KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Pada Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar janji bagian (8), telah kita simak bagaimana DKI Jakarta yang ditinggalkan Jokowi sejak Pilpres 2014 digantikan dengan baik oleh Ahok-Djarot sampai tiba waktunya digelar kembali
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
JENUH 17 Jul 2019 15:06 WIB

Sayapku Telah Patah 08 Jul 2019 10:34 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
PWI Jaya Gelar Orientasi Wartawan 17 Jul 2019 16:02 WIB


 

Refleksi Tahun Baru Hijriah dari Warga Solo

 
BUDAYA

Refleksi Tahun Baru Hijriah dari Warga Solo
Oleh : Fx Triyas Hadi Prihantoro | 29-Des-2008, 23:35:25 WIB

KabarIndonesia - Budaya kirab mengelilingi keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran setiap malam Suro atau tahun baru Hijriah menjadi sebuah rutinitas tahunan yang mencuri banyak perhatian masyarakat.

Budaya dengan mengarak kebo bule Kyai Slamet sebagai ikon dari kirab begitu juga pusaka-pusaka keraton pun diarak dan dijamasi agar tetap memiliki nilai kesakralan. Namun di luar nilai budaya Jawa yang adiluhung dan telah dilaksanakan secara turun-temurun, munculnya nilai kepercayaan akan rahmat dan khasiat dari nilai kultur budaya Kebo Bule Kyai Slamet dan air jamasan dari Pusaka Keraton menjadikan magnet warga Solo dan sekitarnya. Bahkan banyak warga Luar Kota pun berduyun-duyun menyaksikan ritual tahunan ini.

Namun lain lagi yang dilakukan oleh sekelompok eleman masyarakat Solo. Komunitas Pasar Solo.com, Pasopati.net, OI Bento, Republik Aeng-aeng dan Warga Epsitoholik Indonesia. Mereka bersama sejak pagi hari (29/12) berkumpul di depan Patung Slamet Riyadi Solo dengan membawa dua cermin besar dan spanduk dengan tulisan "Tahun baru 1430 hijriah sebagai momen refleksi diri" dan "Wilujeng warsa enggal 1430". Bersama mereka duduk bersila dengan mengenakan pakaian Jawa (beskap), hampir selama satu jam dengan tapa bisu. Dua cermin besar sebagai tanda refleksi diri bahwa kita perlu berkaca pada masa lalu, dimana yang jelek ditinggalkan dan yang baik ditingkatkan.

Mayor Haristanto (Presiden Republik Aeng-aeng) mengatakan, bahwa kehidupan tahun  lampau yang penuh aneka bencana, korupsi, peyimpangan  kekuasaan perlu dihilangkan. "Oleh karena itu kaca besar sebagai cerminan kehidupan, agar momen tahun baru Hijriah  menjadikan kehidupan masyarakat dan negara ini menjadi lebih baik," ungkapnya.



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia