KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Serba SerbiTHERE IS ONLY ONE KING ! oleh : Kabarindonesia
10-Jan-2020, 06:05 WIB


 
 
KabarIndonesia - Dia lah YESUS - RAJA DIRAJA atau RAJA DARI SEGALA RAJA.

Itulah sikap iman dari Elvis!. Banyak orang mungkin tidak yakin kalau Elvis termasuk penyanyi yang relijius.  Mana mungkin seorang King of Rock & Roll yang
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Opera Afeksi 08 Des 2019 14:27 WIB

Perih Paling Parah 26 Nov 2019 19:35 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

RESENSI: Kosmologi Betawi dalam Negeri Kong Draman

 
BUDAYA

RESENSI: Kosmologi Betawi dalam Negeri Kong Draman
Oleh : Badrul Munir Chair | 29-Mar-2011, 19:19:57 WIB

Judul       : Negeri Kong Draman
Penulis    : Akhmad Fikri AF.
Penerbit   : Matapena Yogyakarta
Cetak      : I, Mei 2009
Tebal       : xiii + 96 halaman
Peresensi : Badrul Munir Chair


KabarIndonesia - “Seseorang yang sepanjang hidupnya hanya menjadi benalu dari kehidupan orang lain, pasti kering kerontang, kurus dan sulit menghadapi serbuah gelombang kehidupan yang cepat berganti musim. Seorang yang tak mengerti akar dari kehidupannya bukan saja lupa pada masa lalu, lebih dari itu ia akan kesulitan merumuskan identitas kulturnya sendiri”.

Itulah sekelumit prolog yang ditulis Akhmad Fikri AF. dalam kumpulan sajaknya “Negeri Kong Draman (cerita-cerita puitis kampung halaman untuk Indonesia)”. Sebagai lelaki yang dilahirkan dan tumbuh di tanah Betawi –tepatnya di Kampung Gondong Petir daerah Tangerang-, Akhmad Fikri tak ingin menjadi kacang yang lupa pada kulitnya, atau dalam bahasanya Akhmad Fikri; kembali pada ‘akar’. Berangkat dari kesadaran itulah akhirnya Akhmad Fikri “berani” menelurkan antologi puisi tunggal pertamanya dengan mengusung nafas Betawi –setelah sebelumnya ragu untuk menelurkan buku puisi karena sempat berpikiran bahwa puisi adalah karya yang spesifik dan hanya bisa dipahami oleh sebagian orang dan kurang diminati-.

Dalam Negeri Kong Draman (NKD), tampaknya Akhmad Fikri AF. ingin bernostalgia akan masa kecilnya yang penuh dengan romantisme. Selain itu, ia ingin menghidupkan kembali ungkapan-ungkapan betawi yang dikhawatirkan akan tergerus oleh pola-pola bahasa seiring perkembangan zaman. Akhmad Fikri AF. banyak sekali menggunakan ungkapan-ungkapan Betawi dalam sajak-sajaknya, seperti misalnya dalam sebuah sajak yang berjudul “Pantun Betawi” berikut ini: “Tempayan tanah liat- ngaduk air sampe butek- apa lu nggak liat- emang dasar mata lu picek”. Atau dalam sajaknya yang lain “Cang Arsyad Aku Kangen Adzanmu” berikut ini: “Subuh tanpa adzanmu cang Arsyad, serasa dingin membeku –kayaknya lebih asyik keredong kekurub mlungker –berteman bantal berbuntel buntel” . Dan usaha penghidupan ungkapan-ungkapan Betawi dalam buku ini semakin jelas dengan adanya Glossary Betawi- Indonesia sepanjang lima halaman di bagian akhir buku, hal ini tidak umum dan jarang sekali terjadi pada buku-buku puisi lainnya.

Tak hanya itu, Akhmad Fikri AF. juga melakukan kritik (ironi) akan orang-orang Betawi saat ini, seperti misalnya dalam sajak yang berjudul “Syair Hikmat Kampung Keramat” pada pantun ketiga belas, Akhmad Fikri mengemukakan sindirannya sebagai berikut: “Zaman sekarang orang betawi- makin kepinggir kecebur kali- tanah sepetak jadi rebutan- salah siapa kurang didikan”. Sangat tampak sekali kritikan Akhmad Fikri dalam sajak (pantun)ini, seperti ada rasa keprihatinan yang mendalam, menerima kenyataan bahwa generasi Batawi zaman sekarang makin menjauh dari akarnya, atau dengan kata lain tak ‘seindah’ pada masa Akhmad Fikri sendiri yang penuh romantisme kampung halaman (romantisme kampung halaman inilah yang banyak ditemukan pada sajak-sajak Akhmad Fikri AF. dalam Negeri Kong Draman).

Menyelami Negeri Kong Draman terasa seperti membaca cerita nostalgik masa kanak-kanak dan perjalanan hidup seorang bocah Betawi –atau bahkan sebagian besar bocah Betawi pada masa itu (pada masa penulis)-. Kehidupan dan kenangan masa kanak-kanak bocah Betawi (sang penulis) terbaca jelas di buku ini, seperti misalnya kehidupan di kampung halaman yang keseharian penduduknya memelihara bebek, anak-anak kecil yang mengaji di surau, trasisi-tradisi Betawi, bahkan tokoh-tokoh legendaris Betawi dan risalah-risalah Betawi dihidangkan dengan sederhana dalam buku ini, sehingga walaupun dituangkan dalam bentuk sajak atau puisi, hikayah dan pesan-pesan moral dalam buku ini bisa dengan mudah kita cerna. Karena sepertinya memang itulah yang diinginkan sang penulis, ia tidak ingin larut dalam metafor-metafor yang berlebihan, yang hanya membuat orang-orang awam tidak bisa memahami sajak-sajaknya.

Akhmad Fikri AF. menyadari betul bahwa sajak-sajaknya memang ‘berbeda’ dengan sastra pada umumnya, jika pada karya-karya sastra umum di Indonesia saat ini lebih mengutamakan kata baku (sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia), Akhmad Fikri memilih berbeda, ia banyak menyertakan istilah-istilah Betawi yang notabene tidak baku, karena dengan begitu, nuansa Betawi dalam sajak-sajaknya akan lebih hidup. Kesadaran ini kemudian dituangkan dalam sajaknya yang berjudul “Declare 1”: “Puisiku tak bermazhab- sebagaimana sastra umumnya dikenal… -mungkin bagimu –inilah lelucon norak yang datang dari zaman gaduh –lahir karena salah urat yang dikirim angin puting beliung…”.

Kembali kepada tradisi berarti berusaha kembali memahami diri sendiri, dan langkah Akhmad Fikri AF untuk kembali kepada ‘akar’nya patut kita acungi jempol, dengan usahanya menelurkan buku ini, Akhmad Fikri bukan hanya berhasil menemukan akarnya saja, tetapi ia juga berhasil meneriakkan seruan Back To Betawi dan berhasil mengeksplorasi kosmologi Betawi secara puitik. (*)


* Badrul Munir Chair, pecinta sastra, bergiat di Masyarakat Bawah Pohon Yogyakarta

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Judika Sihotang Berduet dengan Bupati Taput Nikson Nababanoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
04-Jan-2020, 04:31 WIB


 
  Judika Sihotang Berduet dengan Bupati Taput Nikson Nababan Artis papan atas, Judika Sihotang, menyedot ribuan pengunjung dalam acara hiburan terbuka Old and New 2020 yang dikemas oleh Pemkab Tapanuli Utara di lapangan Serbaguna Tarutung, Kamis (2/1) malam. Massa membludak di lokasi sehingga pengunjung berdesakan di lapangan. Bupati Nikson
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 
 
 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia