KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
DaerahOperasional Pelabuhan Simanindo Kembali Dibuka dengan Pengoperasian Kapal Ferry dan Kapal Kayu oleh : Danny Melani Butarbutar
07-Jul-2018, 14:45 WIB


 
  KabarIndonesia - Samosir, Sejak peristiwa tenggelamnya kapal kayu KM. Sinar Bangun di perairan Tigaras pada Senin (18/6) Pemerintah telah menghentikan operasional transportasi kapal trayek Simanindo (Samosir) - Tigaras (Simalungun). Hal ini sangat berdampak luas kepada roda perekonomian masyarakat.

Namun,
selengkapnya....


 


 
BERITA HUKUM LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 
Ruang dan Cinta Penyatu Segalanya 27 Jun 2018 05:55 WIB

Surat Untuk Bapak Presiden 06 Jun 2018 09:09 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Sorry Budak-budak, Hindia Belanda Paling Parah

 
HUKUM

Sorry Budak-budak, Hindia Belanda Paling Parah
Oleh : Redaksi-kabarindonesia | 08-Des-2011, 14:52:31 WIB

KabarIndonesia - Belanda perlu waktu 64 tahun untuk minta maaf atas pembantaian di Rawagede tahun 1947. Demikian pemberitaan harian Belanda NRC Handelsblad.  

Menurut Belanda 150 warga dibunuh, tapi menurut Indonesia 431. Delapan janda dan anak korban menerima ganti rugi dari negara Belanda masing-masing senilai 20 ribu euro.

 

Pembantaian dilakukan tentara Belanda yang hendak mempertahankan Hindia Belanda sebagai negara jajahan kerajaan. NRC menulis, ganti rugi terlambat bagi Saih Bin Sakam, satu-satunya warga laki-laki Rawagede yang selamat dari cengkeraman maut tahun 1947. Dia meninggal Mei tahun ini pada usia 88 tahun.

 

Tidak perlu


"Para janda Rawagede gembira dengan permintaan maaf," tulis harian pagi Trouw. Permintaan maaf ini menyusul putusan pengadilan di Den Haag, tulis Trouw. Menurut hakim, Belanda tidak bisa mengatakan pembantaian sudah kadaluarsa sehingga tidak perlu minta maaf dan membayar kompensasi. Trouw menulis Belanda sudah membayar 850.000 euro untuk pembangunan Rawagede, yang kini disebut Balongsari. Menurut Trouw perkembangan di Rawagede ini bisa memicu tuntutan kompensasi atas nama korban-korban tentara Belanda lainnya di Hindia Belanda. Harian pagi Belanda De Pers tak kalah mengangkat masalah Rawagede. "Maaf, budak-budak, Hindia Belanda paling parah," demikian judul artikel di halaman tengah koran De Pers berkaitan dengan permintaan maaf Belanda kepada Rawagede.  

Formula maaf


"Apa halaman paling hitam dalam sejarah kami, sampai kami harus minta maaf sedalam-dalamnya?" tanya De Pers. Koran pagi ini menyusun 'formula maaf' : E = D x l dibagi J kali V, untuk menentukan negara mana paling layak menerima permintaan maaf Belanda. E adalah permintaan maaf. Semakin banyak korban tewas (D) semakin tinggi pula faktor E; semakin jauh masanya (J) semakin berkurang pula tuntutan minta maaf. De Pers juga melihat faktor pengecut (l antara 0 dan 1): sekeji apa perbuatan Belanda, adakah korban lain selain korban tewas? Variabel terakhir adalah tanggung jawab (V, antara 0 dan 1): sejauh mana perbuatan (atau justru sikap pasif) yang menimbulkan korban tewas, merupakan dampak langsung kebijakan pemerintah? De Pers menghitung keperluan minta maaf berdasarkan formula di atas. Koran pagi ini melihat periode mulai 1830, tahun didirikannya Belanda dalam bentuk sekarang ini.

 

Empat periode hitam
De Pers menghitung keperluan minta maaf bagi empat periode hitam : pembantaian di Rawagede; Holocaust (pemusnahan bangsa Belanda oleh Nazi Jerman) di Belanda; jatuhnya daerah kantung Srebrenica; dan sistem perbudakan di Suriname. Dari keempat peristiwa ini Rawagede-lah yang harus dimintai maaf sedalam-dalamnya. Pembantaian 9 Desember 1947 adalah puncak gunung es, karena di Éxcessennota' (nota ekses) masih tercatat banyak tindakan berdarah lainnya yang dilakukan tentara Belanda di Hindia Belanda. Belanda yang baru saja dibebaskan dari pendudukan Jerman justru melakukan kekerasan bertahun-tahun di Hindia Belanda.

Sumber: http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/sorry-budak-budak-hindia-belanda-paling-parah


Ilustrasi: marduta.com

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://kabarindonesia.com/

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  FWD Life Gandeng Special Olympics Indonesia untuk Program Pemberdayaan Penyandang Disabilitas Intelektual di Semarang – PT FWD Life Indonesia (FWD Life), pelopor asuransi jiwa berbasis digital di Indonesia, telah meresmikan kerja sama dengan Special Olympics Indonesia (SOIna) pada 18 April 2018 lalu. Setelah peluncuran kerja sama, FWD Life kemudian menggelar roadshow perdana di Bandung pada
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia