KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Pada Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar janji bagian (8), telah kita simak bagaimana DKI Jakarta yang ditinggalkan Jokowi sejak Pilpres 2014 digantikan dengan baik oleh Ahok-Djarot sampai tiba waktunya digelar kembali
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
JENUH 17 Jul 2019 15:06 WIB

Sayapku Telah Patah 08 Jul 2019 10:34 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
PWI Jaya Gelar Orientasi Wartawan 17 Jul 2019 16:02 WIB


 

Keprihatinan Pergantian Tahun Baru

 
BUDAYA

Keprihatinan Pergantian Tahun Baru
Oleh : Iwan R Jayasetiawan | 28-Des-2008, 18:14:27 WIB

KabarIndonesia - Dalam siklus tahun dalam helaian kalender akan berakhir di bulan Desember. Saat menyambut bulan penghabisan, selain merobek kalender lembaran terakhir adalah menunggu pergantian malam guna menjelang tahun baru dalam bingkai suka cita.

Namun tak dapat dipungkiri dalam suasana menyambut pergantian tahun, dengan mudah pula memunculkan dialog akan, hari, pekan dan bulan yang telah dilalui, dan melambungnya harapan akan teraihnya sejumlah kemenangan di tahun akan datang. Nampaknya hamparnya harapan akan hari esok yang jauh lebih baik dalam peta bumi Indonesia, masih akan berjalan seiring dengan kecemasan.

Di tengah jeritan, tangisan dan ratapan yang menghujam dinding istirah, rakyat kebanyakan. Bencana yang membentang dari Barat hingga Timur, telah menjadi pelengkap dan melengkapi duka lara dan kegelisahan sebelumnya. Panggung politik reformasi yang diharapkan mementaskan episode yang mempesona.

Namun yang nampak kepermukaan adalah drama kecemasan yang diperankan aktor politik yang memicu ledakan emosi dan amuk massa. Nampak terbaca dengan jelas dari sejumlah proses dan hasil pilkada dari tingkat, propinsi, kabupaten dan kota selain menebar janji, telah pula menbur konflik dalam kadar yang berbeda.

Politik dagang sapi dalam membangun persekutuan teknis strategi pra dan pasca pilkada berujung pada perburuan atas janji.,menjadi menu utama media Apakah semua ini merupakan sesuatu yang terlahir lewat proses yang matang (by design), atau muncul karena sesuatu yang tak terduga (by accident)?

Peluang yang terbuka dan dibukakan sepuluh tahun lalu, nampaknya hanya tertumpahkan dalam teks naratif. Sejatinya peristiwa sepuluh tahun silam, dijadikan landasan untuk mengokohkan dan mengukuhkan apa yang telah dibentangkan founding father enam puluh tiga tahun silam. Namun harapan akan terwujudnya perubahan Indonesia lampau kini dan akan datang, hingga saat ini hanya sebatas fatamorgana.

Indonesia masih terbelenggu sedikitnya lima masalah, yaitu kemiskinan,tenaga kerja, pendidikan kesehatan dan lingkungan Hingga empat kali pergantian presiden nampak belum berubah secara signifikan. Kemiskinan, kurang lebih seperempat jumlah penduduk harus tertatih tatih dan merintih dalam menggapai kebutuhan pokok sehari-hari.

Ketenagakerjaan, upaya pemulihan yang diakibatkan krisis ekonomi sepuluh tahun lalu,nampaknya akan kembali diguncang dengan terjadinya krisis global, berimbas, di sektor tenagakerja. PHK bukan lagi mimpi buruk yang menakutkan namun kenyataan yang tidak bisa ditawar.

Kesehatan masyarakat mulai dari bayi hingga manula dalam ancaman serius.mulai dari gizi buruk, rawan pangan, produk yang yang dipalsukan mengancam setiap orang. Pendidikan nampak belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Masih banyak anak-anak mengalami putus sekolah dan merebaknya anak-anak jalanan.Bahkahn tidak sedikik anak-anak harus melakukan proses belajar dalam acaman karena, tidak laiknya bangunan sekolah.

Ini cerminan belum utuh meratanya kekerangka kesempatan disektor pendidikan. Lingkungan hidup pun cenderung mengalami penurunan yang signifikan. Era reformasi, telah membuka sedikit cadar, praktek korupsi dan manipulasi yang dilakukan secara kolektif dan sistematis.

Entah bagaimana rupa negeri bila cadar terbuka dang menyingkap secara utuh wujud penyimpangan negeri ini Demikian pula dalam ranah hukum ,dengan opini terus menerus dilemparkan ke benak publik. Hukum nampaknya telah kehilangan makna. Hanya dengan opini hak-hak perseorangan menjadi terancam. Opini yang berkembang dan dengan sengaja dikembangkan di masyarakat seakan-akan telah menjadi arena pengadilan, dengan mendahului proses hukum yang sebenarnya.

Keprihatinan tidak hanya terdengar, terbaca namun nampak terlihat dengan jelas dengan begitu mudahnya masyarakat menerima isu sebagai sesuatu yang dibenarkan. Egoisme individu dan kelompok yang tidak mengindahkan etika, norma dan hukum telah mementalkan rasionalisme dan obyektivitas.

Penegasan sikap politik melaui pengerahan masa yang bermuara pada terjadinya kekerasan kolektif, nampak telah menjadi modus untuk menebalkan opini dan kehendak, menjadi strategi yang paling menjanjikan untuk memaksakan kebenaran sepihak. Mungkin founding father takkan pernah mengira Indonesia, negara impian mereka, bakal dirajam sejumlah konflik yang beragam.

Padahal saat jalan menuju kemerdekaan negeri ini diretas, sejumlah keragaman berhasil mengikatkan diri dalam satu ikatan persatuan yang direlakan. Kini semangat untuk bersatu dan hidup bersama dalam damai untuk memakmurkan negeri ini nampak memudar. Mata rantai yang makin kokoh membelenggu adalah rangkaian keprihatinan yang berkesinambungan.

Menegakkan Kebenaran dan Keadilan.
Saat Orde Baru ditegakkan, slogan tegakan kebenaran dan keadilan, dipatrikan dalam ingatan kolektif bangsa ini. Namun Orde Baru yang bertekad melaksanakan Pancasila dan UUD 45 secara murni dan konsekwen, akhirnya jatuh dengan tidak hormat. Kebenaran dan keadilan yang ditegakkan Orde Baru, selama 32 tahun, ternyata bermuara pada dendam sejarah yang tak berujung.

Namun setelah sepuluh tahun kekuasaan Orde Baru, berakhir, yang nampak kepermukaan peta bumi Indonesia, adalah sosok bangsa yang tidak cukup memiliki kesabaran, kemampuan dan kesulitan mencari dan menemukan jalan untuk memecahkan problematika dan tantangan. Jalan pintas, menjadi pilihan untuk memaksakan kebenaran.

Maka apa yang terbaca dengan jelas saat ini adalah siklus spiral kebodohan yang kian mengembang. Tidak ada yang mampu membantah bahwa di belahan bumi negara, dan bangsa manapun tidak ada perubahan tanpa menempatkan posisi kaum muda. Suara kaum muda adalah suara rakyat kebanyakan. Namun tidak jarang mereka yang memiliki niat dan ketulusan, memaksakan kebenarannya, seakan-akan merekalah pememegang monopoli kebenanaran.

Begitu pula para pejabat pemerintah dan pemimpin politik, dengan kekuasaanya, mereka merasa menjadi pemegang keyakinan dalam menentukan sebuah keputusan dengan menempatkan posisinya sebagai pemegang kebenaran.Setidaknya itu lah yang bias kita saksikan dari awal hingga hingga tepian hari. Menurut Taufik Abdullah, kebenaran dan keadilan nampaknya tidak cukup dalam menata negeri ini. Kebenaran dan keadilan itu,masih harus didampingi dengan kerarifan. Namun dengan kerarifan saja belumlah memadai. Karena senadinya kearifan menjadi dan dijadikan kunci tunggal dalam penyelesaian beragam persoalan kebangsaan, sama arti dengan diktator (Kompas).

Problema yang terlupakan dan mungkin dilupakan oleh kita adalah kekeliruan dalam melihat masa sekarang sebagai masa sekarang. Padahal kondisi yang ada pada saat ini merupakan fase transisi, untuk menuju ke masa akan datang. Seandainya kita menyelesaikan masalah sekarang dengan dengan cara berpikir saat ini, maka sama halnya dengan melakukan kesalahan seperti masa lalu, yang akan memunculkan dendam dimasa akan datang.

Tragedi adalah kekalahan yang telak yang di alami manusia dalam drama hidup dan kehidupan saat bergumulan menentukan nasib. Namun nilai manusia bukanlah ditetukan oleh kehancuran yang menimpa dirinya, tapi pada upaya memperjuangkan harkat dirinya. Kalender 2008 telah kita robek, tahun 2009 pasti datang, kehangatan mentari pagi tetap akan terasa dan kita rasakan, bianglala masih akan menebar pesona kehidupan. Kendati kita hanya mampu menungu harapan di tepian hari.

Tapi setidaknya kita, masih tetap memiliki secercah cahaya yang akan membagi terang. Kita menyadari gelap itu tidak selamanya sempurna, celah itu selalu ada dan akan menyertai selama kita tidak berpaling Berlapang dada tidak jarang merupakan kearifan yang paling benar saat kita dipaksa dan terpaksa menerima kepahitan. Masalahnya mungkinkah kita mendapat hikmah dan kearifan dari kepahitan itu? (*)

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia