KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiDua Minggu Berlatih Menulis Bersama PMOH untuk Para Pelajar SMP dan SMA oleh : Redaksi-kabarindonesia
02-Jun-2020, 01:39 WIB


 
 
KabarIndonesia - Selamat Idul Fitri! Masih dalam situasi masa lebaran ini, Harian Online KabarIndonesia (HOKI) kembali membuka pelatihan menulis online Tahun Ajaran (Tajar) XII, 2020. Pada Tajar ini khusus diperuntukkan bagi para pelajar SMP dan SMA untuk mengisi masa liburan
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 
Melawan Hoax Virus Corona 21 Mei 2020 15:19 WIB


 
Kami Masih Punya Rasa Malu 31 Mei 2020 11:30 WIB

Aroma Kematian 09 Mei 2020 13:56 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Desainer Sang Pemuja Setan 29 Mei 2020 13:08 WIB


 
 
BUDAYA

Integrasi Budaya
Oleh : Heldy Leander | 29-Des-2013, 01:59:24 WIB

KabarIndonesia - Depok merupakan kota yang terbilang unik dengan percampuran budaya yang kental dengan budaya Belanda. Namun hal itu justru memunculkan integrasi budaya.   

Depok dahulunya merupakan kota kecil yang sekarang berkembang menjadi kota besar. Kota Depok banyak diminati oleh sebagian besar masyarakat untuk dijadikan tempat tinggal. Letak geografis kota Depok memang terbilang strategis karena dekat dengan ibukota Jakarta, karena hal itulah sebagian masyarakat memilih untuk tinggal di kota ini. Luas wilayah kota ini tidak terlalu besar, tetapi merupakan salah satu kota padat penduduk. Depok dahulu adalah kota kecamatan dalam wilayah Kabupaten Bogor, yang kemudian mendapat status kota administratif pada tahun 1982. Sejak 20 April 1999, Depok ditetapkan menjadi kotamadya (sekarang kota) yang terpisah dari Kabupaten Bogor. Kota Depok terdiri atas 11 kecamatan, yang dibagi menjadi 63 kelurahan.            

Tidak banyak yang mengetahui bahwa sebenarnya kota Depok memiliki budaya yang terbilang cukup unik, karena dihasilkan dari percampuran budaya lain. Pada abad ke-16, saat Indonesia masih dijajah oleh Belanda, hiduplah seorang tuan tanah bernama Cornelis Chastelein yang mendiami dan membeli sebuah wilayah pertanian dan perkebunan bernama Depok. Cornelis kemudian menjadi Presiden di wilayah yang luasnya ribuan hektar itu. Chastelein merasa bahwa ia tidak sanggup mengurus tanah seluas itu seorang diri. Kemudian ia memutuskan untuk mempekerjakan budak yang ia ambil dari beberapa daerah. Ia mengambil para budak dari Bali, Makassar, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Jawa, Pulau Rote serta Filipina.            

Cornelis memperlakukan para budaknya dengan sangat manusiawi. Budak-budak tersebut dirawat, diberikan pendidikan, serta diperkenalkan agama Kristen Protestan lewat sebuah Padepokan Kristiani. Padepokan ini bernama De Eerste Protestante Organisatie van Christenen, disingkat Depok. Dari sinilah nama kota ini berasal. Cornelis begitu akrab dengan para budaknya sehingga para budak dijuluki dengan julukan Belanda Depok. Pada tanggal 28 Juni 1714 Cornelis meninggal karena sakit. Kemudian ia mewariskan kota Depok kepada para budaknya, yang dikelompokan menjadi 12 fam atau marga, yaitu Laurens, Loen, Leander, Jonathans, Joseph, Jacob, Soedira, Samuel, Zadokh, Isakh, Bacas dan Tholense. Ada satu marga yang sudah hilang, yaitu marga Zadokh, karena ia tidak memiliki keturunan laki-laki.            

Penduduk asli Depok sangat kental dengan budaya Belanda, karena pada saat Cornelis masih hidup, ia memperkenalkan budaya Belanda kepada para budak. Biasanya sehari-hari mereka menggunakan bahasa Belanda untuk berkomunikasi. Kemudian setelah itu datang para perantau dari Ambon dan Manado yang menetap di Depok. Budaya Ambon yang bercampur dengan Manado ditambah lagi dengan budaya Belanda yang ada di Depok membuat kota Depok semakin unik. Biasanya ketika ada acara ulang tahun atau pun pesta lainnya, akan dirayakan semeriah mungkin dengan menyediakan banyak makanan. Ada satu yang menjadi ciri khas Depok, yaitu gereja GPIB IMMANUEL. GPIB IMMANUEL merupakan Gereja yang dibuat oleh Cornelis Chastelein, dan sekarang menjadi tempat ibadah bagi sebagian besar orang asli Depok. Meskipun mereka berbeda budaya, namun tidak menghasilkan disintegrasi antara mereka, melainkan integrasi antar satu sama lainnya. Bahkan dengan adanya percampuran budaya itu, membuat mereka semakin kuat dalam bersosialisasi.            

Namun seiring perkembangan zaman, kini penduduk asli Depok hanya tinggal tersisa di wilayah Pancoran Mas Depok. Muncul pertanyaan mengapa penduduk asli Depok hanya tersisa sebagian kecil saja? Banyak masyarakat luar yang pindah ke Depok, kemudian banyak juga orang Depok yang menikah kemudian pindah dari Depok. Penduduk asli Depok memang tinggal sebagian kecil saja, namun itu tidak mengurangi keakraban mereka satu sama lain. Terkadang jika dalam suasana Natal, mereka akan keluar dan berkunjung ke rumah lain hanya sekadar untuk memberikan salam.        




Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Sambal Oelek Indonesia Buatan ASoleh : Fida Abbott
02-Jun-2020, 02:23 WIB


 
  Sambal Oelek Indonesia Buatan AS Sambal Oelek ini saya temukan di Walmart Supercenter, Parkesburg, Pennsylvania. Awalnya saya mengira buatan salah satu negara Asia selain Indonesia karena tulisan di depan botolnya. Ternyata buatan Amerika Serikat. Tampaknya Indonesia harus meningkatkan persaingannya di pasar bebas dan jeli membidik
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
DIE HARD - SUSAH MATEK 23 Mei 2020 10:41 WIB

 

 

 

 

 

 
MANG UCUP ITU CHINA BANANA 28 Jan 2020 00:52 WIB

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia