KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia – Serang, Guna memaksimalkan peran Balai Latihan Kerja(BLK) yang sudah ada selama ini, Kementerian Ketenagakerjaan terus matangkan penerapan konsep Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK). Pasalnya konsep ini diyakini mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja terampil di Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Bubar Riyaya 22 Jul 2017 01:58 WIB

Anak Beranak Kanak 22 Jul 2017 01:56 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Tradisi Uang Mahar Dalam Pernikahan Masyarakat Batak

 
BUDAYA

Tradisi Uang Mahar Dalam Pernikahan Masyarakat Batak
Oleh : Yohana Alfrida | 28-Nov-2014, 14:00:34 WIB

KabarIndonesia - Sudah ditakdirkan dua orang insan, yaitu perempuan dan laki-laki untuk menjalin hubungan percintaan. Maka seiring berjalannya waktu, hubungan itupun akan diikat dalam janji suci yang disebut pernikahan. Berbagai usaha akan dilakukan agar pernikahan tersebut dapat terlaksana. Tetapi, bagi orang Batak, itu adalah usaha yang tidak mudah dan harus diperjuangkan.

Berawal dari sebuah pertemuan yang sudah direncanakan Tuhan, laki-laki dan perempuan saling mengenal dan mencoba untuk mengenal lebih dalam lagi. Dengan waktu intensitas bertemu yang tinggi, maka kedua orang tersebut akan tumbuh rasa suka dan sayang yang akhirnya membentuk perasaan cinta. Dengan cinta itulah kedua insan akan mempunyai keinginan untuk memiliki hak atas cinta tersebut dengan ikatan pernikahan.

Setiap pasangan kekasih yang sudah matang dan berpikir untuk kedepan, pasti mereka akan melanjutkan ke tahapan yang lebih serius. Hasil kerja keras seorang pria akan dipersiapkan untuk mendapat doa dan restu dari orangtua sang kekasih agar bisa melangsungkan pernikahan.

Dalam pernikahan adat Batak, ada sebuah tradisi yang cukup menarik. Jika ingin menikahi seorang wanita dari suku Batak, maka pria tersebut harus membeli wanita tersebut dari orangtuanya. Proses pembelian wanita ini disebut dengan Sinamot.

Sinamot adalah harga (mahar) yang ditentukan orangtua dari pihak mempelai wanita agar pihak mempelai pria bisa memiliki dan mempunyai hak atas anak perempuannya. Tolak ukur harga beli yaitu terdapat pada pendidikan sang gadis. Jika gadis tersebut mempunyai gelar sarjana, ia dihargai tinggi dan apabila gadis itu hanya tamatan SMA maka harga beli gadis tersebut tidak terlalu tinggi.

Harga sinamot tidak selalu ditentukan dari pendidikan. Biasanya pendidikan dijadikan tolak ukur agar calon suaminya berpendidikan lebih tinggi daripada mempelai perempuan agar kelak disaat berkeluarga, mempelai pria memang sudah mampu untuk menafkahi keluarganya.

Terkadang sinamot menjadi permasalahan yang mengakibatkan pernikahan yang sudah direncanakan menjadi gagal. Pihak perempuan memberi harga sinamot yang tinggi kepada anaknya, sedangkan pihak laki-laki tidak mempunyai uang yang banyak untuk mampu membeli wanita tersebut maka tidak terjadi kesepakatan dan membuat kekecewaan terhadap sepasang kekasih yang ingin melanjutkan cintanya ke pernikahan.

Menurut http://batakculture.wordpress.com/ kebutuhan hidup sekarang ini semakin banyak dan mahal, hidup semakin susah karena himpitan ekonomi. Seharusnya para keluarga yang anaknya ingin menikah berpikiran dewasa tentang sinamot. Terlebih kepada pria batak yang memang ekonominya termasuk kurang.

Sepertinya tidak etis jika menghalangi dua insan yang sudah sehati dan sejalan hanya karena uang sinamot. Bukankah sebaiknya kedua belah pihak meringankan hati untuk masa depan putera-puterinya? Seharusnya sinamot itu berfungsi sebagai penghargaan bagi pihak wanita. Bukan sebagai nilai komoditi bagi putri si pihak wanita itu tadi.

Jadi kecil atau besarnya sinamot itu tadi janganlah di titik beratkan pada jumlahnya, jika pihak laki-laki mampu, oke-oke saja. Tapi bagaimana dengan pihak laki-laki yang tidak mampu?

Mengutip dari http://www.medanbisnisdaily.com ada umpama orang Batak mengatakan: "Aek godang, aek laut/Dos ni roha do sibaen na saut". Atinya, satu hati menjadikan semuanya kesepakatan. Kiranya ini dipegang teguh sehingga bisa menjawab dan mengurangi kekawatiran gagal menikah hanya karena sinamot.***

(sumber foto: batakculture.wordpress.com)

Blog: http://www.pewarta.kabarindonesia.blogspot.com/ 
Alamat ratron (surat elektronik): 
redaksi@kabarindonesia.com 
Berita besar hari ini.  Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mensos Khofifah: Kampung Berseri Astra Jadi Role Modeloleh : Rohmah Sugiarti
24-Jul-2017, 06:03 WIB


 
  Mensos Khofifah: Kampung Berseri Astra Jadi Role Model Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa (kedua kanan) menandatangani prasasti Desa Sejahtera Mandiri untuk Kampung Berseri Astra Keputih didampingi oleh Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial Hartono Laras (kanan), Chief of Corporate Communications, Social Responsibility & Security PT Astra International Tbk
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Medsos dan Hoax 26 Jul 2017 16:30 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 
Awas Anemia! 17 Jul 2017 13:12 WIB

 

 

 
Uang Bukanlah Sumber Kebahagiaan 26 Jul 2017 16:09 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia