|
|
|
| |
KabarIndonesia - Kampanye lingkungan, sudahkan berdampak positif pada perubahan gaya hidup? Pertanyaan itu ditujukan untuk kita, khususnya masyarakat yang tinggal di kota besar, seperti Jakarta.
Armely Meiviana, mewakili Green Life-style, sebuah komunitas atau tepatnya mailing list yang anggotanya kerap selengkapnya....
|
|
|

PENDIDIKAN
UN, Hantu bagi Pelajar
Oleh : Henny Listyowati | 26-Apr-2009, 01:35:55 WIB
|
KabarIndonesia - Penulis baru melihat sebuah acara yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta yang membahas tema seperti judul tulisan ini. Penulis agak terkejut dan prihatin melihat rekan-rekan pelajar ini, ada yang membanting buku, melempar alat tulis, menangis histeris, bahkan ada yang pingsan. Mengapa harus bersikap demikian? Mari kita cermati dengan menfokuskan pada kehidupan dalam keluarga. Penulis akan memulai dari sebuah dokumen identitas yang bernama KTP (Kartu Tanda Penduduk/Pelajar).
Di dalam KTP tercantum sebuah informasi tentang pekerjaan yang dilakukan oleh pemegang KTP, berarti dalam hal ini pekerjaan rekan-rekan pelajar ini adalah pelajar. Ya, mereka mempunyai tugas utama dan menjadi prioritas kegiatan sehari-hari mereka adalah belajar. Penulis tidak mengartikan bahwa mereka harus memegang buku pelajaran kemana pun mereka pergi, atau mengharuskan mereka duduk di meja belajar dan berdiam diri seharian di kamar untuk belajar. Bukan itu maksudnya.
Tugas pelajar adalah belajar menjalani hidup sebagai seorang pelajar. Apakah arti hidup sebagai seorang pelajar? Tidak lain adalah belajar menanamkan dalam hati dan pikiran mereka bahwa sekolah adalah hal yang utama, menguasai pelajaran yang diberikan di sekolah adalah prioritas utama dalam hidupnya saat ini.
Bagaimana caranya untuk menguasai pelajaran-pelajaran tersebut? Itu adalah bagian dari tugas pelajar dalam mencari tahu bagaimana caranya, tentunya orang tua harus berpartisipasi aktif membantu mereka. Selain itu ada satu hal yang sangat penting adalah bagaimana rekan-rekan pelajar ini mampu mengatasi tantangan hedonisme yang mengepung kehidupan mereka.
Ini sebetulnya akar masalah dari perilaku rekan-rekan pelajar sebagaimana yang saya tulis pada paragraf pertama. Tugas orang tua adalah mendidik dan mengasuh anak-anak mereka. Arti kedua kata itu dalam KBBI terbitan Pusat Bahasa tahun 2008 adalah memelihara dan memberikan latihan (ajaran, tuntunan, bimbingan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran supaya dapat berdiri sendiri. Tugas orang tua dalam hal ini memberikan bimbingan pada anak-anak mereka agar dapat menjalani hidup sebagai pelajar sampai mereka mampu berdiri sendiri.
Perlu diketahui bahwa mendidik dan mengasuh adalah proses, artinya perbuatan yang dilakukan terus-menerus dan berkesinambungan hingga tercapai kemandirian. Proses mendidik dan mengasuh dimulai sejak dalam kandungan dan terus berkelanjutan ketika anak mulai belajar berjalan dan seterusnya. Proses mendidik termasuk juga menanamkan kedisiplinan pada anak. Contohnya, sejak balita anak harus diajar ada waktu makan, ada waktu bermain dan ada waktu tidur.
Pada kenyataannya banyak orang tua yang tidak mampu menerapkan nilai displin itu. Ketika anak memasuki usia sekolah, kembali diberikan pembelajaran, ada waktu bermain, ada waktu makan, ada waktu belajar, dan kembali pada kenyataannya orang tua tidak mampu menerapkan hal ini. Contohnya, ketika anak diminta untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau belajar, apa yang dikerjakan ayah, kakak atau anggota keluarga yang lain? Mereka mungkin menonton televisi atau bermain playstation, hanya ibu yang mendampingi anak untuk belajar, itu pun sang ibu mendampinginya sambil membaca majalah kesayangannya atau bahkan asyik ber-facebook dengan notebook-nya. Apakah artinya?
Orang tua belum memahami benar arti kedekatan dan komunikasi pada anak-anaknya. Pemahaman mereka tentang kedekatan adalah dekat secara fisik namun perhatian dan hatinya tetap sibuk dengan urusannya sendiri. Orang tua belum memahami benar arti komunikasi pada anak-anaknya karena komunikasi bagi orang tua adalah menanyakan hal-hal seperti, tadi pagi belajar apa, ada pekerjaan rumah atau tidak, PR sudah dikerjakan atau belum, sudah makan atau belum dan seterusnya.
Sejak anak memasuki usia sekolah tidak dilatih dan dibimbing untuk hidup sebagai pelajar, apalagi dibimbing dan dilatih untuk mengatasi tantang hedonisme, bahkan mungkin orang tua juga tidak mampu mengatasinya. Mengapa mengatasi tantangan hedonisme itu perlu, bahkan penting? Karena hal ini berhubungan dengan melatih dan memupuk daya juang anak. Hedonisme dalam KBBI terbitan Pusat Bahasa tahun 2008 mempunyai arti pandangan (gaya hidup, kalau boleh saya mengatakan demikian) yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup.
Dari sini kita mungkin sudah bisa melihat korelasi logikanya, bukan korelasi ilmiah (membutuhkan sebuah penelitian, jika kita ingin membuktikan korelasi ilmiah). Contohnya, anak tidak dilatih untuk menyiapkan keperluannya sendiri, seperti menyiapkan buku pelajaran yang akan dibawa esok hari, menyiapkan pakaian dan sepatu yang hendak dipakai, tas sekolah yang akan dipakai, semuanya disiapkan oleh ibu atau pembantu, bahkan untuk mengambil minum, meminta tolong pembantu karena dia sedang asik membaca atau bermain playstation.
Dari hal yang sepele ini sebenarnya mengandung makna, bahwa dalam menjalani kehidupan itu ada sebuah proses yang harus dijalani. Jika menginginkan sesuatu harus mau mengorbankan kesenangannya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Di satu sisi, orang tua yang sudah menghabiskan waktunya untuk bekerja, mempunyai beban psikologis, yaitu merasa tidak meluangkan waktu yang cukup buat anak-anak mereka. Kompensasinya adalah mencurahkan materi yang diinginkan (bukan yang dibutuhkan) anak. Secara tidak disadari orang tua sudah menciptakan sebuah pandangan bahwa hidup ini mulus, enak, dan tidak ada tantangan.
Akibatnya, belajar bagi anak adalah sebuah kesusahan, sebuah beban, bukan sebuah tugas yang harus dijalani sebagai seorang pelajar. Ketika pemahaman ini ada dalam diri anak, maka wajarlah apabila tugas-tugas sekolah, ulangan harian, ulangan semester merupakan hantu-hantu kecil yang menakutkan mereka, dan akhirnya menjadi monster dalam bentuk Ujian Nasional.(*)
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/ Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: www.kabarindonesia.com
|
|
|
|
|
|
|
|
| |
Hari kelima (31/8) pasca pengungsian akibat adanya letusan Gunung Sinabung, keadaan 1.500 pengungsi di pos penampungan Jambur Taras, Berastagi mulai terganggu masalah kesehatannya. Tim medis yang bertugas mengatakan bahwa penyakit ISPA dan diare mulai menyerang para pengungsi. (*)selengkapnya.... |
|
|
|
|
|