KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniSegudang Manfaat Bila Berpikiran Positif oleh : Bunga Wiladatika
22-Sep-2018, 15:10 WIB


 
 
KabarIndonesia - Berpikiran positif mendatangkan beragam manfaat bagi kesehatan jiwa dan raga. Berpikiran positif adalah bagaimana cara kita menghadapi suatu hal secara logis dari segi yang positif, sehingga mampu menjalani berbagai aspek masalah dalam kehidupan. Apa saja manfaat baik yang
selengkapnya....


 


 
BERITA PARIWISATA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Penyair Sang Waktu 31 Aug 2018 11:12 WIB

Hidup adalah Belajar 29 Aug 2018 06:45 WIB


 
BERITA LAINNYA
 

 
Deklarasi Garda Relawan Jokowi 13 Sep 2018 12:43 WIB


 
 
PARIWISATA

Peran Perhotelan dalam Kepariwisataan
Oleh : Dr Rochajat Harun Med. | 28-Nov-2008, 08:11:21 WIB

KabarIndonesia - Akomodasi perhotelan tidak dapat dipisahkan dengan pariwi­sata. Tanpa kegiatan kepariwisataan dapat dikatakan akomodasi perhotelan akan lumpuh. Sebaliknya pariwisata tanpa hotel merupakan suatu hal yang tidak mungkin, apalagi kalau kita ber­bicara pariwisata sebagai suatu industri.

Hotel termasuk sarana pokok kepariwisataan (main tourism superstructures). Ini berarti hidup dan kehidupannya banyak ter­gantung pada banyak atau sedikitnya wisatawan yang datang. Bila kita umpamakan industri pariwisata itu sebagai suatu bangunan, maka sektor perhotelan merupakan tiangnya.

Kita menyadari bahwa tujuan wisatawan datang berkunjung pada suatu tempat bukanlah untuk tidur di hotel semata-mata. Menginapnya wisatawan di hotel dan akomodasi lainnya selalu dikaitkan dengan keperluan lain dengan motivasi yang beraneka ragam. Dengan perkataan lain, sektor perhotelan bukan suatu hal yang mutlak harus ada. Tanpa hotel orang-orang juga dapat menikmati banyak obyek dan atraksi wisata.

Anggapan demikian itu dapat kita terima bila kita membicara­kan pariwisata bukan sebagai suatu industri, tetapi sebagai suatu aktivitas saja yang tidak ada artinya dalam perkembangan ekonomi daerah sekitarnya, seperti halnya dengan kegiatan "piknik". Piknik dilakukan tidak berapa jauh dari tempat kediaman orang yang melakukannya dan dilakukan kurang dari 24 jam. Segala fasilitas serta keperluan disediakan sendiri, bahkan biaya­nya dipikul bersama-sama secara gotongroyong.

Berbeda dengan tour, dimana perjalanannya dilakukan lebih dari 24 jam. Dengan demikian mau tidak mau wisatawan memerlu­kan tempat tinggal untuk sementara, selama dalam perjalanannya. Dimana ia dapat beristirahat, mandi dan makan.

Ada pen­dapat lain yang mengatakan bahwa untuk akomodasi wisatawan tidak mutlak harus berbentuk hotel yang mewah, asal saja me­menuhi syarat "comfort" dan kesehatan. Pendapat semacam ini ada benarnya, tetapi hanya terbatas untuk wisatawan secara individu (single-travel) yang tidak direncanakan melalui suatu Travel Agent atau Tour Operator.

Industri pariwisata dewasa ini sudah memasuki apa yang di­sebut dengan "mass-tourism". Dimana orang-orang tidak lagi melakukan perjalanan sendiri-sendiri, tetapi berombongan (group). Hal ini dimungkinkan karena berkembangnya penerbangan bo­rongan (charter flight) dan tersedianya fasilitas akomodasi dalam jumlah kamar yang relatif banyak. Tempo dulu hal seperti ini telah dilaku­kan oleh Thomas Cook pada tahun 1841, yaitu dengan mencarter kereta api untuk membawa wisatawan sebanyak lebih kurang 500 orang dalam excursion yang dilakukan antara kota Leicester dan kota Loughborough.

Sekarang pesawat yang digunakan untuk rombongan wisata­wan sekaligus dapat membawa penumpang dalam jumlah besar, mencapai 300 - 400 penumpang. Selain itu kecepatan terbangnya ada yang melebihi kecepatan suara, seperti Concorde buatan bersama Inggris - Perancis. Bila dengan kondisi semacam ini tidak disiapkan sarana perhotelan dengan segala fasilitasnya, dapat dibayangkan bahwa akan terjadi stagnasi dalam penerima­an kunjungan wisatawan yang hari demi hari meningkat terus. Apalagi sekarang sedang berkembang suatu jenis pariwisata yang pasaran potensialnya adalah orang yang melakukan perjalanan untuk tujuan komperensi, seminar, simposium, loka karya, musya­warah nasional dan kegiatan lain semacam itu yang tentunya membutuhkan fasilitas dan sarana yang lengkap. I

tu semua hanya dapat disediakan oleh hotel-hotel yang ber­taraf internasional dan bukan oleh rumah-rumah penginapan atau perumahan rakyat (home stay) yang kini sedang berkembang di Bali dan Yogyakarta. Bagi wisatawan yang bepergian secara perorangan tanpa bantuan Tour Operator, memang kebanyakan tidak memerlukan hotel mewah bertaraf internasional semacam itu. Atas dasar pemikiran ini, dalam kegiatan pariwisata sebagai suatu industri, sektor perhotelan adalah mutlak. dan bahkan dunia perhotelan telah berkembang menjadi industri tersendiri. Karena itu sekarang kita juga mengenal istilah "hotel industry".

Sampai seberapa jauh peranan industri perhotelan dalam industri pariwisata dapat kita lihat dari pengeluaran wisatawan bila datang pada suatu tempat atau daerah tujuan wisata. Berdasarkan suatu penelitian yang pernah dilakukan, lebih dari 50% uang yang dikeluarkan wisatawan disedot oleh industri perhotelan. Berapa besarnya volume uang yang beredar dalam sektor industri perhotelan? Di Amerika Serikat saja dalam tahun 1969 tercatat sebesar US $ 7,25 milyar, termasuk untuk pengeluaran makanan dan minuman (food and beverages). Sedang dalam sektor industri pariwisata secara keseluruhan berjumlah sebesar US $ 35 -US $ 45 milyar setahun.

Jumlah hotel di Amerika Serikat dalam tahun 1939 terdaftar sebanyak 41.400 hotel dengan 1.600.000 kamar dan jumlah tersebut meningkat terus sehingga menjadi 65.350 hotel dengan 2.600.000 kamar dalam tahun 1969. Dengan jumlah wisatawan sebanyak 400 juta (business and pleasu­re travellers) dalam tahun 1969, industri perhotelan dapat menam­pung tenaga kerja sebanyak 600.000 orang dengan bermacam ­macam keahlian dan untuk itu telah dikeluarkan upah dan gaji sebesar US $ 3 milyar setiap tahunnya.

Dewasa ini industri perhotelan sudah sangat maju, banyak perusahaan raksasa yang memasuki usaha yang menarik ini. Satu di antara yang terbesar adalah Holyday Inn, yang dalam tahun 1975 sudah mempunyai 274.000 kamar yang tersebar luas di seluruh dunia, belum termasuk yang di Indonesia. Perusahaan perhotelan yang besar lainnya ialah Sheraton, Inter-continental, Hilton International, Trust Houses Forte dan Ramada Inn. Adapun pemilikan hotel-­hotel tersebut ternyata banyak kaitannya dengan perusahaan industri pariwisata secara keseluruhan. Hotel Hilton misalnya, dimiliki oleh Trans World Airlines, Inter-continen­tal Hotel oleh Pan American Airways dan Sheraton Hotel dimiliki oleh ITT.

Sekarang sudah banyak maskapai penerbangan memasuki usaha industri perhotelan, kelihatannya seperti melakukan usaha terpadu (integrasi) atas pertimbangan efisiensi perusahaan dan keuntungan promosi di samping segi praktis lainnya. Di antara perusahaan tersebut adalah : Japan Airlines dengan Jal Hotel System-nya, Federal Hotel, Port Dicson di Kuala Lumpur, Hotel Plaza di Hongkong; Presedent Hotel di Jakarta; KLM dengan Golden Tulip Group; Cathay Pacific dengan Indra Regent atau Ambassador di Bangkok dan Hongkong; Thay International Airways dengan Mandarin Hotel dan lain-lain.

Di dalam industri pariwisata, hotel bukanlah satu-satunya bentuk bagi akomodasi wisatawan dan traveller lainnya. Tetapi masih banyak akomodasi lain yang dikenal dengan sebutan akomodasi tambahan (supplementary accomodation). Hotel adalah sebuah gedung / bangunan yang menyediakan penginapan , makanan dan pelayanan yang bersangkutan dengan menginap serta makan bagi mereka yang mengadakan perjalanan. Hotel merupakan bangunan akomodasi yang menyediakan kenyamanan lebih tinggi dan status tertentu bagi mereka yang menginap disitu.

Surat Keputusan Menteri Perhubungan RI No. SK.241/H/70 tahun 1970 menyatakan: "Hotel adalah perusahaan yang menyediakan jasa dalam bentuk penginapan (akomodasi) serta menyajikan hidangan dan fasilitas lainnya dalam hotel untuk umum , yang memenuhi syarat-syarat comfort dan bertujuan komersial. Bentuk, susunan, tata ruangan, dekorasi, peralatan dan perlengkapan bangunan hotel dan akomodasi, sanitasi, hygiene, estetika, keamanan dan ketentraman, serta secara umum dapat memberikan sasaran nyaman (comfort). Dan khusus untuk kamar-kamar tamu dapat menjamin adanya ketenangan pribadi (privacy) untuk para tamu hotel”.

Penentuan golongan hotel-hotel menurut tanda bintang dinyatakan dengan sertifikat yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Pariwisata, yang dilakukan 3 (tiga) tahun sekali. Diklasifikasi menjadi 5 golongan, yang dinyatakan dengan tanda bintang. Golongan tertinggi dengan tanda bintang lima. Sedangkan yang terendah dengan tanda bintang satu.

Tanpa bintang disebut Hotel Melati. Di dalam industri pariwisata, hotel bukanlah satu-satunya bentuk bagi akomodasi wisatawan dan traveller lainnya. Tapi masih banyak akomodasi yang dikenal dengan sebutan akomodasi tambahan (supplementary accomodation), diantaranya: 1. Motel (Motor Hotel); 2. APOTEL (Apartmen Hotel); 3.Youth Hostel; 4. Apartment; 5. Inn; 6. Pension; 7. Bungalow; 8. Ryokan; 9. Mess; 10.Home Stay.



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
BPBD Papua Belajar Analisis dan Pengembangan Organisasioleh : Djuneidi Saripurnawan
28-Aug-2018, 06:07 WIB


 
  BPBD Papua Belajar Analisis dan Pengembangan Organisasi TATTs Program: Analisis dan Pengembangan Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Papua
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 

 
Manfaat Membaca 22 Sep 2018 15:12 WIB


 
Khasiat Buah Bit untuk Kecantikan 16 Sep 2018 16:05 WIB


 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia