KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Lingkungan HidupGunakan Rantang sebagai Pembungkus Makanan oleh : Irma Susilawati Dana
03-Sep-2010, 01:33 WIB


 
 
Gunakan Rantang sebagai Pembungkus Makanan
KabarIndonesia - Kampanye lingkungan, sudahkan berdampak positif pada perubahan gaya hidup? Pertanyaan itu ditujukan untuk kita, khususnya masyarakat yang tinggal di kota besar, seperti Jakarta.

Armely Meiviana, mewakili Green Life-style, sebuah komunitas atau tepatnya mailing list yang anggotanya kerap
selengkapnya....


 

Enthusiasm by Fida R. Abbott

 
BERITA CERPEN LAINNYA
  • Cut
  • 25-Des-2008, 21:40:23 WIB



  • Lampu
  • 05-Des-2008, 15:08:18 WIB









 
BERITA LAINNYA
 
Lowongan Jurnalis 25 Jul 2010 19:29 WIB

Lowongan Desainer Grafis 19 Mei 2010 14:56 WIB

 
Tim Pencari Fakta Insiden Biau 02 Sep 2010 02:14 WIB

Polda Kepri Bekuk Jambret 29 Aug 2010 21:06 WIB

 
Seleramu yang Puitis 01 Sep 2010 00:37 WIB

Pekarangan Tubuh 30 Aug 2010 02:19 WIB

 
Floriade, Festival Bunga 20 Aug 2010 12:47 WIB


 
BERITA LAINNYA
 

 
Meneguhkan KeIndonesiaan Kita 29 Aug 2010 21:03 WIB

Purnama Theatre, Nasibmu Kini 19 Aug 2010 04:04 WIB

 
 
CERPEN

Didia Rokkap Hi*
Oleh : Baringin Parlindungan Lumban Gaol,se | 17-Aug-2008, 08:53:27 WIB

Setelah ini, jangan lagi ada kata menunggu diantara kita. Cukuplah aku dengan bayanganku yang berbincang-bincang di ruang sunyi bertembok sepi, diterangi lentera redup. Aku lelah walau hanya duduk. Aku letih walau tidak kemana-mana. Jiwaku terlalu sering gelisah karenamu.

Dia merintih pedih digores belati kata yang menyiratkan cinta. Cukup sampai di sini, di ruang tunggu ini. Suatu saat aku akan mengirimimu hasrat yang telah ku makamkan di tanah gersang, ditumbuhi bunga-bunga kerta bertuliskan puisi kecewa terhadap kenyataan. Agar kau tau, aku marah pada perbuatanmu yang mempermalukan keluargaku.

Aku mengira senyum adalah isyarat agar bersama selamanya, aku juga menganggap setiap untai katamu adalah alunan irama cinta kasih kudus yang melantunkan lirik lagu mesra.

Namun, yang kudapatkan adalah sebaliknya. Senyummu hanya indah untuk dilukiskan di atas kanvas berbingkai duka. Lirik lagumupun hanya pantas dituliskan di atas kertas dengan pena bertinta airmata.            

Seandainya, dulu aku tidak mengenalmu. Mungkin penantian yang akan kurasakan bercampur harapan. Bukan penantian bernapaskan kegelisahan. Tetapi, di atas takdir, tertulis pertemuan kita, yang diikat oleh hubungan darah yang harus menyatu antara aku dan kau.

Kita hanya generasi yang diminta untuk menyambung sebuah keakraban, yang telah lebih dahulu dimulai kedua orang tua kita. Aku tidak ingin seperti mereka, yang harus mati oleh karena mencintai perempuan. Bagiku, itu seorang pecundang yang tidak memiliki tujuan hidup.

Tetapi, aku juga tidak tahu jalan menuju tujuanku. Karena aku tau, hanya kaulah jalan menuju tujuan itu. Terkadang aku bosan melihat airmata ibuku yang menetes oleh karena keinginan yang tidak terujut. Aku dapat menerima sebuah penolakan. Karena cinta tidak dapat dipaksakan. Namun, yang aku sesalkan adalah sebuah kata yang tidak pernah terucap dari mulutmu, tentang kau, tentang aku, untuk kita.            
Di depan gelap aku berusaha melihat banyanganku. Pada awan hitam aku bercermin, mencoba melihat bagaimana aku yang sebenarnya. Menerka mimpi-mimpi yang ada dalam tidur ibuku. Pariban, aku menghargai jawaban apa yang kau berikan untuk setiap pertanyaan dan permintaan ibuku.

Aku sadar, bahwa keberadaan pariban bukanlah jamin untuk kepemilikan cinta akanmu. Zaman ini bukan lagi milik mereka-mereka yang hidup diam dalam aturan adat. Bagiku yang terpenting, bagaimana aku dapat mempertahankan nilai yang tersirat dalam setiap aturan-aturan yang ada pada masa-masa leluhur dulu.

Aku meletakkan cinta di atas segalanya. Aku juga menempatkan kasih sebagai awal dari segalanya. Hingga pada akhirnya, aku menempatkan Dahlian Na Tolu* sebagai landasan untuk mengisi hari-hari dan menjalani hidup.

Dan karena perintah-perintah yang terkandung di sanalah aku datang bersama ibuku yang diundang oleh ayahmu untuk membuat sebuah kesepakatan ikatan, antara aku dan kau.            

“Apakah sudah ada seorang lelaki yang mengisi ruang hatimu?,” itulah yang ditanyakan ibuku kepadamu. Kau diam dan tidak satu katapun kau ucapkan untuk menjawab pertanyaan itu.            

“Ada apa denganmu, Anggi*? Kalau ada katakan saja. Siapapun nanti yang menjadi pendampingmu, itu akan menjadi anak Namboru*”.

Sepertinya ada ketakutan dihatimu untuk menjawab ya atau tidak. Entah apa yang dilakukan oleh Tulang* padamu, hingga setiap pertanyaan ibuku kau jawab dengan kebisuan.            

Kau bukan milikku, karena itulah kau yang harus menentukan sikap untuk dirimu sendiri. Bukan Tulang ataupun Nantulang*, sekalipun itu untuk aku dan ibuku. Karena kami bukan datang dari sebuah kerajaan yang mengharuskan setiab warganya tunduk pada perintah sang penguasa.  

Kami juga menyadari bahwa sejak dahulu kala, leluhur kita sudah membuat aturan adat yang menghargai sebuah demokrasi. Adat tidak mengikat kita dengan hukuman. Tetapi, adat menata kehidupan kita untuk lebih baik. Sekalipun saat ini semua itu hampir ditenggelamkan zaman.  

-o0o- 
Aku tidak mengerti dengan semua ini, apa yang telah dilakukan inang pangin tubu* untuk menyatukan kita adalah sebuah kesisiaan. Demikian juga dengan damang parsinuan* berharap dapat melihat kita bersatu dalam pemberkatan kudus, ketika lantunan lagu Ave Maria mengiringi langkah kita menuju altar tempat seorang hambaNya menyabut kita dengan senyum.

Dainang manodo, ho do parumaen na*,” Itulah dalam hatiku, hingga kebisuanmu seakan telah memberikan jawaban “ya” kepadanya. Jikalau saja ada sepatah kata yang kau ucapkan untuk pertanyaan ibuku. Mungkin dia akan berpikir panjang untuk mendesak pernikahan kita.

Demikian juga tulang, yang juga berharap agar kita melanjutkan kekerabatan ini. “Maenmu*, tidak dapat menjawabnya. Sebaiknya kita bicarakan saja tetang adat yang akan kita laksanakan. Kira-kira, kapan dongan tubu* ito* datang untuk marhusip*?”. Pertanyaan tulang memberikan keyakinan pada ibu, bahwa kau bukan takut. Melainkan, kau malu untuk menjawab “ya”.

Pariban, aku merasa airmatamu adalah jawaban untuk setiap holong* yang ada dihatiku. Padahal, sesungguhnya itulah ungkapan kebisuaanmu. Kau tidak mengungkap yang sebenarnya. “ Secepatnya ito*, aku dan lae* mu akan membicarakannya nanti. Kami akan segera mengirimkan dongan tubu kami untuk marhata sinamot*,” Seperti itulah jawab ibuku untuk pertanyaan tulang itu.

Pariban, kau yang membuat ibuku kini menderita. Demikan juga dengan ayahku yang kini untuk menyapa orang lainpun malu. Semuanya telah kau hancurkan, semuanya telah kau musnahkan. Akupun tidak yakin suatu saat ini akan kembali baik seperti dulu.

Ayahmu kini ketakutan untuk bertemu dengan saudara perempuannya sendiri oleh karena perbuatanmu. Dia lebih banyak bersembunyi di ruang perenungan tempat yang dipilihnya untuk menangis.  

Taukah kau, ayahmu kini tak pernah lagi menginjakkan kaki di bait suci. Bahkan untuk menyebut nama Tuhanpun dia ketakutan. Aku sudah menemuinya, dan mengajaknya untuk bersama memuji dan memuliakan Tuhan. Membaca Mazmur dan melantunkan kidung agung.

Tetapi, dia memilih untuk memenjarakan tubuh lesunya dalam kamar pengap, agar tidak seorangpun dapat melihat dia dengan penyesalannya. Jikalau kita tidak dapat bersama, menyatu lewat pemberkatan kudus. Tidaklah menjadi sebuah permasalahan besar. Aku akan tetap somba marhula-hula*, sekalipun  perbuatanmu sangat menyakitkan. Karena pesan orang tuaku, hula-hula adalah raja yang meletakkan ulos sipalas tondi* di atas punggungku.  

-o0o-
Pariban, aku telah melupakan bayanganmu. Bahkan senyummu yang begitu indahpun telah aku buang di lautan airmata, yang berombakkan kemarahan. Aku belum dapat mengiklaskan semua yang terjadi ini. sekalipun firman Tuhan berkata bahwa segala sesuatu itu, indah pada waktunya. Terlalu pedih luka jiwa yang disayat belati kehidupan. Hingga tidak ada yang dapat mengobati semua perih yang kami rasakan.

Ibuku, menyesalkan kepergiaanmu yang disebabkan oleh pertunangan kita. Seandainya kau jujur kepada kami tentang semua yang ada dalam hatimu, mungkin ini tidak akan terjadi.

Tetapi, kau membisu. Takut untuk mengatakan kebenaran yang sesungguhnya akan dirimu. Hingga, dengan bahagianya mereka menyambuh hari pernikahan yang telah tertulis dalam lembaran kertas undangan.

Mereka akan menjadikan hari pernikahan anaknya sebagai hari terindah. Mimpi-mimpi yang ada dalam setiap pembaringannya telah membuat mereka buta akan dirimu. Pariban, kau pikirkankah berapa banyak yang menjadi korban dari perbuatanmu. Atau kau hanya tau mengukur nikmatnya dunia yang mungil ini.

Tidakkah engkau tau jalan yang kau pilih itu salah. Kau tidak pernah memahami makna dari kehidupan, zaman telah menenggelamkanmu. Kemajuan telah membawa pada mahligai yang rapuh. Hingga kau memilih jalan sesaat yang sesat. Mengapa kau tidak bertekuklutu di altar dan meminta pentunjuk dari Tuhan yang kita sembah melalui doa.

Dia senantiasa menyertai kita hingga akhir zaman tiba, bahkan tidak sekalipun Dia membiarkan kita jatuh dalam pencobaan. Tinggal bagaimana kita maknai kehadiranNya untuk membawa kita menuju kehidupan kekal. Bukan kehidupan yang berakhir dengan sebuah penderitaan.

Tuhan menciptakan manusia untuk mengisi dan memenuhi seluru penjuru dunia. Menjadikan manusia itu berpasang-pasangan hingga lahir generasi-generasi baru yang melanjutkan kehidupan. Dia yang menetukan hidup dan mati umatNya. Bukan kita, seklaipun kita sanggup untuk mengahiri setiap nafas yang dianugrahkan Tuhan kepada kita.

Kita hanya hamba yang semestinya menapaki hidup di atas jalan firmanNya. Aku tidak tau harus berkata apa lagi. Aku kehilangan jejakmu ketika ingin menggapaimu, aku buta saat ingin menatapmu, aku bisu ketika suara hatimu ingin mengumandangkan sebuah kebenaran tentangmu.

Hingga, akupun bertanya-tanya, di manakah kau berada kini, setelah dimakamkan dengan ketidakwajaran. Pariban, aku datang bersama keluargaku, membawa sinamot* dan appang* sebagai bagian dari ritual yang harus dilaksanakan untuk menjemput mempelai perempuan. Kami datang dengan kerendahan hati. Berharap akan disambut dengan besar hati oleh keluargamu, bukan dengan kerumunan orang-orang yang menangis pedih karena tinggal ditinggal mati. 

-o0o-           
Aku sadar setelah tiba di sana. Ternyata kebisuanmu adalah ungkapan ketakutan untuk mengatakan yang sebenarnya tentang dirimu. Semestinya, kau menolak lamaran ibuku saat datang meminangmu untuk menjadi menantunya. Kau katakan saja yang sebenarnya tentang dirimu. Karena, kebisuan bukanlah jawaban untuk pertanyaan. Sekalipun itu dapat menjadi sebuah pernyataan akan ketidak setujuan.            

Katakan kebenaran tentang dirimu, walaupun itu akan menimbulkan amarah di hati ayahmu. Karena itulah jalan satu-satunya untuk menyelamatkanmu yang telah terperangkap dalam lembah yang menghadiahkanmu kenikmatan. Katakana saja kau sudah memiliki pilihan  hidup. Bahkan ceritakan juga, jika dalam rahimmu telah ada benih cinta diantara kalian, sekalipun itu akan mencoreng wajah keluarga.  

Aku hanya dapat melihatmu terakhir kali, saat tubuhmu membiru dan mulutmu mengeluarkan buih-buih putih. Apakah kau tidak sadar itu dosa, mengahiri hidup dengan sebuah keterpaksaan. Bahkan, anak yang tidak berdosa di dalam rahimmupun harus ikut tiada sebelum menatap dunia, oleh karena kekonyolan ibunya.    

Pariban, seperti malam kehilang rembulan. Demikian juga kehilangan jejakmu. Aku tau, kabut di hatimu membuatmu kalut. Hingga tidak dapat melihat jalan benar menuju alamatNya. Aku kini belum dapat menentukan jalan hidupku. Takut mengatakan pada ibu untuk menikahkanku, karena dia akan menangis jika aku minta menemaniku untuk manulangi tulang[23]. Saat ini aku masih sendiri, walau sudah beberapa perempuan pergi meninggalkanku karena tidak kunjung kupinang. Pariban, aku resah menanti si rokkap ni tondi*.

*Di Dia Rokkap Hi: Dimana jodohku; judul lagu ciptaan Dakka Hutagalung 

* Pariban: Anak perempuan dari Tulang kita, anak perempuan dari hula-hula kita

* Dahlian Na Tolu: Tungku yang memiliki tiga peyangga; Tiga perintah yang menjadi landasan hidup masyarakat Batak Toba

* Anggi: Adik, namun dapat juga sebagai panggilan akrab seorang namboru dengan maennya;

*Maen: anak perempuan dari saudara laki-laki.

*Namboru:  Saudara perempuan dari ayah kita.

* Tulang: Saudara Laki-laki dari ibu kita

*Nantulang: Istri dari Tulang kita

*Inang Pangintubu: Ibu kandung, ibu yang melahirkan kita

*Amang Parsinua : Ayah kandung

*Dainang manodo, ho do parumaen na: Ibuku yang memilih kau untuk menjadi menantunya.

*Manodo: sebuah kata yang memiliki arti keinginan; keinginan yang ada dari hati yang paling dalam.

*Maen: Keponakan perempuan, anak perempuan dari saudara laki-laki.

*Dongan Tubu: Kerabat semarga, sesama kerabat yang membuat kesepakatan terkait mengenai adat-istiadat. Baik dalam hal apapun.

*Ito: saudara perempuan atau saudara laki-laki; kerab digunakan sebagai panggilan untuk lawan jenis

*Marhusip: membicarakan segala yang berkaitan dengan sebuah pernikahan; setelah marhusip, akan dilanjutkan pada Marhata Sinamot. Kemudian disambung dengan Martuppol, hingga tiba pada pernikahan.

*Cinta

*Ito: saudara perempuan atau saudara laki-laki; kerab digunakan sebagai panggilan untuk lawan jenis

*Lae: Sepupu; Besan

*Sianmot: Harga; lebih sering digunakan sebagai istilah untuk mas kawin. Marhata Sinamot, membicarakan mas kawin.

*Somba marhula-hula: Salah satu isi dari Dalian Na Tolu; Hula-hula : Sebutan bagi keluarga dari pihak perempuan.

*Ulos : Pakayan adat batak toba, Si Palas : Penghangat, Tondi : Jiwa; Roh. Ulos Si Palas Tondi : Ulos yang memberikan kehangatan pada jiwa.

*Sinamot : Uang, kata sinamot lebih sering digunakan sebagai istilah untuk mas kawin.

*Appang : Keranjang besar yang terbuat dari rotan. Appang digunakan sebgai tempat makan yang akan dipersembahkan pada pihak perempuan pada saat menjempu mempelai wanita.

*Manulangi Tulang : meminta doa restu pada saudar laki-laki ibu atau tulang, serta meminta ijin untuk menikah dengan perempuan lain yang bukan pariban kita.

* Si rokkap ni tondi : Mempelai jiwa.


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pengungsi Terancam ISPA dan Diareoleh : Andi Cristop
31-Aug-2010, 23:11 WIB


 
  Pengungsi Terancam ISPA dan Diare Hari kelima (31/8) pasca pengungsian akibat adanya letusan Gunung Sinabung, keadaan 1.500 pengungsi di pos penampungan Jambur Taras, Berastagi mulai terganggu masalah kesehatannya. Tim medis yang bertugas mengatakan bahwa penyakit ISPA dan diare mulai menyerang para pengungsi. (*)
selengkapnya....
 
 

 
BERITA LAINNYA
 
Paska Pidato Presiden SBY 02 Sep 2010 13:58 WIB

Ahmadiyah versi MUI 02 Sep 2010 02:00 WIB

 

 

 

 
DFO Bermasalah dan Feng Shui 17 Aug 2010 23:37 WIB

Penganggur Usia Muda Meningkat 17 Aug 2010 13:45 WIB

 
Bantuan untuk 39 Atlet Siak 02 Sep 2010 14:37 WIB

Liga Inggris: Aroma Laga Terendus 29 Aug 2010 21:13 WIB

 
Belajar dari Warren Buffet 26 Jul 2010 22:59 WIB

Ustadz SolMed, Saingan UJE? 26 Jul 2010 22:29 WIB

 

 

 
Arah Perjuangan Baru JOTHI 20 Aug 2010 04:16 WIB

 
Eloknya Si Plirik van Java 31 Aug 2010 13:49 WIB

Perketat Pengawasan Tambang 27 Aug 2010 13:52 WIB

 
Sarana Komunikasi Tersendat 28 Aug 2010 02:10 WIB

Situs Porno Resmi Diblokir 19 Aug 2010 03:17 WIB

 
IIP Santuni Anak Yatim Piatu 25 Aug 2010 12:53 WIB


 
Yayasan Peduli Hutan Lestari
  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia