KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiTerbuka Kesempatan Magang di Harian Online KabarIndonesia oleh : Redaksi-kabarindonesia
24-Apr-2019, 03:27 WIB


 
 
KabarIndonesia - Bila Anda seorang mahasiswa/mahasiswi dari berbagai fakultas di wilayah Indonesia dan memiliki minat di dunia media online termasuk penulisan artikel dan pengeditan, redaksi Harian Online KabarIndonesia (HOKI) memberikan kesempatan magang di HOKI selama satu tahun sebagai Tim Redaktur.
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pasangan Abadi 13 Apr 2019 04:16 WIB

Sepenggal Kisah dari Menoreh (2) 24 Mar 2019 06:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Budaya Malam Pergantian Tahun Baru

 
BUDAYA

Budaya Malam Pergantian Tahun Baru
Oleh : Muadz | 30-Des-2013, 19:19:47 WIB

KabarIndonesia - Malam tahun baru menjadi malam yang amat sangat ditunggu. Ya, di malam ini penduduk Indonesia sedang menanti momen pergantian tahun. Pesta penyambutan pergantian tahun, riuh tiupan terompet dan suara kembang api saling bersahutan di detik-detik menjelang tahun baru.

Tahun baru adalah suatu perayaan di mana suatu budaya merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak Abad VII SM.

Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari.

Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

Tahun Baru di Indonesia
Di Indonesia 'perayaan' tahun baru hampir menjadi tradisi di setiap malam pergantian- tahunnya. Entah darimana asal muasalnya, terompet dan kembang api menjadi ciri bagi momen pergantian tahun tersebut. Tak jarang momen ini juga digelar dengan pesta yang begitu meriah. Sulit dipungkiri bahwa kebanyakan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan minum-minuman keras, berzinah dan hura-hura. Bahkan bergadang semalam suntuk menghabiskan waktu dengan sia-sia.

Lihatlah bangsa ini, hampir di setiap sudut kota terlihat ramai dengan perhelatan tahun baru yang dirayakan begitu megah. Stasiun televisi pun tak mau kalah, saling bersaing menyiarkan perayaan tahun baru secara langsung. Setiap kepala beramai-ramai keluar dari rumahnya dan berkumpul menjadi satu di sebuah tempat yang luas demi melihat letusan kembang api yang diiringi dengan riuh bunyi terompet bersahutan. Lantas, pernah kah terpikirkan bahwa semua perayaan itu menimbulkan kerugian?

Perlukah Semua itu?
Tentu tidak. Semua perayaan itu, semua letusan kembang api serta riuhan bunyi terompet itu tidak diperlukan. Tak ada bunyi pasal dalam undang-undang yang menyebutkan tentang perayaan materil tersebut demikian halnya dalam agama yang tak menganjurkan hal-hal yang berlebihan. Sesungguhnya segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan tidak baik. 

Bayangkan saja dalam semalam berapa banyak kerugian materil yang dikeluarkan demi memeriahkan momen pergantian tahun tersebut. Belum lagi kejadian memilukan yang terjadi karena membakar petasan sembarangan, tawuran bahkan narkoba sampai menimbulkan korban. Ditambah dengan ketidaknyamanan bagi orang-orang yang ingin memanfaatkan waktu malam mereka dengan istirahat dan harus terganggu dengan suara terompet juga letusan petasan itu. Pernah kah terpikirkan akan hal itu disaat anda menyia-nyiakan waktu semalaman dengan kesenangan sesaat tanpa memperdulikan orang lain?

Jangan sampai menjadi orang yang hanya ikut-ikutan dan tidak tahu apa-apa. Berpikir lah dari sekarang. Ini bukan budaya asli negara kita melainkan hanya budaya impor yang sudah dijadikan pedoman. Bukan tidak mungkin jika tradisi ini akan menjadi sebuah kewajiban jika dilaksanakan secara rutin tiap tahunnya. Ada baiknya momen pergantian tahun ini disyukuri dengan niat baik dan menjadi evaluasi bagi diri sendiri atas apa yang sudah dilakukan di tahun ini. Tentunya tanpa perayaan, terompet maupun letusan kembang api dan memulai tahun baru dengan yang baik pula. (*)




 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Hanya Satu Produk Indonesia di "Asia Society and Museum"oleh : Fida Abbott
21-Apr-2019, 05:24 WIB


 
  Hanya Satu Produk Indonesia di "Asia Society and Museum" berlokasi di 725 Park Ave, New York, NY 10021; berukuran tidak besar; memiliki dua lantai dan lantai bawah tanah. Lantai pertama untuk pendaftaran para tamu yang berkunjung, kafe, dan toko suvenir. Lantai dua untuk museum yang
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Batu Bertuah (1) 25 Apr 2019 16:15 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia