KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalJokowi Resmi Menjadi Presiden ke-7 Gantikan SBY yang Lengser Keprabon oleh : Bambang
20-Okt-2014, 17:51 WIB


 
 
Jokowi Resmi Menjadi Presiden ke-7 Gantikan SBY yang Lengser Keprabon
KabarIndonesia - Alhamdulillah, akhirnya sang ksatria piningit dari kota Bengawan Solo, penyuka musik keras Metallicca & Arkana yang juga pengusaha mebel, mantan Walikotra Solo & Gubernur DKI Jaya yang mencintai kedamaian, Ir Haji Joko Widodo, alias Jokowi dan juragan dari
selengkapnya....


 


 
BERITA PENDIDIKAN LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Karyawan (Tak) Setia 16 Okt 2014 17:37 WIB

PerlindunganNya di Bebas Hambatan 16 Okt 2014 17:30 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
PENDIDIKAN

FULL DAY SCHOOL, KUATKAH KITA?
Oleh : Ike Herdiana | 28-Mar-2007, 18:21:37 WIB

KabarIndonesia - Saat ini banyak pihak yang berusaha menyoroti sistem pendidikan nasional kita dari berbagai sudut pandang. Pro dan kontra sudah menjadi hal yang biasa, terutama jika dikaitkan dengan kebingungan pemerintah, pengamat, pemerhati, atau bahkan guru sendiri sebagai pelaku pendidikan di Indonesia tentang akan dibawa kemana pendidikan Indonesia ini. Walaupun Undang-Undang Dasar negara Indonesia sudah dengan tegas menerangkan hal yang terkait dengan pendidikan, namun pada kenyataannya kita belum memiliki orientasi yang jelas dalam mengejawantahkan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Faktanya adalah orientasi penyelenggaraan pendidikan di Indonesia masih belum dapat menciptakan pemerataan untuk semua lapisan masyarakat.

Fenomena Pendidikan Modern
Hingga saat ini banyak lahir pendekatan-pendekatan baru dalam pendidikan kita. Di satu sisi, ini adalah hal yang cukup menggembirakan karena artinya anak-anak kita akan mendapatkan peluang yang lebih baik untuk mempelajari segala hal dibandingkan jaman kita sekolah dulu. Banyak sekolah yang mulai menata sistem dengan berbagai macam basis, entah itu sekolah berbasis kompetensi, sekolah berbasis karakter, dan basis-basis lainnya yang saya sendiri tidak begitu paham. Terpenting adalah anak-anak akan mendapatkan perlakuan lebih ’istimewa’ daripada apa yang saya pahami sebagai pendidikan konvensional.

Di sisi yang lain, ternyata konsekuensi logis dari berkembangnya fenomena pendidikan berbasis tertentu tersebut adalah biaya yang sangat tinggi untuk masuk dan terlibat dalam kegiatan sekolah yang ditawarkan. Ironisnya hal ini berdampak terhadap stabilitas pendidikan di Indonesia yang sudah tidak lagi memandang demokratis dan pluralisme dari kondisi masyarakat kita. Kita sudah tidak memiliki kebebasan untuk memilih dan mendapatkan pendidikan yang dianggap lebih baik. Selain itu pendidikan dengan biaya yang mahal dan hanya bisa dijangkau oleh kaum ’the have’ juga sangat mendiskriminasi orang-orang yang tidak mampu tapi ingin sekolah. Saya sangat mengharapkan bahwa pendidikan akan menjadi sungai-sungai yang mengalir di antara urat nadi kehidupan sosial bangsa Indonesia yang sudah terkategorisasi. Tapi apakah mungkin ya? Mungkin saja di masa yang akan datang pendidikan akan juga berpihak pada rakyat jelata (grassroot), sehingga sistem pendidikan dapat menjamah secara adil masyarakat Indonesia dan tidak ada lagi orang menjerit ’Orang Miskin di Larang Sekolah’

Full Day School, Pentingkah?
Kita tidak akan pernah menjadi orang yang bijak jika masih berpikir dikotomus tentang segala hal. Hidup ini adalah kontinum panjang pilihan-pilihan yang bebas nilai. Bagi sebagian orang mungkin Full Day School memiliki manfaat yang sangat signifikan. Terutama untuk orang yang memiliki sisa uang banyak untuk memasukkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah tersebut. Akan sangat banyak manfaat yang secara kasat mata belum bisa terpandang jelas.

Pertama, anak-anak jelas akan mendapatkan metode pembelajaran yang bervariasi dan lain daripada sekolah dengan program reguler. Kedua, orang tua tidak akan merasa khawatir, karena anak-anak akan berada seharian di sekolah yang artinya sebagian besar waktu anak adalah untuk belajar. Ketiga, orang tua tidak akan takut anak akan terkena pengaruh negatif karena untuk masuk ke sekolah tersebut biasanya dilakukan tes (segala macam tes) untuk menyaring anak-anak dengan kriteria khusus (IQ yang memadai, kepribadian yang baik dan motivasi belajar yang tinggi). Keempat, tentu saja akan meningkatkan gengsi orang tua yang memiliki orientasi terhadap hal-hal yang sifatnya prestisius. Kelima, obsesi orang tua akan keberhasilan pendidikan anak (karena mereka berpikir jika anak mau pandai harus dicarikan sekolah yang bagus, dan sekolah bagus itu adalah yang mahal) memiliki peluang besar untuk tercapai. Mungkin banyak lagi hal-hal ’positif’ lainnya yang tidak tersebut di sini. Jelas kondisi-kondisi tersebut akan muncul dan menjadi pilihan yang menjanjikan bagi anak dan orang tua.

Tapi saya sebenarnya tidak begitu yakin dengan manfaat positif yang saya sebutkan tadi. Mari kita telaah hal-hal yang lain yang mungkin saja akan menjadi grey area atau bahkan ekstrim kiri dari fenomena pendidikan full day school tersebut. Dari kacamata anak-anak, saya melihat hanya anak ’hebat’ yang kuat dengan stimulus sekolah yang beragam dan mendominasi waktu mereka sehari-hari. Mereka rela kehilangan waktu bermain dan mengeksplor hal-hal lain yang lebih liar tanpa dibatasi aturan-aturan formal yang seringkali menjemukan bagi anak. Sistem pendidikan tersebut memang seolah-olah menyesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak, tapi penerapan full day sendiri sebenarnya sudah tidak adaptif lagi dengan karakteristik perkembangan anak-anak.

Hal lain yang ingin saya soroti, anak-anak akan banyak kehilangan waktu dirumah dan belajar tentang hidup bersama keluarganya. Sore hari anak-anak akan pulang dalam keadaan lelah dan mungkin tidak berminat lagi untuk bercengkrama dengan keluarga. Padahal sesungguhnya sekolah terbaik itu ada di dalam rumah dan pada keluarga.

Ibu saya adalah seorang guru sekolah dasar INPRES dengan penerapan pendidikan reguler. Dengan waktu kerja dari pagi sampai siang atau dari siang sampai sore seringkali beliau mengeluh lelah dan bosan. Saya pikir ini adalah sample of behavior atau potret guru-guru kita di Indonesia. Mudah lelah dan cepat bosan apalagi dengan gaji yang terbatas mungkin lama-lama akan membuat mereka semua menjadi stress. Saya sedang membayangkan, bagaimana guru-guru di sekolah full day ? Apakah kinerja mereka dapat dipertanggungjawabkan dengan kompensasi gaji mereka yang mungkin di atas rata-rata penghasilan guru sekolah reguler. Karena akan membahayakan proses belajar mengajar jika guru sudah lelah dan bosan, apalagi anak-anak masuk sekolah dengan jaminan akan mendapatkan guru yang luar biasa. Jelas reputasi sekolah harus tetap dijaga tanpa menampakan kepura-puraan dan ketidakrelaan mengajar anak-anak seharian penuh.

ikeherdiana@yahoo.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mungkinkah Suami Mengasuh Anak?oleh : Jumari Haryadi
17-Okt-2014, 23:18 WIB


 
  Mungkinkah Suami Mengasuh Anak? Tugas istri adalah mengasuh anak, namun peluang kerja untuk pria terbatas, terkadang posisinya terbalik. Justru istri bekerja menjadi TKI di luar negeri, sementara suami mengasuh anak di rumah. Pasangan suami istri sebaiknya berbagi peran mengasuh anaknya. Misalnya ketika
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Sastra Tanpa Riset 05 Okt 2014 10:09 WIB

 
Muhammadiyah Kalteng Adakan Milad 21 Okt 2014 12:49 WIB


 
Idul Adha di Leipzig 08 Okt 2014 13:16 WIB


 

 

 
Valentino Rossi Puji Marc Marquez 18 Okt 2014 23:59 WIB

 

 
Memimpin dengan Kepala dan Hati 20 Okt 2014 12:40 WIB


 

 

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB


 
Selamat Melayani Pertua-Diaken 12 Okt 2014 11:13 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia