KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniSegudang Manfaat Bila Berpikiran Positif oleh : Bunga Wiladatika
22-Sep-2018, 15:10 WIB


 
 
KabarIndonesia - Berpikiran positif mendatangkan beragam manfaat bagi kesehatan jiwa dan raga. Berpikiran positif adalah bagaimana cara kita menghadapi suatu hal secara logis dari segi yang positif, sehingga mampu menjalani berbagai aspek masalah dalam kehidupan. Apa saja manfaat baik yang
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Penyair Sang Waktu 31 Aug 2018 11:12 WIB

Hidup adalah Belajar 29 Aug 2018 06:45 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Deklarasi Garda Relawan Jokowi 13 Sep 2018 12:43 WIB


 

Membangun Cerita dengan Rumput

 
BUDAYA

Membangun Cerita dengan Rumput
Oleh : Christina Ambarrita | 11-Jan-2014, 02:12:11 WIB

KabarIndonesia - Siapa yang tidak mengenal wayang? Sejak kecil kita sudah sering mendengar tentang warisan budaya yang satu ini. Wayang atau dalam bahasa Jawa artinya bayangan merupakan kesenian asli khas Indonesia yang lahir dari pemikiran kreatif orang-orang pribumi.

Menariknya, Indonesia tidak hanya memiliki satu jenis wayang. Kita mengenal wayang kulit yang berasal dari daerah Jawa Tengah. Sedangkan dari tanah Pasundan kita dikenalkan dengan wayang Golek. Di daerah Kudus, Jawa Tengah, terdapat jenis yang dinamakan wayang Menak. Bentuknya sedikit mirip dengan wayang Golek karena jika ditilik dari jenisnya, keduanya adalah jenis wayang yang sama, yaitu wayang kayu. Namun di antara kesekian jenis wayang yang sudah umum dikenal publik, ada satu jenis wayang yang unik untuk diulas. Namanya wayang Suket.

Wayang jenis ini mungkin belum sepopuler wayang-wayang lain, namun kelahiran Wayang Suket menggambarkan bahwa budaya di dalam negeri ini amat memiliki corak beragam. Wayang suket merupakan bentuk tiruan dari berbagai figur wayang kulit. Wayang Suket populer dan berkembang di dalam pergaulan anak-anak desa di tanah Jawa. Saat ini keberadaan wayang Suket tidak pernah bisa dipisahkan dari sosok Slamet Gundono yang merupakan dalang sekaligus pelopor wayang Suket di tingkat pertunjukan panggung.

Awalnya, wayang Suket lahir dari pedalaman Purbalingga sekitar tahun 1995, tepatnya dari tangan Mbah Gepuk. Selama satu dasawarsa lebih kepopuleran warisan budaya ini sempat memudar karena sang maestro meninggal dunia. Wayang Suket pun kemudian diturunkan kepada cucunya, yaitu Badriyanto. Perlahan ia berhasil menghidupkan kembali wayang Suket bahkan hingga membawa kesenian ini hingga ke kancah internasional.

Mengapa wayang Suket? Kata Suket terinspirasi dari bahan dasar pembuatannya. Dalam bahasa Jawa, rumput dikatakan sebagai suket. Menurut Slamet, ada filosofi menarik di balik rumput-rumput kering yang ia jadikan sarana untuk berkreasi lalu merangkai menjadi sebuah tokoh. Pria bertubuh tambun itu dilahirkan dari keluarga petani. Setiap hari ia melihat rumput kala ia membantu orang tuanya bercocok tanam. Suket atau rumput dilihatnya sebagai sesuatu yang terus tumbuh adalah sesuatu yang membuatnya kagum. Rumput hanya butuh air dan sinar matahari. Kekuatan filosofi ini menggambarkan kekuatan ruang imajinasi dari wayang Suket.   

Itulah salah satu kelebihan wayang Suket. Kesenian ini menampilkan ruang yang sangat bebas bagi penonton untuk membangun imajinasinya. Menafsirkan kembali siapa itu wayang-wayang sebagai bayangan hidup. Awalnya, rumput yang digunakan untuk pembuatan wayang hanya bisa menggunakan jenis rumput kasuran. Setelah dipanen, rumput dijemur hingga kering dan dibedakan berdasarkan ukuran. Rumput kemudian direndam setengah jam, lalu ditiriskan hingga sedikit kering. Hasilnya baru bisa digunakan untuk membuat anyaman wayang Suket. Namun kini pembuatan wayang Suket tidak terbatas pada satu jenis rumput saja, wayang bisa dirangkai dengan jenis rumput lain yang lebih variatif, seperti rumput teki atau pun rumput gajah, atau bahkan menggunakan mendhong, yaitu sejenis alang-alang yang biasanya digunakan untuk membuat tikar. 

Kisah yang diceritakan pada pagelaran wayang Suket tidak hanya terbatas pada cerita-cerita Mahabharata, Ramayana, dan semacamnya. Sang dalang biasanya memadukannya dengan cerita keseharian yang tengah menjadi sorotan publik. Sehingga tak jarang wayang Suket digelar sebagai parodi untuk mengomentari isu-isu publik terkini.

Pementasan wayang Suket tidak semegah kesenian wayang kulit atau wayang golek. Wayang Suket tampil lentur dengan iringan musik sederhana. Kadang hanya ada satu atau dua jenis perangkat gamelan, bambu, ditambah gitar kecil, atau cukup dengan mulut sang dalang saja. Tidak ada gunungan atau kelir megah pelengkap tokoh wayang. Dalang biasanya menambahkan buah dan sayuran hasil bumi hingga hewan ternak seperti bebek.

Wayang Suket merupakan warisan budaya yang mengilhami kita bahwa keterbatasan dan kesederhanaan tidak mampu membatasi ruang gerak seni, kreativitas, dan imajinasi. Dari budaya wayang Suket ini kita bisa memetik pelajaran moral melalui setiap kisah yang diceritakan, bahkan lebih jauh lagi membukakan kepekaan kita terhadap isu eksplisit di masyarakat.***      





Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com




 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
BPBD Papua Belajar Analisis dan Pengembangan Organisasioleh : Djuneidi Saripurnawan
28-Aug-2018, 06:07 WIB


 
  BPBD Papua Belajar Analisis dan Pengembangan Organisasi TATTs Program: Analisis dan Pengembangan Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Papua
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 
Manfaat Membaca 22 Sep 2018 15:12 WIB


 
Khasiat Buah Bit untuk Kecantikan 16 Sep 2018 16:05 WIB


 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia