KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalAktifnya Aliran Massa Udara Basah, Picu Cuaca Ekstrim Sejumlah Wilayah Indonesia oleh : Rohmah S
26-Apr-2018, 10:54 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Kejadian cuaca ekstrem di beberapa daerah seperti hujan disertai puting beliung di Jogjakarta dan Minahasa, banjir di Cilegon dan Bumi Ayu pada saat musim peralihan dari penghujan menuju kemarau menimbulkan banyak pertanyaan di masyarakat, berikut penjelasan Drs.
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Ibu 25 Apr 2018 16:27 WIB

Pemimpin 01 Mar 2018 12:42 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Budaya Pop Geser Eksistensi Karya Seni

 
BUDAYA

Budaya Pop Geser Eksistensi Karya Seni
Oleh : Rokimdakas | 20-Okt-2010, 13:14:05 WIB

KabarIndonesia - Budaya pop yang dikembangkan oleh sistem kapitalis sebagai alat untuk memasarkan komoditi telah menggeser budaya Indonesia hingga menjadikan masyarakat konsumtif dan hedonis. Yang menyedihkan, media massa yang semestinya berperan sebagai filter kebudayaan malah menjadi agen penyebaran yang menelan banyak korban. Diantaranya seniman, di mana karya-karya yang dihasilnya cuma bersifat temporer tanpa lantadasan filosofi seperti halnya seni adiluhung atau klasik yang abadi.

Berapa banyak stasiun televisi yang disiarkan siang malam, berapa ratus media cetak maupun elektronik yang menyapa publik sepanjang waktu juga berapa ribu portal yang diakses netter saban hari. Semuanya tampak rela menjadi kaki tangan untuk mengubah cara pandang masyarakat pada pola kehidupan yang serbainstan, mudah, dan menjanjikan gaya hidup masa kini, kontemporer.

Walau lamban namun pasti, pola pikir masyarakat sekarang telah jauh berubah dari kultur budaya leluhurnya. Kalangan siswa dari TK hingga mahasiswa akan begitu mudah menghafal nama-nama artis opera sabun, grup band musik pop maupun badud yang kerap tampil di layar gelas. Sementara mereka begitu kesulitan untuk menyebut kalangan empu kesenian tradisi yang telah mendarma-baktikan hidupnya untuk menjaga kelestarian seni budaya.

Menjamurnya even kesenian pun menunjukkan betapa para kreator telah terjebak dalam budaya pop dalam memproses kelahiran kekaryaannya. Apa yang disajikan lebih mengedepankan teknik akrobatis dengan tata busana gemerlap serta iringan yang hingar bingar.

Hampir tidak kita dapati ruang untuk menafsir idiometik estetik karena yang terlihat merupakan tontonan kemasan yang serba chick. Kesan seperti itu tidak hanya terlihat dalam komposisi tari tetapi juga musik, sastra maupun seni rupa dan sinematografi.

Globalisasi yang diterapkan oleh sistem kapitalis dalam rangka menyeragamkan pola hidup lewat budaya pop mengakibatkan tradisi warisan leluhur Indonesia kian tersisih. Sebagai alat, budaya pop dihadirkan untuk membuat kita sama dalam banyak hal melalui komoditi berupa barang, jasa dan seni hiburan dengan satu tujuan mencetak masyarakat konsumtif dan hedonis.

Apresiasi publik pada seni pun mengalami penyeragaman lewat media televisi dan sejenisnya. Orientasi budaya leluhur kita sebenarnya untuk menjaga harkat dan martabat manusia sesuai dengan fitrahnya. Namun karena perkembangannya semakin tersisih oleh budaya pop yang merangsek dari waktu ke waktu, pola pikir masyarakat menjadi berubah menjadi praktis dan pragmatis.

Orientasi seniman dalam mencipta kekaryaan pun bergeser. Jika sebelumnya melakukan kajian yang cermat terhadap simbol-simbol yang diselaraskan dengan persepsi publik terhadap kultur yang berlaku di lingkungannya, sekarang hal itu terabaikan. Kini yang dijadikan pertimbangan seniman dalam memproses karya hanyalah pertimbangan praktis, mudah (simple) dan sesuai selera pasar (marketable).

Tiga aspek itulah yang menjungkirbalikkan orientasi yang selama ini dijadikan pakem bahwa penciptaan karya seni seharusnya bersifat abadi dengan muatan simbol-simbol yang selaras dengan falsafah maupun kultur yang berkembang. Kuatnya arus globalisasi membuat kita kewalahan untuk membendung. Dampak yang terlihat jelas sekarang adalah bergesernya pola pikir masyarakat dalam berbudaya, yakni berubahnya tata cara dalam mengatasi kehidupannya.

Lambat laun, budaya lokal yang mengajarkan tata nilai yang bersumber dari kultur leluhur semakin pudar tergantikan oleh budaya luar yang dipaksakan oleh kapitalis. Fenomena ini semakin subur melanda berbagai negara dengan satu tujuan dalam menyamakan gaya hidup.


Pop, Alat Kapitalis
Prof Bambang Sugiharto, Guru Besar Filsafat Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung menyatakan, sekarang nasihat moral keagamaan telah dikalahkan oleh keputusan praktis dan pragmatis. Begitu juga tampilan-tampilan santun semacam kebaya panjang dengan motif visual batik dilindas mode kaos kutungan `semau gue` plus gambar-gambar seronok.

“Di tengah fenomena ini media massa tampaknya terjebak dalam politisasi budaya pop yang menggempur sejak dekade 1980-an. Oleh sebab itu jika ingin selamat dari jajahan kapitalis global, masyarakat harus cerdas dan kritis menghadapi budaya pop yang dijadikan alat penjajahan,” tuturnya dalam perbincangan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga.

Lebih lanjut Bambang Sugiarto menjelaskan, dalam kacamata industri budaya, seni pop juga dinilai sebagai produk kapitalisme yang bersifat massal dan dikelola terus menerus oleh jejaring media iklan semacam televisi, radio, sinema, dan internet. Ia mencatat benturan tradisi dan budaya pop di Indonesia menunjukkan gelagatnya pada dekade 1980-an yang ditandai dengan perubahan situasi sosial ekonomi Indonesia yang mengarah pada liberalisasi.

Liberalisasi ekonomi membuka kantong budaya urban yang mengarah pada budaya pop. Realita itu ditandai dengan menjamurnya kafe, butik, mal, plasa, galeri, dan semacamnya. Perilaku masyarakat pun didikte dari estetis dan religius menjadi komoditas perdagangan yang ditentukan pasar. Ironisnya, media massa seperti televisi, radio, surat kabar, dan jejaring internet pun terjebak dengan membalik strata budaya dan tata perilaku masyarakat. Sehingga tidak ada lagi standar yang bisa dijadikan acuan karena semuanya menjadi festival, kemeriahan, dan permainan yang kabur.

“Dalam situasi kekacauan budaya seperti ini, masyarakat awam diharap bisa lebih cerdas dan kritis dalam menentukan pilihan.” Sementara staf pengajar Program Studi Arsitektur UKDW Mahatmanto menyatakan keprihatinannya terhadap masyarakat yang selama ini menerima dengan mudah budaya pop yang ada. Menurutnya, masyarakat yang saat ini menerima budaya pop dengan tangan terbuka sebenarnya merupakan korban dari produsen. Jika tidak ada yang bertindak, selamanya mereka akan jadi bulan-bulanan produsen.

Kata Mahatmanto, masyarakat harus diberi pengertian bagaimana mereka telah terpengaruh oleh budaya pop yang telah membuat mereka meninggalkan budaya lokal. Budaya pop memang mempunyai kekuatan dan pengaruh besar bagi masyarakat, meski tidak semuanya berguna.

Sedang Direktur Eksekutif Asosiasi Praxis Andi K Yuwono, dalam pandangan yang optimistik menyatakan, perlu sebuah gerakan budaya yang tepat bisa menjadi solusi dari terkikisnya martabat manusia dalam atmosfer kehidupan masyarakat masa kini. Dalam kehidupan yang materialistik, hedonis dan konsumtif, konsep martabat manusia telah mengalami pergeseran dari sesuatu yang bersifat inner menjadi artifisial.


Lebih Idealis
Lebih lanjut motor penggerak Institut Manajemen dan Pengembangan Sumberdaya untuk Transformasi Sosial tersebut menyatakan, kebudayaan juga bergerak menuju arah pergeseran yang sama sehingga dalam budaya pop, karakter yang menonjol adalah instan, dangkal, egosentris, dan market oriented.

Sekarang tinggal menumbuhkan bentuk-bentuk kebudayaan yang berorientasi pada nilai-nilai sosial-kemanusiaan atau idealisme apa saja dalam hubungan antar sesama manusia maupun antara manusia dengan alam semesta. Memang sangat tidak mudah  karena ini berarti harus berhadapan dengan para produsen budaya pop yang hanya peduli pada keuntungan pemilik modal.

Namun sejumlah nama yang menjadi tokoh budaya pop sebenarnya masih memiliki orientasi pada nilai-nilai idealis. Seperti Remy Sylado, ia bergulat dengan budaya pop, sekaligus memanfaatkannya sebagai alat untuk menyampaikan "idealismenya". Beberapa nama lain yang juga melakukan upaya serupa antara lain: Iwan Fals, Oppie Andaresta dan Sawung Jabo serta beberapa artis pop lain.

Ini juga adalah sebuah alternatif perjuangan untuk melawan hegemoni budaya pop, yaitu dengan cara mempengaruhi budaya tersebut agar menjadi lebih idealis. Jadi, meskipun tidak mudah untuk melawan dominasi budaya pop dalam setiap segmen kehidupan, tapi perlawanan tetap akan selalu ada karena begitulah memang substansi kehidupan manusia.

Selalu merupakan sebuah peperangan antara siang dan malam. Antara gelap dan terang. Antara putih dan hitam. Dan di tengah-tengah kancah peperangan itulah, martabat manusia setiap saat diuji, dipertaruhkan, dan diperjuangkan.  (*)


Teks foto :
1.Rokimdakas, penulis 
2. Tari pop tradisi yang disajikan oleh koreografer Didik Nini Thowok



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//



 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Pelari Indonesia Pertama di FWD North Pole Marathon 2018 Wakil Direktur Utama FWD Life, Rudi Kamdani (kiri) sedang memberikan jaket FWD Life kepada Pelari Maraton Indonesia, Fedi Fianto (kanan) sebagai simbol FWD Life resmi melepas Fedi sebelum keberangkatannya ke Kutub Utara.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Pengabdian Tentara di Pojok Desa 10 Apr 2018 14:27 WIB

 

 

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia