KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiTerbuka Kesempatan Magang di Harian Online KabarIndonesia oleh : Redaksi-kabarindonesia
24-Apr-2019, 03:27 WIB


 
 
KabarIndonesia - Bila Anda seorang mahasiswa/mahasiswi dari berbagai fakultas di wilayah Indonesia dan memiliki minat di dunia media online termasuk penulisan artikel dan pengeditan, redaksi Harian Online KabarIndonesia (HOKI) memberikan kesempatan magang di HOKI selama satu tahun sebagai Tim Redaktur.
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pasangan Abadi 13 Apr 2019 04:16 WIB

Sepenggal Kisah dari Menoreh (2) 24 Mar 2019 06:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Serunya Kepolosan Petualangan yang Memerlukan Sebelas Nyawa

 
BUDAYA

Serunya Kepolosan Petualangan yang Memerlukan Sebelas Nyawa
Oleh : Wahyu Ari Wicaksono | 26-Des-2008, 22:24:17 WIB

KabarIndonesia - Resensi Buku

Judul: A Cat in My Eyes
Penulis: Fahd Djibran
Harga: Rp29.000
Jumlah halaman: 176 hlm
ISBN: 979-780-280-9
Ukuran: 13 x 19 cm

Ada sebuah mitos yang menyatakan bahwa kucing itu punya sebelas nyawa. Mungkin mitos inilah yang bisa kita rasakan dengan kuat saat membaca buku ini. Buku ini menjadi sebuah dunia jinjing, yang memandu kenangan, pengalaman dan kedalaman pemikiran kita untuk bertualang tanpa batas dalam kepolosan yang tidak mengada-ada. Petualangan yang sederhana namun membutuhkan energi kedewasaan berpikir yang besar, sampai-sampai kita membutuhkan adanya sebelas nyawa agar kita tidak mati tenggelam dalam kedalaman makna sebuah kepolosan yang bisa jadi seperti tanpa dasar.

Boleh jadi, terkadang kita merasa segar oleh limpahan air sejuk yang terminum dalam ketertenggelaman kita. Namun terkadang, kita juga tersengal-sengal dan megap-megap oleh kepolosan bening air yang menyimpan berlaksa makna yang terkadang abai untuk kita cermati artinya dalam hidup.

Permasalahan yang diangkat dalam buku benar-benar merupakan remah-remah kehidupan yang sepertinya terasa sepele, namun dibalik keremehtemehan tersebut tersimpan kebesaran makna yang sesungguhnya bisa kita urai dengan pertanyaan-pertanyaan polos, yang terkadang sudah kita lupakan saat kita sudah merasa terlalu pintar oleh waktu, oleh pendidikan, oleh pekerjaan dan oleh perjalanan hidup itu sendiri.

Kita perlu menjadi anak-anak kembali. Ya menjadi anak-anak yang justru karena ketidakmengertiannya, tak sungkan-sungkan lagi untuk bertanya. Bertanya... ya bertanya pada apa saja yang sepertinya sia-sia, bodoh, polos, lugu, culun, klise, retoris atau yang bernuansa negatif lainnya.

Membaca buku ini, sepertinya kita diseret oleh penulis untuk menceburkan diri dalam air dangkal yang mampu menenggelamkan, ke dalam air jernih yang mampu mengeruhkan pandangan, ke dalam kolam super kecil namun mampu menelan apapun yang ada di dunia ini.

Semuanya yang dipercikkan penulis kepada kita, sangatlah sederhana.  Butiran-butiran ringan pertanyaan tentang Tuhan, cinta, sepi, kangen, satori, hidup, bumi, dan segala hal enteng yang kita temui dalam perjalanan hidup kita. Memang butiran-butiran pertanyaan tersebut tidak mampu membuat kita basah kuyup. Namun meskipun kita tidak basah oleh percikan-percikan pertanyaan tersebut, pemikiran kita bisa menjadi memar lebam olehnya.

Misalnya dalam tulisannya yang berjudul 'Kemanakah kau siang tadi TUHAN?'.  Dalam judul ini penulis mampu menggelitik hati kita untuk terpingkal-pingkal dan menyerah pada akhirnya bahwa kita terkadang tidaklah bisa jujur untuk mengakui bahwa kita sering menuduh Tuhan tidak adil.  

Pergolakan hati kita jadi semakin membadai saat sampai pada tulisan yang berjudul Pertem(p)u(r)an dengan Tuhan. Dengan mozaik yang sepertinya rumit, penulis mampu mengajak kita untuk mencoba jujur dan berani kepada Tuhan.  Jujur untuk tidak menabukan imajinasi kita tentang Tuhan, dan berani untuk mempertanyakan segala hal tentang Tuhan pada hati nurani kita. Karena dengan kejujuran dan keberanian itulah sebenarnya misteri zat Tuhan bisa kita uraikan, setidaknya untuk diri kita sendiri.

Simbolisasi dan dramatisasi cerita yang sangat lugas, justru memancing kecurigaan pemikiran kita, untuk terus mengorek-ngorek makna besar yang bisa jadi terlipat di dalam kelugasan cerita yang diketengahkan penulis. Tulisan Rindu misalnya. Boleh jadi tulisan ini tidak akan bermakna apa-apa kalau pemikiran kita tidak memiliki syak wasangka dan kecurigaan sedikit pun. Pasalnya tulisan ini sangat singkat. Dalam satu paragraf, penulis menyajikan cerita tentang seseorang yang menelpon kemudian berkata,"Aku kangen!". Sudah itu saja. Loh... kalau otak kita tidak terusik tentunya tulisan ini akan berlalu begitu saja. Tapi sebaliknya kalau kita curiga akan makna dibalik kesederhanaan cerita tersebut maka berjuta pemaknaan bisa muncul dari sana. Bahkan tak terhingga.

Tak terhingga tantangan pemaknaan disajikan penulis secara mengalir dan apik dalam nampan berjudul "A cat In My Eyes" ini. Namun kita tak perlu takut. Tantangan pemikiran yang ditembakkan penulis tidaklah memaksa, mendoktrin dan menyeret kebebasan kita. Meskipun banyak menyajikan kepolosan pertanyaan anak-anak, secara dewasa penulis mampu berdiri netral dan tak doyong ke pihak mana pun yang kita suka. Apapun yang kita duga, kita kira, dan kita makna penulis tetaplah dia sendiri. Seperti yang dikredokannya dalam "Skizofrenia".

"Yang tak kuinginkan adalah hitam, tetapi putih; positif, tetapi negatif; baik, tetapi buruk, dan seterusnya. Apa bedanya? Tentu saja berbeda. Jika hitam dan putih, berarti abu-abu, melebur membangun sebuah fusi sinergis yang harmonis. Sementara itu, “hitam, tetapi putih” adalah sebuah kondisi yang munafik membentuk dualisme, atau suatu saat hitam bisa menindas putih atau sebaliknya, atau justru menciptakan situasi yang sangat menjadi hierarkis “hitam di atas putih, putih yang tertindas oleh hitam”.

"Aku ingin tetap berada di udara jika hidup adalah sebuah koin yang dilempar ke udara dan menjadikan kita sebagai salah satu sisi dari dua mata koin itu. Aku ingin berada di dunia antara, dunia abu-abu, dunia fusi sinergis yang harmonis."

Membaca halaman demi halaman buku ini, bisa jadi membuat lelah pemikiran kita sehingga membutuhkan sebelas nyawa. Namun sebelas nyawa yang kita hamburkan dalam petualangan kata yang tertulis dalam buku ini, tidaklah sia-sia. Pada akhirnya, kita bisa berharap tak hanya memiliki sebelas nyawa kucing, tetapi juga mampu memiliki mata kucing yang bersinar jika bertabrakan dengan cahaya dan mampu melihat dalam kegelapan misteri yang selalu saja menyelimuti dunia.

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com   

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Hanya Satu Produk Indonesia di "Asia Society and Museum"oleh : Fida Abbott
21-Apr-2019, 05:24 WIB


 
  Hanya Satu Produk Indonesia di "Asia Society and Museum" berlokasi di 725 Park Ave, New York, NY 10021; berukuran tidak besar; memiliki dua lantai dan lantai bawah tanah. Lantai pertama untuk pendaftaran para tamu yang berkunjung, kafe, dan toko suvenir. Lantai dua untuk museum yang
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Batu Bertuah (1) 25 Apr 2019 16:15 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia