KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalWUPID INDONESIA 2017: Pemilihan Dua Tim Debat Bahasa Inggris untuk Mewakili Indonesia di WUPID Global oleh : Redaksi-kabarindonesia
18-Okt-2017, 01:37 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, 18 Oktober 2017 – Ruang kuliah 7-6 dan 7-7 Sampoerna University Jakarta seketika berubah hening dan suasana menegang sebab Muqriz Mustafa Kamal selaku Chair Adjudicator Final round akan mengumumkan
selengkapnya....


 


 
BERITA HUKUM LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 
Sabar dan Syukur 12 Okt 2017 01:07 WIB

Di Padepokan Om Jin 12 Okt 2017 01:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
"Tangisan" Ridho Irama 12 Okt 2017 10:00 WIB


 

 
 
HUKUM

Kabupaten Boven Digoel Kini Memasuki Korupsi Jilid II
Oleh : Benjamin W. Am | 21-Jun-2011, 17:43:52 WIB

KabarIndonesia – Kabupaten Boven Digoel, Papua, kini di ambang kehancuran. Pendapatan dan daya beli masyarakat rendah, angka kematian ibu dan anak meningkat, gizi buruk menjadi pemandangan wajar, kualitas pendidikan menurun dan pelayanan publik tidak berjalan dengan baik.

Penyelewengan dana secara besar-besaran oleh mereka yang mengelolanya menjadi penyebab utama krisi sini. Dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Otonomi Khusus (Otsus) lebih banyak dinikmati oleh pejabat korup dari pada warga kabupaten ini.

Sebuah langkah maju telah diambil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan menangkap Yusak Yaluwo, mantan Bupati Boven Digoel periode 2005-2010. Dia ditangkap KPK di Bandara Soekarno-Hatta pada 15 April 2010. Sebelumnya, Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Boven Digoel itu berkali-kali mangkir dari panggilan KPK dan merencanakan pelarian ke negara tetangga, Papua Nugini.

Yusak dihadapkan ke meja hijau Pengadilan TIPIKOR, Jakarta, dengan dakwaan menggelapkan APBD Boven Digoel Tahun Anggaran 2007 dan dana Otsus. Yusak akhirnya divonis pada 2 November 2010 dengan hukuman 4,5 tahun penjara, subsider kurungan 6 bulan dan membayar denda sebesar Rp. 200 Juta.

Pengadilan TIPIKOR juga merampas uang sejumlah Rp. 1,85 Milyar dari tangan Yusak, kemudian membebankan dia mengembalikan uang yang diselewengkan sebesar Rp. 54,7 Milyar. Atas vonis ini, Yusak Yaluwo pun mengajukan banding ke Mahkamah Agung dan sedang menunggu putusan.

Sebuah sumber terpercaya menyebutkan, Rp. 54,7 Milyar diungkap hanya dari dua kesalahan. "Ada sekitar 60-an kasusnya yang belum dibongkar dan jika dibongkar, penyelewengan uang rakyat Boven Digoel oleh Yusak bisa mencapai lebih dari Rp. 130 Milyar," ungkap sumber ini.

KPK, masih menurut sumber ini, sejak awal mengetahui jumlah Rp. 130 Milyar yang diselewengkan Yusak. "Bisa saja KPK sedang menyiapkan bukti-bukti itu sebagai amunisi untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, misalnya jika Yusak menang banding," jelasnya memprediksi.

Dari keterangan para saksi yang hadir di persidangan, terungkap bahwa Yusak memakai uang sebesar Rp. 54,7 Milyar untuk memperkaya diri sendiri, keluarga dan minoritas pendukungnya. Para pendukung yang dibuat rumah, dibelikan peti mati dan biaya pengobatan bertugas untuk menutupi kejahatannya. Mereka rajin berkampanye tentang "Kasih" yang identik dengan sosok Yusak.

Selain itu, Yusak juga dikabarkan menggunakan uang hasil korupsinya untuk memenangkan Pemilukada Boven Digoel Tahun 2010. Yusak mengeluarkan milyaran rupiah untuk membiayai kecurangan dalam Pemilukada Boven Digoel 2010, mulai dari tahapan pencalonan, verifikasi berkas, kampanye, pemungutan, perhitungan dan penetapan perolehan suara.

Yusak Yaluwo yang telah ditangkap dan menjadi tahanan KPK 4 bulan sebelum Pemilukada Boven Digoel pada 31 Agustus 2010 pun dimenangkan dengan cara-cara yang kotor. KPUD Boven Digoel, sebuah lembaga yang seharusnya netral, secara nyata mendukung Yusak Yaluwo secara terbuka. Ketua KPUD Boven Digoel, Kristianus Guam, S. Sos, bahkan menjadi Tim Sukses Yusak Yaluwo dan berkampanye mengisi jadwal kampanye Yusak.

Proses pemberian rekomendasi oleh KPUD Boven Digoel ke DPRD Boven Digoel, DPRD Boven Digoel ke Gubernur Papua dan Gubernur Papua ke Mendagri untuk penerbitan SK Pelantikan pun sarat dengan permainan uang.

Permainan kotor ini berakhir dengan pelantikan Yusak Yaluwo sebagai bupati Boven Digoel 2010-2015 pada tanggal 7 Maret 2011 di Kantor Kemendagri, Jakarta, oleh Gubernur Papua, Barnabas Suebu.

Yusak pun dipecat beberapa menit setelah dilantik dan roda pemerintahan kabupaten Boven Digoel dijalankan oleh wakilnya, Yesaya Merasi, dengan kewenangan yang serba terbatas.

Mata Rantai Korupsi Belum Putus

Penangkapan dan hukuman yang dijalani Yusak Yaluwo sesungguhnya belum memutus mata rantai korupsi yang dia bangun di Boven Digoel sejak tahun 2005. Jika korupsi yang dibangun Yusak sejak tahun 2005 sampai dia ditangkap tahun 2010 kita sebut Korupsi Jilid I, maka kaki tangan Yusak saat ini sedang berusaha membangun Korupsi Jilid II.

Hal ini bisa terjadi karena Yusak Yaluwo masih dengan leluasa mengendalikan pemerintahan dari balik terali besi. Dia masih berkuasa sebagai Bupati dan Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Boven Digoel.

Jika Muhammad Nazaruddin langsung dipecat dari posisinya sebagai Bendahara Umum DPP Partai Demokrat, padahal dia belum terbukti bersalah di hadapan hukum, hal yang sama tidak dilakukan terhadap Yusak.

Ketika ditangkap KPK, Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Papua, Lukas Enembe tidak langsung memecat Yusak Yaluwo. Lukas, menurut beberapa sumber terpercaya, bahkan membayar preman di Tanah Abang, Jakarta dan melakukan demo ke KPK, menuntut pembebasan Yusak.

Sikap Partai Demokrat mungkin bisa dimaklumi. Yusak Yaluwo adalah Ketua Tim Kampanye Daerah (Timkamda) Provinsi Papua yang berhasil memenangkan pasangan Capres SBY-Boediono pada Pilpres 2009 lalu. Dari sisi ini, Presiden SBY yang tidak lain adalah Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, memang berhutang budi terhadap Yusak.

Sisi lainnya, Yusak Yaluwo secara khusus memiliki hubungan emosional dengan Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Papua, Lukas Enembe. Lukas adalah senior Yusak ketika kuliah di Manado, Sulawesi Utara. Sentimen “Alumni Manado” turut mempengaruhi Lukas Enembe sehingga dia terkesan memelihara kadernya yang terbukti menyengsarakan sedikitnya 50.000 warga Boven Digoel.

Praktek balas jasa dan pemeliharaan hubungan kekerabatan yang berlaku di lingkaran elit Partai Demokrat  justru menjadi kendala bagi upaya pemberantasan Korupsi di Indonesia. Kader yang terlibat korupsi tetap diamankan dengan berbagai cara. Sebagai konsekwensinya, rakyatlah, termasuk mereka yang menjadi konstiuen Partai Demokrat dalam beberapa kali momen pesta demokrasi, selalu menanggung penderitaan.

Opini buruk tentang Partai ini pun berkembang di tengah-tengah masyarakat. Partai Demokrat dianggap tidak serius memberantas korupsi. "Itu Partai pelindung koruptor," ujar Niko, seorang Mahasiswa asal Boven Digoel di Jayapura.

Pendapat Niko memang mewakili realitas yang sesungguhnya. Korupsi di Boven Digoel telah membuat Mahasiswa menderita. Banyak mahasiswa asal Kabupaten Boven Digoel yang saat ini kesulitan biaya pendidikan karena penyelewengan dana terus dilakukan oleh kaki tangan Yusak Yaluwo.

Saat ini mereka yang bersama Yusak Yaluwo menikmati uang hasil Korupsi Jilid I sedang melakukan konsolidasi ulang untuk memperkuat basis dan membangun Korupsi Jilid II di Boven Digoel. Mereka bekerja langsung di bawah kendali Yusak dari LP Cipinang. Berbagai Stakeholders dilibatkan dalam kejahatan ini sehingga dibutuhkan kerja keras untuk membongkarnya.

“LP Cipinang di Jakarta kini menjadi Kantor Bupati Boven Digoel dan Sekretariat DPC Partai Demokrat Kabupaten Boven Digoel dan terpidana Korupsi mengendalikan semuanya dari sana,” ungkap Victor, seorang PNS di lingkungan Pemkab Boven Digoel.

Motif Korupsi Jilid II sangatlah jelas, yaitu untuk mengganti semua biaya yang dikeluarkan Yusak dalam Pemilukada Boven Digoel 2010. Motif lainnya, adalah untuk mengganti Rp. 54,7 Milyar yang dibebankan oleh Pengadilan TIPIKOR ke pundak Yusak.

Untuk kasus Boven Digoel, KPK memang belum secara tegas melakukan pemberantasan korupsi sampai ke akar-akarnya. Jika korupsi di Boven Digoel diibaratkan seperti sebuah pohon, maka penangkapan Yusak Yaluwo oleh KPK dan vonis yang dijatuhkan oleh Pengadilan TIPIKOR atas dirinya adalah tindakan yang baru sebatas memotong ranting pohon. “Pohon Korupsi” masih berdiri kokoh dan tunas muda mulai muncul untuk mengganti ranting yang terpotong.***



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:

www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Aldwin dan Ibrahim, Pemenang Ajang Debat - WUPID 2017oleh : Johanes Krisnomo
18-Okt-2017, 23:31 WIB


 
  Aldwin dan Ibrahim, Pemenang Ajang Debat - WUPID 2017 Aldwin Octavianus (kanan) dan Ibrahim Panji Indra (kiri) dari Universitas Indonesia, terpilih sebagai pemenang dalam ajang kompetisi debat Bahasa Inggris WUPID - World Universities Peace Invitational Debate, di Jakarta (14-15/10/17). Mereka berhak mewakili Indonesia di QIUP WUPID Global 2017, Malaysia
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Skenario Menjatuhkan TNI 19 Okt 2017 00:54 WIB

Danau Toba Bukan Danau Tuba 14 Okt 2017 05:14 WIB

 

 

 

 

 
Kampanye Olah Raga 18 Okt 2017 10:35 WIB

 
Pimpinan Redaksi HOKI 2017 09 Okt 2017 20:02 WIB


 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia