KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Lingkungan HidupHARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA 5 JUNI 2019: Bersama Kita Lawan Polusi Udara oleh : Danny Melani Butarbutar
06-Jun-2019, 03:45 WIB


 
 
KabarIndonesia - Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day diperingati setiap tahunnya pada tanggal 5 Juni. Pada tahun ini mengambil tema melawan polusi udara #BeatAirPollution. Peringatan ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran global untuk melakukan aksi positif bagi perlindungan pada
selengkapnya....


 


 
BERITA HUKUM LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 
Puisi-Puisi Silivester Kiik 17 Jun 2019 15:16 WIB

Sayap Muratara 17 Jun 2019 15:14 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Kesaksian para Perempuan Korban Kebiadaban FPI

 
HUKUM

Kesaksian para Perempuan Korban Kebiadaban FPI
Oleh : Nugroho Angkasa S.pd | 15-Jun-2008, 01:18:26 WIB

KabarIndonesia - Para korban perempuan kebiadaban FPI, antara lain Ni Wayan Sukmawati dan Ni Komang Ainisyah Wiputi mengalami trauma berat karena tindakan biadab FPI  dalam peringatan hari lahir Pancasila ke-63 pada 1 Juni 2008 di Monas.

Selain itu mereka juga merasa dilecehkan harkat dan martabatnya sebagai perempuan dan Ibu  jika mengingat tindak penyerangan tersebut.

Ni Komang Ainisyah menuturkan bagaimana massa FPI menyerang dengan beringas sekali. Padahal sebagian besar peserta aksi damai Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) adalah perempuan dan anak-anak.

“Awalnya didorong-dorong dari belakang. Tapi lama-kelamaan, mereka (masa penyerang dari Front Pembela Islam/FPI) mengarahkan pukulan ke kepala saya berkali-kali,” papar  Komang Ainisyah dalam acara testimoni korban kekerasan insiden Monas berdarah-Pancasila terluka di Denpasar pada hari Jumat (13/6).

Akibat kekerasan tersebut, Komang Ainisyah mengalami gagar otak yang dampaknya permanen. “Kadang-kadang, kepala saya masih pusing,” tuturnya.

Selain itu Komang Ainisyah mengaku trauma, misalnya kalau melihat tayangan televisi yang menggambarkan kekerasan di Monas, berdiri bulu romanya alias merinding.

Hal senada juga disampaikan oleh Ni Wayan Sukmawati. Kalau mengingat peristiwa di Monas, Sukmawati bahkan merasa dilecehkan. “Merasa terhina, karena saat peristiwa itu adalah Hari Kelahiran Pancasila yang seharusnya menjunjung nilai-nilai nasionalisme, bukan malah menodainya dengan darah sesama anak bangsa,” tutur Sukmawati.

Sukmawati mengaku kadang merasa kecewa dengan wacana publik yang berkembang saat ini, karena mengalihkan isu rusuh Monas ke isu agama. “Padahal, itu adalah sebuah upaya untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa, bukan karena suatu agama,” tandasnya.

Sukmawati juga mengalami luka memar di sekujur tubuhnya akibat penyerangan di Monas. Ibu dua anak ini berharap segenap masyarakat untuk bersuara dan mengutuk keras setiap aksi yang menggunakan cara-cara barbarian di Indonesia tercinta ini.

Kenapa Komang Anisyah dan Sukmawati ada di Monas saat kerusuhan terjadi? Kedua perempuan Bali ini berada di Monas saat itu, karena mereka aktivis perempuan yang tergabung dalam National Integration Movement (NIM).

Komang Anisyah menjabat sebagai Bendahara NIM Pusat. Bersama Sukmawati, Komang Anisyah memegang peran penting dalam aksi damai peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas bersama AKKBB. Aksi yang dihadiri oleh 60 organisasi kemasyarakatan yang lintas suku, agama, ras, profesi,  dan golongan itu murni untuk membangkitkan rasa persatuan dan kerukunan bangsa dengan mengambil momentum hari kelahiran Pancasila yang notabene diamini sebagai dasar negara ini.

"Kami sepenuhnya mengedepankan semangat persatuan dan kerukunan bangsa yang dipelopori para pendiri bangsa tempo dulu. Tidak ada yang membiayai dengan kepentingan tertentu," katanya dalam keterangan pers dipimpin oleh Dr. Sayoga selaku Direktur Eksekutif NIM. 

Sesuai rencana, kata Maya Safira Muchtar selaku penggagas dan juga Ketua Umum National Integration Movement (NIM), acara testimoni serupa akan digelar  di Yogyakarta (14/6) dan daerah lainnya, agar masyarakat tahu kejadian yang sebenarnya di Monas pada 1 Juni 2008 tersebut.



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 
Pasang Surut Sastra Bandingan 02 Jun 2019 07:39 WIB

 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia