KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
DaerahOperasional Pelabuhan Simanindo Kembali Dibuka dengan Pengoperasian Kapal Ferry dan Kapal Kayu oleh : Danny Melani Butarbutar
07-Jul-2018, 14:45 WIB


 
  KabarIndonesia - Samosir, Sejak peristiwa tenggelamnya kapal kayu KM. Sinar Bangun di perairan Tigaras pada Senin (18/6) Pemerintah telah menghentikan operasional transportasi kapal trayek Simanindo (Samosir) - Tigaras (Simalungun). Hal ini sangat berdampak luas kepada roda perekonomian masyarakat.

Namun,
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Ruang dan Cinta Penyatu Segalanya 27 Jun 2018 05:55 WIB

Surat Untuk Bapak Presiden 06 Jun 2018 09:09 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

CERITA LUCU: My Name Is JB

 
BUDAYA

CERITA LUCU: My Name Is JB
Oleh : Salman Faris | 30-Des-2007, 05:34:57 WIB

”JB!” Teriak my english teacher memanggilku berulang kali.
Dengan gaya tak berdosa dan tak bersalah aku malah cuek. Aku melanjutkan aktivitas yang sangat penting bagi seorang yang sedang tumbuh dan berkembang sebagai remaja yaitu melamun. Sambil mengutak-atik buku bahasa inggris yang agak kucel dan tak terawat.

”JB!” Kali ini indera keenamku menangkap sesuatu yang tak biasa. Jantungku berdebar kencang. Serasa hati ini terguncang.
My English teacher telah berdiri di depan mejaku. Tiba-tiba saja indera keenam yang aku miliki menghilang. Aneh. Apa gara-gara ada Ibu Vinta yang agak judes ya?
“JB, coba kamu kerjakan soal nomor tiga di depan,” nafasku terhenti. Aku mau pulang. Pulangkan saja aku pada ayah ibuku. Please!

“Maaf Bu, saya belum mengerjakan nomor tiga,” Aku ternyata ahli ngeles juga ya. Keturunan dari bonyok yang pintar cari alasan buat nunda bayar ciciclan rumah.
“Kerjakan Sekarang juga, ibu tunggu sampai pelajaran selesai. Kali ini nggak ada alasan lagi,” Ibu Vinta menjauh. Aku agak lega. Yang penting ia sudah menjauh. Tapi gimana dengan soal nomor tiga. Aku celingukan mencari-cari jawaban nomor tiga. ”Nomor tiga dimanakah kau berada kini?”
Pengelihatan indera keenam kembali diaktifkan. Kali ini Sinta yang ada di depanku sedikit bermurah hati. Ia menengok ke arahku.

”Selamat berpusing ria ya,” Rinta ketawa meledek. Yah, baru aja harapanku tinggi kini tinggal menunggu eksekusi dari Ibu Judes. Aku kira Rinta mau bantuin nggak tahunya malah ngerjain. Dasar murid Judes. Sama aja dengan bu Judes yang nggak berperasaan. Nggak pernah jatuh cinta kali ya bu Judes, sampai-sampai didepan murid yang paling tampan ini (paling tampan kalo dilihat dari Monas), ia tetap aja berlaku kasar.
Dengan ilmu kesabaran tingkat tinggi alias lemot, aku membawa lagi pertanyaan yang membuatku pusing tujuh panjang kali lebar alias keliling. Aku baca lagi pertanyaan : where is your book?. Maksudnya apa yach? Memang penyakit keturunan menyakitkan, coba bayangin aja, di keluarga akulah yang paling ngerti bahasa Inggris, jadi bagaimana mungkin tanya ama bonyok apalagi ama kakakku yang nggak ngerti bahasa Inggris sama sekali.

“JB, have you finished?” Boro-boro ngerti yang diomongin sama bu Judes, aku aja nggak denger apa yang diucapin.
“JB, sudah belum nomor tiganya?” tanya bu Judes sekali lagi. Oh, yang dimaksud tadi tuh udah belum nomor tiganya. Tapi kok bu Judes nggak ngomong three ya. Pasti salah ngomong tuh bu Judes. Sebagai murid yang baik kan seharusnya mengingatkan gurunya juga.
 
“Jawaban satu, dua, empat dan lima benar,” tiba-tiba saja bu Judes mengoreksi jawaban yang ada di papan tulis. Sementara jawabanku belum ada. Terpaksa aku semedi, siapa tahu dapat ilham jawaban, saudaranya Ilham Jayakusuma, stiker Indonesia. Ops, striker maksudnya.
 
“Be, kalau mau jawaban nomor tiga ada syaratnya,” Rinta yang berada di depanku menawarkan jawaban.
Aku berpikir sejenak, bolehlah asal jangan belajar bahasa Inggris bareng aja, bisa repotkan, apalagi Rinta kan punya bodyguard, “Apa syaratnya?”

“Satu, lo harus nemenin gue kekantin, yang kedua, lo harus ajarin gue nyanyi, terus…,” Rinta mencoba berpikir sebelum bu Judes kembali memanggilku. Ia sampai tiga kali memanggil namaku. Kayak di film aja, panggil namaku tiga kali, jangan-jangan besok bu Judes udah nggak ada. Tiiiidaaaaak!!!
“JB, cepat kamu jawab nomor tiga,” bu Judes kali ini benar-benar Judes. Giginya bertaring. Mulutnya bau tak sedap. Kepalanya keluar tanduk. Mirip srigala. Jadi takut. Apalagi ia kini bawa cambuk.

”Rinta cepet donk, jawabanya apa?” Aku terburu-buru berdiri.
”My book is in bag,” aku mendengarnya terputus-putus karena aku terlanjur berjalan menuju papan tulis.

Bu Judes tampak lega. Kali ini ia tak bertaring atau bertanduk. Justru kali ini ia meneteskan air liur. Lidahnya menjulur dan matanya agak kunang-kunang. Sementara aku menuliskan jawabanku. Mudah-mudahan saja jawabanku benar.
Aku berjalan lega ke arah Rinta yang tertawa. Seisi kelas hampir semuanya tertawa. Aku jadi celingukan. Binggung. Baru lihat aku menjawab benar ya. Jadi semuanya mendukung aku dengan tertawa. Aku pun ikut tertawa meskipun tak tahu apa yang ditertawakan.

”JB, jawaban kamu benar...” Apa aku tidak salah dengar. Jawabanku benar. Hah, akhirnya aku bisa menjawab dengan benar. Rasanya aku pantas masuk Museum Rekor Indonesia atas prestasi yang langka ini.

Belum sempat aku berkhayal, bu Judes kembali melanjtkan kalimatnya yang terputus,”Benar-benar ngaco.”
Rekor MURI terpaksa aku cabut. Ternyata jawabanku agak salah. Aku pantang menyebutnya seratus persen salah.
”JB, kamu tahu artinya back?” bu Judes kembali bertanya padaku. Terpaksa aku semedi lagi untuk mendapatkan jawabanku. Setelah lama bersemedi, akhirnya aku dapatkan jawabannya juga.

”Nggak bu,” Jawabku pendek sambil memutar kepala sudut 1800 ke kanan dan ke kiri mirip gerakan senam tadi pagi.
Meledaklah suara tawa dalam kelas. Aku terpaksa ketawa. Dari pada malu, mendingan malu-maluin sekalian.
Ternyata jawaban nomor tiga yang ada di papan tulis adalah my book is back.

“My book is back artinya bukuku kembali,” Bu Judes menjelaskan jawaban nomor tigaku di papan tulis. Aku masih nggak ngerti apa yang dimaksud bu judes. Terpaksa aku hanya diam. Dari pada salah lagi. Coba kalo yang salah yang dapat nilai, pasti jawabankulah yang paling banyak nilainya.
Belum sempet aku berkhayal yang lain, penghapus dan kapur sudah melayang menuju ke arahku. Dengan segenap jurus kung fu yang aku miliki aku berusaha menghindar. Tapi memang bu Jedus ilmu kung funnya lebih, penghapus dan kawan-kawannya sukses mendarat di mukaku.

“Tahu apa kesalahanmu, JB.” Bu Judes kembali bertanya dengan garang seperti srigala berbulu domba (pepatah kali ye...). Tuhan tolonglah aku kali ini, aku harap bisa berbakti pada orang tuaku. Tuhan, please(mungkin inilah satu-satunya kosakata bahasa Inggris yang aku pahami). ”Be, jawab aja tahu ama bu Judes,” Rinta kembali menjadi Dewi Penolongku. Tapi Dewi Penolong yang selalu gagal. Coba aja tadi dia memberitahuku cepet-cepet. Pasti nggak akan terjadi seperti ini. Tuhan, Please!

”Tahu, Bu.” Aku kali ini bener-bener pasrah. Rinta cekikikan melihat ke arahku yang tampak tak berdosa. Nasib-nasib jadi murid super telatan (baca: bukan teladan-red).
“Terus, jawaban apa yang bener donk,” bu Judes memang bener-bener judes abis. Aku tak berkutik dibuatnya.
Rinta melirik ke arahku. Ia melemparkan kertas berisi jawaban ke arahku. ”Jawaban nomor tiga My book is in bag. Good Luck.”
“Jawabannya my book is in bag. Good Luck,” aku tersenyum lega. Rinta ternyata baik juga ya. Mungkin teman yang terbaik yang pernah aku miliki. Sementara, bu Judes terlihat lebih sangar lagi. Matanya merah, jari tanganya meruncing, sepertinya mau memangsaku kali ini. Ah, aku tak tahu mengapa. Dan, seisi kelaspun tertawa penuh. Aku pun ikut tertawa lagi. Persis monyet yang ada di kebun binatang Ragunan.
Rinta memanggilku.”Be, good lucknya jangan di baca. Jawabannya hanya my book is in bag.” Kali ini aku paham. Beginilah derita orang yang tak bisa berbahasa Inggris. Huh… aku meratapi nasib yang tak berubah.
 
Teng! Teng! Kelas bahasa inggris berakhir. Aku melompat kegirangan. Penderitaan telah usai. Aku berteriak dan memukul meja. Rinta cengar-cengir mendekatiku. Dasar anak tak tahu malu, batinku dalam hati menertawaku nasibku.
”Be, kamu di suruh bu Vinta ke ruang guru. Katanya sih mau dikasih PR,” Aku tersendak. Jantungku mau copot. Darahku seakan tak mengalir lagi. Dunia seakan berhenti berputar.
”PR lagi ya.” Nada datarku terlihat pasrah dengan keadaan yang memang tak berubah.

”Be, aku mau bantu kamu belajar bahasa inggris kok. Tapi syarat yang tadi masih berlaku loh.”
”Bolehlah. Apalagi belajar ama kamu, mending daripada diajar ama bu Judes,” Bu Judes ternyata sudah dibelakangku. Aku mati kutu. Apa yang harus aku lakuin.

”Jawab pertanyaan ibu ini ya, kalau kamu bisa jawab kamu nggak usah bikin PR, What is your father name?” Dengan kecepatan yang sangat tinggi bu judes meluncurkan pertanyaan.
”My name is JB.” Jawabku singkat. Bu Judes mengelengkan kepala. Matilah aku dengan PR bahasa Inggris.

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com


 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  FWD Life Gandeng Special Olympics Indonesia untuk Program Pemberdayaan Penyandang Disabilitas Intelektual di Semarang – PT FWD Life Indonesia (FWD Life), pelopor asuransi jiwa berbasis digital di Indonesia, telah meresmikan kerja sama dengan Special Olympics Indonesia (SOIna) pada 18 April 2018 lalu. Setelah peluncuran kerja sama, FWD Life kemudian menggelar roadshow perdana di Bandung pada
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia