|
|
|
| |
KabarIndonesia - Kampanye lingkungan, sudahkan berdampak positif pada perubahan gaya hidup? Pertanyaan itu ditujukan untuk kita, khususnya masyarakat yang tinggal di kota besar, seperti Jakarta.
Armely Meiviana, mewakili Green Life-style, sebuah komunitas atau tepatnya mailing list yang anggotanya kerap selengkapnya....
|
|
|
PENDIDIKAN
Laptop dari Dana BOS Tidak Bisa Dipergunakan
Oleh : Choironi Zainul Arifin | 27-Aug-2009, 00:53:04 WIB
|
KabarIndonesia - Penolakan yang dilakukan oleh beberapa kepala sekolah dan paguyuban UPTD untuk membeli laptop dari dana BOS memang dituruti oleh Dispendik Jember. Yang awalnya setiap sekolah diwajibkan untuk membeli laptop dari dana BOS, oleh Kepala Dispendik Jember Achmad Sudiono diputuskan untuk tidak diwajibkan memiliki laptop.
Penolakan itu disebabkan harga yang cukup berbeda dengan yang ada di pasaran. Laptop yang dijual Dispendik seharga Rp 10,5 juta. Sementara harga di pasaran sebuah setara dengan yang dijual dispendik harganya tidak lebih dari Rp 5,23 juta rupiah. Apalagi didalam laptop tersebut hanya ada tambahan software pengelolaan dana BOS saja.
Menurut Kepala Skolah SMPN 7 Jember, sebenarnya untuk mendapatkan software pengelolaan dana BOS tidak perlu membeli laptop, cukup beli saftwarenya saja. “Sebaiknya sekolah membeli software BOS saja, karena hampir semua sekolah sudah mempunyai computer,” ujarnya. Disinyalir, pengadaan itu diproyekkan dengan harga lebih dari mahal dari harga pasar hanya dengan alsan adanya software untuk membuat laporan dana BOS. “Dipasaran harga laptop sejenis hanya sekitar Rp 6 jutaan, namun dengan alas an ada softarenya, diwajibkan membeli seharga Rp 10,5 juta,” imbuhnya. Bisa jadi indikasi pembelian laptop itu, diproyekkan, karena untuk penyalurannya dilakukan oleh CV Tri Putra Wicaksana. Bisa dibayangkan, berapa dana BOS yang harus dialirkan jika lembaga SD dan SMP penerima BOS di Jember sebanyak 1.282. Berarti Dispendik bakal membeli laptop sebanyak 1.282 buah dan wajib dibeli oleh masing-masing KS dengan menggunakan dana BOS.
Saiful sendiri terlanjur membeli laptop dari dana bantuan operasional sekolah (BOS). Sayangnya, menurut Saiful, mahalnya harga laptop yang mencapai Rp 10,5 juta tidak sebanding dengan spesifikasinya. Padahal setelah diperbandingkan dengan harga pasaran, laptop Acer Extensa 4630z tidak lebih dari Rp 5,8 juta. Berarti harga software system pelaporan keuangan BOS dihargai senilai Rp 4,7 juta saja.
Walaupun telah telah terlanjur beli Laptop made in Dispendik Jember, Laptop tersebut belum bias dipergunakan. Pasalnya, dalam pengoperasian software BOS itu menggunakan password, dan password tersebut belum diberikan kepada pembeli laptop. “Saya beli, tapi tidak bisa digunakan, ada passwordnya, inikan aneh,” ungkapnya.
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/ Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://www.kabarindonesia.com//
|
|
|
|
|
|
|
|
| |
Hari kelima (31/8) pasca pengungsian akibat adanya letusan Gunung Sinabung, keadaan 1.500 pengungsi di pos penampungan Jambur Taras, Berastagi mulai terganggu masalah kesehatannya. Tim medis yang bertugas mengatakan bahwa penyakit ISPA dan diare mulai menyerang para pengungsi. (*)selengkapnya.... |
|
|
|
|
|