KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
RohaniDualitas Ghaib-Nyata (2): Menemukan Resonansi Ilahi oleh : Tonny Djayalaksana
10-Des-2018, 15:05 WIB


 
 
KabarIndonesia - Pada tulisan "Dualitas Ghaib-Nyata Bagian 1" telah dipaparkan tentang adanya fenomena manusia yang bisa berbicara dengan flora dan fauna. Temuan kenyataan tersebut serupa dengan yang diceritakan dalam Al Quran tentang Nabi Daud dan Nabi Sulaiman yang diberi keutamaan
selengkapnya....


 


 
BERITA HUKUM LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 
Sepertiga Malam 05 Nov 2018 15:57 WIB

Duhai Kau yang Sedang Diuji 21 Okt 2018 11:53 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Pesangon Para Pensiunan Macet, Dirut BRI Berpotensi Tersangka

 
HUKUM

Pesangon Para Pensiunan Macet, Dirut BRI Berpotensi Tersangka
Oleh : Dantas | 01-Des-2018, 17:28:48 WIB

KabarIndonesia - Bertahun-tahun pesangon para Pensiunan Bank BRI dari berbagai daerah terkatung-katung, akhirnya menimbulkan masalah hukum yang serius.Setelah sidang I minggu lalu digelar, maka pada sidang Praperadilan kedua minggu ini, Rabu, 28 Nopember 2018 di PN Jakarta Pusat, diduga  Dirut BRI berpotensi ditetapkan sebagai tersangka. 

Bambang Suroso dan kawan-kawan(BeSurosowan) dari Lembaga Kajian Konstitusi Pro-bono Publiko (Melayani pencari keadilan dan penegakan Hukum tanpa imbalan) yang menjadi Advokat para Pensiunan BRI yang rata-rata manula itu mengatakan, bahwa Praperadilan adalah bagian dari kekuasaan kehakiman yang diamanatkan oleh Konstitusi untuk menegakkan keadilan. "Karena itulah putusannya memiliki kekuatan hukum tetap dan jika perkara ini, Dirut BRI bisa berpotensi ditetapkan sebagai tersangka," kata BeSurosowan menegaskan.

Pada dasarnya  para Pensiunan BRI tidak menghendaki masalah pesangon berlarut-larut hingga 15 tahun.  Para Pensiunan BRI tetap bangga terhadap BRI namun kebanggaan itu akan lebih manusiawi jika pesangon sebagai hak milik mereka dibayar. Sungguh ironis, keuntungan BRI pada Triwulan III 2018 mencapai Rp.23,5 Triliun untuk membayar pesangon yang nilainya secuil saja, tidak dilaksanakan.  

"Sungguh tidak dapat diterima oleh ratio logis. Pesangon itu dipotong dari gaji mereka dan dikumpulkan  dengan harapan ketika waktu pensiun tiba dapat diambil sebagai hak atas keringat dan jerih payahnya selama bekerja di BRI. Semua diatur dalam UU.No.13 Tahun 2003," terang BeSurosowan menambahkan. 

Para Pensiunan BRI yang belum mendapat Pesangon tersebar di seluruh penjuru tanah air dan satu persatu meninggal dunia karena usia. Upaya para pensiunan selain melalui upaya hukum juga sudah melakukan upaya-upaya lain, seperti: melakukan demo di berbagai tempat pihak-pihak terkait. 

"Kita orang-orang  tua ini tidak henti-hentinya  berdoa siang-malam agar Pak Dirut BRI dibukakan hatinya untuk menyerahkan hak para pensiunan "
kata Haji Manshur, Haji Mujur dari Makasar. Peryataan senada juga diutarakan oleh Kasnadir, Ali Shabana, Ambo Lau, H.Yunus Ambo  Pensiunan BRI dari Aceh, dari Sumatra, dari Jakarta, dari Bali dan Kalimantan. 

Sidang yang dipimpin oleh Hakim Tunggal Duta Baskara SH , MH, sama dengan Sidang pertama molor  satu jam lebih. Agenda sidang  yang dihadiri para Pensiunan BRI dan Para Mahasiswa antara dari UMT, UJ, serta 7 (tujuh) dari 19 (Sembilan belas) orang Kuasa Penyidik, berupa Pembacaan Gugatan Praperadilan oleh Pemohon.  

Dalam dalil-dalilnya, Pemohon membuktikan bahwa Penyidik tidak cermat, tidak profesional, tidak proporsional, tidak prosedural, tidak transparan, dan tidak menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.  

Dihimpun dari berbagai sumber, diketahui para pensiunan BRI melalui Organisasi Advokasi Nasional Pensiunan BRI (ANPBRI) sebelumnya telah memberi somasi kepada Direktur Utama BRI karena pesangon mereka belum dibayarkan sampai saat ini. "Sampai sekarang BRI belum membayarkan pesangon kepada pekerja yang di PHK karena pensiun normal sesuai amanat UU 13/2003, Pasal 167, Ayat 3, dan Penjelasannya," ungkap Ketua ANPBRI, Anjar, saat dihubungi media, Selasa 17 Oktober 2017 lalu.

Anjar menjelaskan, pesangon untuk pekerja yang di PHK karena Usia Pensiun Normal telah diatur dalam UU Nomor 13 Tahun 2003, Pasal 167, Ayat 3, dan Penjelasannya, berlaku sejak diundangkan, yaitu pada 25 Maret 2003. Namun, sejak diberlakukannya UU Nomor 13/2003 tersebut, lanjut Anjar, BRI belum pernah melaksanakannya. Kemudian BRI menerbitkan Surat Keputusan No.S.883 Tahun 2012, yang berisi Rumus perhitungan Kompensasi yang bertentangan dengan rumus perhitungan pada UU 13/2003, Pasal 167, Ayat 3, dan Penjelasannya.

Rumus perhitungan kompensasi pada SK.883/2012 sangat merugikan para Pensiunan Normal karena hasil perhitungan rumus kompensasinya akan mengakibatkan para pensiunan normal tidak memperoleh pesangon," tegasnya. Dia mengatakan, para pensiunan BRI selama ini telah berupaya memperjuangkan keadilan atas hak pesangon tersebut dengan berbagai cara, mulai dari mediasi, demonstrasi nasional I pada 18 September 2013, gugatan melalui PHI, upaya mediasi melalui DPD RI, dan sebagainya, namun tetap tidak berhasil juga.
"Oleh sebab itu, sekarang kami melalui wadah ANPBRI berupaya melakukan upaya hukum berupa somasi kepada dirut BRI, demonstrasi nasional II, dan gugatan pidana kepada Dirut BRI," jelasnya. 

Adapun kasus ini bergulir sejak diberlakukannya UU 13/2003, yaitu sejak 25 Maret 2003. Dia mengaku, hal ini terjadi pada semua pekerja BRI yang di PHK karena Usia Pensiun Normal. "Jumlah pensiunan BRI ada sekitar 8.000 orang," ungkapnya.

Oleh karena itu, pihaknya melakukan aksi, setelah melakukan langkah mengirimkan surat Somasi kepada dirut BRI pada 11 Oktober 2017 lalu. Mereka juga melakukan demo pada 18 Oktober 2017 di depan gedung DPR RI, kantor pusat BRI, dan Istana Negara. (*) -

Foto: Para anggota Pensiunan BRI saat sebelumnya pernah demo

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australiaoleh : Rohmah S
10-Des-2018, 22:14 WIB


 
  Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australia 20 pelari dari 6 negara: Indonesia, Australia, Amerika, Inggris, New Zealand dan Swedia ikuti swimrun di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan dengan jarak lari 20km dan berenang 3km. Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk Boy Kelana Soebroto (kiri)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Khasiat Buah Bit untuk Kecantikan 16 Sep 2018 16:05 WIB


 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia