KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalOJK Umumkan Pemenang Annual Report Award (ARA) 2016: ANTAM Kembali Sabet Predikat Juara Umum oleh : Wahyu Ari Wicaksono
19-Sep-2017, 18:18 WIB


 
 
KabarIndonesia – Jakarta, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bekerja sama dengan Kementerian BUMN, Direktorat Jenderal Pajak, Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia, Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), dan Ikatan Akuntan Indonesia kembali menggelar Annual Report Award (ARA) 2016.   Mengusung
selengkapnya....


 


 
BERITA PENDIDIKAN LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Surat Cinta Kepada-Nya 18 Sep 2017 14:09 WIB

Komputer 17 Sep 2017 09:59 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
PENDIDIKAN

Apakah yang Mahal itu Berkualitas?
Oleh : Japar Siddiq | 16-Des-2010, 17:23:10 WIB

KabarIndonesia - Melihat kondisi saat ini, kita seperti kembali lagi ke masa lalu. saat kita dijajah oleh bangsa belanda, belajar di sekolah merupakan sesuatu yang amat mahal bagi seorang pribumi.

Sekolah rakyat hanya bisa dijangkau oleh kaum borjuis dan sedikit rakyat jelata. Lihatlah, sekarangi pendidikan menjadi barang mewah bagi banyak orang di negeri ini, banyak di antara kita tidak dapat menikmati akses ke bangku sekolah. Bermacam-macam penyebabnya, mulai dari mahalnya biaya pendidikan, tidak tersedianya fasilitas di daerah sekitar tempat tinggalnya hingga tingginya beban hidup yang menyebabkan seorang anak harus menjadikan pendidikan sebagai pilihan kesekian dan lebih memilih membantu orang tuanya.

Seyogyanya, adalah kewajiban negara untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas bagi setiap warga negaranya termasuk warga negara yang lemah mental, difabel ataupun berkebutuhan khusus. Namun di negeri yang memiliki kekayaan dan sumber daya alam sangat melimpah ini, pendidikan adalah barang mahal bahkan termasuk yang termahal di dunia.

Pendidikan berkualitas apalagi cuma-cuma, masih sebatas mimpi bagi sebagian besar anak Indonesia. Lebih ironis karena pendidikan berkualitas di Indonesia telah menjadi komoditi. Pendidikan telah menjadi ajang bisnis yang sangat menggiurkan. Banyak sekolah menawarkan metode pendidikan terbaik, sarana lengkap dengan tenaga pengajar berkualitas, tentu saja dengan harga yang sangat membelalakkan mata.

Melihat dari mahalnya pendidikan saat ini, apakah kita mendapatkan pengajaran yang berkualitas? apakah barang mewah ini memang pantas di hargai sebegitu tingginya? apakah akan tercetak orang-orang hebat seperti dulu yang mampu memerdekakan indonesia dalam kontek kekinian? jangan sampai, sudahlah mahal dan tidak semua orang menikmati ternyata pendidikan kita tidak mampu menciptakan output yang berdaya saing untuk menghadapi tantangan global dan tantangan dalam negeri.

UNESCO pada pertemuan “The International Commission on Education for the Twenty first Century” merumuskan konsep pendidikan untuk sekarang dan masa depan yang dilaksanakan berdasarkan empat pilar proses pembelajaran yaitu Learning to know, Learning to do, Learning to be dan Learning to live together. empat pilar yang dianggap penting untuk pembangunan berkelanjutan sebuah negara melalui pendidikannya.untuk mencapai edukasi berkualitas yang kita inginkan, empat pilar ini perlu kita telaah

1. Learning to know (belajar untuk mengetahui)

Pilar ini menuntut penguasaan terhadap bidang ilmu secara mendalam dengan mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang tidak bagi kehidupan. guru/dosen berfungsi sebagai fasilitator dani teman dialog bagi siswa/mahasiswa.
Kita sudah mulai menerapkan metode ini melalu kurikulum di sekolah dan kuliah. kegiatan kuliah atau sekolah tidak lagi satu arah yaitu dari guru/dosen. siswa dituntut lebih aktif di kelas. berpartisipasi aktif dalam mencari informasi dan melakukan kegiatan pembelajaran.

2. Learning to do (belajar untuk menguasai keterampilan)

Memfasilitasi siswa terhadap bakat dan keterampilan yang dimiliki adalah poin utama dari learning to do ini. setiap anak mempunyai bakat yang harus difasiltasi oleh lembaga pendidikan. bakat dan keterampilan ini niscaya akan menompang ilmu dasar yang mereka miliki.
Pada kenyataannya, di negeri ini negara seperti tidak peduli pada ‘learning to do’. para pengambil kebijakan membuat kurikulum yang hanya fokus kepada ilmu dasar. lihat saja porsi mata pelajaran di sekolahan yang hanya memberi ruang untuk keterampilan yang jauh lebih sedikit. perbandingan antara ilmu dasar dan keterampilan mencapai 80:20.
Padahal banyak dinegara maju yang meletakkan kurikulum antara keterampilan dan ilmu dasar di posisi yang sama. mereka memberi kebebasan murid-muridnya berekspresi lewat minat dan bakatnya masing masing.

3. Learning to be (belajar mengembangkan diri)

Belajar mengembangkan diri bisa disebut juga belajar menjadi diri sendiri. Sebuah pengaktualisasian diri terhadap apa yang dipelajari. Mengembangkan diri lewat bakat dan minat yang dimiliki lalu belajar berperilaku sesuai norma dan kaidah yang ada dalam masyarakat. Learning ini erat kaitannya dengan guru sebagai pendidik, bukan sebagai pengajar. pengajar hanya menolong siswa untuk mengerti materi yang diajarkan. Sedangkan pendidik menyampaikan materi yang dibalut nilai-nilai dan norma yang membantu pengembangan diri siswa.
Pendidik, begitu lah sosok guru disebut di Indonesia. tapi pada kenyataannya masih banyak guru yang belum bisa mendidik dengan benar. Mulai dari kekerasan dari guru ke siswa, guru yang tidak menanamkan nilai-nilai pada siswanya hingga mengajarkan hal yang salah pada siswa. pada akhirnya, siswa pun akan mencontoh apa yang di ajarakan pada mereka.

4. Learning to live together (Belajar untuk hidup bermasyarakat)

Learning to live together menuntut pemahaman terhadap diri dan orang lain dalam kelompok yang akan menjadi bekal untuk hidup bermasyarakat. Situasi bermasyarakat dimana ada saling menghargai, kebiasaan hidup bersama, terbuka, memberi dan menerima hendaknya dikondisikan di lingkungan sekolah.
Hal-hal seperti ini memang ditanamkan di sekolah lewat kurikulum yang memberi tempat untuk mata ajar budaya serta keberagaman. pemerintah juga fokus untuk privatisasi pramuka yang disebut memberi nilai positif siswa lewat nilai-nilai kebersamaan dan bermasyarakat yang ada di dalamnya.

Walaupun kurikulum untuk learning to know terbilang sudah tepat arahnya, masih ada satu pertanyaan untuk itu. bukankah dengan menuntut partisipasi siswa, maka mereka harus giat mencari informasi? bagaimana dengan fasilitas yang ada? apakah fasilitas untuk siswa belajar, mencari informasi dan lainnya sudah cukup tersedia? anggaran 20 % yang di bangga-banggakan dan program BOS yang disebut tepat sasaran masih belum mampu menyediakan fasilitas yang cukup bagi siswa. lihat saja, masih banyak sekolah yang perpustakaannya tidak ada. dengan jumlah sekolah di Indonesia saat ini sekitar 250 ribu unit, perpustakaan hanya ada 23 ribu unit. Kurang dari 10% sekolah yang punya perpustakaan. fasilitas labor dan internet pun juga masih kurang diindonesia. jadi, fasilitas menjadi titik tekan dalam mengkaji learning to know yang berpusat pada siswa ini. sarana pendukung harus bisa lebih ditingkatkan.

Jika anak-anak sekolah di India sudah bisa menikmati program OLPC, perbandingan antara komputer dan siswa yang menggunakannya pada tahun 2008 di Indonesia adalah 1:3.000 siswa, padahal angka yang ideal adalah 1:20. Dengan fasilitas minim seperti ini, wajar saja jika banyak generasi muda kita yang gaptek (gagap teknologi). Pada jenjang pendidikan tinggi, keadaannya juga tak lebih baik. Banyak lulusan perguruan tinggi kita yang menjadi pengangguran. Jumlahnya terus meningkat dari waktu ke waktu. Bahkan, alokasi 20% APBN/APBD untuk sektor pendidikan seringkali mengalami tarik ulur kepentingan yang berkepanjangan. Bandingkan dengan Malaysia yang sudah mencapai 25% dan Thailand 30%. Ironisnya, anggaran yang masih belum memadai tersebut masih tidak luput dari korupsi. Diperkirakan, anggaran di sektor pendidikan mengalami kebocoran hingga 30%.
Learning to do diperbaiki dengan cara merapikan lagi kurikulum yang ada. kurikulum perlu melihat bakat dan keterampilan sebagai hal yang sama pentingnya dengan ilmu dasar. pengejewantahaannya tentu saja pertama pada porsi pelajaran berbau keterampilan yang jamnya lebih banyak. lalu pada fasilitas pendukungnya.

Learning to be akan dapat membentuk siswa dengan cara membentuk pendidiknya terlebih dahulu. Harus ada program sejenis sertifikasi untuk membedakan pendidik dan pengajar. bukan hanya sertifikasi seperti sekarang ini, yang berfokus ke ilmu ajar si guru. Yang di lakukan pemerintah melalui kurikulum dan pramuka sudah tepat untuk learning to live together. saya cukup setuju dengan program privatisasi pramuka karena pramuka vital perannya untuk mendidik siswa bermasyarakat.

Pada akhirnya, saya tidak mau membahas secara mendalam kenapa sekolah mahal, yang mau saya lihat hanya apakah sekolah yang mahal itu sebanding dengan kualitas yang kita dapatkan. lalu bagaimana sekolah yang mahal itu dapat menghantarkan negara kita sejajar dengan bangsa lainnya. Mungkin terlalu muluk, maklumlah, ini sebuah tulisan dini hari disela kestressan belajar untuk mempersiapkan UTS.



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Inspirasi 60 Tahun Astra Untuk Aman Berlalu Lintas di Medanoleh : Rohmah Sugiarti
18-Sep-2017, 21:14 WIB


 
  Inspirasi 60 Tahun Astra Untuk Aman Berlalu Lintas di Medan Head of Public Relations PT Astra International Tbk Yulian Warman didampingi Ketua Koordinator Wilayah Grup Astra Medan Sutadi (kanan) dan Ketua Panitia HUT ke-60 Astra di Medan Badrun Radhi (kiri) berdialog dengan rekan-rekan wartawan pada acara media gathering HUT ke-60
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia