KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Pada Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar janji bagian (9), kita telah melihat kepintaran Presiden Jokowi dalam membalikkan keadaan dari semula dianggap penakut dan pengecut, tiba-tiba membalikkan keadaan dengan secara berani bergabung
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
JENUH 17 Jul 2019 15:06 WIB

Sayapku Telah Patah 08 Jul 2019 10:34 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
PWI Jaya Gelar Orientasi Wartawan 17 Jul 2019 16:02 WIB


 

Dongeng Purba Cinderella Jepang yang Mampu Tampil Beda

 
BUDAYA

Dongeng Purba Cinderella Jepang yang Mampu Tampil Beda
Oleh : Wahyu Ari Wicaksono | 30-Des-2008, 22:09:20 WIB

Resensi Buku

Judul Buku: The Last Concubine
Penulis: Lesley Downer
Penerjemah: Yusliani Zendrato
Penyunting: Nadya Andwiani
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, 2008
Tebal: 657 hlm.

KabarIndonesia - Ramuan kompleks sebuah labirin yang berbumbu intrik cinta, persaingan politik, perebutan kekuasan, kepahlawanan, nasionalisme yang boleh jadi polos, serta romantika psikologis seorang wanita yang menjadi istri selir menyatu padu dalam cerita yang mengalir pada novel ini.

Awal novel ini memang seperti dongeng purba yang sering diangkat dalam fiksi-fiksi tentang lelaki penguasa dan wanita biasa. Tak jauh dari fenomena mimpi masyarakat kelas bawah yang kerap mengidap apa yang sering disebut sebagai “Cinderella Complex” sehingga mentolerir berkembangnya budaya patriarki pada sebuah kekuasaan.

Mengambil latar belakang cerita tentang kekuasaan Shogun di Jepang pada era pertengahan 1800-an yang kekuasaannya dianggap hampir menyamai keagungan seorang kaisar, penulis mampu mengangkat cerita purba tentang selir dengan pemahaman yang cukup gamblang dan mendetail.

Alkisah pada waktu itu banyak perempuan bermimpi dijadikan selir oleh  Shogun. Kalau pun tidak demikian, tak jarang juga justru para orang tua yang mengidamkan anaknya mendapat berkah menjadi selir Shogun tersebut.

Dus, dalam novel ini, tersebutlah seorang gadis bernama Sachi yang hidup di sebuah kampung pedalaman daerah pegunungan di Jepang. Meskipun lahir dan tumbuh di pelosok daerah Jepang, Sachi memiliki penampilan dan wajah yang berbeda. Berbeda dengan gadis pelosok kebanyakan, Sachi memiliki guratan wajah yang tak kalah dengan kaum ningrat Jepang kebanyakan.

Suatu hari, yang mulia Putri Kazu, istri yang mulia Shogun yang tengah melakukan perjalanan ke Edo berkenan mampir di desa tenpat Sachi tinggal. Melihat penampilan Sachi yang berbeda, sang putri terpikat, sehingga berkenan memboyong Sachi yang masih berusia belasan tahun tersebut menjadi salah satu dayangnya di kastilnya.

Di dalam kastil yang dihuni tak kurang dari 3000 perempuan lainnya tersebut Sachi mengalami lonjakan gaya hidup yang luar biasa drastis. Sachi mampu berubah rupa dan penampilan menjadi gadis ningrat dengan gerak-gerik, cara bicara, tingkah laku dan ketrampilan-ketrampilan perempuan-perempuan ningrat pada umumnya. Sampai akhirnya sang putri semakin tertarik dan memberi hadiah istimewa kepada Sachi. Berkenaan dengan rencana sang Shogun yang akan melakukan perjalanan jauh, Sachi diberi kepercayaan oleh sang Putri untuk menjadi “persembahan istimewa” bagi sang Shogun. Sachi dipilih sang putri untuk menjadi selir baru sang Shogun sebelum melakukan perjalanannya.

Sialnya, anugerah tersebut tidaklah lama bisa dirasakan Sachi. Kenyamanan dan kenikmatan sebagai selir yang diperoleh Sachi melalui polemik, intrik dan rivalitas erotis di tengah 3000 wanita penghuni kastil tersebut, ternyata hanya bisa dinikmati Sachi dengan singkat.  Kematian sang Shogun dikarenakan penyakit yang menjangkitinya saat dalam perjalanan menjadikan Sachi sebagai “Selir terakhir sang Shogun”.

Apalagi tak lama setelah Sang Shogun meninggal, Jepang pun  mengalami pergolakan politik yang drastis. Kedatangan kapal-kapal dari luar negeri yang membawa berbagai macam ambisi telah memicu meletusnya perang sipil. Terjadi pemberontakan kelompok yang disebut kaum selatan yang memaksa semua penghuni kastil Edo untuk pergi menyelamatkan dirinya masing-masing, tanpa terkecuali Yang Mulia Putri Kazu. Guna menyelamatkan sang Putri yang notabene menjadi incaran utama kaum pemberontak inilah, Sachi ditugaskan untuk menyamar sebagai sang Putri.

Dalam pelarian dan tugas sebagai pengecoh kaum pemberontak inilah Sachi menemukan berbagai pernik-pernik kehidupan yang belum sempat disesapnya saat masih menjadi gadis kampung usia belasan maupun saat menjadi penghuni kastil Edo.

Di tengah seru dan mencekamnya perang pedang tradisional, duel dan heroisme para samurai, dan patriotisme pada ksatria, Sachi menemukan sisi psikologis lain yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Sachi mulai merasakan benih-benih cinta sejati yang memang seharusnya mulai dirasakan oleh sesusianya, yang sebelumnya sangat ditabukan dalam kehidupan di dalam kastil Edo.

Saat diselamatkan oleh seorang kesatria, dia menemukan perasaan yang menyenangkan bersamanya. Tetapi dunia yang dipenuhi oleh nafsu-nafsu pribadi sepertinya tidak memberikan sedikit pun tempat bagi kata cinta sejati. Setelah dimanjakan oleh mimpi kebahagiaan bersama sang ksatria, Sachi harus dengan misteri wajah asli sang ksatria. Sebuah wajah asli yang meneror dan menghancurkan dirinya.

Secara keseluruhan novel yang berlatar belakang era sejarah paling penting bagi Jepang di masa lalu ini mampu menampilkan polemik petualangan serta romantika cinta kelas atas. Lebih dari sekedar kisah cinta biasa. Kisah Sachi mampu membawa kita pada saat-saat perubahan penting di Jepang yang membawanya sebagai negara modern. Diwarnai oleh penggambaran rinci yang detail mengenai keindahan dan kemewahan abadi sebuah komunitas harem, sampai pada penggambaran suasana mengerikan dan mencekam peperangan berdarah di benteng dan luar dinding istana yang seolah kita saksikan dengan mata kepala sendiri.

Dengan pemilihan diksi yang teliti, penulis mampu menciptakan sebuah epik liris menarik dari revolusi sebuah negara melalui jendela pergulatan seorang perempuan muda dalam mencari jati dirinya yang sesungguhnya sebagai seorang wanita.

Penulis mampu menggambarkan suasana sejarah masa lampau secara gamblang dan detail-detail sejarah yang membuat kita merasa intim. Novel inji mampu memberikan pengetahuan yang segar dan berbeda mengenai Jepang baik bagi mereka yang sudah merasa mengerti tentang Jepang, atau pun mereka yang merasa belum mengenal Jepang sama sekali.

Didasarkan pada fakta-fakta faktual yang nyata, cerita Sachi mampu membawa kita pada petualaangan imajinasi dunia masa lalu yang sudah silam sekaligus menjadikan kita  seperti benar-benar berada di dalamnya. Pemahaman dan empati penulis terhadap budaya Jepang masa lalu, mampu menghadirkan karakter masyarakat Jepang yang seakan-akan nyata dan tanpa cela.

Novel ini mampu menjebak imajinasi kita pada petualangan sejarah yang benar-benar terasa segar, dan mengaduk-aduk perasaan pembaca dalam pergolakan patriotisme yang rumit, sehingga kita tak bisa berhenti membacanya sebelum benar-benar sampai pada halaman terakhir.

Ketika perang menghancurkan segalanya dan jiwa sang tokoh melayang gamang, penulis mampu menghadirkan polemik nyata sebuah negara yang tengah didera pergolakan. Dia mampu melemparkan pembaca ke dunia lain yang benar-benar berbeda melalui kesempurnaan pilihan kata-kata yang terkadang radikal dan berani.

Aliran keseluruhan cerita yang penuh dengan intrik cinta yang eksotis, gairah yang menghanguskan, perang dan duel pedang yang heroik, seperti membawa pembaca pada rekreasi imajinasi di dunia yang sebelumnya tak tersentuh. Penulis benar-benar mampu menggambarkan detail suasana alam, bagian pegunungan, dan kota masa lalu yang sangat deskriptif. Penulis seakan-akan mampu mengajak indera penglihatan, penciuman, dan pendengaran kita pembacanya untuk merasakan sendiri suasana yang ingin disuguhkannya.

Akhir kata, “The Last Concubine” adalah formula fiksi sempurna tentang kisah kepahlawanan para samurai, keteguhan sikap para ronin, dan kesaksian seorang perempuan pada saat runtuhnya era Tokugawa, yang membuat kita menemukan suasana berbeda dibandingkan novel-novel sejenis lainnya.



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia