KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalDankormar Paparkan Program Soll ke Menko Maritim oleh : Dispen Kormar
28-Jul-2015, 09:19 WIB


 
 
Dankormar Paparkan Program Soll ke Menko Maritim
KabarIndonesia - Komandan Korps Marinir (Dankormar) Mayjen TNI (Mar) Buyung Lalana, S.E., memaparkan kegiatan program SOLL (Save Our Litoral Life) yang saat ini sedang gencar-gencarnya digalakkan Korps Marinir ke Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Dr. Ir. Dwisuryo Indroyono Soesilo, M.Sc, di
selengkapnya....


 


 
BERITA HUKUM LAINNYA









 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Pikiranku 19 Jul 2015 06:37 WIB

Hilang Arah 19 Jul 2015 06:35 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Review Film - Eragon

 
HIBURAN

Review Film - Eragon
Oleh : Dennis Villanueva | 27-Des-2006, 21:42:41 WIB

Director: Stefen Fangmeier
Cast: Edward Speelers (Eragon), Jeremy Irons (Brom), Sienna Guillory (Arya), Robert Carlyle (Durza), John Malkovich (King Galbatorix), Garrett Hedlund (Murtagh)
Genre: Fantasy
Year: 2006
Running Time: 104 Minutes


Eragon bisa dibilang novel yang cukup beruntung. Karya dari Christopher Paolini ini berhasil menonjol karena dirilis dekat masa-masa Lord of the Rings sedang ngetop-ngetopnya. Eragon yang adalah hasil karya Paolini muda (dia baru berumur 15 tahun saat semula menulis Eragon!) langsung mendapatkan perhatian media massa karena jalan ceritanya yang memang cukup baik. Akhirnya Eragon tentu saja mendapatkan perhatian dari Hollywood dan dibuatkan filmnya yang dirilis pada musim dingin tahun ini. Film ini diharapkan bisa menjadi sebuah Lord of the Rings baru (mengingat Eragon adalah bagian pertama dari trilogi Inheritance yang digarap Paolini), tetapi reviewnya sangatlah buruk. Saya sendiri karena belum pernah membaca novel Eragon sangat penasaran dengan film ini. Lantas saya menontonnya. Bagaimana hasilnya? Apakah film ini bisa membuktikan dirinya menjadi film klasik seperti Lord of the Rings - atau setidaknya kolosal setara dengan Troy?

Eragon adalah seorang anak desa biasa. Ketika suatu hari ia tengah berpetualang berburu dia menemukan sebuah telur misterius. Telur ini terbukti merupakan telur sebuah naga, dan Eragon terpilih menjadi sang pengendara; seorang Dragon Rider. Menjadi Dragon Rider bukanlah suatu hal yang bisa dibanggakan di masa itu. Dunia Alagaesia sudah melupakan era dari Dragon Rider dan hidup dalam rezim seorang raja bengis bernama Galbatorix. Raja bengis ini adalah seorang Dragon Rider pengkhianat yang tega menghabisi seluruh kaumnya sendiri. Jelaslah bahwa Eragon dan Saphira (sang naga muda) menjadi sasarannya.

Untuk bisa menyelamatkan diri, Eragon harus bisa bertualang menuju ke Varden tempat markas pemberontak. Tentu saja ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, karena sang raja mengutus penyihirnya untuk mengejar Eragon. Penyihir bernama Durza ini juga menawan gadis misterius yang selalu muncul dalam mimpi Eragon - gadis yang menjaga telur naga demi Eragon. Dalam petualangannya itu, Eragon tentu saja tidak sendiri. Tidak akan lengkap sebuah cerita mengenai anak ingusan tanpa seorang mentor, sosok mentor dalam film ini adalah Brom. Brom adalah seorang tetua di desa Eragon yang misterius - yang nantinya terbukti adalah seorang... (kejutan... tidak) Dragon Rider yang kehilangan naganya dan harga dirinya.

Sejujurnya saja, cerita dalam Eragon ini sangatlah simpel - toh saya dari sananya memang tidak banyak berharap pada karya dari seorang anak berusia 15 tahun, konon Eldest (serial kedua Inheritance) memiliki jalan cerita yang jauh lebih rumit. Jalan ceritanya yang sebenarnya biasa-biasa saja ini makin diperparah dengan script yang payah (coba saja perhatikan dialog-dialognya yang sangat... cheesy). Ketika menonton film ini, saya tidak bisa tidak berpikir kenapa film ini mengikuti pola seperti ini: naik kuda - adegan - naik kuda - adegan - naik kuda - adegan - film selesai... Loh? Musik dari Eragon sendiri jauh dari kesan klasik dan kolosal. Setting? Jangan mulai membandingkan dengan Lord of the Rings. Eragon bahkan tak bisa menandingi Troy atau Narnia.

Kalau aspek internal dari film ini sudah buruk lalu bagaimana dengan kualitas akting para pemainnya yang rata-rata lumayan terkenal (selain Edward Speelers yang pendatang baru). Sekali lagi: di bawah rata-rata. Jeremy Irons yang tampil sebagai seorang mentor tidak bisa tampil seberkarisma Aslan, Aragorn, ataupun Gandalf. Hal yang sama bisa dikatakan mengenai karakter Galbatorix dan Durza yang tampil kurang bengis sehingga kalau melakukan kejahatan terlihat komikal. Yang paling malang nasibnya justru sekutu Eragon. Mulai dari Arya, Ajihad, dan Murtagh semuanya digarap sepintas lalu dan tidak digali karakterisasinya sama sekali. Mengecewakan. Beruntung Saphira masih dibuat dengan CG yang lumayan apik.

Pada akhirnya, Eragon adalah kekecewaan besar bagiku. Bisa dibilang perkiraanku untuk musim dingin ini terbalik total. Casino Royale yang saya sangka akan mengecewakan justru sangat bagus, sementara Eragon terlalu pendek dan terlalu mengecewakan; saya jadi khawatir Eldest dan Empire nantinya tidak akan dilirik lagi oleh Hollywood, tentu Paolini sendiri meratapi film adaptasi dari novelnya yang begitu buruk ini.


Rating: 5.5 / 10

Best Scene: Aerial Battle
Memorable Quotes:

Brom: That's the spirit - one part brave, three parts fool

Murtagh: A son can't choose his father

Saphira: Eragon, Let him die with pride... As a dragonrider

Arya: Legends of Eragon, the great Shadeslayer, spread throughout Alagaesia.
Eragon: You know how legends go; people will believe anything these days.

If You Love This Movie, Watch Also:
- Lord of the Rings Trilogy
- Chronicles of Narnia

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mengelola Bisnis Menggiurkan di Tapanulioleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
24-Jul-2015, 20:08 WIB


 
  Mengelola Bisnis Menggiurkan di Tapanuli Demam batu akik sudah berlangsung hampir setengah tahun sejak Februari 2015. Demam akik juga melanda kawasan Tapanuli di Sumatera Utara. Tapanuli Tengah misalnya sudah melakukan pameran akik. Fenomena akik juga mewarnai kawasan Tapanuli Utara. Awalnya hanya dua orang pengelola, belakangan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
TNI Polri Jangan Mau Diadu Domba 28 Jul 2015 09:27 WIB

Mewujudkan Damai Itu Indah 27 Jul 2015 23:03 WIB

 

 

 

 
Kemandag Mengadakan Pasar Murah 06 Jul 2015 22:58 WIB

 
Jadwal Copa America 2015 11 Jun 2015 13:43 WIB

 
Mengenang Chris Siner Key Timu 13 Mei 2015 18:00 WIB

Badan Kecil, Semangat Tinggi 30 Apr 2015 07:41 WIB

 
Strategi Pilkada Ala Roro Fitria 14 Jul 2015 09:46 WIB

 

 
Deteksi Kanker Sejak Dini 06 Jul 2015 22:55 WIB


 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia