KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalSusi Pudjiastuti, Sosok Kontroversi Namun Sarat Prestasi oleh : Badiyo
31-Okt-2014, 14:31 WIB


 
 
Susi Pudjiastuti, Sosok Kontroversi Namun Sarat Prestasi
KabarIndonesia - Usai pengumuman Kabinet Kerja Jokowi-JK, ada satu sosok menteri yang menjadi sorotan dan perhatian publik dan ramai diperbincangkan masyarakat. Sosok itu tak lain adalah Susi Pudjiastuti yang ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo untuk menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.
selengkapnya....


 


 
BERITA PENDIDIKAN LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 
Kajati Kalteng Kunjungi Katingan 30 Okt 2014 19:41 WIB


 
Dia yang di Tepian Kali 30 Okt 2014 09:32 WIB

Tak Habis Pikir Dia 30 Okt 2014 09:29 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
PENDIDIKAN

Pendidikan Katolik Anti Katolik dan Sarat Kekerasan
Oleh : Dwiana | 16-Jun-2007, 20:50:33 WIB

KabarIndonesia
Kristus datang ke dunia tidak demi emas. (Bartolomeo de las Casas)
Katolik di Indonesia umumnya dikenal dengan kiprah pendidikannya yang bermutu terbaik di Indonesia dan besar pengaruhnya ke Gereja Katolik di Indonesia.

Sekolah dan universitas terkenal di Indonesia berhubungan dengan nama Katolik, seperti Kanisius, De Britto, Trisakti, Atmajaya, dan Sanata Dharma. Walau sebenarnya sekolah dan universitas tersebut tidak lepas dari sejumlah nama besar pendiri dan pengelolanya daripada orang-orang yang dihasilkan di kemudian hari sebagai proses pendidikan yang telah dijalaninya. Ini tidak lepas dari keterlibatan aktif orang Katolik dalam sejarah dan pergulatan politik Indonesia.

Kiprah pendidikan Katolik di Indonesia terhitung mulai sejak Indonesia ada, menyatakan kemerdekaan. Saat kemerdekaan adalah saat sulit, setelah mengalami Perang Dunia II dan revolusi fisik berjuang mempertahankan kemerdekaan, banyak lembaga pendidikan Katolik di Indonesia.hancur karena peperangan besar.
Lembaga pendidikan Katolik dibangun kembali pada saat sulit sebagai wujud kiprah mencerdaskan kehidupan rakyat Indonesia yang dimungkinkan melalui tatanan di dalam tubuh Gereja Katolik.
Sarana dan prasarana dibangun lewat paroki dengan prakarsa umat, artinya pembiayaan berasal dari rakyat yang berkeyakinan Katolik, dan memiliki kesadaran untuk membangun bersama rakyat Indonesia yang tertindas walau berkeyakinan lain. Ini berlangsung secara khusus di Keuskupan Agung Semarang. Hal ini terjadi hanya di Keuskupan Agung Semarang, karena di Indonesia saat itu hanya memiliki dua Keuskupan: Keuskupan Agung Semarang dan Keuskupan Agung Jakarta.

Keuskupan Agung Semarang saat itu dipimpin Mgr. Soegiyapranoto SJ, seorang Uskup pribumi, dengan tegas menyatakan mendukung perjuangan rakyat Indonesia untuk merdeka dari penjajah Belanda

sementara Keuskupan Agung Jakarta dipimpin Mgr. Willekens SJ, seorang Belanda, sehingga ditengarai membela kepentingan agresor Belanda. Karena itu proses pembangunan lembaga pendidikan Katolik dengan prakarsa umat setelah kemerdekaan dan di masa sulit Indonesia tercatat secara khusus di Keuskupan Agung Semarang.

Paling tidak keadaan awal pergulatan orang Katolik Indonesia pada masa sulit kemerdekaan dengan membantu penyediaan tempat pendidikan untuk rakyat menggambarkan perseteruan di antara orang Katolik yang berpihak kepada kelas tertindas dan mendukung penindas. Perseteruan ini masih berlangsung hingga sekarang.

Pada umumnya sekarang pendidikan Katolik sudah mengabaikan sejarah masa lalunya pada masa kemerdekaan, bahkan menjadi anti Katolik dan sarat kekerasan, bertentangan dengan ajaran Yesus, tokoh yang mengajarkan dasar dari nilai Kekristenan. Pendidikan Katolik telah diselewengkan melalui tatanan kemapanan yang disuntikkan dengan keberadaan yayasan dan bertujuan untuk menopang penindas.

Ini menjadi persoalan, lebih-lebih ketidakberpihakannya pendidikan Katolik bagi keluarga miskin Katolik yang jelas-jelas tertindas, dan termasuk bagian dari rakyat Indonesia yang sebagian besar menderita.

Pendidikan Katolik disebut anti Katolik dan sarat kekerasan dapat diketahui dari nama-nama yang dianggap berkiprah, seperti Frans Seda dan Yesuit. Frans Seda dikenal umum sebagai tokoh masyarakat Katolik Indonesia yang mendirikan Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, tetapi Profesor Benedict Anderson mengungkapkan dalam wawancaranya dengan Ranesi pada bulan September 2005 bahwa Frans Seda adalah Menteri Perkebunan Agraria yang diangkat Soekarno tetapi malah mencuri uang departemennya untuk mendanai pemerintahan awal Soeharto, seorang yang menggulingkan Soekarno.

Yesuit di dalam pendidikan Katolik dikenal sangat dominan dan pelopor kebangkitan nilai kemanusiaan di Indonesia yang disuntikkan melalui lembaga pendidikan bermerek Kanisius, De Britto, dan Sanata Dharma. Tetapi dengan membongkar tatanan politik masa lalu yang berdampak sampai dengan Indonesia saat ini, kita menemukan lembaran hitam Yesuit dalam sejarah Indonesia dan menggugat nilai kemanusiaan yang disuntikkannya.
Yesuit sampai dengan sekarang tidak pernah berterus terang tentang kiprahnya pada tahun 1965 – 66 dengan keterlibatan Pater Beek di dalam gerakan yang disebut 'penumpasan orang Komunis' yang memakan korban jiwa setengah juta orang

Dengan melihat peristiwa tersebut dapat diketahui bahwa pendidikan Katolik bobrok walau mungkin dalam cara pandang umum bermutu terbaik. Budaya pendidikan yang disuntikkan tidak mengandung nilai kemanusiaan karena budaya pendidikan di Indonesia yang diterapkan merupakan pola lama Yesuit yang sebenarnya dulu dipakai untuk membendung Protestanisme di dalam agama Kristen, dengan menerapkan budaya persaingan di antara orang-orang didikannya sehingga yang menonjol, yang unggul yang menang. Yang menonjol, yang unggul yang menang, ini yang dipakai, yang dianggap dapat berkiprah. Itulah alasan saya meragukan lembaga pendidikan manapun, termasuk lembaga pendidikan Katolik.

Apalagi mengetahui nama-nama yang dianggap berkiprah dalam pendidikan Katolik adalah nama-nama yang jelas terlibat dalam pembantaian, pembunuhan masal, dan korupsi. Mungkinkah orang yang terlibat dalam pembantaian, pembunuhan masal, dan korupsi mengajarkan nilai kemanusiaan? Mungkinkah pohon yang buruk menghasilkan buah yang baik?

Tidak heran generasi muda Katolik yang berasal dari keluarga miskin tidak akan pernah dapat mengecap pendidikan tinggi bermerek Katolik. Hal ini bukan sesuatu yang menggelisahkan karena orang-orang yang berkiprah di dalam pendidikan Katolik adalah orang-orang bobrok. Kenyataan sejarah menjelaskan bahwa orang-orang bobrok ini terlibat pembantaian, pembunuhan masal, dan korupsi, karena itu generasi muda Katolik tidak dapat kuliah, atau siswa mahasiswa di-D.O.

Ini bukan sesuatu yang dianggap melanggar nilai kemanusiaan, apalagi hati nurani atau ajaran Yesus. Menjadi jelas bahwa pembantaian dan pembunuhan bukan saja kejahatan, tetapi adalah kekerasan fisik, dan generasi muda Katolik tidak dapat kuliah, atau siswa mahasiswa di-D.O merupakan kekerasan non fisik.

Keluarga miskin Katolik selama ini dibungkam dengan khotbah bahwa pendidikan orang miskin adalah tanggung jawab negara supaya tidak memprotes bila dengan keadaannya yang miskin tidak dapat memperoleh pendidikan di lembaga pendidikan Katolik. Khotbah ini adalah kepalsuan karena jelas bahwa dengan keadaan negara yang bobrok tidak mungkin diharapkan tanggungjawab negara untuk menuntaskan persoalan pendidikan orang miskin, di sisi lain keluarga miskin Katolik coba dibodohi karena pendidikan imam Katolik sebenarnya juga dibiayai keluarga miskin Katolik, termasuk segala segi kebutuhan hidup imamnya.

Di tengah kebanyakan generasi muda Katolik yang tidak dapat mengecap pendidikan tinggi, justru imam-imamnya kuliah hingga S 3. Bukan saja ada ketidakadilan di tengah umat Katolik, tetapi juga membuktikan perlunya adanya perubahan sesegera mungkin. Perubahan ini tidak hanya menyangkut lembaga pendidikan Katolik anti Katolik dan sarat kekerasan, tetapi juga Gereja, karena Gereja yang mengatur lembaga pendidikan Katolik.

Di sinilah saya berpandangan bahwa bukan saja pendidikan Katolik dan pendidikan pada umumnya, tetapi Gereja Katolik dan Negara  perlu direvolusi!!! ***

Pernah dimuat di Natas Hot News Edisi I/Juni 2007, sebuah Newsletter Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Penulis pernah menjabat sebagai Advokasi BEM USD; Ketua Presidium Cabang Yogyakarta Santo Thomas Aquinas 2005 - 2006; Wartawan Praba; kontributor  kabar indonesia.com .

Pernah mengikuti pendidikan calon imamat di Seminari Petrus Kanisius Mertoyudan 1997 - 1998.

***
Wilayah kerja seorang imam KatolikKeuskupan adalan wilayah kerja yang berada di atas paroki dan ditangani seorang Uskup. Di sebuah negara, dapat memilikilebih dari sebuah Keuskupan. Kecuali untuk Andora, sebuah negara dengan sebuah Keuskupan, dan Vatikan, Uskup Agung Roma sekaligus Paus, Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik.

Penunjukan dan pengangkatan seorang Uskup ditangani Paus.

Lihat Ensiklopedi Populer tentang Gereja Katolik di Indonesia. Yayasan Cipta Loka Caraka Jakarta. Disusun Adolf Heuken SJ.

Guru besar emeritus pada Cornell University di Ithaca, Amerika Serikat. Salah satu pengarang Cornell Paper atau Makalah Cornell, risalah pertama yang meragukan sejarah G30S versi Soeharto bahwa PKI dalang di balik kudeta gagal terhadap Soekarno.

Jumlah korban orang Komunis yang dibantai diperkirakan pada kisaran 500 ribu – 5 juta. Menurut Amnesti Internasional ada 500 ribu dibantai, dibunuh secara masal, dan jumlah ini yang senantiasa menjadi rujukan.

Kelompok yang terlibat selain Pater Beek dan PMKRI, juga NU, Muhammadiyah, Masyumi, HMI, dan GMKI. Pembantaian dan pembunuhan masal orang Komunis terjadi secara teritorial saat itu. 

Blog:    http://www.kuis-bola.blogspot.com/ 
Email:  kuis@kabarindonesia.com
Big News Today..!!! Let's see here:
www.kabarindonesia.com 


 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Penjual Pisang Bertelanjang Kakioleh : Jumari Haryadi
17-Okt-2014, 23:21 WIB


 
  Penjual Pisang Bertelanjang Kaki Mencari nafkah adalah kewajiban seorang pria terhadap keluarganya. Selain bekerja di sektor formal seperti menjadi PNS dan pegawai swasta, bisa juga dilakukan dengan cara berdagang. Tampak seorang pria tengah membawa pisang yang baru diambil dari kebunnya (16/10/14). Dengan bertelanjang kaki, pria
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Sastra Tanpa Riset 05 Okt 2014 10:09 WIB

 

 
Idul Adha di Leipzig 08 Okt 2014 13:16 WIB


 

 
We Do What We Can Do 30 Okt 2014 09:35 WIB

 
Liga Mahasiswa Kian Bergengsi 29 Okt 2014 23:13 WIB

 

 

 

 

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB

 
Selamat Melayani Pertua-Diaken 12 Okt 2014 11:13 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia