KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
RohaniMengingat dan Menyebut Nama Allah oleh : Syaiful Karim
16-Jan-2019, 16:05 WIB


 
 
KabarIndonesia - Sejak kecil saya mengalami konflik kognitif yang sangat luar biasa dalam menjalankan kehidupan beragama. Hal ini disebabkan banyaknya istilah-istilah yang banyak dipakai dalam kehidupan beragama sehari-hari yang sangat berbeda dengan dengan penalaran yang jujur. 

Padahal sejak kecil
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Kitab Hidup 16 Jan 2019 09:44 WIB

Nyanyian Malam Sang Perawan 15 Jan 2019 11:37 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
 

 

Budaya Malam Pergantian Tahun Baru

 
BUDAYA

Budaya Malam Pergantian Tahun Baru
Oleh : Muadz | 30-Des-2013, 19:19:47 WIB

KabarIndonesia - Malam tahun baru menjadi malam yang amat sangat ditunggu. Ya, di malam ini penduduk Indonesia sedang menanti momen pergantian tahun. Pesta penyambutan pergantian tahun, riuh tiupan terompet dan suara kembang api saling bersahutan di detik-detik menjelang tahun baru.

Tahun baru adalah suatu perayaan di mana suatu budaya merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak Abad VII SM.

Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari.

Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

Tahun Baru di Indonesia
Di Indonesia 'perayaan' tahun baru hampir menjadi tradisi di setiap malam pergantian- tahunnya. Entah darimana asal muasalnya, terompet dan kembang api menjadi ciri bagi momen pergantian tahun tersebut. Tak jarang momen ini juga digelar dengan pesta yang begitu meriah. Sulit dipungkiri bahwa kebanyakan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan minum-minuman keras, berzinah dan hura-hura. Bahkan bergadang semalam suntuk menghabiskan waktu dengan sia-sia.

Lihatlah bangsa ini, hampir di setiap sudut kota terlihat ramai dengan perhelatan tahun baru yang dirayakan begitu megah. Stasiun televisi pun tak mau kalah, saling bersaing menyiarkan perayaan tahun baru secara langsung. Setiap kepala beramai-ramai keluar dari rumahnya dan berkumpul menjadi satu di sebuah tempat yang luas demi melihat letusan kembang api yang diiringi dengan riuh bunyi terompet bersahutan. Lantas, pernah kah terpikirkan bahwa semua perayaan itu menimbulkan kerugian?

Perlukah Semua itu?
Tentu tidak. Semua perayaan itu, semua letusan kembang api serta riuhan bunyi terompet itu tidak diperlukan. Tak ada bunyi pasal dalam undang-undang yang menyebutkan tentang perayaan materil tersebut demikian halnya dalam agama yang tak menganjurkan hal-hal yang berlebihan. Sesungguhnya segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan tidak baik. 

Bayangkan saja dalam semalam berapa banyak kerugian materil yang dikeluarkan demi memeriahkan momen pergantian tahun tersebut. Belum lagi kejadian memilukan yang terjadi karena membakar petasan sembarangan, tawuran bahkan narkoba sampai menimbulkan korban. Ditambah dengan ketidaknyamanan bagi orang-orang yang ingin memanfaatkan waktu malam mereka dengan istirahat dan harus terganggu dengan suara terompet juga letusan petasan itu. Pernah kah terpikirkan akan hal itu disaat anda menyia-nyiakan waktu semalaman dengan kesenangan sesaat tanpa memperdulikan orang lain?

Jangan sampai menjadi orang yang hanya ikut-ikutan dan tidak tahu apa-apa. Berpikir lah dari sekarang. Ini bukan budaya asli negara kita melainkan hanya budaya impor yang sudah dijadikan pedoman. Bukan tidak mungkin jika tradisi ini akan menjadi sebuah kewajiban jika dilaksanakan secara rutin tiap tahunnya. Ada baiknya momen pergantian tahun ini disyukuri dengan niat baik dan menjadi evaluasi bagi diri sendiri atas apa yang sudah dilakukan di tahun ini. Tentunya tanpa perayaan, terompet maupun letusan kembang api dan memulai tahun baru dengan yang baik pula. (*)




 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australiaoleh : Rohmah S
10-Des-2018, 22:14 WIB


 
  Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australia 20 pelari dari 6 negara: Indonesia, Australia, Amerika, Inggris, New Zealand dan Swedia ikuti swimrun di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan dengan jarak lari 20km dan berenang 3km. Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk Boy Kelana Soebroto (kiri)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 
Muallaf Zaman "Now"! 07 Jan 2019 18:38 WIB

 
 
Khasiat Buah Bit untuk Kecantikan 16 Sep 2018 16:05 WIB

 

 

 
Adakah Sorga Dan Neraka 17 Jan 2019 17:30 WIB

Fisika Ruh 15 Jan 2019 16:20 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia