KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Serba SerbiSang Penantang Takdir! oleh : Mang Ucup
16-Apr-2015, 08:55 WIB


 
 
Sang Penantang Takdir!
KabarIndonesia - Amsterdam, Begitu kita brol dilahirkan di dunia ini; setiap manusia tanpa perkecualian ditakdirkan TSM (Tua - Sakit - Mati), bahkan begitu Anda
selengkapnya....


 


 
BERITA HUKUM LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 
Dialog via SMS 16 Apr 2015 14:15 WIB

Keunikan di Bumi Dewata 15 Apr 2015 07:33 WIB

 
Tahura Sultan Adam 13 Apr 2015 02:01 WIB



 
BERITA LAINNYA
 
RESENSI NOVEL: Let Me Be With You 04 Apr 2015 10:55 WIB


 
Krisis Kepercayaan Narasumber 15 Apr 2015 07:48 WIB


 

Refleksi Sejarah Agama Konghucu di Indonesia

 
HUKUM

Refleksi Sejarah Agama Konghucu di Indonesia
Oleh : Rio Bembo Setiawan | 24-Jan-2008, 20:02:22 WIB

Eksistensi Konghucu di Indonesia ditenggelamkan selama 32 tahun. Tapi di era reformasi eksitensi itu dapat muncul lagi ke permukaan.

KabarIndonesia - Sabtu, 27 Januari 1979 bak hari kelam bagi umat Konghucu. Sebuah kabar buruk muncul pada sidang kabinet yang berlangsung hari itu; Konghucu bukan agama. Siar ini, diterima atau tidak ketika itu, telah menempatkan status Konghucu di Indonesia ke posisi abu-abu. Tak jelas. Padahal secara de jure, saat itu masih ada sejumlah peraturan perundang-undangan yang saling bertentangan menyangkut nasib Konghucu.

Peraturan yang lebih tinggi yakni Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1969 mengakui ada enam agama di Indonesia; Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. UU ini mengatur sama persis dengan Penetapan Presiden Nomor 1.Pn.Ps. Tahun 1965 yang mengakui enam agama. Kedua peraturan ini semakin dikuatkan dengan UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang menyaratkan perkawinan sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan itu.

Tapi, tiba-tiba saja muncul Surat Edaran (SE) Menteri Dalam Negeri Nomor 477/74054/BA.01.2/4683/95, tanggal 18 November 1978, yang menyatakan hanya ada lima agama di Indonesia; Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, dan Buddha. Padahal, saat SE ini diterbitkan, UU Nomor 5 Tahun 1969 dan Penetapan Presiden Nomor 1.Pn.Ps. Tahun1965 belum dicabut.                                                                                                                                            
"Perjalanan kelam tentang keberadaan Konghucu di Indonesia belum banyak diketahui generasi sekarang. Tapi waktu juga yang akhirnya berbicara untuk meluruskan lagi kenyataan yang ada," terang Ketua Presidium Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin), Candra Setiawan.

Ironisnya lagi, 12 tahun kemudian pemerintah melalui Mendagri kembali menerbitkan surat serupa bernomor 77/2535/POUD, tanggal 25 Juli 1990. Pada 28 November 1995, keluar juga Surat Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Jawa Timur No. 683/95 yang menyatakan bahwa hanya lima agama yang diakui di Indonesia: Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, dan Buddha.

Namun menariknya, seperti dikatakan Sekretaris Umum Matakin, Uung Sendana, meski peraturan itu merupakan bentuk persekusi atau penindasan terhadap umat Konghucu, Matakin sama sekali tak dibubarkan oleh pemerintah. "Matakin berhasil bertahan hidup sepanjang 32 tahun kekuasaan Soeharto. Hanya roda organisasi tersekat seperti pepatah hidup segan mati tak mau," terangnya.

Kisah kelam selama lebih dari tiga dasawarsa ini baru berakhir di masa pemerintahan Abdurrachman Wahid. Di era kekuasaannya yang singkat, Presiden Gus Dur membuat terobosan dengan mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala aktivitas berbau Tionghoa dan SE Menteri Dalam Negeri Nomor 477/74054/BA.01.2/4683/95.

Tindakan ini memberi pesan bahwa, "Tak ada lagi istilah agama yang diakui dan tak diakui pemerintah. Juga tak ada lagi pengakuan negara terhadap agama. Umat Konghucu dan orang-orang Tionghoa non-Khonghucu bisa bebas berekspresi. Termasuk Matakin yang langsung berbenah diri memulihkan eksistensinya untuk berdiri sejajar dengan agama lainnya di Indonesia,"  terang Uung.

Pada Oktober 2007, kebebasan beragama umat Konghucu ini semakin jelas dan tegas dengan keluarnya Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Perihal pendidikan agama Konghucu di jalur sekolah formal, nonformal, dan informal diatur pada Pasal 45. Sementara untuk jalur tenaga pendidiknya diatur oleh Pasal 47 PP tersebut.


Ikutilah Lomba Menulis Surat Cinta!!!
Blog:  http://www.lomba-suratcinta.blogspot.com/ 
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Menikmati Hiruk Pikuk di Pantai Parbaba Samosiroleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
13-Apr-2015, 16:25 WIB


 
  Menikmati Hiruk Pikuk di Pantai Parbaba Samosir Debur ombak menerjang pantai dan suara hiruk-pikuk ribuan pengunjung, tua muda sampai anak-anak, menjadi pemandangan mengasyikkan di Pantai Parbaba, Samosir, seperti terlihat dalam foto (5/4). Pantai Parbaba dengan pasir putihnya kini salah satu obyek wisata yang ramai menyedot wisatawan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Ironis di Negara Agraris 08 Apr 2015 11:24 WIB


 

 
 

 

 

 

 

 
Mobil, Buku, Soekarno dan Mandela 16 Apr 2015 14:11 WIB


 

 

 

 

 
  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia