KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
ProfilMelani Butarbutar: Tekad Putra Samosir, Melayani Aspirasi Rakyat Sepenuh Hati oleh : Wahyu Ari Wicaksono
05-Nov-2018, 09:11 WIB


 
 
KabarIndonesia - Mengawali karir sebagai CPNS tahun 1976 di kantor Camat Simanindo Ambarita (Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara) dengan pangkat/golongan Juru Muda Tingkat I (I/b), pada Februari tahun 2017 lalu, Danny Melani Michler Hotpantolo Butarbutar atau biasa disebut Melani Butarbutar
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sepertiga Malam 05 Nov 2018 15:57 WIB

Duhai Kau yang Sedang Diuji 21 Okt 2018 11:53 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Menjadi Wartawan Pilihan Hidupku 09 Nov 2018 15:39 WIB


 

Unik! Empat Cara Adat Menghormati Kematian

 
BUDAYA

Unik! Empat Cara Adat Menghormati Kematian
Oleh : Ian Adhiputra Nugraha | 07-Jan-2014, 01:32:34 WIB

KabarIndonesia - Kematian mungkin dianggap sebagai akhir dari kehidupan seseorang di dunia nyata dan berlanjut kebabak selanjutnya yaitu kehidupan di dunia yang kekal, yaa begitulah apa yang kebanyakan orang percayai sebagai intisari dalam hidup. Sehingga bagi sebagian orang ataupun kelompok seperti memiliki caranya masing-masing untuk memberikan semacam penghormatan terakhir kepada seorang keluarga, kerabat, atau tokoh mereka yang telah meninggalkan dunia.

Terlebih lagi, kita berada di negara yang memiliki lebih kurang 1.340 suku bangsa yang tiap-tiap sukunya tentu memiliki kebiasaan dan adat-adat yang beda daripada yang lain dan hal tersebut, menjadi setiap suku bangsa memiliki tradisi penghormatan kepada kematian yang berbeda-beda. 

Mungkin, kita sebagai orang yang tinggal di kota lebih mengenal yang namanya pemakaman atau kremasi untuk jasad yang sudah meninggal, tetapi tidak untuk masyarakat di Sulawesi selatan tepatnya masyarakat suku Toraja yang memiliki kebiasaan menyemayamkan jasad seseorang di suatu tebing tinggi atau di kuburan batu. Pasti kita langsung bertanya, bagaimana bisa jasad tersebut tetap utuh dan tidak membusuk? 

Masyarakat Toraja percaya bahwa di suatu tebing tinggi untuk menyemayamkan jasad itu merupakan tempat magis yang bisa mengawetkan jasad leluhurnya. Walaupun belum dikonfirmasi secara ‘scientific' akan tetapi kebenarannya tidak dapat diragukan lagi. Mungkin apabila ada ahli geologi atau ahli kimia mau membuang waktunya untuk melakukan penelitian menyeluruh disana, maka misteripun akan sirna.  Masih di Tanah Toraja, lebih rincinya di kecamatan Baruppu ada sebuah ritual yang mungkin cukup unik sekaligus menyeramkan. Bagaimana tidak? Ritual tersebut merupakan ritual yang dimana jasad yang telah bertahun-tahun disemayamkan ‘dibangkitkan' dari tempat peristirahatannya dan berjalan ke rumahnya sendiri. Ritual ini dinamakan Ma'nene. Jasad yang berada di ‘Patane' (kuburan batu) dikeluarkan, lalu dibungkus ulang, dan dituntun untuk menuju rumahnya. 

Ritual Ma'nene dilakukan setiap setahun sekali dan ritual ini merupakan satu-satunya warisan leluhur yang masih dipertahankan secara rutin hingga kini. Kesetiaan mereka terhadap amanah leluhur melekat pada setiap warga desa Baruppu, Tanah Toraja. Penduduk desa Barrupu percaya jika ketentuan adat yang diwariskan dilanggar, maka akan datang musibah yang melanda seisi desa seperti gagal panen atau menderita penyakit yang tak kunjung sembuh.

Lain halnya dengan ritual Ma'nene, Warga Terunyan (Trunyan) di Bali, juga memiliki tradisi penghormatan yang unik yaitu jenazahnya tidak dikubur melainkan hanya diletakan diatas tanah lalu dipagari dengan menggunakan bilah bambu yang disusun rapi mengelilingi jenazah guna menjaga agar jenazah tetap berada di lokasi. Dan yang menjadikannya lebih unik lagi, meskipun jasad orang yang meninggal itu berhari-hari diterpa panas dan hujan, tetap saja tidak mengeluarkan bau busuk mesti tanpa proses pembalseman.

Menurut sejarah, nama desa Terunyan berasal dari dua kata yakni, ‘Taru' dan ‘Menyan'. Taru diartikan sebagai pohon, sedangkan Menyan diartikan sebagai wangi. Memang, di desa tersebut pohon Menyan tumbuh subur, tak ayal dinamakan sebagai nama desa. Desa yang terletak sekitar 65 km dari kota Denpasar itupun merupakan desa tertua di pulau dewata Bali. 

Di desa tersebut, setiap orang yang sudah meninggal dibungkus dengan kain  putih yang hanya  nampak kepala dan kaki, kemu­dian diletakan diatas tanah  dibawah pohon Menyan setelah melalui prosesi adat. Tidak ada bau busuk sama sekali entah apa yang membuat hal tersebut terjadi, namun beberapa masyarakat berpendapat bahwa bau tersebut telah diserap oleh pohon Menyan diatasnya yang tumbuh subur dan mampu menetralisir bau busuk.  
Beralih ke Kalimantan Tengah, tepatnya di desa Bakonsu, Lamandau terdapat sebuah tradisi yang boleh dibilang cukup ekstrim dan seringkali membuat wisatawan yang datang kesana pun penasaran akan tradisi tersebut. Tradisi ini biasanya dilakukan ketika ada seorang dari Suku Dayak Tomin meninggal dunia. Bermula dari itu, keturunan laki-laki dari orang tersebut akan melakukan upacara adat untuk keluar dari kampung guna mencari tumbal berupa kepala manusia. Kepala tersebut akan dipersembahkan kepada jasad orang tuanya yang meninggal itu. Tradisi ini disebut sebagai ‘Ngayau'.

Hal tersebut tentu saja sangat mengerikan. Namun seiring dengan moderenisasi tradisi ini sudah tidak dilakukan lagi. Lagipula, ritual tersebut dinilai tidak sesuai dengan peraturan pemerintah. Akan tetapi ada hal yang dapat membuktikan bahwa tradisi ini pernah terjadi, di Rumbang Bulin (rumah adat Dayak Tomun) yang ada di desa Bakonsu memiliki arsiterktur rumah panggung yang panjang dan tinggi. Selain itu, rumah ini memiliki tangga yang dapat dilepas dan disimpan guna kewaspadaan keluarga di rumah tersebut dari Kayau atau orang yang melakukan ritual Ngayau. Dibagian depan Rumbang Bulin juga terdapat prasasti yang diatasnya masih tersimpan tengkorang kepala manusia korban ritual Ngayau yang dinamakan Sandung. 

Terbang menuju provinsi paling timur di Indonesia, yaitu  Papua. Provinsi merupakan salah satu provinsi yang masih sarat akan hal-hal yang berbau mistik. Banyak sekali ritual-ritual khusus yang dilaksanakan dalam rangka merayakan atau menyambut sesuatu. Mulai dari kelahiran dan tidak terkecuali momen kematian seseorang. Ritual ini bukan hanya sekedar ritual yang lumrah melainkan sebuah upacara adat yang wajib hukumnya bagi masyarakat Papua terutama suku Dani.

Dalam upacara adat Papua mengenai kematian seseorang, seseorang yang meninggal akan diperlakukan secara khusus. Tak hanya jenazahnya saja, akan tetapi keluarga dari mendiang pun akan mendapatkan perlakuan khusus yang mungkin tidak dapat kita temukan di daerah-daerah lain. Bahakan ritual-ritual ini dianggap aneh dan tidak lazim bagi orang yang tinggal di luar dari provinsi paling timur di Indonesia ini. 

Di Papua, tepatnya di masyarakat suku Dani yang merupakan salah satu suku di daerah Papua yang masih melakukan upacara adat kematian yang tidak bisa. Ketika salah satu dari warganya ada yang meninggal, maka masyarakat suku Dani akan menyiapkan ritual yang akan dihelat di sebuah lapangan luas yang menjadi pusat perkampungan. Orang yang meninggal kemudian akan dirias atau diberikan hiasan-hiasan khas suku Dani dan kemudian disandingkan di sebuah singgasana khusus yang disebut ‘Bea'.

Setelah hal tersebut dilakukan, maka selanjutnya para wanita akan melumuri tubuh mereka dengan lumpur putih. Selanjutnya seluruh keluarga dari orang yang meninggal, termasuk semua orang yang datang untuk melayat akan mengungkapkan kesedihan mereka dengan cara duduk mengelilingi jenazah, lalu mereka akan menangis dan meratap sambil menyerukan tembang-tembang kematian.

Dan yang paling ekstrim dari semuanya adalah, sebagai simbol kesedihan karena kehilangan seseorang yang dikasihi, seorang tokoh yang sudah dipercaya akan memotong ruas jari dari salah satu anggota keluarga yang sedang berkabung. Pemotongan ini biasanya menggunakan kapak batu atau bambu. Setelah jarinya dipotong, jari yang terluka akan dibalut dengan daun-daun khusus yang sudah disiapkan sebagai obatnya. Bilamana jari sudah habis, yang dipotong berikutnya adalah sebagian dari daun telinga. 

Setelah ritual ekstrim tadi, prosesi selanjutnya adalah pembakaran daging babi. Sebagian dari daging babi tersebut akan dipersembahkan kepada ruh orang yang sudah meninggal atau disebut juga dengan istilah ‘Ame'. Sebagian lain dari daging babi tersebut kemudian akan dimasak dan disantap bersama-sama. Sampai akhirnya dipenggujung hari, seluruh perhiasan yang ada pada jenazah akan dilepas dan tubuh jenazah pun dilumuri dengan minyak babi yang kemudian jenazah akan dibakar.

Itulah upacara adat Papua, khususnya masyarakat suku Dani saat ada seseorang yang meninggal ditengah-tengah mereka. Meskipun begitu, saat ini upacara-upacara tersebut sudah mulai ditinggalkan seiring dengan masuknya berbagai agama ke tengah-tengah masyarakat Papua. 

Memang setiap daerah mempunyai cara atau pakemnya tersendiri dalam hal menghormati kematian seseorang. Mungkin banyak cara-cara yang di luar nalar kita dan mungkin bisa dikatakan di luar batas kewajaran. Akan tetapi apabila dilihat dari pandangan orang yang melakukannya, hal tersebut merupakan hal yang sangat luar biasa dalam penghormatannya terhadap orang yang sudah meninggal. Memang, hal tersebut merupakan hal yang baik, akan tetapi alangkah lebih baik lagi apabila kita menghormati orang tersebut selagi masih ada di dekat kita.(*)



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Astra Dukung Ekspedisi Tembus Tol Trans Jawaoleh : Rohmah S
12-Nov-2018, 10:18 WIB


 
  Astra Dukung Ekspedisi Tembus Tol Trans Jawa Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) RI Rini Soemarno (kedua kiri) didampingi Chief of Corporate Communications, Social Responsibility & Security PT Astra International Tbk Pongki Pamungkas (kedua kanan) saat flag off Ekspedisi Tembus Tol Trans Jawa di Surabaya (12/11).
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Antara Rocky Gerung dan Jokowi 05 Nov 2018 15:56 WIB

Berhutang Oksigen 21 Okt 2018 11:51 WIB

 

 

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 

 
Khasiat Buah Bit untuk Kecantikan 16 Sep 2018 16:05 WIB


 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia