang memiliki nama Lindung. Perlu saya jelaskan, ada 5 macam suku Batak ini. Yakni suku Batak Toba (dimana saya berasal), Batak Simalungun, Batak Pakpak/Dairi, Batak Karo dan Batak Mandailing. Kosakata dan pelafalannya pun sangat berbeda.    

Bagi suku lain mengetahui, lindung adalah persamaan dari kata belut. Ada juga seseorang bernama Tahi. Orang yang tak paham, perkataan tahi adalah agar jorok  Padahal bagi suku Batak Toba sendiri tahi itu bermakna rencana, perencanaan atau “planning.” Acap juga ditemukan nama mereka, memakai nama kota besar di Negara tertentu atau nama asing. Ada yang bernama Wahington, Wellington, English, Scott dan lain-lain. Mungkin ketika lahir, orang tuanya teringat dengan nama kota itu dan diabadikan di nama anaknya. Nama anak saya sendiri bernama Scott. Mengapa saya pakai nama itu. Ya, karena saya punya sahabat akrab di benua Australia yang bernama Scott. Nama itu saya abadikan di nama anak saya. 
Nama adalah kata panggilan seseorang, yang lazim disebut nama kecil atau nama babtis oleh pemeluk agama Kristen. Orangtua memilih nama anaknya yang akan disandang seumur hidup. Pergantian dapat terjadi oleh karena penyakit atau sebab lain. Kebiasaan ganti nama sudah lumrah dan mode di kalangan warga muda/i terlebih para artis dan selebritis. Kemungkinan nama baru dirasa lebih sreg, trendy sehingga pilihan dan pemberian orang tua dibenamkan.Ada seorang teman bernama Ojak  yang berasal dari  kata Marojahan, bermakna dasar atau pijakan. Si Ojak ini lebih suka dipanggil dengan Jack. 
Akan tetapi tidak demikian dengan penulis buku, Doangsa P.L.Situmeang seperti dipaparkan penulisnya dalam buku karangannya bertajuk NAMA ETNIS BATAK TOBA, (hal 12). Pemberian  nama Doangsa Pamostang Luat mengingatkan orangtua, seorang pendeta, akan perjalanan jauh, pindah tugas dari Dolok Ilir, dekat Pematang Siantar (Ooskust) ke Onan Hasang (Bataklanden-Tapanuli). Di saat itu masih merupakan perjalanan jauh melintasi berbagai negeri. Bagi orang Batak, nama tersebut adalah goar tulut (sesuai dengan apa yang terjadi).

Dengan demikian, nama etnis Batak itu mengandung sedikit unsur jender. Oleh sebab itu, terdapat nama-nama yang disandangkan khusus kepada anak laki-laki dan anak perempuan. Namun, ada juga nama tertentu yang dapat disandangkan kepada keduanya. Karena orang Batak bersifat patrilineal dan memiliki Marga tertentu, maka nama kecil dan Marga yang mewarisi semenjak berada dalam rahim ibu, terus disandingkan: pertama nama kecil yang diikuti Marga. Dengan kata lain, Marga itu sudah terpatri sejak lahir. Mirip dengan etnis Tionghoa yang dicantumkan dimuka nama panggilan, sementara orang Batak di belakang nama kecil.

Ketika Situmeang penulis mempersiapkan naskah buku ini, tidak ditemukan buku nama etnis di toko buku, kecuali Marga dan Nama Etnis Tionghoa. Nama etnis besar seperti Jawa, Sunda, Bali, dan lainnya, “ripe”nya (keluarganya) belum ada dibukukan. Mengapa? Wallahualam! Hendaknya disadari, bahwa etnisitas nama mengandung nilai dan makna sosial budaya, yang sepatuhnya dipelihara dan dilestarikan. Pemakaian nama etnis Nusantara dalam kancah nasional, terutama oleh “generasi merdeka”, dapat menumbuhkan dan membentuk solidaritas bangsa Indonesia yang berakar pada dirinya sendiri.

Sebenarnya, nama etnis yang indah dan bermakna, banyak tersebar dibumi Nusantara. Nama itu terpaut erat dengan nilai social budaya masyarakat yang bersangkutan. Sangat sayang, etnis yang bersangkutan, belum menghimpunnya sebagai bagian dari aset budaya Nusantara. Adopsi nama etnis penghuni Nusantara akan membawa kesemarakan dan kesejukan yang akan ikut berperan mengokohkan kesatuan bangsa Indonesia. Namun, adanya pengkastaan terselubung pada etnis tertentu, membuat nama tertentu hanya dapat disandang oleh golongan tertentu pula. Demokratisasi bangsa ini hanya sebatas dunia politik, belum hinggap di akar rumput.

Jika kita mengamati etnis Tionghoa Indonesia, mereka adalah satu-satunya yang sukses beradaptasi dengan nama etnis Nusantara. Hal itu dipatuhi atas peraturan Negara yang mewajibkan ganti nama, meski tidak semua mengikutinya. Sebagian kecil masih tetap menggunakan sebagaimana aslinya.
Apabila diperhatikan dan diteliti dengan seksama, nama etnis Nusantara yang dipilih masih tetap menyelipkan unsur “faam” yang bersangkutan, yang harus diterima dan dihargai sebagai kodrati alamiah. Kendati demikian, nama-nama etnis Tionghoa tersebut sungguh bernuansa Nusantara.

Sementara nama sebatas akar kata bersosialisasi, tua-tua mulai berimprovisasi dengan akar kata tersebut. Dengan memanfatkan daya kreatifitas yang dimiliki, mereka membentuk nama baru dengan menambah imbuhan tertentu pada akar kata tersebut, baik di muka, di tengah atau di belakang. Misalnya, dengan akar kata “hirim” (harap), dibentuk nama Hirimon (diharap) dan Panghirimon (pengharapan). Dari akar kata “apul” (hibur) dibentuk Mangapul (menghibur). Dengan akar kata “togi” (ajak)  dibentuk nama Martogi (mengajak, berteman) atau Partogi (pimpinan). Demikian juga dengan akar kata “tua” (berkat) membentuk nama Martua  (diberkati) dan dari “tiar” (teratur) dibentuk nama Tiarma (semoga teratur). Dari kata “uli” (cantik, indah, baik) dibentuk nama Taruli (mendapa kebaikan), Maruli (memiliki kebaikan), Saulina (yang tercantik), Mauli (sudah baik, cantik). Dari akar kata “dame” dibentuk nama Pardamean (perdamaian). Dengan memanfaatkan imbuhan, nama-nama orang Batak itu semakin bersemarak.    Didalam  buku ini Doangsa melakukan penelitian terdapat   444 akar kata dan 774 nama Batak yang dimodifikasi oleh insan Batak secara khusus untuk memberi nama kepada anak baru lahir didalam keluarga mereka.
Meski judul buku disebut “ Nama etnis Batak Toba”, cakupan pemakaiannya tidak sebatas puak Batak Toba saja, meskipun nama tersebut, umumnya ditemukan diantara mereka. Penyebutan tersebut, tidak mengurangi pemakaian nama tersebut oleh puak Batak lainnya, seperti Angkola Mandailing, Simalungun, Pakpak dan Karo, karena mereka memilki akar budaya yang sama atau bersamaaan. Kemudian, pernikahan sesama puak Batak sudah semakin sering terjadi. Nama yang tercantum di dalam buku ini barulah sebahagian yang dapat dihimpun penulis dari jumlah yang besar. Jika suatu nama tidak tercantum, hal itu bukan kesengajaan, kata pengarang buku yang pernah mengabdi di USIS, Bagian Informasi di Kedutaan Besar Amerika Serikat dua dekade  lalu.  


Blog: http://www.pewarta.kabarindonesia.blogspot.com/ 
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com 
Berita besar hari ini...!!! kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mangga Gedong Gincu, Si Menor yang Menduniaoleh : Irwan Gunawan
19-Apr-2014, 22:28 WIB


 
  Mangga Gedong Gincu, Si Menor yang Mendunia Membicarakan mangga gedong gincu, yang terbayang tentu saja rasanya yang asam manis, tekstur dagingnya yang berserat, bentuknya yang bulat dan warna kulitnya yang kemerah-merahan layaknya wanita berdandan menor dan genit. Inilah kesan pertama ketika menikmati mangga yang kini makin
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pemilu 2014 di Caledonia Baru 10 Apr 2014 11:57 WIB


 
Anjlok, Suara Demokrat di Jatim 20 Apr 2014 12:37 WIB

 

 

 

 

 
Zat Besi & Vitamin C 11 Apr 2014 21:57 WIB

Era Kualitas Kehidupan Perempuan 25 Mar 2014 21:45 WIB

 

 

 
Penyertaan Tuhan 20 Apr 2014 00:29 WIB

Satu Langkah Lagi 16 Apr 2014 16:47 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia