KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalAktifnya Aliran Massa Udara Basah, Picu Cuaca Ekstrim Sejumlah Wilayah Indonesia oleh : Rohmah S
26-Apr-2018, 10:54 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Kejadian cuaca ekstrem di beberapa daerah seperti hujan disertai puting beliung di Jogjakarta dan Minahasa, banjir di Cilegon dan Bumi Ayu pada saat musim peralihan dari penghujan menuju kemarau menimbulkan banyak pertanyaan di masyarakat, berikut penjelasan Drs.
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Ibu 25 Apr 2018 16:27 WIB

Pemimpin 01 Mar 2018 12:42 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Surat untuk May

 
BUDAYA

Surat untuk May
Oleh : Chalik Hamid | 23-Des-2007, 21:56:50 WIB

KabarIndonesia - Nah, May kali ini aku menulis padamu lewat KabarIndonesia ini, karena dalam surat ini tak ada rahasia atau sesuatu yang dirahasiakan. Siapa pun boleh mengetahui isi surat ini, bahkan kalau ingin, teman lain juga boleh melibatkan diri dalamnya.            

Kemarin tanggal 20 Desember 2007, persis jatuhnya Hari Raya Idul Adha di Indonesia, aku menerima kirimanmu lewat pos dua buah buku dalam bahasa Inggris. Buku itu "Against The Wind" dan "Fragranced Deception". Aku katakan Idul Adha di Indonesia, karena di Negeri Belanda kami sudah merayakannya secara resmi pada tanggal 19 Desember 2007. Sebenarnya perbedaan tanggal ini sudah membuat kepalaku agak puyeng dan melahirkan diskusi dengan isteri di rumah.

Perbedaan waktu antara Eropa dengan Indonesia adalah 6 jam karena sekarang ini musim dingin. Kalau musim panas nanti perbedaan itu 5 jam lebih dulu di Indonesia. Yang bikin pusing kepalaku, 6 jam di Indonesia lebih dulu, mengapa umat Islam di Negeri Belanda malah merayakannya satu hari lebih dulu dibandingkan dengan di Indonesia. Mestinya umat Islam di Indonesia lebih dulu merayakan karena Indonesia 6 jam lebih maju dibanding dengan Eropa.            

Ini yang bikin kepalaku agak puyeng. Pada malam hari setelah merayakan Idul Adha tanggal 19 Desember 2007, setelah kenyang makan ketupat dengan gulai kambing dan berbagai macam kue hari raya, aku masih coba berpikir dan mencari kesimpulan.

Aku coba buka kamus dan ensiklopedi mencari Hari Raya Idul Adha. Cari sana cari sini, tapi tidak ketemu penjelasan yang meyakinkan. Lalu aku berfikir mungkin ini ditautkan dengan masalah majhab ini dan majhab itu.

Ah, dari pada aku mencari berbagai aliran majhab, sudahlah kututup saja semua ensiklopedi dan kamus tebal-tebal ini. Yang penting umat beragama itu bisa hidup rukun, saling bantu, hidup damai, tidak saling mencurigai, tidak saling bakar, tidak merusak tempat ibadah sesama umat dan tidak saling bunuh, yang bertentangan dengan ajaran agama mana pun. Setelah aku mengambil sikap demikian itu, akhirnya pusing kepalaku menjadi agak berkurang dan sepenuhnya menjadi normal setelah aku menelan 2 butir paracetamol.

May, kedua buku dalam bahasa Inggris itu ditulis oleh sebuah nama: May Swan. Terpaksa aku cari kembali sampul bungkus buku yang memiliki stempel pos itu, karena sudah sempat terbuang.  Di sana ku lihat pengirimnya: Liong May Swan.

Perkara nama ini memang agak sulit juga dipelajari, apalagi nama Tionghoa. Dalam perkenalan dan surat-menyurat dengan aku, kau memakai nama May Teo. Begitu juga di dalam siaran berbagai milis kau menggunakan May Teo. Kalau benar dugaanku bahwa Liong  adalah singa, May itu sejenis bunga dan Swan itu berarti angsa, oouw betapa hebat nama ini. Sedangkan Teo, aku tak tahu apa artinya. OK-lah yang penting adalah hakekatnya. Kalau nama orang Batak kelihatannya lebih mudah. Marganya ditulis di belakang, sudah beres: Abdul Haris Nasution, Bakri Siregar, Bachtiar Siagian, Ulung Sitepu, dan lain-lain.

Aku jadi teringat penjelasan saudara Chan CT di sebuah milis karena ada seseorang merasa agak keberatan mengapa saudara Chan CT  menggunakan marga Chan, sedangkan sebenarnya ia bermarga Siaw. Ketika itu saudara Chan menjelaskan bahwa sebelum tukar nama ia sering sakit-sakitan dan badannya sangat kurus. Setelah tukar nama ia menjadi sehat, badannya menjadi gemuk.

Hebatnya lagi rezekinya makin bertambah, terutama setelah ia pindah ke Hongkong. Jadi mungkin ini juga termasuk masalah hoki yang merupakan kepercayaan di kalangan orang Tionghoa. Seorang pujangga besar mengatakan: Apalah artinya nama? 

Kayak-kayaknya hati kita mengatakan ya  sebagai persetujuan terhadap pendapat pujangga ini. Tapi kalau dikaji agak mendalam, koq aku kurang setuju terhadap pendapat ini. Masalah nama, menurut pendapatku, menyangkut masalah inti hal ikhwal. Kalau orang mengatakan "kapitalisme" itu berarti bukan "sosialisme", karena bentuk tatanan sosial yang terkandung di dalam kata itu  sangat berbeda. Kucing kan bukan tikus, musang kan bukan ayam, dll. Jadi, masalah nama itu sebenarnya masalah esensiel, masalah penting.

Nah, mengenai masalah nama ini ada pengalaman seorang teman di Negeri Belanda. Di Negeri Kincir Angin ini semua orang harus punya nama paling sedikit dua kata. Nama depan dan nama belakang (naam en achternaam). Nama orang batak sangat sempurna di Belanda, karena orang batak tak pernah punya satu nama, ia harus disertai dengan nama marga.

Di Indonesia banyak orang yang punya nama hanya terdiri dari satu kata, terutama yang berasal dari suku Jawa. Pada suatu hari seorang Indonesia datang ke Belanda dan minta suaka di negeri ini, setelah meningalkan salah satu negeri Eropa Timur. Tentu saja teman ini tidak membawa paspor karena paspornya sudah dirampas oleh KBRI rejim fasis Soeharto.

Ia hanya membawa surat keterangan dari negara yang pernah ia tumpangi. Ketika pihak Justisi melakukan interviu ( di Indonesia dikatakan introgasi) menanyakan nama sang peminta asil (suaka), orang itu mengatakan namanya cuma satu tidak ada nama tambahan di belakang.

Sang polisi tidak percaya, ia terus mendesak minta nama ke dua, tetapi teman itu berulangkali mengatakan "tidak ada". Maka polisi untuk orang asing itu mencatat nama teman ini dengan nama belakang "tidak ada". Akhirnya di dalam KTP dan paspornya, nama ke dua atau marga tertulis kata "tidak ada" dalam bahasa Indonesia. Jadi, resminya teman itu memiliki nama belakang si "tidak ada".            

May, surat untukmu ini sudah ngelantur ke sana ke mari. Tapi tak apalah, bukankah sekarang merupakan akhir tahun. Nanti tahun depan nulis suratnya singkat-singkat saja dan padat. Sungguh menarik sampul buku-bukumu itu, satu berwarna biru terbuka dan satu lagi warna coklat terbuka.

Buku itu diterbitkan oleh penerbit ULTIMUS Bandung, desain kulit depan oleh Ucok dan layoutnya Bilven. Beberapa waktu yang lalu aku ngomong-ngomong dengan seorang redaktur senior majalah Tempo yang sedang berkunjungke Belanda. Ia sangat memuji keindahan semua sampul kulit depan yang dikeluarkan oleh penerbit buku ULTIMUS.

Dalam sebuah halaman kau mengatakan bahwa kau mendapat bantuan dan dukungan dari beberapa teman. Lalu kau menyatakan terimakasih kepada mereka: Heru Atmodjo, BDG Kusumo, Hartoni Ubes, Yap Hong Gie, Chalik Hamid, Dr. JJ Kusni dan Drs. Eddie Lembong. Ucapan terimakasih secara khusus disampaikan kepada Syarkawi Manap.           

Aku teringat ketika kedua bukumu itu belum terbit, kita pernah surat-menyurat. Pada waktu itu aku menganjurkan kepadamu agar buku-buku itu bisa diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian pembacanya akan lebih luas lagi terutama di kalangan generasi muda.

Eh, tau-tau kau malah mengharapkan agar aku bisa menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Dengan perasaan agak malu aku membalas suratmu. Dalam surat itu kunyatakan bahwa walaupun aku tinggal di Eropa, bahasa Inggrisku tak ubahnya seperti kali Ciliwung yang sering macet karena dipenuhi sampah.

Aku merasa takut kalau pembacanya nanti akan tertawa terkekeh-kekeh. Waktu itu aku menganjurkan agar buku itu diterjemahkan oleh Sdr. Chan, karena menurut pendapatku bahasa Inggerisnya mengalir deras karena dia tinggal di Hongkong, yang sehari-harinya menggunakan bahasa Inggris. Bahkan aku katakan padamu agar Sdr. Chan merensensi, memberikan tanggapan atas kedua buku tsb. Tentu saja aku yakin sepenuh hati, teman-teman lain juga akan memberikan tanggapan dan pendapat terhadap ke dua buku ini.
Nah May, udara Eropa sekarang ini sangat dingin. Salju turun di mana-mana. Putih dan indah. Burung-burung tak kelihatan terbang melayang. Parit dan sungai membeku, termenung menanti kehadiran mentari. Pepohonan membisu memikul beratnya salju. Anak-anak berteriak memecah kesepian sambil berlemparan bola putih.

Dan kami orang-orang kelayaban, orang-orang terhalang pulang yang paspornya dicabut oleh rejim ORBA Soeharto, gugur dan hilang satu-persatu. Yang masih hidup terus mengenang tanah air yang dirundung malang, yang kekayaannya musnah dikuras oleh modal asing dan modal birokrat dalam negeri.

Pemerintah Indonesia terus bertukar dan berganti, namun tak satu pun ingin memperhatikan warganya yang tercecer dimana-mana, berkeliaran di Eropa dan pojok-pojok negeri lainnya. Tak lama lagi akan hadir tahun 2008.

Di tahun 2009 mereka akan rebutan kursi empuk dengan mengumbar janji-janji muluk di depan rakyat. Mampukah kami menunggu dan melihat perealisasian janji-janji itu ?

Adakah pemerintah mendatang yang akan mau meminta maaf atas pelanggaran HAM yang dilakukan pemerintahan di masa lalu, karena dengan semena-mena mencabut paspor warganya ? Apakah pertanyaan-pertanyaan ini akan kami bawa mati di negeri orang ? Dan kuburan kami merupakan arang yang tercoreng di wajah pemerintah Indonesia.           

May, cukup sekian dulu, semoga kau terus berkreasi, menerbitkan buku-buku untuk generasi muda Indonesia di masa mendatang.

Salam: Chalik Hamid

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Pelari Indonesia Pertama di FWD North Pole Marathon 2018 Wakil Direktur Utama FWD Life, Rudi Kamdani (kiri) sedang memberikan jaket FWD Life kepada Pelari Maraton Indonesia, Fedi Fianto (kanan) sebagai simbol FWD Life resmi melepas Fedi sebelum keberangkatannya ke Kutub Utara.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Pengabdian Tentara di Pojok Desa 10 Apr 2018 14:27 WIB

 

 

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia