KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
RohaniMengingat dan Menyebut Nama Allah oleh : Syaiful Karim
16-Jan-2019, 16:05 WIB


 
 
KabarIndonesia - Sejak kecil saya mengalami konflik kognitif yang sangat luar biasa dalam menjalankan kehidupan beragama. Hal ini disebabkan banyaknya istilah-istilah yang banyak dipakai dalam kehidupan beragama sehari-hari yang sangat berbeda dengan dengan penalaran yang jujur. 

Padahal sejak kecil
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Rumah 18 Jan 2019 09:43 WIB

Kitab Hidup 16 Jan 2019 09:44 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
 

 

Rambu Solo di Tana Toraja

 
BUDAYA

Rambu Solo di Tana Toraja
Oleh : Ayundayani Rosadi | 30-Des-2013, 19:17:17 WIB

KabarIndonesia - Toraja terkenal dengan upacara adat yang berhubungan dengan prosesi kematian, dan telah menjadi salah satu daya tarik pariwisata daerah Tana Toraja. Upacara yang disebut Rambu Solo ini merupakan adat istiadat yang telah diwarisi oleh masyarakat Toraja secara turun-temurun, untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan yang disebut Puya. Masyarakat Toraja mempercayai bahwa wujud transformasi tersebut tergantung dari kesempurnaan prosesi Upacara Rambu Solo.

Bagi orang awam, upacara adat ini terdengar mistis. Karena rentetan acara yang begitu panjang dan jika acara tersebut belum terlaksana, maka mayat orang yang meninggal tersebut masih dianggap sedang ‘sakit’. Masih ditidurkan di atas tempat tidur, diberi makanan dan minuman, diajak mengobrol, dan ditemani.

Salah satu persyaratan dalam upacara Rambu Solo adalah hewan kurban berupa kerbau dan babi. Bagi masyarakat Toraja, kerbau adalah hewan suci. Untuk keluarga bangsawan, jumlah kerbau bisa berkisar 24-100 ekor. Kerbau yang dikurbankan dalam Upacara Rambu Solo adalah Tedong Bonga (kerbau bule) Belang, dari jenis Bubalus bubalis yang biasa dikenal sebagai kerbau lumpur. Kerbau ini mempunyai ciri albino (bule) dan warna kulit yang belang. Sedangkan warga golongan menengah diharuskan menyembelih 8 ekor kerbau ditambah dengan 50 ekor babi.

Masyarakat Toraja beranggapan bahwa kerbau adalah kendaraan yang ditunggangi arwah untuk mengantarnya ke surga dan roh–roh binatang yang dikorbankan tersebut dianggap dapat menemani arwah orang yang meninggal menuju ke alam keabadian.

Tetapi, sebelum jumlah kurban hewan itu mencukupi maka jenazah tidak boleh dikuburkan di tebing atau di tempat tinggi. Jenazah disimpan di Tongkonan (rumah adat Toraja), bahkan bertahun-tahun sampai keluarganya mampu menyiapkan kurban yang sudah ditetapkan. Namun bagi penganut agama Nasrani dan Islam kini, jenazah dapat dikuburkan terlebih dahulu di tanah, lalu digali kembali setelah pihak keluarganya siap untuk melaksanakan upacara ini.

Prosesi Rambu Solo
Pertama, yang dilakukan adalah memindahkan jenazah dari rumah duka ke tongkonan tammuon (tongkonan pertama tempat dia berasal). Di sana dilakukan penyembelihan satu ekor kerbau, penyembelihannya khas masyarakat Toraja, menebas kerbau dengan parang dengan satu kali tebasan. Kerbau yang akan disembelih diikatkan pada sebuah batu yang diberi nama Simbuang Batu, setelah dipotong dagingnya dibagikan ke masyarakat yang hadir. Keesokan harinya jenazah akan dipindahkan lagi ke tongkonan yang berada agak ke atas lagi, yaitu tongkonan barebatu.

Kedua, pengarakan jenazah dari tongkonan barebatu menuju rante (lapangan tempat acara pesta berlangsung) yang dilakukan setelah kebaktian dan makan siang. Jenazah diusung menggunakan keranda khas Toraja yang dikenal dengan duba-duba. Di depan duba-duba terdapat lamba-lamba yaitu kain merah yang panjang, yang selalu terletak di depan keranda jenazah. Dalam prosesi pengarakan jenazah, terdapat pembagian tugas, laki-laki bertugas mengangkat keranda, sedangkan wanita yang menarik lamba-lamba. Selain itu, keluarga dekat lainnya juga ikut mengusung keranda tersebut.

Ketiga, jenazah tersebut akan disemayamkan di rante, di sana sudah berdiri lantang (rumah sementara yang terbuat dari bambu dan kayu) yang sudah diberi nomor. Lantang itu sendiri berfungsi sebagai tempat tinggal para sanak keluarga yang datang, karena keluarga tidak pulang ke rumah.
Setelah acara di rante selesai, jenazah diiring ke lakkien (menara tempat disemayamkannya jenazah selama prosesi berlangsung). Acara yang dilaksanakan di sana adalah penerimaan tamu dan sanak saudara dan pada sore harinya diadakan acara adu kerbau. Pelaksanaan acara ini berlangsung berhari-hari sampai pada hari penguburan.

Kuburannya sendiri dibuat di bagian atas tebing di ketinggian bukit batu. Karena menurut kepercayaan Aluk To Dolo dikalangan orang Tana Toraja, semakin tinggi tempat jenazah tersebut diletakkan, maka semakin cepat pula rohnya sampai ke nirwana.

Rambu Solo memiliki nilai-nilai luhur dalam kehidupan masyarakat, di antaranya adalah gotong royong dan tolong-menolong. Meskipun terlihat sebagai pemborosan karena banyak harta yang dihabiskan dalam upacara ini, namun unsur gotong royong yang terlihat sangatlah jelas. Semuanya berkumpul saling tolong menolong, dan pembagian daging menjadi ajang istimewa bagi yang tidak mampu.

Masyarakat Toraja memaknai kematian sebagai suatu hal yang tak ditakuti karena mereka percaya bahwa ada kehidupan lagi setelah kematian. Bagi mereka, kematian adalah bagian dari ritme kehidupan yang wajib dijalani. Walau boleh ditangisi, kematian juga menjadi kegembiraan yang membawa manusia kembali menuju surga. Dengan kata lain, mereka percaya adanya kehidupan setelah kematian. (*)

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com


 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australiaoleh : Rohmah S
10-Des-2018, 22:14 WIB


 
  Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australia 20 pelari dari 6 negara: Indonesia, Australia, Amerika, Inggris, New Zealand dan Swedia ikuti swimrun di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan dengan jarak lari 20km dan berenang 3km. Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk Boy Kelana Soebroto (kiri)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 
Muallaf Zaman "Now"! 07 Jan 2019 18:38 WIB

 
 
Khasiat Buah Bit untuk Kecantikan 16 Sep 2018 16:05 WIB

 

 

 
Haruskah Beragama? 18 Jan 2019 16:17 WIB

Adakah Sorga Dan Neraka 17 Jan 2019 17:30 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia