KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Lingkungan HidupHARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA 5 JUNI 2019: Bersama Kita Lawan Polusi Udara oleh : Danny Melani Butarbutar
06-Jun-2019, 03:45 WIB


 
 
KabarIndonesia - Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day diperingati setiap tahunnya pada tanggal 5 Juni. Pada tahun ini mengambil tema melawan polusi udara #BeatAirPollution. Peringatan ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran global untuk melakukan aksi positif bagi perlindungan pada
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 
Kejagung Tunggu SPDP Kasus Makar 24 Mei 2019 17:39 WIB

 
Menunggu 19 Mei 2019 16:15 WIB

SYEH SITI JENAR 16 Mei 2019 15:44 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Membangun Cerita dengan Rumput

 
BUDAYA

Membangun Cerita dengan Rumput
Oleh : Christina Ambarrita | 11-Jan-2014, 02:12:11 WIB

KabarIndonesia - Siapa yang tidak mengenal wayang? Sejak kecil kita sudah sering mendengar tentang warisan budaya yang satu ini. Wayang atau dalam bahasa Jawa artinya bayangan merupakan kesenian asli khas Indonesia yang lahir dari pemikiran kreatif orang-orang pribumi.

Menariknya, Indonesia tidak hanya memiliki satu jenis wayang. Kita mengenal wayang kulit yang berasal dari daerah Jawa Tengah. Sedangkan dari tanah Pasundan kita dikenalkan dengan wayang Golek. Di daerah Kudus, Jawa Tengah, terdapat jenis yang dinamakan wayang Menak. Bentuknya sedikit mirip dengan wayang Golek karena jika ditilik dari jenisnya, keduanya adalah jenis wayang yang sama, yaitu wayang kayu. Namun di antara kesekian jenis wayang yang sudah umum dikenal publik, ada satu jenis wayang yang unik untuk diulas. Namanya wayang Suket.

Wayang jenis ini mungkin belum sepopuler wayang-wayang lain, namun kelahiran Wayang Suket menggambarkan bahwa budaya di dalam negeri ini amat memiliki corak beragam. Wayang suket merupakan bentuk tiruan dari berbagai figur wayang kulit. Wayang Suket populer dan berkembang di dalam pergaulan anak-anak desa di tanah Jawa. Saat ini keberadaan wayang Suket tidak pernah bisa dipisahkan dari sosok Slamet Gundono yang merupakan dalang sekaligus pelopor wayang Suket di tingkat pertunjukan panggung.

Awalnya, wayang Suket lahir dari pedalaman Purbalingga sekitar tahun 1995, tepatnya dari tangan Mbah Gepuk. Selama satu dasawarsa lebih kepopuleran warisan budaya ini sempat memudar karena sang maestro meninggal dunia. Wayang Suket pun kemudian diturunkan kepada cucunya, yaitu Badriyanto. Perlahan ia berhasil menghidupkan kembali wayang Suket bahkan hingga membawa kesenian ini hingga ke kancah internasional.

Mengapa wayang Suket? Kata Suket terinspirasi dari bahan dasar pembuatannya. Dalam bahasa Jawa, rumput dikatakan sebagai suket. Menurut Slamet, ada filosofi menarik di balik rumput-rumput kering yang ia jadikan sarana untuk berkreasi lalu merangkai menjadi sebuah tokoh. Pria bertubuh tambun itu dilahirkan dari keluarga petani. Setiap hari ia melihat rumput kala ia membantu orang tuanya bercocok tanam. Suket atau rumput dilihatnya sebagai sesuatu yang terus tumbuh adalah sesuatu yang membuatnya kagum. Rumput hanya butuh air dan sinar matahari. Kekuatan filosofi ini menggambarkan kekuatan ruang imajinasi dari wayang Suket.   

Itulah salah satu kelebihan wayang Suket. Kesenian ini menampilkan ruang yang sangat bebas bagi penonton untuk membangun imajinasinya. Menafsirkan kembali siapa itu wayang-wayang sebagai bayangan hidup. Awalnya, rumput yang digunakan untuk pembuatan wayang hanya bisa menggunakan jenis rumput kasuran. Setelah dipanen, rumput dijemur hingga kering dan dibedakan berdasarkan ukuran. Rumput kemudian direndam setengah jam, lalu ditiriskan hingga sedikit kering. Hasilnya baru bisa digunakan untuk membuat anyaman wayang Suket. Namun kini pembuatan wayang Suket tidak terbatas pada satu jenis rumput saja, wayang bisa dirangkai dengan jenis rumput lain yang lebih variatif, seperti rumput teki atau pun rumput gajah, atau bahkan menggunakan mendhong, yaitu sejenis alang-alang yang biasanya digunakan untuk membuat tikar. 

Kisah yang diceritakan pada pagelaran wayang Suket tidak hanya terbatas pada cerita-cerita Mahabharata, Ramayana, dan semacamnya. Sang dalang biasanya memadukannya dengan cerita keseharian yang tengah menjadi sorotan publik. Sehingga tak jarang wayang Suket digelar sebagai parodi untuk mengomentari isu-isu publik terkini.

Pementasan wayang Suket tidak semegah kesenian wayang kulit atau wayang golek. Wayang Suket tampil lentur dengan iringan musik sederhana. Kadang hanya ada satu atau dua jenis perangkat gamelan, bambu, ditambah gitar kecil, atau cukup dengan mulut sang dalang saja. Tidak ada gunungan atau kelir megah pelengkap tokoh wayang. Dalang biasanya menambahkan buah dan sayuran hasil bumi hingga hewan ternak seperti bebek.

Wayang Suket merupakan warisan budaya yang mengilhami kita bahwa keterbatasan dan kesederhanaan tidak mampu membatasi ruang gerak seni, kreativitas, dan imajinasi. Dari budaya wayang Suket ini kita bisa memetik pelajaran moral melalui setiap kisah yang diceritakan, bahkan lebih jauh lagi membukakan kepekaan kita terhadap isu eksplisit di masyarakat.***      





Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com




 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Hanya Satu Produk Indonesia di "Asia Society and Museum"oleh : Fida Abbott
21-Apr-2019, 05:24 WIB


 
  Hanya Satu Produk Indonesia di "Asia Society and Museum" berlokasi di 725 Park Ave, New York, NY 10021; berukuran tidak besar; memiliki dua lantai dan lantai bawah tanah. Lantai pertama untuk pendaftaran para tamu yang berkunjung, kafe, dan toko suvenir. Lantai dua untuk museum yang
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia